
Selesai sudah acara akad nikah dan kami telah resmi menjadi suami istri sekarang.
Takkan ada keraguan lagi ataupun prasangka lain yang selama ini menghantuiku, kini... hanyalah kata "KITA".
Kami kembali ke kamar hotel untuk mengganti baju untuk resepsi pernikahan kami.
Nevan menghampiriku saat penata rias sedang mengganti riasan dan menata ulang rambutku.
"Sayang, tadi kamu merasa nyaman saat memakai baju ini, apakah ini terlalu ketat saat kamu memakainya?" Tanya Nevan sedikit khawatir yang berdiri disampingku.
"Sejauh ini aku nyaman kok sayang, tidak terlalu ketat karena aku sudah minta untuk tidak sesak saat dikenakan" jawabku sambil menggenggam tangan Nevan.
"Syukurlah, aku hanya ingin anak-anak kita juga baik-baik saja" sambil mencium pipiku dengan lembut.
Nevan begitu perhatian padaku, membuat diriku makin menyanyanginya.
Setelah selesai kami berganti pakaian, orangtua kami datang keruangan. Ayah dan Ibuku begitu juga dengan Ayah dan Ibu Nevan.
Mereka terlihat kompak selama acara akad nikah tadi dengan pakaian yang serupa.
"Jovita, ini ada sedikit hadiah untuk kamu dihari pernikahan ini" ibu Nevan memberi satu set perhiasan berlian untukku.
"Kamu bisa pakai di resepsi pernikahan" sambil memakaikan gelang cantik untukku.
"Ma, ini sangat indah.. terima kasih ya ma" aku menjadi terharu dengan kebaikan ibu Nevan, dan aku memeluknya sebagai tanda terimakasihku pada kebaikannya.
Aku menatap Nevan yang sedang tersenyum padaku.
"Sayang, selamat dihari pernikahanmu, mama doakan untuk kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah..
dan ini hadiah kecil dihari pernikahanmu" ucap ibuku sambil memberikan sekotak cincin cantik padaku.
"Amin yra.. dan ini sangat indah, terima kasih ya ma, atas doa dan hadiahnya" aku memeluk ibu dengan kasih sayang.
"Entah aku harus berkata apa, tapi aku bersyukur menjadi anak mama dan mempunyai keluarga baru yang sama baiknya" ujarku kepada orang tuaku dan orang tua Nevan.
"Baiklah, karena para orangtua kedua mempelai sudah disini, kita akan adakan sesi foto sebentar ya bu.. pak" ujar fotografer sambil mengarahkan kami untuk diposisi yang terbaik.
Tak tahu aku harus berkata apa lagi, aku sangat mencintai Nevan dan menyayangi keempat orangtua ku, karena orang tua Nevan sudah menjadi orang tua baruku.
Setelah sesi foto tadi, mulailah foto ku dan Nevan berdua.
Nevan sedikit menggodaku dengan sikapnya yang selalu ingin mencium bibirku, tapi karena aku sungguh malu melakukannya didepan banyak orang. Aku selalu tertawa seraya memanja dengan sikap Nevan yang membuatku tergelitik.
"Kamu sangat cantik.." puji Nevan yang menatapku dalam-dalam dihadapanku.
"Kamu juga begitu tampan.." aku membalas memujinya.
"Aku beruntung menemukanmu diwaktu yang tepat" sambil menyentuh pipiku dengan lembut.
"Akupun begitu" sahutku.
"Anak-anakku pasti bangga mempunyai ibu seperti dirimu, seperti aku yang bahagia mempunyai istri seperti kamu" tatapan Nevan yang begitu dalam kearahku, membuatku menjadi sedikit salah tingkah.
"Anak-anak kita juga pasti bangga punya ayah seperti kamu yang sangat penyayang" ucapku dengan jujur.
Nevan mencium tanganku, entahlah harus melukiskan bagaimana perasaanku dihadapkan oleh seseorang yang begitu romantis, seperti Nevan lakukan padaku.
Hingga akhirnya kru acara memanggil kami untuk segera memulai acara resepsi pernikahan ini.
Aku merangkul tangan kiri Nevan dan berjalan beriringan, diikuti oleh orangtua lalu sanak saudara, menuju singgasana kami melewati karpet merah yang ditaburkan bunga mawar putih oleh penari yang berjalan didepan kami.
Musik romantis mengiringi langkah demi langkah, berjalan dikelilingi para tamu undangan yang sudah memenuhi ruangan gedung dengan kapasitas sangat besar.
Aku melirik kearah Nevan, lalu kembali menatap kedepan dan melihat beberapa tamu undangan yang sudah memagari kami saat berjalan perlahan menuju pelaminan.
Aku melihat kehadiran Chessy dan Hifza disebelah kanan, dan banyak rekan kerjaku juga yang turut hadir.
Lalu melihat teman-teman Nevan yang sedikit aku kenal saat dipernikahan temannya waktu itu.
Lalu.. Alvaro, aku melihatnya bersebelahan dengan dokter Bella. Dia menatapku tanpa berkedip, membuatku merasa tidak nyaman dengan tatapan Alvaro kepadaku.
Seketika aku menatap Nevan sekejap barulah menatap lurus kedepan. Walaupun ujung mata kananku berusaha menangkap sosok Alvaro apakah masih menatapku begitu tajam.
Tapi yang kupikirkan, mengapa Alvaro bersama dokter Bella, apakah karena mereka bekerja di rumah sakit yang sama, entahlah untuk apa aku harus memikirkan hal itu disaat seperti ini.
Aku hilangkan rasa penasaran yang tidak diperlukan.
Benar saja, saat kami berjalan sejajar dengan Alvaro berdiri, dia masih menatap kearahku. Aku tidak berusaha menatap Alvaro hanya aku menangkap sedikit sosoknya tanpa menoleh sedikitpun.
Kami duduk dipelaminan, dimulai dengan sapaan dari pembawa acara dengan cara yang menyenangkan.
Pertama kalinya aku berdiri dihadapan begitu banyak orang yang menatap kami. Ternyata Nevan betul-betul mengundang banyak orang dihari ini, membuatku cukup gugup menghadapi mereka.
Setelah dipersilahkan, tamu undangan dapat memberi ucapan selamat kepada kami.
Banyak rekan kerjaku yang datang dan memberi doa dan pengharapan baik pada pernikahan aku dan Nevan.
Lalu datang Hifza juga Cheesy yang menghampiriku dengan begitu antusiasnya.
"Aaa... Mbak Jovita selamat menempuh hidup baru yah..." Seru Hifza sambil memeluk dan mencium pipiku.
"Makasih Hifza" sahutku dengan riang.
"Asli cantik banget kamu mbak jadi pengantin, pasti nyesel kan baru nikahnya sekarang" canda Hifza sambil mencolek tangan kananku.
Kami tertawa mendengar godaan Hifza kepadaku.
"Bisa aja ya" kataku dengan mengedipkan mata.
Lalu berganti dengan Chessy.
"Mbak Jovita, kamu cantik banget.. semuanya ajah diborong, cantik iya, sukses iya, udah nikah, punya suami ganteng" Chessy ikut mencandaiku.
"Ya.. ya, makanya nyusul" kataku membalas ucapan Chessy.
"Gue mah dah mau mbak, calon nya aja belum.. pak Nevan punya temen mirip-mirip pak Nevan?" Ujar Cheesy yang kini mencandai Nevan.
Nevan hanya tersenyum saat Cheesy memberikan pertanyaan konyolnya.
"Hehe maaf bercanda kok" sahut Chessy lagi sedikit malu-malu.
Setelah bertemu sapa sekaligus bersalaman, kami berfoto dengan semua rekan kerjaku juga Nevan, saat masih bekerja di perusahaan yang sama denganku.
Tentu dengan banyaknya rekan kerja kami hingga dibuat tiga sesi agar saat difoto tidak terlalu bertumpuk, itulah kata sang fotografer dan kru wedding organizer.
Lalu di lanjutkan dengan rekan kerja di perusahaan milik keluarga Nevan, banyak tamu penting yang datang hingga beberapa pejabat negara yang menghadiri pernikahan kami.
Sungguh ini diluar dugaanku dan yang membuatku lumayan terkejut kehadiran mantan wakil presiden di pernikahan kami, mungkin aku harus bertanya bagaimana bisa Nevan mengundang beliau dalam waktu sangat singkat, mengingat beliau adalah mantan wakil presiden.
Teman-teman Nevan pun banyak yang hadir, tentunya ada yang aku kenal maupun tidak, semua hadir dipernikahan kami.
Pertemuan dengan mereka juga sangat riuh mengingat Nevan punya banyak sahabat khususnya pria yang sudah lama saling kenal.
Ucapan selamat dan candaan mengiringi pembicaraan kami, Nevan terlihat merespon dengan bijak berbagai candaan para teman dan sahabatnya.
Tidak lupa untuk berfoto bersama entahlah sudah berapa sesi foto, ada yang bersama-sama dan ada yang hanya dengan pasangan atau yang sudah berkeluarga.
Baiklah, malam ini sungguh panjang, ada waktu dimana aku beristirahat sejenak. Nevan meminta kru WO untuk memberiku minum dan buah agar tidak membuatku hilang tenaga saat kami berdiri cukup lama dan Nevan yang menyuapiku dengan sangat perhatian.
Setelah itu, kamu berfoto berdua sebentar lalu diselingi dengan beberapa foto bersama orangtua dan keluarga kami.
Dilanjutkan dengan acara berdansa pertama kali setelah resmi sebagai pasangan suami.
Musik telah mengalun dengan lembut mengiringi langkah kami yang saling bergandengan menuju tempat dansa yang tak jauh dari pelaminan.
Nevan memelukku sambil menggapai tangan kananku diatas tangan kirinya, lalu tangan kananku bersandar dibahu Nevan dan tangan kanan Nevan di pinggangku.
Kami mulai berdansa perlahan diawal musik dimulai, dansa kali ini sungguh berbeda karena Nevan kini telah menjadi suamiku, yang sangat gagah dengan balutan jas putih cerah. Membuat aura dalam diri Nevan makin terpancar.
"Terimakasih.. kamu selalu memujiku setiap waktu, membuatku selalu tersipu malu mendengarnya" kataku dengan wajah memerah karena aku dihujani oleh pujiannya.
Tentu banyak mata yang memperhatikan kami yang sedang berdansa dengan begitu anggun.
"Aku akan terus melakukannya hingga kita menua bersama" ujar Nevan lagi yang terus memandangku dengan penuh kasih sayangnya padaku.
Alvaro menatap Jovita dari jauh, yang sedang berdiri sambil memegang minuman bersampingan dengan Bella.
Bella yang memperhatikan Alvaro sedari tadi tanpa diketahui olehnya, disaat itu Bella mengerti apa yang Alvaro rasakan tanpa Alvaro menceritakannya.
Bella hanya bisa terdiam sambil menatap Alvaro yang sedang terpaku oleh sosok Jovita bersama suaminya.
"Entah seberapa dalam perasaan Alvaro, tapi kuyakin nama Jovita terlalu sulit untuk pergi dari pikirannya" batin Bella yang masih memperhatikan Alvaro.
"Dia begitu cantik dan memang selalu cantik.. Nevan pasti beruntung memilikinya, kuharap Nevan dapat membahagiakan Jovita seperti yang Jovita perkirakan..
Tapi, jika aku yang berada disana.. pastilah aku juga orang yang beruntung dapat menikahinya" suara hati Alvaro berbisik lalu menghela nafas setelahnya.
"Apa ada yang kamu pikirkan?" Bella tak sabar ingin membuyarkan pandangan Alvaro pada Jovita.
"Ya.. maksudnya?" Alvaro melepaskan pandangannya dari Jovita dan menoleh kearah Bella.
"Kuperhatikan kamu terlihat serius menatap kesana?" Sambil mengarahkan mata Bella kepada Jovita yang sedang berdansa.
"Apakah terlihat seperti itu?" tanya Alvaro sambil memegang kepalanya.
"Menurutmu?"
"Maafkan aku, hanya saja aku turut bahagia mereka telah menikah" Alvaro beralasan.
"Kenapa?"
"Ya karena itu yang seharusnya terjadi, mengingat dia telah mengandung anak dari lelaki yang baru resmi menjadi suaminya" Alvaro berkilah dan meneguk minuman yang ada ditangannya.
"Akupun turut bahagia untuk mereka" Bella mencoba mempercayai apa yang Alvaro katakan.
"Bella....!!!" Panggil seseorang yang entah dari mana asalnya.
Bella tentu langsung menoleh kearah seseorang yang memanggil namanya.
Seorang anak perempuan memanggil nama "Bella" beberapa kali.
"Hay.. apa kamu mengenalku?" Tanya Bella ke adik perempuan Nevan yang belum Bella kenal.
"Saya tidak mengenal kakak.. saya hanya memanggil kakak perempuan saya" jawab Bella.
"Oh apakah kakak perempuan kamu bernama Bella?" tanyanya lagi.
"Iya, bagaimana kakak tahu?" jawab Elina.
"Oh.. haha, karena nama ku juga Bella, aku pikir kamu memanggilku. Apa kamu kehilangannya?"
"Iya, tadi dia berlari kearah sini apa kakak melihatnya?"
"Kebetulan aku tidak tahu kakakmu Bella, maafkan aku"
"Baiklah, bye" Elina berlari lagi dan mencari Bella.
Tamu masih memenuhi seluruh ruangan, acara dilanjutkan kembali bagi tamu undangan untuk bertemu pasangan pengantin.
Hingga tiba giliran Alvaro dan Bella untuk bertemu denganku dan Nevan.
Aku menatap Alvaro yang berjalan dibelakang Dokter Bella. Dia berjalan kearahku tanpa melihatku sejak dia menaiki anak tangga ke tempat pelaminan.
Kuyakin Alvaro mempunyai hubungan dengan Dokter Bella, karena tidak mungkin bagi Alvaro mengajak seorang wanita datang bersamanya, apalagi gerak tubuhnya sedikit berbeda.
Tiba Alvaro menyalami Nevan, tanpa diduga Nevan memeluk Alvaro begitu hangat, begitupun dengan Alvaro.
"Selamat ya atas pernikahan kalian, aku turut bahagia, kuingin kamu bisa membahagiakannya dan akan terus mencintainya hingga maut memisahkan" ujar Alvaro pada Nevan.
"Amin.. terima kasih ya atas doa dan kedatangannya.." balas Nevan.
Lalu Alvaro berjalan kearahku, disinilah mata kami baru bertemu.
"Jovita, selamat atas pernikahan kamu.. aku turut bahagia dan kuingin kamu juga selalu bahagia menjalani ikatan pernikahan ini" ujar Alvaro yang tak ingin menatapku begitu lama dan langsung memalingkan wajahnya.
"Terima kasih" hanya itu yang bisa aku ucapkan, mataku hampir berkaca-kaca jika terlalu lama menatapnya.
Alvaro pria yang kukenal dan cukup lama menjalin hubungan dengannya, tapi dia bukan jodohku.
Karena dia juga kami bisa bersatu kembali dan menikah.
Begitu banyak kebaikan yang telah dia berikan padaku tanpa aku bisa membalas kebaikannya.
Baru saja Alvaro dan Bella akan beranjak, sang fotografer meminta mereka untuk foto bersama kami dan meminta Bella berdiri disamping Nevan lalu Alvaro disampingku.
Ini sungguh situasi yang canggung bagiku atau mungkin bagi kami.
Hanya karena dahulu pernah ada perasaan saling mencintai dengan Alvaro. Tapi aku yang sudah menikah dengan pria yang aku cintai, walaupun kutahu Alvaro masih menyisakan rasa padaku, meskipun saat ini pasti kadarnya sudah berkurang drastis.
Setelah berfoto bersama, Alvaro dan Bella turun perlahan melewati anak tangga. Kulihat Alvaro menuntun Bella agar dapat melangkah dengan baik.
Alvaro memang tahu cara memperlakukan wanita dengan santun.
Alvaro memberanikan diri menggandeng Bella, yang sedari tadi belum Alvaro lakukan.
"Bagaimana kalau kita makan" ajak Alvaro.
Bella mengangguk.
Setelah mengambil makanan yang tersedia, Alvaro dan Bella duduk dibangku yang sudah disediakan.
Awalnya mereka makan sambil mengobrol santai, hingga Bella mengatakan sesuatu yang membuat Alvaro berpikir.
"Apakah kamu baik-baik saja untuk datang kepernikahan ini?" tanya Bella yang penasaran.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu?"
"Apakah ini pertanyaan yang sensitif?" ujar Bella hati-hati.
"Aku baik-baim saja, aku sudah tidak ada perasaan apa-apa untuknya" Alvaro mengerti maksud pertanyaan Bella dan menjawab tanpa membuat Bella salah paham.
"Apa kamu pernah mencintainya begitu dalam?"
"Pernah, tapi itu dulu. Kini sudah sirna, tak lebih dari teman.." sahut Alvaro.
"Begitukah" Bella memakan makanannya.
"Besok minggu, bagaimana kalau kita minum-minum malam ini?" Ajak Alvaro.
"Sepertinya kamu menepati janjimu, baiklah kalau begitu. Besok aku libur jadi tidak akan masalah jika hanya minum sedikit"
"Baiklah" Alvaro menaruh piring dimeja yang makanannya hampir habis.
Bella menatap Alvaro dengan heran.
"Kita pergi sekarang, karena sudah menjelang sore" Alvaro berdiri dan memberikan tangannya pada Bella.
"Oke" Bella menaruh piring nya dimeja, yang baru saja dia makan beberapa suap.
Alvaro menggandeng Bella meninggalkan gedung acara pernikahan Jovita dan Nevan.
Aku melihat Alvaro pergi bersama Dokter Bella sambil bergandengan tangan, aku pastikan tidak memiliki perasaan lagi terhadap Alvaro.
Aku turut senang jika Alvaro ternyata mempunyai hubungan dengan Dokter Bella.
Kuharap Dokter Bella akan menjadi penantian terakhir Alvaro.
Bersambung..... ✨✨✨