It Beats For You

It Beats For You
Don’t forget about us, i'm sorry



Aku merasa mamaku penyelamatku, beliau meneleponku disaat yang tepat. Saat aku tak mampu untuk menyudahi apa yang sudah kulakukan. Beruntungnya aku masih ada penolong yang menyelamatkanku. Akan sulit rupanya jika kita sudah terbuai oleh godaan setan itu.


Tapi setiap sentuhan dan cumbuan itu memang membuatku terperangkap didalamnya, permainannya membuatku ingin lagi dan lagi. Kami memang tidak pernah seperti ini saat masih menjadi kekasih dahulu, mungkin terlalu muda bagi kami melakukannya.


Lalu bagaimana Alvaro bisa bermain begitu indahnya diatasku, apa pria akan lebih cepat mengetahuinya dibanding wanita. Aku yang tak pernah melakukan ini sebelumnya menjadi hal baru yang ingin kurasakan. Kenikmatan itu bisa membutakan mata begitu saja, hingga diluar kendaliku.


"Aku mau mandi dan habis itu pulang" aku turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, kulihat Alvaro tidak bergeming saat aku mengatakan itu.


Aku bergegas membersihkan diri, kucuran air dari shower head membuatku berpikir, bagaimana tadi kita telah melakukannya, kebablasan hingga puncak kenikmatan itu. Aku terpaksa tetap disisi Alvaro dan harus mengakhiri dengan Nevan, sedangkan aku sudah berencana untuk menjadi kekasih Nevan. Tidak mungkin Nevan menerimaku dalam keadaan tidak menjaga diriku sendiri dalam keadaan kotor seperti itu.


Dia dari keluarga berwibawa, tidak mungkin juga keluarganya menerimaku yang sudah melakukan zina dengan pria lain. Arrgh kebodohanku yang tak mampu kupikir mengapa harus terjadi.


Lalu apa yang akan kulakukan selanjutnya, aku tetap ingin bersama Nevan sedangkan Alvaro menolak berpisah denganku.


Yang ada dipikiranku sekarang aku ingin keluar dari sini dan membuat kita baik-baik saja dahulu. Aku akan memikirkannya nanti sepulang dari sini.


Aku sudah selesai bersih-bersih diri dan keluar dari toilet, aku memakai baju kimono putih yang sudah tersedia dilemari pakaian.


Kuberjalan kearah Alvaro, kulihat dia sedang mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya yang jatuh dilantai.


"Tidak apa-apa, tidak usah khawatir" ujarnya dingin dan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.


"Kamu merokok?" Tanyaku terheran-heran, apa yang aku pikirkan, aku mengambil dari tangannya.


"Jovita kembalikan, aku sedang butuh itu" sikapnya tak lagi terlihat tenang, sedikit gusar menurutku. Alvaro duduk diatas sofa yang berada didepan televisi dan terdiam.


Aku mendekatinya, mengetahui ada yang dipikirkan dan pasti tentangku. Sedikit bertingkah manja, aku duduk dipangkuannya. Menatap wajah Alvaro yang bimbang, kusentuh wajahnya mungkin bisa membuat sedikit rileks dari sebelumnya. Kulihat dia merasakan kehangatan tanganku dan mencium telapak tangan yang sudah berada dipipinya.


Pria yang sebenarnya tidak salah apa-apa, menjadi akibat keegoisan diriku. Kini terlihat tak lagi berseri, akankah aku terus seperti ini untuk menyakitinya. Tak terasa aku menitikan air mata selagi mencoba menenangkannya. Hatiku begitu perih, tak seharusnya aku berbuat ini, tapi semua sudah terlanjur dilakukan.


Aku mencium bibir Alvaro, merasakan bukan untuk menggairahkannya. Kali ini aku seperti tulus menciumnya karena kasih sayangku padanya. Alvaro juga membalasku tak seperti tadi saat ditempat tidur, begitu perlahan.


Aku menikmatinya, seakan aku ingin memberikan ciuman terakhirku padanya. Memberikan kehangatan hanya untuk kali ini, isyarat terakhir kalinya untuk dapat kita kenang. Jahat memang tapi kuingin nanti dia berpikir, aku memang pernah begitu mencintainya, sebelum aku bertemu dengan seseorang yang mengalihkan hatiku darimu.


Maafkan aku Alvaro, jika kamu akan tersakiti saat ini.