It Beats For You

It Beats For You
Jealous



Kami memesan minuman sambil menunggu teman Nevan datang.


"Sayang kamu lagi melamun?" Tanya Nevan yang melihat aku menatap tanganku.


"Ah.. gak aku lagi lihat cincin ini, kamu kapan mempersiapkan ini?" ujarku tersenyum memikirkan moment saat itu.


"Kamu baru tanya sekarang" ujar Nevan merajuk.


"Haha iya maaf sayang, abis kita ya tau sendiri kan.." aku memanja padanya.


"Tidak ada persiapan, hanya terlintas begitu saja dipikiranku.." ungkap Nevan.


"Cantik sekali cincin ini" aku tak melepaskan pandanganku pada cincin tunangan ini.


"Aku senang kamu suka" Nevan tersenyum padaku.


"Suka sekali sayang, sukanya karena kamu yang melamar aku dengan cincin ini" aku menggenggam tangan Nevan.


Tiba-tiba teman Nevan datang menghampiri kami. Aku melepaskan tangan Nevan perlahan.


"Halo.." ujar wanita cantik dengan penampilan yang sungguh menarik.



"Oh hay Clara.. how are you.." Nevan langsung berdiri dan bersalaman dengan temannya, aku mengikuti Nevan dan ikut berdiri.


Tetapi teman yang bernama Clara itu mencium pipi kanan dan kiri Nevan, sesuatu yang mengejutkanku saat melihatnya.


"Im fine sweetheart.. maaf jika aku telat" ujar wanita itu kepada kami.


"Its okey no problem.. kenalin Clara ini Jovita, Jovita ini Clara" Nevan memperkenalkan tanpa memberitahu aku tunangannya.


"Oh hallo Jovita, nice to meet you" Clara menyalamiku.


"Nice to meet you too" ucapku dan menggapai jabatan tangannya dengan sedikit ragu.


Kami duduk kembali.


"Okey.. Jovita, ini Clara teman kuliahku dulu, sekarang sudah menjadi warga negara Inggris dan dia menetap disini" Nevan memperkenalkan Clara padaku.


Aku hanya tersenyum, entahlah mungkin aku merasa kurang cantik dibanding Clara yang begitu fashionable.


"Kamu sendiri?" Nevan bertanya pada Clara.


"Of course.. dengan siapa lagi.. pria Inggris begitu membosankan untukku" tangan Clara mengelus tangan Nevan begitu saja.


Aku melihatnya dan itu sedikit mengangguku. Tatapan mata Clara berbeda saat melihat Nevan yang berada disampingku. Terlihat menggoda dan seperti ingin merayunya.


Clara berbisik kepada Nevan yang membuat jantungku berdegup kencang melihatnya, jelas aku cemburu!!


Mereka tertawa berdua, entah apa yang mereka bicarakan. Membuatku hanya terpaku melihat kelakuan mereka yang aku tidak mengerti. Mataku seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.


Gaya tubuh Clara begitu aneh yang makin mendekati Nevan, masih sambil berbisik.


"Clara... Entahlah aku harus berkata apa" ujar Nevan setelah mendengar apa yang dia katakan.


Merasa salah tingkah, aku berdehem.


"Heem.." aku memotong reuni mereka yang membuatku terganggu.


"Oh sorry.." kata Clara seakan baru mengetahui keberadaanku


Aku tersenyum pahit, karena merasa seperti invisible.


"Oke Clara, to the point.. karena kami ingin ke Paris dan New York, kuingin kamu membantu pengurusan dokumen visa kami, kuharap bisa selesai dalam dua hari" ujar Nevan langsung ke pokok permasalahan.


"Kenapa begitu terburu-buru, kita baru saja bertemu, kamu sudah ingin pergi. Di Inggris begitu banyak tempat yang bisa dinikmati keindahannya, aku bisa mengantarmu jika kamu inginkan" Clara mengelus lengan Nevan penuh makna.


Apa-apaan ini, Clara hanya menatap Nevan begitu dalam saat berbicara dan tangannya selalu menggerayangi Nevan. Batinku mulai terusik.


"Iya aku tahu, rasanya cukup dalam dua hari kita sudah menyelesaikan wisata kita di Inggris" Nevan terlihat biasa saja dengan tingkah laku Clara.


Hatiku terbakar melihat wanita ganjen ini.


"Kamu belum singgah di apartemenku, berarti belum semua kamu datangi" Clara menggigit bibirnya membuat terlihat jelas sedang menggoda Nevan.


Mataku makin perih melihat wanita yang baru saja kutemui dan terang-terangan menggoda Nevan didepanku.


"Thanks Clara but not now, jadi apakah kamu bisa bantu, untuk berapa biaya tak jadi masalah" Nevan masih dalam topik pembicaraan.


"Uang tak begitu menggiurkan bagiku sekarang" tatapan Clara makin liar kepada Nevan.


Sungguh aku ingin menghentikan semua ini, ada yang tidak beres dengan otak wanita satu ini.


"Clara, im serious about this" Nevan masih memberitahunya dengan pelan.


"Really.. come on Nevan, kita pernah bersama" ujar Clara, seperti memberi tahu masa lalunya padaku.


"Clara.. aku bisa alihkan ini ke sekretarisku yang akan menyediakan semua keperluan" Nevan melihat handphone.


"Tunggu sebentar aku meneleponnya" Nevan sedikit menjauh dari kami sambil meneleponnya.


Tinggal aku dan Clara di satu meja ini, membuatku ingin mencakarnya yang sudah membuat hatiku teriris dengan tingkahnya yang menggoda Nevan begitu tak tahu diri.