It Beats For You

It Beats For You
Locked in the hotel



Semenit ini aku berusaha mengeluarkan semua keinginan ku benar-benar untuk mengakhiri.


Aku yang masih duduk di sofa dekat jendela mencoba untuk berdiri dan meraih tasku yang ada dimeja.


"Alvaro, aku tak bisa berlama-lama disini, aku lebih baik pulang" aku berjalan kearah pintu yang harus melewati sofa tempat Alvaro duduk.


Seketika Alvaro berdiri dan menghentikanku.


"Jangan kamu berpikir ini akan semudah itu, aku sudah jelaskan serinci itu kalau aku tidak bisa berpisah denganmu. Jika kamu bersikeras untuk itu, terpaksa aku menggunakan cara lain agar kamu tetap disisiku" Alvaro mengatakannya tepat didepan wajahku dengan begitu tegas, sambil menggenggam tanganku.


"Aku berpikir ini sudah jelas dan sudah berakhir"


"Astaga kamu benar-benar ingin melukai aku berulang kali Jovita"


Alvaro begitu terkejut akan responku dan genggamannya semakin menyakitiku.


"Alvaro lepas kamu menyakiti tanganku" aku berusaha melepaskan genggamannya.


"Itu hanya tangan Jovita, hatiku terlalu dalam kamu sakiti dalam sekejap"


Aku berusaha tuk menerobos tubuh Alvaro agar aku bisa keluar dari kamar hotel ini. Tapi aku tak cukup kuat untuk menggeser tubuhnya.


"Kamu mau apa Alvaro?, Kita sudah tidak ada yang perlu dikatakan lagi"


"Aku hanya mau kamu itu aja, tanpa ada keinginan diluar nalar kamu itu"


"Aku takkan mengulangi untuk membahas hal ini, biarkan aku pergi" aku sedikit menggunakan tanganku untuk mendorongnya.


"Tidak semudah itu"


Alvaro menarikku kearah tempat tidur dan membuang tas yang kugenggam. Alvaro menakutiku dengan memposisikan tubuhnya diatas tubuhku. Aku tak ingin ini terjadi, aku tak ingin melakukannya lagi walaupun hanya untuk berciuman.


"Alvaro kamu sudah gila, minggir aku ingin pergi"


"Anggap saja aku memang sudah gila karena kamu yang pertama membuat aku seperti ini"


Alvaro membuka sisa kancing yang belum terbuka dikemeja birunya.


"Kalau memang harus seperti ini, aku akan lakukan. Tadinya aku akan menunggu hingga kita menikah, tapi kamu sudah ingin pergi dariku. Hanya cara ini yang akan membuat kamu tetap disisiku. Benar kan"


Dia telah membuka seluruh bajunya dan mulai perlahan membuka ikat pinggang miliknya yang berwarna hitam.


"Aku atau kamu yang gegabah, sudah ku peringati sebelum ini terjadi. Kamu takkan bisa lepas dariku"


"Alvaro aku akan melaporkan ini ke polisi"


"Lakukan, jika kamu bisa. Tapi sayangnya saat ini kamu tidak akan bisa. Karena kamu terpaku bersamaku disini"


Alvaro mulai menjilati seluruh leher dan wajahku. Ini pertama kalinya aku benar-benar tidak menginginkan ini terjadi, tidak ingin melakukannya, tidak mau mengikuti gairahnya lagi.


"Alvaro pliss tolong lepaskan aku, bukan seperti ini kamu memperlakukanku" tangisku pecah saat Alvaro mulai membuka satu persatu kancing bajuku.


"Jadi seperti apa aku harus memperlakukanmu, sedangkan kamu sama buruknya saat memperlakukanku dan ingin meninggalkanku begitu saja" kulihat Alvaro menitikan air matanya. Mungkin dia tak sanggup untuk menahannya lagi.


Astaga hatiku yang sedang menangis menjadi ikut bersedih melihatnya, mungkin benar bukan ini yang ingin Alvaro lakukan. Dia hanya ingin agar aku tetap bersamanya, agar aku takkan lari lagi jika dia bisa meniduriku saat ini. Sepertinya aku perlu bersandiwara untuk menghentikan semua ini.


Aku dan Alvaro sudah setengah badan tidak mengenakan pakaian. Jika aku tidak menghentikannya, aku bisa terjerumus dalam zina ini.


"Alvaro ok maafkan aku, aku memang sudah gila" aku menahan tubuh Alvaro yang sudah berada diatasku yang sedang menciumi bagian tubuhku.


"Maafkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku serius tapi tolong jangan lakukan ini padaku" aku memohon sambil menangis padanya.


"Aku tidak percaya" Alvaro berusaha untuk melepaskan rok yang aku kenakan. Tangannya sudah meraih kancing dan resleting dibelakang tubuhku.


Dia berusaha menciumku tapi ku menolak, aku menjauhkan wajahku darinya.


"Plis Alvaro, hentikan. Aku sudah menarik kembali semua perkataanku tentang perpisahan ini. Aku akan disampingmu dan aku akan menjadi pendampingmu selamanya, tapi izinkan untuk kita tidak melakukan hal ini sekarang"


"Aku sama sekali tidak percaya dengan kata-katamu, aku tidak merasakan itu benar dari dalam lubuk hatimu"


Dengan cepat aku membalas ciumannya, membuatnya percaya akan drama sandiwara kebohonganku. Agar dia dapat menghentikan semua ini.


"I love you, i love you, i love you" aku berulang kali mengatakan itu sambil mencium bibirnya yang sudah berada dibibirku.


Kunikmati gairah ini agar Alvaro seperti merasakan aku tidak berbohong.