
Kami membeku sesaat aku mengatakan, aku seorang pembohong.
"Kamu benar, kamu memang seorang pembohong. Bayangkan entah kapan kamu memulainya, tapi disaat kita diapartemen dan hotel saling bermesraan satu sama lain dan kita hampir melakukannya. Apakah saat itu kamu sudah berbohong, sudah menghianatiku?" Tanya Alvaro yang begitu mengiris hatiku, walaupun itu memang benar.
Aku yakin ini akan terbongkar suatu saat, tapi aku tidak berpikir seperti ini.
"Aku sadar aku bukan yang terbaik untuk kamu, aku memilih mundur" sesalku.
"Apa yang kamu tunggu lagi Jovita, begitu lama kamu buat ini berputar, seandainya saja kamu bisa langsung katakan sejujurnya.
Tidak perlu lagi merahasiakan yang sebenarnya terjadi untuk bilang ini dan itu" Alvaro mulai jengkel olehku.
"Kenapa kamu tidak menerima kata-kata ku tadi saja, tidak perlu aku jelaskan lagi" aku juga kukuh dengan ucapanku.
"Kuselesaikan ini, kamu bisa lihat handphone aku" Alvaro memperlihatkan fotoku bersamanya saat kami dihotel pada malam itu. Malam dimana aku terkunci dikamar hotel karena ingin berpisah darinya.
"Aku tidak mau berputar-putar lagi, jawab setiap pertanyaan aku dengan jujur sekarang, atau aku akan cari tahu siapa orangnya dan aku bisa memberitahukan foto ini padanya dan kita lihat apa yang terjadi" Alvaro mengancamku.
Foto saat aku sedang tertidur dan Alvaro memelukku erat, ada juga yang menciumku.
"Astaga, kamu mengancamku" ujarku terkejut.
"Ini senjata terakhirku, jadi katakan awal mula kalian bertemu hingga saat dan detik ini" tegas Alvaro.
"Lalu apakah kamu akan menghapusnya?"
"Tentu, jika kamu bisa jujur padaku" janji Alvaro.
"Baiklah" aku tersandera oleh foto itu. Aku tak ingin Nevan tahu soal hubungan ku dengan pria lain.
"Kapan kalian bertemu?" pertanyaan pertama Alvaro padaku.
"Hari minggu, sehari setelah kita bertemu" jawabku jujur.
Alvaro memberhentikan langkah berdansanya.
"Sehari setelah bertemu aku, disaat aku sudah terang-terangan untuk memintamu menjadi istriku, dan dimalam itu kita juga sudah begitu dekat.
Astaga apa yang kamu pikirkan, hanya sehari tak butuh waktu lama kamu sudah menghianatiku" Alvaro terlihat sangat terpukul.
Kulihat butir air mata telah memenuhi mata coklatnya.
"Ok, aku mencoba menguatkan diri menerima kenyataan yang akan kamu katakan. Jelaskan apa yang terjadi selanjutnya, siapa dia" Alvaro mulai berdansa ringan lagi denganku.
"Mantan bosku, dia sudah hampir 3 tahun resign dari kantor tempatku bekerja saat ini"
"Ok, mantan bos. Jadi kamu berpikir dia akan menjadi lebih baik dari aku, berapa usianya?" Alvaro berganti mood dengan sedikit kesal.
"31 tahun.. apa dia belum menikah atau duda atau suami orang"
"Belum pernah menikah"
"Lalu apa pekerjaannya saat ini?"
"Dia CEO di perusahaan property milik keluarganya"
"CEO.. oke aku telah tergantikan, oleh pria mantan bosmu yang masih muda, belum menikah dan dia seorang CEO yang kamu berpikir dia lebih punya banyak materi ketimbang aku?!" nada suara Alvaro sedikit tidak terkontrol.
"Alvaro tolong jaga sikapmu, kamu yang menginginkan kejujuran ini" aku sedikit malu akan suaranya yang meninggi tadi.
"Tidak ada yang akan bisa mengontrol hal seperti ini Jovita..
Lalu apa yang terjadi selanjutnya, hingga kamu yakin berpisah denganku"
"Dia mengajakku menikah"
"Apa, menikah.. lalu kamu langsung menerimanya?!"
"Tidak langsung begitu saja..., aku bilang kita bisa saling kenal dahulu"
"Lalu berapa lama atau berapa jam kamu berpikir dan kamu yakin untuk memilih dia ketimbang aku" Alvaro seakan bisa mengerti begitu cepat aku tergoda oleh pria lain.
"Tidak berapa jam, kira-kira dua hari"
"Astaga, dua hari saling kenal kamu sudah yakin untuk memilih dia. Apa yang kamu pikirkan cinta atau harta" Alvaro makin kesal.
"Bukan seperti itu, menjelang itu aku terus berpikir siapa yang akan kupilih, aku tak mampu memilih kalian berdua sebelumnya.
Aku tidak berbohong jika aku mencintaimu, aku bahagia kita bertemu kembali dan menyalakan api cinta diantara kita, tapi.. aku juga tergoda oleh sikapnya yang begitu manis padaku dan memperlakukan aku begitu baik dan hari minggu dia mengajakku kerumahnya, keluarganya menerimaku begitu baik dan hangat.
Aku menjadi tersentuh oleh itu"
"Apa aku tidak baik padamu, apa aku memang tidak manis saat bersamamu, hingga kamu goyah dengan godaan seperti itu. Mengapa kamu tidak mencoba untuk menolak dan setia padaku.
Padahal jika kamu menolak, mungkin dia tidak akan mengajakmu menikah. Harusnya kamu juga bilang kalau kamu sudah punya kekasih dan akan berencana untuk menikah, sedangkan kita sudah merencanakan ke Inggris berdua dalam waktu dekat ini.
Lalu kamu malah menghianatiku dalam hitungan jam Jovita" mood Alvaro makin membara.
"Iya kamu benar, harusnya aku seperti itu, akupun tidak tahu mengapa aku menjadi seperti ini.
Semua mengalir begitu saja, entah apa yang aku pikirkan saat itu. Untuk mengizinkan dia mengenalku lebih dekat, dan aku ingin kamu juga membatalkan perjalananmu ke inggris"
Akhirnya aku mengucapkan juga hal itu, untuk Alvaro tidak jadi pergi bersamaku ke Inggris nanti.