It Beats For You

It Beats For You
My honesty



Aku masih mengintip Nevan yang masih sabar menunggu kedatanganku.


"Sudah hampir satu jam Nevan disana, buat apa dia melakukannya" aku hanya melamun sambil memandanginya dari jendela.


Suara hatiku tak bisa menahannya lagi, melihat Nevan yang masih terduduk dilantai lobby apartemen tower seberang.


Aku berganti pakaian, baju dan celana juga cardigan untuk menemui Nevan.


Aku turun kebawah, berjalan sambil berpikir apa yang ingin aku katakan nanti.


Nevan melihatku datang lalu berdiri dari tempat yang sudah ia duduki selama kurang dari satu jam.


"Nevan.. kamu gak perlu seperti ini, hal ini sungguh tidak diperlukan.. kamu hanya membuang waktumu saja" kataku sambil menaruh tangan menyilang didada karena angin malam yang cukup dingin merasuki tubuhku.


"Aku tak kan lakukan hal yang membuang waktuku, karena ini penting untukku. Untuk kita" ujar Nevan.


"Aku beri 10 menit untuk bicara" kataku dengan sedikit kaku.


"Izinkan aku masuk" pinta Nevan.


"Ini hampir jam 10 malam, aku tak ingin mengajak orang lain datang ke apartemen ku"


"Ternyata aku telah menjadi orang asing bagimu dalam waktu singkat"


Deg !!!


Mengapa Nevan membuat aku begitu bersalah dalam bicara.


Sambil melihat sekeliling aku berpikir, disini memang anginnya begitu dingin kurasa.


"Baiklah.." terpaksa aku menyetujuinya.


Kami jalan beriringan, suasana menjadi canggung setelah hubungan kami tak lagi sehangat dulu.


Aku duduk di sofa, menyusul Nevan berada disampingku.


"Nevan.."


"Jovita.."


Kami terkejut kita memanggil pada waktu bersamaan.


"Aku dulu.." kataku memaksa.


"Baiklah.." Nevan persilahkan.


"Aku tak bermaksud untuk bersikap begitu jahat sama kamu saat ini, tapi apa yang kamu katakan itu benar..


hubungan ini memang harus kita akhiri..


Dan sekarang aku akan jujur sejujur-jujurnya sama kamu agar kamu mengerti apa yang aku pikirkan.." dan mengumpulkan nyali untuk bisa jujur padanya.


"Jovita.. maafkan aku, saat itu aku tidak bermaksud.."


Aku segera memotong pembicaraan Nevan.


"Tidak kamu benar, jika kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi.. kamu bisa menilai apapun tentangku"


"Baiklah aku akan mendengarkan dan aku siap, apapun yang akan kamu katakan" Nevan mencoba memahami.


Sebenarnya akupun sedikit takut untuk membeberkan semuanya. Tapi ini memang harus terjadi, aku tak ingin hidup dalam kebohongan demi kebohongan.


"Sebelum bertemu dengan kamu, sehari sebelumnya aku bertemu dengan Alvaro.." aku memperhatikan reaksi Nevan setelah mengatakan hal ini pertama kalinya.


Mata Nevan menyiratkan keterkejutannya.


"Kami memulai kembali menjalin hubungan kami yang setelah putus beberapa tahun lalu"


"Bertemu pertama kali dimana?" Selidik Nevan.


"Rumah sakit, saat mataku iritasi dan dia yang menanganiku saat itu, akupun tak menyadari dokter yang di rekomendasikan adalah Alvaro..


Kami terkejut saat bertemu dalam ketidak sengajaan, dan setelah jam prakteknya selesai.. dia mengajakku makan siang lalu dia berkenan mengantarkanku pulang kerja karena kondisi mataku yang tak memungkinkan untuk menyetir dan malam itu Alvaro menginginkanku untuk kembali menjalin hubungan sebagai kekasih dan aku menyetujuinya" aku menggenggam jari-jariku karena gugup.


Nevan mengatur nafas tanpa kata-kata.


"Lalu aku bertemu denganmu saat itu di mall, yang memang bertujuan untuk mencari kacamata untukku karena aku sudah lama tidak memakai kacamata dan hanya bergantung pada softlens minus.."


"Lalu apa yang kamu rasakan saat bertemu denganku" tanya Nevan lagi sedikit antusias.


"Aku terpesona tentunya, dengan sosok kamu yang memang sebelumnya aku rasakan saat kita masih menjadi rekan kerja dikantor, sosokmu telah membiusku hingga aku menutupi hubungan yang baru saja terikat sehari sebelumnya. Maafkan aku, keegoisanku membuat semua ini berantakan.." ungkapku penuh penyesalan.


Walaupun kenyataan sebenarnya terasa pahit tetapi Nevan sedikit tersanjung mendengar isi hati Jovita tentangnya.


"Itu hal yang lumrah terjadi, lalu kamu sempat berpikir akulah yang lebih baik darinya kan?" Tanya Nevan.


"Tentu.. hingga aku menyampingkan Alvaro, dari mulai pertemuan kita dan beberapa kesempatan aku mulai mengacuhkannya, hingga akhirnya aku harus memutuskan hubungan itu sekali lagi.. tanpa kejelasan.


Maka dari itu aku menghindar darinya dan memutuskan tidak tinggal di apartemenku beberapa hari waktu itu dan kamu mengizinkanku tinggal bersamamu, menghindari Alvaro yang mungkin akan datang ke apartemenku.


Tapi dia terus mencariku hingga datang kekantor, aku menghindar lagi darinya.


Hingga.. aku datang ke pesta saat itu, ternyata dia sudah mengikutiku diam-diam sejak keluar dari kantor. Lalu menghampiriku dan saat itu aku dalam pengaruh tekanan darinya"


"Jadi benar saat itu kamu bertemu dengan pria lain dan berciuman?" Nevan mengingat kembali saat pertengkaran pertama kalinya denganku.


"Iya.. tapi tidak seperi itu awalnya, dan di akhir dia memaksa lagi dan menciumku..


maafkan aku.. aku memang seperti tidak punya pendirian, aku begitu takut dia akan melakukan diluar dugaan seperti yang dia katakan, aku takut menjadi pusat perhatian orang" sesalku.


Nevan tak bisa berkata apa-apa untuk hal ini.


"Lanjutkan.." dengan sedikit ketus.


"Lalu kita bertengkar saat kamu mendengar aku dengan pria lain, sedangkan harusnya malam itu aku baru saja ingin beritahu kalau aku akan ke Inggris besoknya..


Aku serba salah.. satu sisi aku sudah merencanakan ini jauh-jauh hari..


Satu sisi lain hubungan kita sedang tidak baik saat itu..


Jadi kuputuskan untuk tetap pergi tanpa memberitahumu..


Lalu... Ternyata Alvaro mengikutiku lagi, melihatku yang datang sendiri dibandara"


"Dia lebih tahu kapan tanggal kamu pergi dari pada aku?" Heran Nevan.


"Itu karena dia tahu hari ulang tahunku, waktu pertama kali bertemu dia tahu tak lama lagi hari ulang tahunku dan ingin merencanakan sesuatu dihari itu, tapi aku menolak karena aku sudah ada rencana kusendiri"


"Disinipun aku yang salah tak ingat kapan tanggal ulang tahunmu, yang membuatku saat itu begitu bodoh" ujar Nevan sedih.


"Tidak.. itu semua salahku, harusnya aku memberitahumu lebih awal tanggal keberangkatanku ke Inggris"


"Lalu.. kalian berangkat bersama.. apa yang terjadi saat itu?"


"Tidak ada, aku hanya banyak diam.. dia mencoba menghiburku.. itu saja"


Sebenarnya hati Nevan sudah meletup-letup sampai di hal yang baru saja Jovita katakan.


"Hingga akhirnya kamu menyusulku, aku sudah tidak bertemu dengannya saat kamu disisiku, walaupun kamu bertemu dengannya, dan aku mencoba berbohong.. hanya untuk menjaga perasaanmu"


Aku tersenyum mendengarnya.


"Lalu dimalam itu, sungguh aku tidak janjian dengannya untuk bertemu. Dia yang menemuiku saat aku hendak mencari suasana lain di mall..


Kami hanya mengobrol biasa, tak lebih.. berpikir bersikap baik dan hanya menganggapnya sebagai teman.


Lalu kamu datang memergoki kita yang saat itu entah mengapa Alvaro mendekatiku.. aku sungguh tak tahu apa yang terjadi, dan aku tak tahu mengapa kamu datang disaat ada pertemuan malam itu"


"Ada seseorang yang menghubungiku lewat SMS mengenai kamu, yang membuat aku terpancing untuk datang" ungkap Nevan.


"Aku baru tahu hal itu dari kamu..


malam itu akupun terluka, tak tahu apa yang harus kulakukan.. hingga ku berpikir mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kita, aku begitu malu dengan keegoisanku menghianati kalian. Dan aku menerima kenyataan bahwa aku memang tak pantas untuk dicintai"


"Tidak.. tidak kamu tidak boleh berpikir seperti itu.." Nevan mendekatiku.


"Sungguh itu benar" aku sedikit menghindar karena posisi duduk kami menjadi begitu dekat.


"Tidak, kamu benar telah memilihku.. hanya aku saja yang tidak lebih memperjuangkan cinta kita" Nevan menggenggamku.


Aku mencoba melepaskannya.


"Tapi sekarang, Alvaro kembali mengambil hatiku, memaksaku dan posesif padaku seakan aku telah menjadi kekasihnya..


Walaupun berulang kali ku jelaskan untuk tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun saat ini"


"Apa.. dia seperti itu?" Nevan terkejut.


"Sepertinya dia merencanakan semua ini, tadinya dia mengalah dan mau melepaskan hubungan ini saat di Inggris.


Tapi.. entah apa yang dia pikirkan untuk kembali memperjuangkan diriku untuk dirinya.."


"Ternyata itu yang dia lakukan.. aku termanipulasi oleh permainannya"


"Maka dari itu, aku memilih untuk dimutasi dan pergi dari kenyataan ini"


"Tidak. Aku tak ingin kamu pergi lagi.. maafkan aku, aku akan berubah lebih mengerti dirimu aku janji.." Nevan mengatakannya dengan tulus.


"Tidak Nevan, aku mengatakan semua ini bukan untuk memperbaiki hubungan kita yang tidak bisa kita lanjutkan"


"Kenapa.. aku menghargai kejujuranmu..


aku tahu semua manusia pasti punya kesalahan..


Akupun begitu, aku memaafkanmu dengan segala masa lalu yang kamu lakukan dibelakangku.


Kali ini kita mulai bersama-sama lagi, dan lebih mengerti satu sama lain.."


"Tidak Nevan, kamu berhak memilih wanita yang lebih jujur dan setia padamu"


Nevan memelukku.


"Jika aku sanggup akan kulakukan, tapi aku tak sanggup untuk menggantikan sosokmu dengan wanita lain"


Harum tubuh Nevan membuatku ingin memeluknya, tapi tanganku seperti tak mampu untuk menggapainya.


"Aku tak ingin hidup dalam penyesalan"


"Kalau begitu lupakan semua kesalahanmu dimasa lalu, mulai saat ini aku menerima kamu apa adanya..


aku takkan berburuk sangka lagi padamu dan mantanmu"


"Tidak bisa Nevan, sungguh aku lebih baik sendiri dari pada mengetahui aku yang begitu jahat seperti ini"


"Kamu tidak jahat, takdir itu memang tidak ada yang tahu..


mungkin dengan cara seperti ini makanya kita bisa bertemu, bisa menjalin kasih..


Dan sekarang tinggal kita yang merawatnya"


"Maaf Nevan, aku tidak bisa.. kita sudah bicara lebih dari setengah jam.. lebih baik kamu pulang ke apartemenmu" aku melepaskan pelukan Nevan yang sebenarnya sangat menenangkanku.


"Jovita.. Kita bisa lewati apapun pernasalahan yang harus kita hadapi, aku yakin kita bisa mulai dari awal lagi"


"Tidak Nevan.. aku tidak ingin hidup dibayang-bayangi kesalahanku"


"Semua sudah termaafkan, dan tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi, lalu apa masalahnya.."


"Kamu tidak mengerti.."


"Kalau begitu.. buat aku lebih mengerti dirimu.. buat aku tahu apa yang ada di hatimu.. katakan padaku"


"Kamu terlalu baik untukku yang sudah menyakitimu.." airmataku pun menetes perlahan dan jatuh kepipiku.


"Sayang, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi.. walaupun itu adalah kesalahanmu... Apalagi karena kesalahanku.


Kalau tidak bu Glory yang menghubungiku tadi sore mengenai keputusanmu mungkin aku akan kehilanganmu selamanya"


"Bu Glory.. dia menghubungimu?"


"Iya.. dia memastikan pengajuan dirimu padaku, karena dia tak ingin ada pembatalan jika namamu sudah terdaftar.. dan aku memintanya untuk dibatalkan saja"


Aku terkejut mengenai bu Glory, sungguh diluar dugaan.


"Tidak Nevan, walaupun begitu hal ini tidak menghentikanku"


"Lalu kamu lebih memilih mantanmu yang dengan leluasa memaksamu menjadi miliknya. Kamu lebih menginginkan dia mengambil alih semua keputusanmu dan menerima posesifnya begitu saja?"


"Tidak.. tidak seperti itu.."


"Lalu saat ini yang kamu lakukan apa Jovita, dengarkan kita sudah bertunangan.. aku juga sudah menemui keluargamu.. walaupun kamu pernah menghianatiku, tapi itu sebelum kamu bertunangan denganku.


Aku akan melupakan dan memaafkan hal itu..


kenapa kamu tak cairkan perasaanmu dan kembali merajut hubungan kita yang sebelumnya sudah kita rencanakan" Nevan menggenggam kedua tanganku.


"Sungguh, jika aku bisa aku akan melakukannya Nevan.. tapi aku tidak bisa. Kamu tidak akan mengerti bagaimana perasaanku saat ini" aku melepaskan genggamannya.


"Lebih baik kamu pulang, kita sudahi pembicaraan ini yang sudah berulang-ulang ku katakan" aku berdiri dan berjalan menuju kamarku.


Nevan terdiam, tenyata bujukannya untuk memulai kembali hubungan yang sudah retak tak bisa untuk diperbaiki.


Tetapi Nevan tidak tinggal diam, Nevan segera menghampiri Jovita yang sedang berjalan menuju kamarnya.


Tiba-tiba menggapai tanganku yang membuat aku berbalik dan mendarat dipelukannya. Aku terkejut melihat Nevan sudah didepan mataku.


"Nevan apa yang kamu lakukan.." heranku yang sudah terkunci dipelukannya.


"Aku melakukan yang harus dilakukan untuk mempertahankan cintaku padamu"


Nevan mulai mencium bibirku, melumatnya hingga aku tak bisa menghindar lagi darinya.


Membuatku ikut terlena dalam ciumannya.


Bersambung..... ✨✨✨