It Beats For You

It Beats For You
Sweet but a psycho



Pagi ini aku masih dijemput oleh Alvaro ke kantor, dia masih gigih untuk selalu memperlihatkan keseriusannya padaku.


Selama diperjalanan aku hanya diam, biarpun Alvaro mengajak ngobrol hingga sampai dikantorku.


Aku melanjutkan rutinitas seperti biasa, mengerjakan pekerjaanku.


Sudah jam 11 siang, aku sesekali melihat kearah tempat duduk sekretaris bu Glory. Karena masih penasaran aku mencoba mencari alasan untuk sedikit mengulik tentang mutasi ke Singapore.


"Hay mbak Risma, ini laporan tentang promo bulan Desember nanti, titip untuk bu Glory yah.."


"Oiya mbak Jovita, tapi bu Glory belum masuk hari ini, mungkin Rabu beliau masuk" ujar Risma menjelaskan.


"Oh iya gak apa, katanya beliau ke Singapore.. mengenai apa meeting disana?" Aku mulai dengan misi ku.


"Kemarin sih beliau bilang akan ada cabang baru disana, dari pihak Singapore minta dua orang perwakilan kita yang mau ditugasin disana.."


"Oh yah.." berarti apa yang dikatakan Hifza benar.


"Kira-kira sudah ada kandidatnya?"


"Bu Glory ada diskusi sebelum pergi kesana sama pak Jeremy karena beliau juga pernah tinggal di Singapore.."


"Oh pak Jeremy, iya beliau pernah tinggal dan bekerja 3 tahun yah disana sebelum bekerja disini, lalu siapa lagi?"


"Belum ada diskusi, tapi beliau ada nanya ke aku, siapa yang jadi kandidat selanjutnya.."


"Hem.. mbak Risma, rekomendasiin aku dong.." pintaku akhirnya kukatakan juga.


"Loh.. mbak Jovita mau dimutasiin kesana?" Kata Risma dengan wajah terkejut.


"Iya.. biasa cari pengalaman baru.. oh iya memangnya butuh kapan dari pihak sana"


"Secepatnya, tapi aku belum diberitahu kapan pastinya"


"Ooh gitu..."


"Loh.. bukannya sudah tunangan yah sama pak Nevan?" Selidik Risma.


"Kalau boleh jujur, tapi tolong jangan dibahas ke yang lain..


Aku dan Nevan baru aja putus.. makanya karena kudengar ada posisi di Singapore, aku berminat untuk mengajukan diri.


Biar bisa move on" ungkapku sedikit malu-malu.


"Duh sayang sekali, siapa coba yang gak mau sama pak Nevan.. kenapa bisa putus mbak?" Selidik Risma.


"Hemm privasi.." kataku singkat.


"Oh.. haha baiklah, jadi nanti ku info ke bu Glory kalau mbak Jovita berminat mengenai mutasi ini"


"Iya.. makasih yah mbak Risma"


"Sama-sama.."


Aku meninggalkan ruang kerja sekretaris bu Glory.


Tiba-tiba Chessy mengagetkanku.


"Doorrrr..." Tawa Chessy yang berhasil menjahiliku.


"Yaampun Chessy" kataku mengeluh.


"Yah masa kaget sih mbak, lagian tumben ke meja kerja mbak Risma, biasa juga manggil aku.." ujar Chessy.


"Gak apa, sekalian silahturami sama dia, semenjak cuti kan belum ketemu" ujarku beralasan.


"Masa sih, eh iya kemarin aku gak ketemu mbak karena lagi ada event di mall.. ciye yang sudah tunangan.. enaknya ke luar negeri malah dilamar, pasti lo seneng banget kan mbak.." canda Chessy.


"Tadinya sih gitu.." ujarku ketus.


"Kok tadinya, lah memangnya sekarang kenapa.." Chessy terkejut mendengar penyataan itu dariku.


"Chessy.. sssttt... Yaudah gue masih banyak kerjaan, bye" aku menghindar dari Chessy dan pertanyaannya.


"Yah.. bikin nanggung nih, ah tanya mbak Hifza ah, pasti mbak Jovita udah curhat nih ke mbak Hifza.." Chessy mencari Hifza diruangannya.


Aku duduk di kursi kerjaku, sambil mencari CV yang mungkin dibutuhkan untuk pengajuan mutasi nanti.


"Semoga ini jadi jalan terbaik, lebih baik aku tidak memilih salah satu dari mereka.. aku tahu diri karena sudah melakukan kesalahan, setidaknya bekerja menjadi alasanku untuk melupakan mereka" gumamku.


Alvaro sesekali menanyakan kabarku saat ini melalui WA, perasaanku hanya datar melihat perhatian yang dia coba tunjukkan padaku.


Maafkan aku Alvaro bukan kamu yang salah, hanya aku yang tidak pantas untukmu.


Jam pulang kerja, Alvaro sudah menunggu di Lobby dengan senyumannya.


Aku berjalan kearahnya tanpa ekspresi.


Selama perjalanan pulang.


"Kita makan dulu yah.." ajak Alvaro.


"Hem aku sedang banyak pekerjaan hari ini, akan aku lanjut kerjakan di apartemen. Aku tidak bisa saat ini, kamu cukup antarkan aku saja nanti" pintaku.


"Tapi kan kamu butuh energi untuk mengerjakan pekerjaanmu" Alvaro sambil menyetir.


"Tidak apa, aku ada makanan yang bisa aku masak jika lapar" aku sambil mengecek handphone


"Kalau begitu bungkus saja dan kita makan diapartemen kamu bersama"


"Alvaro, aku tidak bisa.. aku ada pekerjaan, tolong mengerti" aku bersikukuh.


"Aku tidak akan mengerti dengan alasan yang bisa saja kamu buat"


"Aku serius, untuk apa aku membuat alasan"


"Untuk selalu menghindar dariku, memangnya kamu pikir aku tidak merasakannya?" Suara Alvaro terdengar mulai emosi.


"Kali ini aku serius.." aku masih menegaskan.


"Aku juga serius.. aku ingin makan di apartemen dan sebelumnya kita akan take away makanan terlebih dahulu" ujar Alvaro sedikit melunak.


"Aku sudah bilang, aku tak ingin kamu datang ke apartemen ku lagi !" akupun terbawa emosi.


"Aku juga sudah bilang kalau aku tidak akan menurutimu"


"Kamu ini kenapa sih, aku sungguh tidak suka kamu bersikap terlalu berlebihan seperti ini !!!" amarahku meluap.


"Karena aku pernah kecolongan saat aku terlalu memberi kamu kepercayaan"


"Please.. aku akan bekerja, aku butuh fokus untuk mengerjakannya, jadi aku mohon kamu jangan ganggu aku!"


"Kalau kamu mau mengerjakan, ya kerjakan saja. Aku akan diam untuk melihatmu bekerja, tidak ada yang salah kan"


"Bagiku itu mengganggu"


"Aku takkan menggangu"


"Sungguh aku sudah tidak tahan dengan sikapmu ini, aku jelas tidak ingin ada kamu. Tolong kamu mengerti dan jangan ganggu aku !!!"


"Aku sama sekali tidak mengangu, tapi aku hanya tidak mau"


"Aku bisa buka pintu ini dan melarikan diri dari kamu"


"Apa maksud kamu.." mobil ini berjalan pelan setelah aku mengancam Alvaro untuk lari dari mobil ini.


"Aku serius.."


"Jovita, apa salahnya mendengarkan semua perkataanku, atau kamu masih menginginkan Nevan?" Alvaro menepikan mobilnya, yang saat ini sudah sampai didekat lingkungan apartemenku.


"Aku sudah putus, dia yang memutuskan aku, didepan kamu. Kamu ingat?!" Kataku ketus.


"Aku seperti ini juga karena kamu, trauma akan kehilanganmu masih menghantuiku !!" Alvaropun ikut terbawa emosi.


"Kalau begitu mengapa masih kamu pertahankan !!!" Ujarku dengan nada suara meninggi.


Alvaro mengambil sesuatu dari box yang berada disamping kirinya, dan aku melihat dia mengambil benda dari sana.


Pisau..


Aku terkejut, Alvaro mencoba menyakiti dirinya.


"Alvaro apa yang kamu lakukan..?" aku panik melihat Alvaro yang telah membuka pisau lipat itu dan memegang pisau itu hampir menyentuh pinggangnya.


"Kamu lebih suka menyakitiku kan, daripada kamu yang menyakitiku, lebih baik aku sendiri yang menyakiti diriku !!"


"Astaga.. apa kamu sudah gila, kamu tidak boleh melakukan itu" suaraku mulai memelan menghindari Alvaro berbuat hal yang tak diinginkan.


"Aku memang sudah gila.. sudah kubilang berkali-kali padamu tentang cinta ini, tapi kamu terus menolaknya" Alvaro perlahan mendekatkan pisau itu ketubuhnya.


Aku panik luar biasa saat ini, melihat tindakannya yang sungguh gila.


"Alvaro dengarkan aku, tolong jauhkan itu dari tubuh kamu, aku.. aku tak ingin kamu terluka" aku mencoba menenangkannya.


"Kamu tidak sadar, sikapmu yang dingin itu telah membuatku jauh terluka"


"Maafkan aku, tolong lepaskan itu. Baiklah aku akan mendengarkan semua kata-katamu mulai sekarang. Tapi kumohon jauhkan itu darimu" mobil ber AC inipun membuat aku berkeringat.


"Kamu lebih takut aku tersayat oleh pisau ini dibanding dengan sikap kamu yang selalu menghindariku yang kamu pikir aku tidak terluka karenanya"


"Oke.. maafkan aku, aku akan merubah semuanya seperti keinginan kamu Alvaro.."


"Aku tak ingin seperti keinginanku, aku ingin kamu kembali seperti semula, seperti sebelum kamu kenal pria selingkuhanmu itu. Cintamu yang tulus hanya untukku"


"Okey.. okey.. please.. please jauhkan barang itu dan berikan padaku" aku mencoba menenangkan Alvaro yang sedang diluar kontrol.


Kulihat matanya berkaca-kaca melihatku, akupun juga begitu. Aku mencoba mendekat dan mengambil pisaunya membuang jauh darinya.


Aku memeluknya.


"Maafkan aku.. maafkan aku Alvaro"


"Tolong jangan bertengkar lagi, jangan menghindar lagi dan jangan pergi lagi dariku.. aku benar-benar mencintaimu" tangis Alvaro pecah dipelukanku.


"Tidak.. aku tidak akan seperti itu lagi, maafkan aku" aku memeluknya dan mengusap tubuhnya.


"Janji.."


"Janji" dengan berat hati aku mengatakannya, entah ini suatu kejujuran atau kebohongan lagi.


"Jangan berusaha menjauhkan aku darimu lagi, aku hanya ingin dicintai kamu.. itu saja" Alvaro memelukku penuh haru.


Aku mengangguk, tiba-tiba suasana ini menjadi begitu melankolis.


Alvaro mengusap air matanya yang sedikit jatuh dipipinya.


"Kita makan malam diluar atau diapartemen?" Mencoba menetralkan suasana.


"Makan malam diluar, tiba-tiba aku lapar sekarang" sedikit manja seperti aku yang sebelumnya.


Mendengar itu kami berdua tertawa.


"Okey.. kita cari dekat sini kalau begitu" Alvaro telah merubah moodnya bersikap lebih baik lagi.


Astaga, kenapa Alvaro menjadi nekat seperti itu. Rasanya jantungku mau copot berada disituasi yang pertama kali kuhadapi.


Ya Tuhan.. bagaimana nanti jika aku diam-diam pergi begitu saja ke Singapore. Kuharap dia tidak melakukan hal yang gila seperti tadi.


Di dekat apartemenku ada cafe kecil yang makanannya cukup enak. Kami turun dari mobil, Alvaro langsung mengandengku, kali ini sikapku berubah dibanding kemarin, setelah kejadian yang mengerikan tadi.


Aku berusaha bersikap manis didepannya, membuatnya nyaman bersamaku. Karena dia juga berusaha membuatku nyaman bersamanya.


Sambil makan aku beranikan diri untuk membahas hal yang tadi dia lakukan, agar tidak dia ulangi lagi.


"Kamu menyimpan pisau lipat dimobil?" Tanyaku heran.


"Iya sewaktu-waktu jika diperlukan" menjawab dengan santai sambil makan.


"Agak aneh sih, tapi jangan lakukan itu lagi" aku memperingatkannya


"Selama kamu tidak membuatku menyerah"


"Harusnya kamu tidak boleh berpikir seperti itu, itu bisa melukaimu"


"Aku lebih rela menyakiti diriku sendiri dari pada menyakitimu"


Deg..!!!


Hatiku mulai luluh mendengarnya.


"Pokoknya lain kali jangan lakukan itu lagi, aku tidak ingin kamu melukai diri sendiri seperti itu" tegasku.


"Kalau begitu cintai aku lagi seperti dulu, hanya itu permintaanku" Alvaro mengatakannya dengan menatapku.


Aku menatap matanya, ketulusannya terpancar dari mata itu untukku.


"Iya.."


"Iya apa..?" Tanya Alvaro dengan sengaja untuk memperjelas.


"Iya aku akan memberikan semua cintaku padamu" ungkapku.


"Jangan pernah berbohong lagi padaku"


Aku mengangguk.


"I love you" ujar Alvaro.


"I love you" aku sungguh tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa, aku hanya menuruti semua permintaannya, menenangkan ketegangan yang baru saja terjadi.


"Baiklah, setelah makan aku akan segera mengantarkanmu pulang, agar kamu tidak lelah saat mengerjakan pekerjaanmu.


Lagi pula kenapa kamu bawa pekerjaan kerumah"


"Memang seperti ini kulakukan, ini salah satu jalanku mendapatkan promosi disetiap tahunnya"


"Susah memang kalau punya kekasih workaholic seperti itu, kurangilah dari sekarang, karena setelah menikah nanti waktumu akan lebih banyak untuk keluarga kecil kita"


Aku hanya tersenyum saat dia mengatakannya.


Alvaro mungkin sudah merencanakan begitu panjang untuk hidup bersamaku.


Sedangkan aku merencanakan untuk segera menghilang dari hidupnya.


Ini sungguh tidak adil baginya, tapi ini juga tidak kuinginkan dan terpaksa kulakukan.