It Beats For You

It Beats For You
Always want to be close to you



Hati ini tak hentinya berbunga-bunga, entah dibagian mana aku merasakan jatuh cinta terlalu dalam.


Apakah karena aku dan Nevan telah kembali bersama atau.... Apa yang kami lakukan tadi pagi.


OMG sekali mengingatnya wajahku tersipu malu.


Tiba-tiba bu Glory membuka pintu ruang kerjaku.


Reaksi terkejutku terlihat sekali diwajah yang masih memerah ini.


"Jovita, tolong urus semua promosi ditahun depan dengan segera, karena kantor pusat menginginkannya..


ingat saya mau promosi tahun depan berbeda dengan tahun ini..


Biar gak mononton.. kamu harus kerja keras untuk ini, karena pengajuan dirimu saya batalkan.." tiba-tiba di akhir kata bu Glory berbicara seakan pengucapannya dibuat-buat.


"Oh iya ibu, iya saya sudah lihat di email semalam" kataku yang sudah berdiri saat beliau pertama kali masuk.


"Ku yakin kalian berbalikan kan.." selidik bu Glory dengan matanya yang melirik tajam.


"Bagai..mana.. i...bu.." aku terbata-bata mengatakannya


"Wajah merahmu itu terlihat sekali.. entah apa yang kamu pikirkan..


Oh iya malam ini ulang tahun saya, saya mau ada kado special dari kamu.. itung-itung telah membuat kamu kembali dengan pak Nevan.." sambil menggodaku.


Bu Glory ini terlihat kaku tapi sangat membingungkan bagiku, dia selalu saja menggodaku dengan memberikan beliau hadiah.


Tapi aku tak mempermasalahkannya, beliau ternyata pandai membuat aku dan Nevan berbaikan.


"Oh tentu bu, aku sudah mempersiapkannya.." kataku mengarang.


"Baguslah.. oh iya Risma sedang izin kerumah sakit beberapa jam dan dia akan kembali. Jadi tolong handle meeting siang ini dengan klien produk kita" pintanya.


"Oke baik bu.. saya siapkan sekarang" kataku.


"Oke thanks.." dan meninggalkan ruang kerjaku.


"Huft.. asli gue lupa hari ini ulang tahun bu Glory, mau kasih hadiah apa coba gue, secara dia high class banget..


Mana mbak Risma kebetulan lagi izin, gimana mau belanja hadiahnya coba.." pikiranku seketika berubah menjadi rumit, aku tahu ulang tahun bu Glory sama dengan bulan ulang tahunku.


Aku mengecek email dan benar saja bu Glory mengundang karyawannya ke acara yang dia adakan.


Bunyi telepon mengagetkanku.


"Jovita.." sapaku.


"Iya mbak.. lo dateng malam ini?" Tanya Hifza.


"Iya dateng kenapa?" Sahutku.


"Duh gue lagi mager lagi, semalem nonton midnight masih ngantuk banget rasanya.." curhat Hifza.


"Nah loh, bisa dipecat nanti kalau gak dateng.. apalagi gak bawa hadiah.." ancamku.


"Haduh.. riweh banget. Gue gak ada persiapan lagi.." bingung Hifza.


"Gue juga gak ada bawa, hari ini mbak Risma lagi izin.. bu Glory minta disiapin meeting siang ini terpaksa stay di kantor..


Kalau gak, lo buat jadwal visit event di mall hari ini nanti gue acc.. nah gue sekalian nitip hadiah tuk bu Glory yah.." pintaku untuk mempersiapkan malam ini.


"Yah.. keluar duit deh gue" cibir Hifza.


"Gue ganti.. sekalian dress ya, size M foto untuk gue pilih" kataku meneruskan.


"Iya.. maksudnya gue yang ngeluarin duit"


"Haha.. udah resiko, dari pada dipecat.." ledekku.


"Yaudah deh, sekali-kali nyenengin bos.. lumayan juga makan gratis..


gue sama Chessy ke event ya" ujar Hifza.


"Oke, gue tunggu izin visitnya"


"Okey mbak.. sip.."


Kami menyudahi teleponnya dan menatap laptop kembali.


"Ah mantap deh bu Glory, ulang tahunnya di ballroom Hotel Four Grand Gold, masih cukup muda padahal yah 40 tahun.." gumamku saat membaca undangan di email.


Aku mengerjakan persiapan dan presentasi meeting siang ini dan telah menandatangani izin visit Hifza dan Chessy alih-alih untuk membeli hadiah juga gaun untukku.


Padahal hati ini masih merasakan gelora kasmaran, berubah menjadi kesibukan kerja dan aku akan lama bertemu dengan Nevanku. Huhuhu...


Aku mengabarkan Nevan tentang apa yang akan kulakukan hari ini.


"Sayang, aku malam ini ada undangan ulang tahun bu Glory di Ballroom Hotel Four Grand Gold.." aku mengatakannya via WA agar tak menganggu pekerjaannya.


"Yaudah aku ikut, aku dengan senang hati menghadirinya.." balas Nevan.


"Oh.. oke.." kataku.


"Sampai ketemu saat ku jemput nanti my love.." balas Nevan lagi.


"Oke sayang.." balasku sambil tersenyum saat membaca my love dari Nevan.


Baiklah Nevan ikut, ini akan menjadi go public pertama kami setelah bersama.


Aku masih saja tersenyum saat memikirkan Nevan dan kini aku sudah merindukannya.


🌼


Siang ini aku mulai bekerja sesuai arahan bu Glory.


Karena ada file yang harus dibawa saat meeting dan file tersebut masih berada di mbak Risma.


Akhirnya tentu aku harus menghubunginya dahulu.


"Halo mbak Risma, sorry ganggu.. aku diminta sama bu Glory untuk laporan week ini, ditaro dimana ya..?" Tanyaku ditelepon.



"Aduh lupa aku belum print mbak Jovita, nanti aku email ke mbak aja yah.." jawab mbak Risma.


"Oh oke.. mbak kapan sampe sini?"


"Iya aku masih kontrol, ini baru aja diruang dokter.." sahut Risma.


"Oh ya.. oke deh, thanks ya mbak" aku baru saja mau menutup telepon tapi mbak Risma masih berbicara ditelepon denganku.


"Iya thanks juga ya mbak dah bantuin maaf jadi merepotkan, soalnya ini juga mendadak pas pagi aku gak nyaman, terpaksa pagi ini aku harus kontrol.." curhat Risma.


"Iya gak apa mbak, lagi ke dokter mana..?" bertanya dengan sedikit perhatian.


"Oh iya gak apa mbak, cepat sembuh ya.."


"Iya.. thanks mbak.."


Kami menyudahi telepon ini dan aku tidak menyadari apa-apa, fokus pada file yang akan dikirimkan Risma.


"Maaf ya dok tadi ada telepon mendesak dari rekan kantor" kata Risma seakan tak enak menyela pembicaraan saat pemeriksaan.


"Oh iya tak apa, saya maklumi.. ngomong-ngomong mbak bekerja dimana kalau boleh tau..?" Selidik Alvaro yang mendengar Risma menyebut nama Jovita.


"Indogrand Sejahtera dok.." jawab Risma dengan polos.


"Oh.." mencoba memberikan respon singkat.


"Apa dokter pernah dengar?" selidik Risma.


"Belum.. oh iya.. tadinya aku berencana untuk mengajak dinner malam ini, mungkin kamu bisa luangkan waktu?" mencoba mengajak Eisma lebih dekat.


Risma tersipu mendengar ajakan dokter muda dan ganteng ini.


"Hem.. aku ingin, tapi kebetulan hari ini sepulang kantor ada acara ulang tahun bos aku dok..


Mungkin bisa lain hari atau mungkin dokter mau ikut bersamaku?" Risma memberi pilihan.


"Wah dengan senang hati jika kamu mengizinkan.." Alvaro makin bersemangat.


"Tentu.. itu akan menyenangkan" setuju Risma.


"Kalau begitu aku akan jemput sepulang kantor bagaimana?"


"Perfect.." Risma seakan tak percaya diajak dokter yang sesuai dengan tipe pria yang diinginkan.


"Baiklah, aku boleh minta nomor kamu nanti kamu bisa beritahu alamat dan jam pulang kantor kamu?" Berpura-pura tidak tahu untuk tidak mencurigakan.


"Oke" Risma memberitahukan sesuai Alvaro tanyakan.


"Baiklah, aku tunggu kabar dari kamu yah" sahut Alvaro dengan begitu menariknya.


"Iya.. kalau begitu saya harus kembali ke kantor, sampai ketemu nanti sore.." Risma makin salah tingkah.


"Oke" ujar Alvaro dengan senyuman manisnya.


Risma meninggalkan ruangan itu dengan hati yang berbunga-bunga.


"Aduh.. mimpi apa semalam, bisa diajak nge-date sama dokter ganteng ini..


Duh aku harus dandan banget malam ini, masih ada waktu sampai makan siang.. aku harus ke mall cari drees sama hairdo di salon..


Baiklah, lets go.." Risma terburu-buru ke mall untuk membeli gaun malam ini dan ke salon semata-mata untuk mempesona didepan dokter muda nan tampan.


🌼


Setelah mendapatkan file yang dikirimkan oleh sekretaris bu Glory, aku segera print dan mempersiapkan meeting siang ini dan syukurlah semua berjalan baik seperti biasanya.


Hifza dan Chessy juga sudah membantuku untuk membelikan hadiah bu Glory dan gaun malamku.


Nevan sesekali mengirimkan pesan singkat yang romantis untukku. Membuatku makin tak sabar untuk bertemu dengannya.


Jam pulang kantor Hifza dan Chessy sudah tiba dan memberikan pesananku.


"Nih ya mbak, gila deh lo beliin dia perhiasannya mahal banget, terniat sumpah.." heran Hifza.


"Iya.. kita jadi minder tau gak mbak.. apalah arti kita yang hanya staff biasa.." Chessy mendramatisir.


"Yaampun kalian berlebihan.." kataku.


Dan membisikkan sesuatu ke Hifza.


"Bu Glory berkontribusi membuat hubunganku dan Nevan kembali" dengan bersemangat mengatakannya pada Hifza.


"Aaa..aa..aa" teriak Hifza yang mengagetkan Chessy.


"Aah sumpah.. serius?" Hifza kaget bukan kepalang.


Aku mengangguk dan Chessy kebingungan melihat tingkah kami.


"Ah asli ini, kalau begitu memang worth it banget deh..


Gilak.. kok bisa gitu?" masih tak percaya dari apa yang terakhir Hifza ketahui.


"Entahlah.. semua terjadi begitu saja" aku menggoyangkan bahuku.


"Jadi gak perlu galau-galau melankolis lagi yah.." ledek Hifza.


"Hu'um.." sahutku.


"Nanti malam datang?" Tanya Hifza dengan mata yang mendelik ingin tahu.


"Iya.." teriakku.


"Yaaampun... Asli ini udah berani tampil yah, gilak deh kayak hubungan lo mbak musti berliku-liku dulu..


Bentar baik.. bentar berantem.. haduh.. rumit banget sih kalian" dan menggelengkan kepala.


Aku hanya tersenyum.


"Au'ah.. gak cerita.. cuman jadi nyamuk aja gue nih" Ujar Chessy ngambek.


"Haha.. ini mbak Jovita nanti datang sama tunangannya pak Nevan.."Hifza memberitahu.


"Aa..aaaaa..aaa serius sumpah apa mbak?" Ternyata Chessy lebih terkejut mendengarnya.


"Gue gak sabar lihat pak Nevan yang ganteng sejagat.. sumpah" Chessy mengatakannya dengan begitu menggebu-gebu.


"Oke.. jam kantor mau selesai.. so cepat dandan deh.. nanti gak keburu.." kataku karena aku juga mau menganti make up ku agar lebih fresh.


"Oke.. oke.. yang mau pergi sama pacarnya..


Lah kita sama siapa.. huhu" Chessy masih meratapi diri.


"Sama gue, lo kan kemana-mana juga sama gue.." dan melingkarkan tangan Hifza ke Chessy.


"Yah.. lumayan deh.." melirik Hifza sambil manyun.


"Yuk" tawa Hifza.


Lalu aku mencuci muka ditoilet dan mulai merapikan diri make up dan mencatok rambutku agar lebih menarik.


Membuat aku begitu cantik didepan Nevan tunanganku.


Duh.. aku gak sabar untuk datang bersamanya, seakan-akan ingin memberitahu kepada rekan kerja yang datang nanti.


Bersambung..... ✨✨✨