It Beats For You

It Beats For You
You must be disappointed with all my mistakes



Aku masih terisak-isak di sofa, Nevan tidak keluar lagi dari kamarnya. Entah apa yang kutunggu lagi, aku tak kuat untuk menatap Nevan saat ini, besok atau seterusnya. Mungkin kita tidak bisa bersama lagi, terlalu dalam kekecewaan Nevan terhadapku. Aku juga tak bisa paksakan untuk Nevan dapat memaafkanku.


Aku mengambil tas, tas yang kupunya. Aku datang dengan tangan hampa, pergi pun juga begitu, mungkin kecuali baju yang kukenakan. Aku tak sadar darah yang tadi kupikir hanya sedikit ternyata sudah menetes dan jatuh kelantai lalu mengotorinya. Aku tersentak mengetahui itu, aku harus pergi sekarang.


Kubawa tasku dan mengambil beberapa tisu untuk menghentikan darah yang tergores karena pecahan vas bunga dari kaca. Aku kembali kekamar untuk mengambil gaun dan topeng yang sudah kusiapkan agar kubisa kembalikan ke butik yang kudatangi waktu itu, karena aku takkan kembali lagi kesini.


Dengan penyesalan, aku berjalan perlahan menuju pintu agar tidak menganggu Nevan. Karena pintunya memakai kode angka, aku hanya cukup membuka dan menutupnya dan pintu akan terkunci otomatis.


Aku pergi dan akan menghilang selamanya dari hidup Nevan, memang seharusnya aku tak pantas untuk Nevan. Biarlah dia akan menemukan wanita terbaik untuk dirinya dan itu tentunya bukan diriku. Didepan pintu aku menangis sejadi-jadinya, kesalahanku ini juga melukai diriku. Kukuatkan langkahku untuk menjauh, tak berharap kembali kesini. Karena aku sudah tahu diri atas semua penghianatanku.


Segera aku memanggil taxi online dan menuju apartemenku. Sesekali isakkan tangisku terdengar, tapi aku tak perduli. Aku sedang ingin menangisi nasib ku ini, kulihat pemandangan diluar sana begitu menenangkan, kuharap aku dapat segera tenang dan tak meringis kembali.


Sesampainya di apartemen, aku segera membersihkan diri, ini salah satu caraku agar aku dapat menenangkan diriku dengan cepat.


Selesai mandi, aku berpakaian dan langsung mengambil koper yang sudah kusiapkan untukku pergi ke Inggris besok. Perlahan ku lipat dan memasukkan pakaian dan beberapa yang kubutuhkan selama disana. Nevan masih menguasai pikiranku, kesedihan ini belum juga hilang, tapi sedikit berkurang. Tapi aku harus kuat, jika memang takdir sudah berkata seperti ini, aku tak bisa berbuat apa-apa.


Bersedih pun takkan menjadi solusi, biarpun suasana hati ini sedang kalut, tapi aku tetap harus berkemas. Semoga selama di Inggris nanti aku bisa terobati dan takkan ku ulangi kesalahan ini, jika aku bertemu dengan sosok pria yang bisa menerima aku apa adanya.


Jam 12 malam, kulihat handphone sama sekali tak ada notifikasi dari siapapun. Baiklah, lupakan dahulu dan istirahat sekarang, karena besok akan jadi hari yang lebih panjang dan melelahkan. Setidaknya ada sedikit kesenangan yang terselip dalam lautan kesedihan ini.


...


Hari sudah pagi, aku mencoba bangkit mengatur hidupku kembali sebagai seorang yang single.


Single tepat dihari ulang tahun ku, baiklah sebagai seorang single juga tidak seburuk yang dipikirkan.


Happy.. harusnya itu yang kurasakan, aku akan mencoba membuat hati ini menjadi terkendali.


Aku berangkat ke kantor bersama koper yang kubawa agar setelah pulang dari kantor aku dapat segera ke bandara.


Pagi ini aku berangkat dengan taxi online agar semua lebih efisien.


...


Nevan menunggu tanpa ingin mengetok pintu kamar yang ditempati Jovita, ada sedikit ketakutan Nevan untuk memberanikan diri menghampirinya. Jadi Nevan hanya bisa menunggu Jovita dimeja makan.


"Apa dia tidak kekantor ya.. aku akan menunggunya sebentar lagi" ucap Nevan dan berpindah keruang didepan televisi sambil menyalakannya, berharap Jovita keluar dari kamar.


Nevan melihat serpihan kaca yang dia hancurkan semalam, rasa bersalahnya bangkit kembali saat melihat kepingan kaca itu, tapi sesuatu yang aneh dilantai.


"Ini apa yah.. kok merah.." heran Nevan.


"Jovita.." baru tersadar, mungkin Jovita terluka oleh tindakan Nevan semalam. Segera Nevan memberanikan mengetuk pintu kamar Jovita.


Tok.. tok.. tok..


"Jovita, kamu sudah bangun...?" Tanya Nevan pelan.


"Jovita.. sudah siang, apa kamu baik-baik saja?"


Tak ada respon dari dalam kamar. Nevan akhirnya membuka pintu dan dia tak mendapati Jovita didalam kamar.


Arrggghhh...


Nevan menyesal akan tindakannya semalam yang diluar kendali.


"Astaga.. apa yang kulakukan.." Nevan menyesal telah melakukan ini pada Jovita.


Telepon berbunyi dan Nevan mengangkatnya.


"Iya.. oke.. saya segera kesana"


Ada pekerjaan yang membuat Nevan tidak dapat meninggalkan begitu saja, walaupun ia ingin bertemu Jovita walau sebentar untuk pagi ini, menjelaskan sesuatu yang menjadi penyesalannya.


Nevan tetap harus menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu, mungkin pulang kerja Nevan akan menemui Jovita dikantornya.