
Semakin hening ruangan ini saat kami seperti beku terdiam dalam dekapan sedekat ini. Ku kumpulkan keberanianku untuk mengatakannya.
"Akupun juga ingin memilikimu dan dimilikimu" ucapku. Untunglah jawaban yang keluar dariku sangatlah lebih baik daripada yang kupikirkan.
Nevan tersenyum seakan lega atas apa yang sudah dia dengar dari kata-kataku.
Alunan musik itu makin terdengar semakin romantis, suasana ini setelah kita saling mengatakan ketertarikan satu sama lain.
Nevan memulai gerakan berdansa kembali, aku masih berada didekatnya sambil menikmati suasana yang sangat romantis ditempat ini. Kakiku dan kakinya selaras mengikuti alunan musik.
Kami pun tak luput dari saling memandang, semakin lama semakin terhanyut dalam lamunan perasaan ini. Tiba-tiba kakiku terlambat melangkah dan menyenggol kaki Nevan yang sudah melangkah dengat tepat.
Kamipun terjatuh kelantai dan Nevan sudah berada dibawahku sambil menatapku.
"Kamu terlihat sangat cantik bila dilihat dari sini" ucap Nevan sambil tersenyum.
"Benarkah" aku tak menyia-nyiakan kesempatan tak terduga ini untuk sesaat berada disituasi ini.
"Itu benar dan aku menyukainya"
Nevan selalu saja membuatku selalu tersanjung setiap perkataan dan perlakuan baiknya. Akupun beranjak dari posisiku yang telah beberapa saat berada diatasnya.
"Maaf aku membuat kesalahan, karena aku sudah lama tidak mempelajarinya"
"Tak apa itu sering terjadi, lagipula tidak ada yang melihat jadi tak perlu meminta maaf"
Aku tersenyum mendengarnya.
"Baiklah bagaimana kalau kita berjalan-jalan diluar. Sepertinya acara sudah bisa kita tinggalkan"
"Oke" aku mengiyakan.
Nevan mengajakku keluar dari ruangan dansa tadi dan mencari orangtuanya untuk berpamitan bersamaku. Kami bertemu dan bergarau sedikit tentang aku dan Nevan lalu berpamitan.
Nevan menelepon driver nya untuk bersiap didepan rumahnya segera.
Saat Nevan berada di dekat kasir, handphone ku berbunyi.
"Alvaro.. 13 missed calls. Astaga apa yang harus aku katakan. Oke baiklah" aku menggangkat telepon darinya menghindari sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi.
"Halo" sahut Alvaro. "Astaga Jovita kamu kemana, aku sudah kewalahan untuk meneleponmu"
"Maaf aku sedang tidak dirumah"
"Iya aku tahu itu, kamu dimana sekarang?"
"Sedang berjalan-jalan di mall, kegiatan wanita itu saja"
"Harusnya kamu bisa cek handphone kamu walaupun kamu sedang keluar. Aku tak mengerti kenapa ini bisa terjadi"
"Iya maaf, oke aku mau pulang. Nanti ku telepon lagi" aku ingin menyudahi telepon singkat ini.
"Baiklah, kabari jika kamu sudah sampai diapartemen. Hati-hati dijalan"
"Oke" segera ku tutup teleponnya. "Inilah yang akan terjadi jika aku yang mulai bermain api" aku bergumam.
Aku masih melihat Nevan disana ditempat yang sama sebelum aku menggangkat telepon. Untunglah pembicaraanku ini tak terdengar olehnya.
Aku yakin, aku tak mampu untuk melanjutkan seperti cinta segitiga ini lagi, keduanya begitu tulus untukku. Tak mampu aku menyakiti mereka lebih lama.
Hatiku sudah menyakini Nevan sebagai pilihanku, tapi bagaimana aku mengatakan pada Alvaro soal hubungan singkat yang baru kita mulai kembali. Aku serasa orang jahat yang telah melukainya dua kali.
Tapi diteruskanpun akan lebih menyakitkan lagi untuk Alvaro. Dia tidak salah dan tidak ada yang kurang darinya.
Ini hanya soal pilihan siapa yang terbaik dan aku berpikir masa depan aku akan lebih baik jika bersama Nevan.