
Akhirnya dengan berat hati aku bersedia untuk tinggal malam itu didalam kamar hotel.
"Okey, baiklah aku nonton tv dulu ya. Cari hiburan" ujarku.
"Aku mandi dulu kalau begitu" kata Alvaro.
Alvaro masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri, kudengar suara air dari dalam sana.
Aku menyandarkan diri disofa ini, sambil mengenakan bantal yang kuambil dikasur. Tak terasa aku terlelap seketika sebelum Alvaro masih belum selesai mandi.
"Jovita" Alvaro baru saja keluar melihatku yang tertidur disofa.
"Jam 11.30 malam, yasudah biarkan dia istirahat. Tapi lebih baik kamu tidur dikasur ya sayang" Alvaro mengangkatku dan menaruh perlahan ditempat tidur.
Alvaro mengenakan kimono yang masih ada dilemari, sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
...
Jam 4.30 subuh.
Aku terbangun lebih awal, mungkin karena kegelisahan yang kurasakan.
Kulihat Alvaro sudah tertidur disampingku, tangannya melingkar diatasku. Kami masih memakai pakaian kimono masing-masing.
Aku beranjak perlahan agar tak membangunkan Alvaro, kugeser tangannya yang berada diatasku dan menaruh tangannya perlahan.
Aku bersiap memakai pakaian dan bergegas untuk keapartemenku, aku tidak punya baju bersih disini untuk dipakai kekantor. Kuambil tas dan handphone lalu keluar dari kamar ini sambil mengendap-ngendap. Akhirnya aku berhasil, aku langsung meminta pihak hotel memesan taxi resmi untukku dan aku dalam perjalanan ke apartemen.
Bye Alvaro, mulai saat ini aku akan membatasi dan memblokir semua tentangmu. Maafkan aku yang telah membohongi dan menyakitimu. Semua kenangan darimu membuatku begitu bahagia, takkan kulupakan.
Sesampainya diapartemen jam 5 subuh, aku mulai mandi, berpakaian, berdandan rapi tak lupa dengan parfum untuk mengharumkan diriku. Setidaknya membuat mood ku bersemangat lagi.
Jam 6 aku on the way ke kantor, masih terlalu pagi tapi biarlah. Biasanya aku memakai kacamata minus, sekarang aku membawa kacamata hitam dan syal. Jaga-jaga Alvaro akan mendatangiku nanti. Aku tidak membawa mobilku, kuingin Alvaro memang tidak menemukanku di kantor atau di apartemen.
...
Semua normal hingga aku tiba dikantor, tak ada yang aneh. Aku memblokir nomor telepon Alvaro karena kamu mulai menghindarinya, berharap aku benar tentang ini.
Siang aku bertemu dengan Nevan dikantor dan dia menjemputku. Kuminta saat aku turun aku bisa langsung kemobilnya yang terparkir didepan lobby kantor. Semoga ini tidak menjadi bahan pembicaraan.
"Hay.. Jovita" sapa Nevan. Saat aku membuka pintu mobilnya
"Hay.." balasku menyapa yang sudah masuk kemobilnya.
"Hari ini aku mau menunjukkan restoran lain sama kamu"
"Okkee.." sahutku.
Kami pergi menuju tempat yang Nevan tunjukkan.
Kami sampai direstoran itu, tempatnya begitu nyaman, aku suka. Tidak terlalu private dan tidak begitu ramai, terlihat tempatnya sangat elegan luar dan dalam.
Nevan memesankan makanan dan kami mengobrol sambil menunggu.
"Bagaimana kabarmu kemarin, maaf aku semalam belum sempat menghubungimu lagi, ada pekerjaan"
Untunglah dia tak menghubungiku, kalau tidak itu menjadi masalah baru.
"Tidak apa, aku juga tidur lebih awal semalam" ujarku berbohong.
Semalaman seperti sedang didalam drama yang melelahkan bagiku.
"Oh yah.. hehe bagus kalau begitu. Oh iya aku mau mengatakan sesuatu.."
"Silahkan, aku mendengarkan"
"Aku.. hem oke aku berbohong sedikit tadi, semalam aku dan keluargaku saling sharing..
Aku ingin mengajak kamu makan malam bersama keluargaku hari ini"
"Hari ini?" tanyaku sedikit terkejut.
"Iya.." jawab Nevan singkat.
"Boleh tau apa ada acara apa gitu?"
"Aku mau memperkenalkan kamu lebih awal kekeluargaku"
"Oh yah.. dimana?"
"Dirumahku"
"Oh oke.. " aku langsung menyetujuinya, yaampun basa-basi sedikit dong Jovita, main oke aja. Tapi gimana, aku sudah terlanjur menyukai Nevan.
"Baiklah aku senang kamu setuju, nanti pulang kerja aku jemput"
"Langsung dari pulang kantor?"
"Aku berencana mengajak kamu mungkin kesalon dan butik langganan keluargaku. Sedikit untuk merilekskan diri mungkin sebelum ketemu keluargaku"
"Ohh.. boleh, kamu yang mengantarkan aku?"
"Iya, aku akan bersama kamu sampai malam ini"
"Oh really.. i like it" aku tersenyum menyenangkan.
OMG Nevan mau memperkenalkan aku kekeluarganya, hati ini mengapa begitu bersemangat ya. Semoga keluarganya bisa menyukaiku setelah pertemuan pertama saat itu.
Aku begitu senang mengetahui Nevan ingin menjadikanku sebagai pendamping hidupnya. Alangkah bahagia hati ini.