
Kami banyak bergurau saat diruang tunggu dan Alvaro sukses membuatku nyaman kembali dengan dirinya, tapi tidak untuk menjadi kekasih. Hatiku sedang galau dan tak ingin membicarakan tentang hal yang akan menyulitkanku.
Pesawat kami sudah siap, kami dipersilahkan masuk dan berjalan perlahan menuju kedalam kabin pesawat. Alvaro didepanku dan aku mengikutinya. Kami duduk bersebelahan, aku di nomor bangku 36A dan Alvaro di nomor bangku 36B, setelah Alvaro membantuku memasukkan tas ke bagasi kabin pesawat, lalu kami duduk dibangku masing-masing.
"Wow akhirnya, di pesawat juga yah" ujar Alvaro.
"Hu'um.." jawabku singkat.
"So.. "
"So.. what?" tanyaku.
"Kekasih barumu tau kamu pergi?"
"Entahlah, dia tahu aku akan pergi liburan, tapi aku belum bilang tanggal berapa" ujarku.
"Loh.. kenapa, katanya kamu lebih memilih dia" heran Alvaro.
"Tadinya aku mau kabari hari ini paling lambat, tapi kemarin kami bertengkar hebat" kataku.
"Wah.. oke aku tertarik mendengarnya, lanjutkan ceritanya" Alvaro tersenyum.
"Aku tinggal beberapa hari bersama dia, baru dua hari tepatnya" ujarku.
"Astaga sayang.. aduh kamu tuh percayaan banget sih sama pria, kok bisa kamu tinggal sama dia.. niat banget selingkuhnya sampai menghindari aku seperti itu" Alvaro terlihat kesal.
"Dia yang menawarkan.. tadinya aku mau tinggal di hotel"
"Tapi kamu gak di apa-apakan dia?" tanya Alvaro.
"Tidak, dia orangnya baik banget.. gak seperti kamu" ledekku.
"Loh kok jadi aku.. bete ah, yaudah lalu bertengkar kenapa tadi kamu bilang?" Alvaro kembali ke pembicaraan sebelumnya.
"Karena kamu"
"Aku..?" Alvaro terlihat senang.
"Ada yang membicarakan kita dikantor, saat dia menungguku dikantin. Terlihat dia tidak terima akan hal itu" ungkapku.
"Loh kenapa.. cuma bicarakan kita lalu kalian bertengkar.. gimana aku yang tega diputusin karena dia" masih menyisikan sakit hati walaupun sudah mencoba mengikhlaskan ku.
"Iseng deh kamu.. mereka membicarakan kita soal kissing" ujarku sedih.
"Ohh oke, aku mengerti" Alvaro berpura-pura mengabaikan perkataan itu.
"Aku juga, tapi aku mencoba terima kenyataan saat ini, berdoalah agar dia tak akan menghubungimu lagi" harap Alvaro.
"Isshh jahat banget sih" aku mencubit manja Alvaro, tetapi karena dia memakai jaket tebal jadi cubitanku mengenainya.
"Memangnya masih ngarepin?" tanya balik Alvaro.
"Entahlah, aku tak yakin.." aku tak bisa mengharapkan sesuatu yang aku tak mampu pikirkan.
Pesawat pun memulai perjalanannya. Status take off 19.05 WIB dan akan transit di Bangkok pukul 00.15, lalu tiba di London perkiraan pukul 06.20 waktu setempat.
"Alvaro.. kenapa..?" tanyaku sambil melihat kearahnya
"Kenapa apanya?" Alvaro bingung.
"Kamu ada disini dan memberikan hadiah super mahal ini padaku" kataku.
"Karena cinta dong, apalagi.." jawab Alvaro.
"Tapi aku tak lagi mencintaimu" ujarku datar, aku tak ingin memberikannya harapan palsu.
"Jika jodoh, kita akan bertemu dipelaminan.. jika tidak.. aku yang akan mengantarkan mu kedepan calon suamimu nanti dan aku ikhlas..
Semua kulakukan agar kamu bahagia" ujar Alvaro begitu tulus saat mengatakannya.
"Kamu tuh bikin aku jadi bersalah sendiri". ucapku.
"Ya.. itu tau.. ngapain juga selingkuh" ledek Alvaro.
"Terus.. teruuss" jutekku.
"Hehe iya.. jangan ngambek dong sayang" candanya.
"Au ah.. jadi ngantuk.. aku tidur dulu ya.. nanti pas landing bangunin" aku tidur dalam keadaan duduk di pesawat.
"Sini ajah" Alvaro mengarahkan kepalaku dengan tangannya perlahan ke bahu Alvaro.
Baiklah.. begini lebih nyaman.
Bagaimana ini bisa terjadi, Alvaro menjadikanku teman sekaligus orang yang dicintainya. Begitu besar kasih sayangnya padaku, hingga rela melepaskanku untuk orang lain, tetapi masih ada disisiku seperti saat ini. Ini memang diluar dugaanku setelah drama yang kita jalani sebelumnya, tapi aku senang Alvaro menemaniku sekarang disini.
Aku menyelipkan tanganku dilengannya, membuat diriku lebih nyaman dan hangat, hangat seperti pribadi Alvaro.