It Beats For You

It Beats For You
The dark is gone



Kami baru saja sampai dikamar hotel, hari yang menegangkan, sedikit mereda saat kami sudah berada disini.


"Sayang.. aku mandi dulu ya" kataku yang perlahan menaruh barang-barang yang melekat ditubuhku.


"Iya sayang.. aku mau melihat keadaan disana melalui televisi" Nevan serius menatap televisi dan mencari breaking news soal kasus penembakan tadi.


Aku berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri sambil memikirkan, apa yang terjadi jika si penembak itu yang jelas berada didepanku dan melepaskan pelurunya kearah ku.


Memikirkannya aku begitu merinding, tak mampu aku membayangkan apa yang akan terjadi jika hal itu menimpaku.


Aku selesai membersihkan diri, dan memakai baju kimono handuk berwarna putih dengan rambut yang digulung dikepala karena habis keramas.


"Jadi seperti apa keadaan disana?" Tanyaku yang duduk diatas kasur disamping Nevan.


"Masih dalam pengepungan polisi, ah.. orang ini gila, untuk apa dia melakukan hal bodoh seperti ini. Apa untungnya dia menyakiti orang lain" Nevan tak henti marah atas tindakan orang yang tidak dikenal untuk penyerangan brutal ini.


"Entahlah, orang itu mungkin punya penyakit psikologis yang mampu melakukan hal seperti ini" kataku ikut berempati.


"Iya.. baiklah aku juga mau mandi dulu ya sayang" Nevan berjalan menuju kamar mandi.


"Oke" aku bergegas mengambil pakaian dan mengenakannya selagi Nevan tidak berada disampingku.


Sambil memantau berita yang sedang aku ikuti, aku menyisir rambutku dan merapikannya, sedikit memberi parfum agar harum tubuh ku, karena aku suka sekali keharuman parfum milikku.


Nevan telah selesai mandi, dia hanya memakai handuk ditubuhnya.


"Sayang.. yaampun kamu tuh yah" aku menolehkan wajahku saat melihat Nevan yang berjalan kearahku hanya memakai handuk yang menutupi dari bagian pinggang kebawah.


"Kenapa.. aku juga seperti ini biasanya" ujar Nevan dengan keluguannya.


"Kalau begitu, cepat kamu pakai bajunya" aku masih malu untuk melihat kearahnya.


"Iya tapi kan masih belum" aku mengambil bantal dan menutupi wajahku disamping bantal yang kupeluk erat.


"Iya aku sudah berpakaian nih, gak perlu menutupi wajahmu lagi" Nevan menghampiriku yang sudah berada diatas kasur lalu menggeser bantal yang menutupi wajahku.


Nevan berada disamping dan menatapku, sambil merapikan rambut yang beberapa ada diwajahku.


"Maaf ya sayang, jika kejadian tadi membuat kamu syok. Ini diluar kendaliku" ucap Nevan sedikit merasa bersalah.


"Sayang.. ini bukan salah kamu, ini kejadian yang disebabkan orang lain.. kamu juga sudah banyak melindungiku disana" aku melihat kekhawatiran diraut wajah Nevan.


"Hanya itu yang kupikirkan, aku ingin kamu aman tak terluka sedikitpun, walaupun harus ada yang terluka, kuingin itu aku.." ungkap Nevan.


"Akupun tak ingin kamu terluka, itu akan membuat aku sangat bersalah, baiklah sayang.. karena semua sudah berlalu, bagaimana kita merubah mood menjadi lebih nyaman" aku membelai wajahnya yang sedikit muram agar pikiran Nevan sedikit rileks.


"Seperti apa..." Nevan mendekatiku perlahan dan kali ini sedikit menggoda.


"I dont know.." seakan berpura-pura tidak tahu, sambil menahan senyum diwajahku.


Nevan mencium didekat bagian telingaku dengan hembusan nafas yang terasa menggodaku.


"Harum tubuhmu ini selalu membuatku tergoda" sambil menggelitikku dengan sentuhannya.


Nevan dan aku yang berada diatas tempat tidur yang kecil ini, membuat tubuh kami tak bisa bergerak menjauh.


"Sayang.. kamu membuat aku tergelitik" aku menahan tawa akibat sentuhan Nevan yang menggelitikku.


Setidaknya kini mulai tersenyum lagi sejak beberapa saat kerisauan itu membelenggu kami walau sementara.