
Alvaro yang baru saja keluar dari restoran, setelah mengantar Jovita.
"Seperti inilah seharusnya, kuharap Jovita tidak berpikir hal konyol lagi dalam kondisi sekarang ini" bergumam sambil menuju parkiran mobil.
"Dr. Alvaro.." ada suara seseorang yang meneriakkan namanya.
Suara samar-samar terdengar memanggil Alvaro, seketika Alvaro mencari sosok yang memanggil namanya.
"Oh Dr. Bella" Alvaro sedikit terkejut.
"Wah tak menyangka kita bertemu disini" ujarnya yang telah menghampiri Alvaro.
"Iya suatu kebetulan, apakah Dr dari dalam?" Sambil melirik kearah restoran.
"Iya, saya baru saja keluar. Ngomong-ngomong karena kita bukan dirumah sakit, panggil saja Bella" pintanya.
"Oh iya oke, mau kemana?" Tanya Alvaro.
"Mau pulang, kamu?" Sahut Bella.
"Sama sih, tapi weekend begini rasanya jenuh ya dirumah" ucap Alvaro sambil berpikir.
"Ya begitulah"
"Mau makan siang bersamaku, jika kamu tidak keberatan?" Ajak Alvaro.
"Tentu, tidak keberatan sama sekali" ucap Bella sambil tersenyum.
"Baiklah, kamu bawa mobil atau ikut bersamaku?" tanya Alvaro.
"Kebetulan aku gak bawa kendaraan, jadi aku bisa ikut bersamamu" jawab Bella.
"Oke, silahkan" Alvaro membuka pintu mobil untuk Bella.
Mereka menuju tempat makan siang di Mall Central Park.
Selama perjalanan Bella dan Alvaro bercerita banyak hal, membuat suasana hati Alvaro kembali membaik.
Sesampainya direstoran dan memesan makanan juga minuman, mereka lanjut mengobrol hal lain lagi.
"Jadi.. apakah pria itu ayahnya dari anak mantan kamu?" Tanya Bella dengan sedikit hati-hati.
"Maaf kalau pertanyaannya sensitif, tapi gak dijawab juga gak apa.
Hanya tadi gak sengaja melihat kalian disana" Bella mencoba memberikan pilihan.
"Ah tidak apa, iya benar dia ayahnya.." jawab Alvaro.
"Hem.. " Bella mendengarkan.
"Ya.. anggaplah sebelumnya cinta mereka sedang diuji, untunglah sekarang sudah baik-baik saja. Semoga selalu baik-baik saja" harapan Alvaro.
"Amin, by the way kudengar banyak perawat yang mengidolakan kamu loh" ucap Bella sedikit bercanda agar mencairkan suasana.
"Benarkah, ah itu hanya kabar burung saja" karena Alvaro juga tidak mengetahuinya.
"Aku sampai hapal apa saja yang mereka bahas tentang kamu, penampilan kamu, bagaimana menangani pasien, bagaimana pasien saat menatap kamu, hingga beberapa perawat berebutan ingin jadi perawat pendamping kamu" ungkap Bella terperinci.
"Haha benarkah, kok aku baru dengar" Alvaro cukup terkejut baru mengetahui hal itu dari Bella.
"Ya namanya perempuan"
"Maksudnya?"
"Ah tidak, aku hanya bercanda" sambil tersenyum.
Hari itu Alvaro menghabiskan hari bersama Bella, entah mengapa Alvaro cukup nyaman dengan sikap Bella yang dewasa dan sangat nyambung saat mengobrol dengannya.
Alvaro mengantarkan Bella pulang.
"Makasih ya sudah mengantarkan pulang" ujar Bella.
"Sama-sama"
"Oke, sampai jumpa"
"Bella.." panggil Alvaro seraya menahan Bella untuk beberapa saat.
"Mungkin kita bisa makan siang hari senin nanti" Alvaro mencoba menepati janjinya.
"Baiklah"
"Oke.. sampai jumpa" Alvaro yang berdebar saat mengatakan hal itu pada Bella.
Bella masuk kerumahnya dan Alvaro pun mengendarai mobil untuk pulang.
🌼
Kami baru sampai diapartemen Nevan sore hari.
Nevan mendekapku dan beberapa kali mencium pipiku karena terlalu merindukan diriku.
"Muacch.. inget, jangan ada hal yang akan membuat kita berpisah. Kemarin itu terakhir kali, please.." pinga Nevan yang mengetahui mood ku yang suka naik turun.
"Iya" sambil mengangguk.
Nevan kearah perutku dan membisikkan sesuatu.
"Sehat-sehat ya disana" sambil membelai perutku penuh perhatian.
"Apa sekarang sudah waktunya kita memanggil dengan sebutan mama papa?" Tanya Nevan seakan tak menyangka.
Aku mengangguk lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Papa dan Mama akan sabar menunggu hingga kalian lahir yah" dan mencium perutku.
Aku tersenyum melihat Nevan kini ada didepanku dan akan menjadi ayah dari anak-anakku, lalu Nevan mencium bibirku dengan lembut.
"Aku sudah punya banyak rencana untuk kita, ini memang mendadak. Tapi aku harap kamu menyukainya" Nevan mengambil handphone dan menunjukkan sesuatu.
Kami duduk disofa ruang tengah.
"Ini, kamu bisa pilih rumah yang mana.. aku tidak ingin anak kita tinggal diapartemen yang tidak terlalu besar seperti sekarang ini. Aku ingin anak-anak kita lahir dan tumbuh dirumah yang nyaman"
"Apa kamu mau membelinya?" tanyaku heran.
"Apakah rumah ini tidak terlalu besar?" sambil menggeser beberapa foto rumah yang Nevan tunjukkan.
"Aku ingin keluarga kita nyaman dirumah"
"Apa harus dipilih sekarang, ini seperti pilihan yang sulit" kataku melihat semua rumah terlihat sangat besar dan luas.
"Baiklah, ini bisa kita bicarakan besok. Sekarang aku mau berduaan dulu sama mamanya anakku" Nevan tak henti menciumku.
"Sayang, tunggu dulu. Aku mau mandi terus rebahan, aku pengen ketemu tempat tidur" keluhku, karena aku mulai membatasi aktifitasku beberapa hari ini karena kondisiku.
"Oke.. oke, aku akan siapkan buah untukmu yah, selagi kamu mandi ya"
"Oke papa" ujarku sambil tertawa pelan, rasanya sedikit aneh, tapi nanti akan mulai terbiasa.
Aku dan Nevan pun tertawa mendengar panggilan baru kami.
🌼
Aku sudah selesai mandi, lalu gantian sekarang Nevan yang membersihkan diri.
Aku masuk kekamar Nevan dengan piring berisi buah semangka yang sudah dia sediakan.
Melihat beberapa foto kami yang masih terpajang dikamar Nevan.
"Sungguh aku bodoh sekali, meminta berpisah dengan Nevan, padahal dia sungguh mencintaiku" seakan aku lupa, dulu aku begitu memaksa untuk berpisah dengannya karena alasan yang tidak Nevan terima.
Tiba-tiba Nevan datang menghampiriku, hanya memakai handuk disetengah bagian bawah tubuhnya yang atletis.
"Kamu lagi lihat apa sayang?" Sambil memelukku dari belakang.
"Foto kita.." kataku menunjukkan foto itu.
"Nanti akan bertambah dengan foto anak-anak kita" sahut Nevan yang membisikkannya diteligaku.
"Hu'um.." sambil memandang beberapa foto kami dimeja.
"Kamu berpakaian dulu gih, nanti kedinginan" kataku.
"Iya" Nevan mengambil pakaian dan aku membelakanginya.
"Katanya mau rebahan?" tanya Nevan sambil berpakaian.
"Iya, lagi lihat foto kita sebentar" dan aku langsung duduk dikasur sambil meluruskan kaki.
"Aku akan cepat lelah selama kehamilan ini" ucapku sambil merenggangkan kaki.
"Aku akan membantumu menjalani kehamilan ini, atau kamu akan resign dari kantormu. Aku akan senang jika kamu disini untuk membuatmu nyaman, aku tahu bagaimana pekerjaanmu dikantor yang menyita waktumu" dan tanpa diminta Nevan memijit kakiku.
"Sayang, kamu lagi apa?" Aku terkejut saat Nevan memijit kakiku.
"Memijit kakimu, ini akan melepaskan penat" dengan penuh perhatian Nevan melakukannya.
"Astaga, kamu baik sih.." tak menyangka Nevan seperhatian itu.
"Tentunya dong, kan kamu akan menjadi istri dari anak-anakku" sambil tersenyum yang membuat matanya menyipit.
"Aww.. kamu mengatakannya begitu manis.
By the way, yang aku bingung. Kenapa aku bisa hamil hingga kembar tiga yah, padahal aku tak ada keturunan kembar loh sayang" heranku.
"Ya siapa dulu ayahnya" sambil bergaya dengan konyolnya.
"Yaampun" aku tertawa mendengar respon Nevan.
"Jadi kapan kontrol lagi, kamu kontrol di rumah sakit mana kemarin?"
"Waktu itu aku cek hari kamis, harusnya tiap dua minggu untuk kontrol.
Rumah sakit Jakarta General Hospital" ungkapku memberitahu.
"Alvaro juga bekerja disana?" tanya Nevan lagi.
"Iya, itu tidak direncanakan. Kebetulan rumah sakit itu yang terdekat saat aku mengalami pusing dan mual" jawabku.
"Kamu datang sendiri?" Tanya Nevan dengan nada khawatir.
"Tidak, saat itu aku, Hifza dan Chessy baru selesai makan siang. Jadi mereka yang mengantarkan aku kerumah sakit" aku menjelaskan.
"Untunglah ada yang menemanimu"
"Nevan.."
"Ya"
"Maafkan aku ya, entah saat itu apa yang kupikirkan" aku teringat akan kesalahanku karena memaksa berpisah dengannya.
"Sstt.. semua manusia pasti punya kekhilafan, bukan kamu saja. Akupun begitu, aku juga minta maaf jika tidak peka terhadap perasaanmu ya" Nevan menggenggam tanganku.
"Terima kasih ya" kataku dengan tulus.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih, telah mencintaiku seindah ini, tak terpikirkan olehku bagaimana kamu bisa memaafkan semua keegoisanku"
"Kamu tidak egois, hanya sedang sensitif saja. Perempuan punya kepekaan yang melebihi pria, nah saat itu akulah pria yang tidak mengetahui bagaimana keinginanmu pada hubungan kita ini"
"Kamu selalu bisa buat aku terhanyut dengan perkataanmu"
"Itu karena kamu sayang, entah mengapa aku begitu yakin untuk menjadikanmu istriku" Nevan membelai pipiku dan aku menyukainya.
"Akupun begitu sayang" balasku.
Nevan banyak bicara mengenai menjelang pernikahan kita yang begitu singkat.
Besok, hari minggu akan ada banyak pertemuan yang kita lakukan.
Dari penyelenggaraan acara, undangan, baju pengantin, makanan dan lainnya.
Karena semua sudah ada Wedding Organizer jadi akan mudah untuk mempersiapkan semuanya.
Bersambung..... ✨✨✨