It Beats For You

It Beats For You
A little bit psycho



Aku masuk kekamar Nevan, duduk disamping dan memandanginya. Wajah Nevan begitu berbeda saat tidur, seperti anak laki-laki yang beranjak remaja.


Tak lama, Nevan terbangun karena keberadaanku.


"Oh sayang kamu sudah bangun..?" Sambil merenggangkan tubuhnya, lalu menggapaiku dan berbaring disisi Nevan.


"Nah gini kan lebih nyaman.. maaf yah semalam kamu tidur duluan karena aku ada sedikit pekerjaan, bagaimana tidurmu nyenyak?" tanya Nevan yang berbisik ditelingaku.


"Iya aku langsung tertidur.. kupikir kamu juga sudah tidur sayang.." jawabku.


"Aku kekamarmu dan mengambil fotomu yang tertidur, itu cukup untukku jika kangen sama kamu"


"Astaga, kamu usil juga yah.." kataku memanja.


"I love you.. kamu seperti apa saja, aku tetap mencintaimu.." dan Nevan mencium pipiku, terasa begitu hangat.


Aku tersanjung mendengarnya.


"Oh yah, hari ini aku sungguh sibuk hingga besok, aku akan ke Surabaya dan Batam.


Tapi aku tetap akan pulang dan tidur di apartemen bersama kamu.." ungkap Nevan.


"Kamu dua hari diluar kota masih berpikir akan pulang pergi, kamu gak capek sayang?" aku sedikit heran.


"Capekku hilang jika aku bertemu kamu, aku gak mau jauh darimu mulai sekarang" Nevan memelukku sambil mencium pipiku.


"Kamu akan kewalahan mengatur waktu dengan jadwal pesawat nanti sayang.." aku membelai rambutnya yang berantakan.


"Aku tidak dengan pesawat komersil, aku akan berangkat dan pulang dengan jet pribadi.."


"Really.. " aku terkejut mendengarnya.


"Apa kamu mau ikut denganku, pagi hingga sore aku ada pekerjaan, malamnya ada pesta pernikahan anaknya rekan kerjaku disana.. jadi aku akan sampai larut malam jika aku kembali kesini, tapi tetap kulakukan..


atau.. kamu mau menyusulku ke Surabaya dan menemaniku untuk menjadi pasanganku di pesta pernikahan itu"


"Aku kesana?" aku terkejut mendengar Nevan memintaku untuk menemaninya.


"Tentu.. sepulang jam kerja kantor kamu saja..


Aku ingin kamu disana menemaniku" bisik Nevan yang membuatku tergoda.


"Acaranya jam berapa sayang?" selidikku.


"Dari jam 7, selesainya mungkin jam 10 malam.."


"Pesta pernikahan yah.."


"Iya, tapi seperti biasa akan banyak pengusaha disana dan mungkin akan jadi pertemuan semua koneksi dibidang property, jadi akan bagus untuk pengusaha yang merintis dibidang ini.." Nevan menjelaskan.


"Hmm..." aku berpikir, apakah aku siap untuk tampil didepan kenalan Nevan nanti.


"Apa kamu mau ikut?" tanya Nevan sekali lagi.


"Baiklah.." aku menyetujuinya, aku memang harus bersamanya, karena Nevan kini tunanganku.


"Gitu dong, kamu tahu aku happy banget dengernya.." Nevan mengelus lenganku dengan lembut.


"Yasudah aku mandi dulu yah, mau siap-siap ke kantor.." aku mencoba beranjak dari kasur.


"Buru-buru aja nih, baru jam 6 pagi sayang.." Nevan menggapai tanganku membuat ku jatuh lagi kepelukannya.


"Baru aja sebentar peluk kamu, dah mau pergi aja..


Aku akan lama bertemu kamu lagi nanti malam.. biarkan aku disampingmu lebih lama" Nevan memelukku erat.


"Haha sayang, nanti kamu telat loh, kamu jam berapa berangkatnya..?"


"Masih lama pokoknya.." Nevan terus saja mencium pipiku.


Aku tertawa merasakan sentuhan bibirnya diwajahku.


"Oke sayang, ini aku bawakan untuk keperluanmu nanti malam.. nanti akan ada yang menemanimu saat perjalanan ke Surabaya" sambil memberikan paperbag padaku.


"Ini untuk kupakai malam nanti?" Aku melihat isi dari paperbag ini.


"Iya, kamu akan cantik sekali saat mengenakannya" Nevan tersenyum padaku.


"Baiklah.. makasih sayang.. have a save flight ya sayang.." aku mencium kedua pipi Nevan.


"Iya sayang, i love you.." ujar Nevan.


"I love you too.." aku turun dari mobil Nevan.


🌼


Hari menjelang siang, walaupun sibuk dengan pekerjaan ini, tapi aku berdebar memikirkan nanti malam.


Karena ini acara pertama yang kami hadiri bersama dan mungkin aku akan menemui banyak teman Nevan nanti.


"Mba Risma, ini minta tolong dikasih ke bu Glory yah.." kataku yang membawa berkas laporan pekerjaan yang sudah kukerjakan.


"Oh baik mba, bu Glory masih meeting, aku akan menaruhnya dimeja beliau yah.." ujar Risma penuh semangat.


"Rasanya ada yang berbeda.." aku merasakan suasana yang tidak seperti biasanya tapi aku belum menyadarinya.


Tiba-tiba datang Felycia yang memberikan laporan kepada Risma, Felycia adalah sekretaris General Manager.


"Mbak Risma, siapa kemarin kok sombong banget gue panggil gak nenggok, mentang-mentang bawa pacarnya nih.." Ledek Felycia yang berada disampingku.


Entah mengapa aku malah mencoba menguping apa yang dibicarakan Felycia, aku yang belum beranjak dari depan Risma mencoba berpura-pura menerima pesan di handpohone ku dan sedang membalasnya. Sedikit membelakangi Risma dan Felycia agar tak terlalu terlihat aku sedang mendengar pembicaraan mereka.


"Ah.. lo Fel, gue bukannya sombong tapi gak kedengeran, suara musiknya terlalu kencang kan..


Tapi itu bukan pacar gue kok.." ujar Risma malu-malu, sambil membereskan beberapa berkas dimeja.


"Yeh.. masa bukan pacar, tapi dempet bener kayak gak mau lepas gitu.." makin meledek Risma dan membuatnya makin tersipu malu.


"Ah gak kok serius, baru kenal.." ujar Risma mencoba jujur.


"Oh yah, siapa sih.. kasih tau dong, asli ganteng banget" Felycia mulai menyelidiki.


Seakan tak melihatku mereka asik membicarakan tentang pria yang datang bersama Risma tadi malam, membuatku ingin tahu siapa pria itu.


"Dia dokter, baru teman aja dulu Fel.. kebetulan dia mau menemaniku datang semalam..


Selain itu dia juga baik dan sweet gitu.." Risma makin semangat membicarakan pria yang datang bersamanya, tak lupa dengan wajah yang memerah meronanya.


"Dokter.. Risma belum punya pacar dan dia datang bersama pria seorang dokter.." batinku berbisik, aku masih menguping keheranan sambil pura-pura mengetik sesuatu di handphone ku.


"Ciye.. romannya akan berlanjut nih, asli semalam kalian serasi banget loh, gue mau godain tapi segan.."


"Ah bisa aja kamu Fel, kamu datang dengan siapa semalam..?" tanya Risma.


"Sama anak Accounting, Diana, Rezky dan Fatur.. eh eh.. jadi namanya siapa yang baru temanan sama kami ini..?"


"Alvaro Fel... Entah mengapa saat aku kontrol kemarin dia tiba-tiba mengajak aku jalan.." sambil tersenyum malu.


Seketika aku terkejut mendengarnya, bagaimana bisa Alvaro bertemu Risma, atau karena kemarin aku menelepon Risma saat ke rumah sakit yang ternyata Risma datang ke tempat prakteknya Alvaro.


Pantas saja Alvaro bisa datang ke acara tadi malam, maksudnya apa dia mencoba mengelabui Risma yang ternyata untuk bertemu denganku.


Astaga... unexpected, apa yang dipikirkan Alvaro hingga melakukan hal seperti ini.


Risma dan Felycia masih asik membicarakan seputar acara tadi malam.


Aku langsung pergi meninggalkan meja Risma dengan kekhawatiran, yang akupun tidak bisa mengatakan apa-apa ke Risma, mengenai Alvaro yang menemuiku di toilet. Menyusulku hanya untuk... Arrghh


Pikiranku langsung teringat soal mimpi tadi malam, aku terlalu keras memikirkan Alvaro tentang sikapnya yang hampir menyentuhku hingga terbawa mimpi.


Bersambung..... ✨✨✨