
Jam 5.30 pagi.
Aku masih tertidur disamping Nevan.
Entah apa yang kurasakan tapi rasanya seperti sentuhan demi sentuhan menjalar ditubuhku.
Aku samar-samar merasakannya, tapi perlahan perasaanku membenarkan bahwa tubuhku sedang disentuh sesuatu.
Dari kaki hingga ke wajah, dan kini kepala ku agak pusing karena terpaksa membuka mataku.
"Sayang.. apa yang kamu lakukan.." aku terkejut Nevan sudah berada dihadapanku.
"Aku tak bisa menahannya lagi, terlalu lama aku menahan ini sayang" Nevan menghujaniku dengan ciumannya.
Tak mampu menolak, aku menerima ciuman yang begitu bergairah kurasakan. Hingga aku merasa sesuatu...
Pagi dini hari ini Nevan tidak seperti biasanya saat aku tidur disampingnya.
Hasratnya begitu bergairah, menyentuh tubuh dan menciumku dengan berbeda.
Aku yang belum tersambung dengan pikiran jernih, ikut merasakan kenikmatan yang berasal dari sentuhan halus terus saja menggoda hasratku.
Gairah dalam dirikupun ikut memanas, kuikuti setiap keinginan ini memacuku.
"Oh.., Nevan apa yang sedang kamu lakukan" sekilas pikiran itu terlintas dibenakku.
"Rasakan setiap hasratku sayang.. gairah ini tak bisa ku lawan lagi" Nevan makin liar diatas tubuhku.
"Hem.. Nevan" Dia terus menciumku dan membuat gejolak didalam diriku meningkat.
Tubuh Nevan yang berada diatasku membuat tubuhku bak magnet yang terus bergerak mengikuti lekuk tubuhnya.
š¼
Jam 6.30 pagi.
Semua telah terjadi sudah, aku melepaskan apa yang selama ini aku pertahankan.
Kami yang masih berselimut.
"I love you sayang.." Nevan mencium pipiku.
"Kamu jahat banget sih" baru menyesal kemudian.
"Hehe maafkan aku sayang.. kuharap hanya aku didalah hatimu mulai sekarang" sambil menunjuk kearah hati ku.
"Kamu kan selalu ada disetiap cinta dan pikiranku" aku memeluknya.
Entahlah hal ini bisa saja terjadi jika cinta telah terlalu luar biasa kita rasakan.
š¼
Pagi ini kami berangkat ke kantor bersama, Nevan dibawakan pakaian ganti oleh drivernya.
"Sayang sudah siap?" Sambil merapikan dasi miliknya.
"Iya sebentar sayang, aku lagi cari handphone ku" sambil mencari dimeja kamarku.
"Handphone mu sama aku lagi ku pegang" Nevan sedang memegangnya.
"Hah.. sama kamu?" Aku terkejut dan menghampirinya.
"Ini.. aku baru memasang GPS dan connect ke handphone ku, jadi kamu bisa tahu keberadaanku dimana dan aku bisa tahu kamu dimana.." ungkap Nevan dan memberikannya padaku.
"Loh.. Kenapa..?" Heranku.
"Antisipasi jika kamu pergi tanpa bilang seperti saat itu" dan mengernyitkan keningnya.
"Kamu ganteng banget sih sayang.. " aku memeluknya dan sedikit bermanja pada Nevan.
"Baru tahu ya, ganteng kayak gini masih dicuekin" ledek Nevan sambil membelai rambutku.
"Hehe gak kok, kamu nya aja.." tanpa melanjutkan hanya mengedipkan mataku beberapa kali.
"Kenapa mata kamu, masih mau memangnya?" Makin meledekku.
"Ih kamu yah.." aku makin memanja.
"Yah.. kalau aku.. ready for it.." dan mencium keningku.
"Seneng lihat kamu seperti ini" senyum Nevan.
"Yang bagaimana?" tanyaku.
"Ah sudah lah.." Nevan menggandengku untuk segera berangkat ke kantor.
"Tuh kan bikin penasaran.." dan mengunci pintu lalu turun ke lobby.
Seperti baru mulai kasmaran kembali, aku masih menempel ditubuhnya seakan tak mau menjauh.
Driver Nevan sudah menunggu dan kami masuk kedalam mobil.
Mobil berjalan perlahan untuk keluar apartemen.
Saat aku memandang kearah luar, aku terkejut karena mobil Nevan dan mobil Alvaro berpapasan.
"Yaampun.." aku terkejut.
"Kenapa sayang..?" Nevan menanyakan reaksi terkejutku.
"Heem tidak.." aku terlihat menutupi sesuatu.
"Sayang.. jangan menutupi sesuatu lagi padaku" Nevan memperingatiku.
"E..hem.. aku baru saja lihat mobil Alvaro melintas" aku mencoba mulai jujur padanya, tak ingin menyimpan sendiri lagi.
"Orang itu.. apa yang dipikirkannya, seperti tak mau menyerah" kesal Nevan.
"Mulai nanti malam kamu akan tinggal bersamaku.. aku tak ingin ambil resiko" tegas Nevan yang merasakan cemburu.
Aku mendekati Nevan dan memeluknya.
"Apapun itu aku akan menurutimu.." aku mencoba menenangkan Nevan.
"Calon istriku.." Nevan menciumku.
Ah.. aku menyukai ini, aku menyukai apapun darinya, aku takkan ragu lagi dari sekarang.
"Ciuman ini memberiku energi yang tak terduga" kataku disela-sela Nevan menciumku.
"Aku tak ingin jauh darimu, mulai sekarang selamanya bersamaku" bisik Nevan.
Suara kecupan ini membuatku sedikit malu, karena pasti terdengar oleh driver Nevan.
Kami menyudahinya karena sudah sampai kantorku.
"Tunggu aku malam ini" kataku dengan sedikit nakal.
"I will" sambil mengedipkan matanya padaku.
Aah rasanya aku tak ingin pergi darinya walaupun hanya untuk bekerja, dia telah membuatku tergila-gila padanya pagi tadi.
Bersambung.... āØāØāØ