
Oke aku pernah beberapa kali bertemu dengan orangtua Alvaro dahulu saat kami masih menjadi sepasang kekasih, tapi itu dahulu. Entah bagaimana sekarang, apakah masih sama baiknya seperti dahulu. Apa yang ada dipikiran mereka jika anaknya menjalin kasih kembali denganku, denganku yang akan memutuskannya. Aku tak sanggup untuk kesana, aku benar-benar tak mampu membuat Alvaro malu didepan keluarganya.
"Alvaro.." aku memberanikan diri membuka obrolan lain.
"Ya" sambil mengendarai.
"Hem aku sudah lama sekali tidak kerumahmu, apa orangtuamu tidak keberatan tentang hubungan kita ini lagi?"
"Gak ada masalah sih yah.. mereka kelihatan happy aja, malah aku disuruh mengajak kamu kerumah"
"Hem.. "
"Kenapa sih sayang gugup banget, gak apa-apa kok. Rileks aja yah.." Alvaro mencoba menenangkan.
"Hem.. aku.. aku gak bisa kesana sekarang. Maaf Alvaro, aku mau turun saja"
"Jovita, kamu kenapa? Kok tiba-tiba aneh gitu?, Sebenernya ada apa kamu bisa ngomong sama aku" Alvaro mulai gelisah saat aku bilang seperti itu.
"Maaf Alvaro, serius aku gak bisa"
Alvaro meminggirkan mobilnya untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Jovita, apa yang ada dibenak kamu ceritakan, aku gak mengerti dengan maksud kamu"
"Iya aku benar-benar gak bisa untuk kerumah kamu ataupun bertemu dengan keluarga kamu" aku juga mulai panik, aku mendesaknya untuk berhenti dan tak melanjutkan perjalanan ini.
"Iya kenapa gak bisa, aku seperti ini juga karena serius sama kamu. Coba jelaskan sama aku"
"Iya aku tahu, tapi.. aku belum bisa pokoknya belum bisa Alvaro"
"Harusnya kamu bilang, kenapa belum bisa. Aku jadi mengerti"
"Entah tapi hatiku belum mau untuk kesana" aku tak bisa menjelaskan lebih rinci, aku buntu.
"Oke, sekarang aku ikutin mau kamu, kita gak jadi kerumahku. Sekarang aku minta penjelasan kamu kenapa kamu seperti ini"
"Aku juga gak tahu Alvaro, aku hanya belum berkeinginan kesana"
"Aku benar-benar tidak mengerti, kamu bisa bilang kita gak akan kerumahku. Tapi kamu gak tau alasannya kenapa" Alvaro menepuk keningnya dan menutup mata sejenak.
"Aku mau pulang"
"Aku benar-benar minta maaf" hanya itu yang bisa kukatakan saat ini.
"Padahal aku mencoba melangkahkan kaki untuk masa depan kita, tapi kamu gak mau jujur sama aku soal ini" Alvaro terlihat sedikit kesal.
Mataku sudah berkaca-kaca, sumpah aku takut menyakitinya hingga keluarganya. Tak akan kulakukan jika itu yang terjadi. Mulutku diam seribu bahasa untuk mengatakan mengapa aku tidak mau kerumahnya.
Kulihat Alvaro masih termenung melihat kearah luar jendela. Entah apa yang dipikirkannya.
"Tolong beri aku jawaban"
"Beri aku waktu lebih untuk memberanikan diri tampil didepan keluargamu"
"Apa yang salah soal kita hanya datang untuk makan malam? Karena aku masih heran"
"Tidak ada yang salah antar kamu dan keluargamu, disini hanya aku. Aku yang salah" aku mencoba menenangkannya.
"Apa kamu mau pergi ninggalin aku?" Alvaro menebak dengan sangat tepat.
Seketika wajahku berubah, terkejut dengan ucapan Alvaro tadi.
"Jovita, aku bertanya"
"Kok kamu tiba-tiba ngomong seperti itu, tidak ada hubungannya"
"Kalau memang tidak, kenapa kamu gak bergeming untuk beri aku penjelasan yang aku bisa terima. Bagi aku alasan kamu tadi gak masuk akal, gantung"
"Izinkan aku pulang, atau setidaknya aku bisa pulang sendiri"
"Aku makin gak mengerti, kamu seperti menghindar. Buat apa kamu bela-belain pulang sendiri, sedangkan ada aku pacar kamu disini"
"Aku gak menghindar, aku gak mau berdebat Alvaro"
"Aku juga tidak ingin berdebat, alasan kami tidak cukup kuat untuk membatalkan pertemuan ini. Setidaknya kamu bisa menghargai orangtua aku yang benar-benar menginginkan kita datang"
"Baiklah, aku tidak bisa menutupi ini"
Ku kumpulkan tenaga untuk memberanikan diri untuk jujur padanya.