
Kami makan lewat jam makan malam, sambil menunggu transit. Alvaro bersikap begitu humoris malam ini, tak habis tawa ku untuk semua leluconnya.
"Aku punya lelucon lagi, mau dengar?" Tanya Alvaro.
"Cukup Alvaro, aku sudah tidak tahan mendengar semua itu, kamu membuatku tak bisa berhentu tertawa.. haha" aku masih tertawa dari lelucon dia sebelumnya.
"Oke aku janji.. 1 lagi yah.." ujar Alvaro.
"Okey.." aku menggeleng karena Alvaro tahu banyak soal lelucon.
"Seekor katak pergi menemui seorang peramal untuk mengetahui apakah dia beruntung dalam urusan asmara atau tidak.
Lalu peramal itu, membaca telapak tangan si katak dan berkata, “Aku mempunyai kabar baik dan kabar buruk. Mau dengar yang mana dulu?”
Si katak ingin mendengar kabar baiknya terlebih dulu.
Peramal pun berkata, “Kamu akan bertemu seorang gadis cantik. Dia akan tertarik padamu dan ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirimu. Dia ingin kamu terbuka padanya dan memberikan hatimu padanya.”
“Wah, itu hebat!” kata si katak. “Tapi, apa kabar buruknya?”
“Kamu akan bertemu dengannya di kelas biologi.”
Katakpun terdiam sambil mendelik mataknya keluar"
Kami tertawa terpingkal mendengar itu.
"Kamu tuh yah.. bener-bener.. haha" aku sangat terhibur olehnya.
"Haha.. kataknya sudah ke geeran" tawa Alvaro.
"Wah sudah waktunya, kita harus keruang tunggu.. mari kesana sekarang, kamu sudah selesai makannya?"
Kami berdua menuju ruang tunggu, agar tepat waktu saat pesawat sudah ready.
..........
Nevan menuju mall Pasific Village dan mencari sesuatu untuk Jovita, ya benar.. Nevan akan menyusul Jovita malam ini.
Setelah mendapatkan apa yang dicari Nevan bergegas menuju bandara dengan penerbangan secepatnya. Nevan menyuruh sekretarisnya untuk mencari tiket pesawat dengan penerbangan malam ini, dan Nevan berangkat tengah malam.
Saat diperjalanan menuju bandara.
"Maaf kan aku Jovita, keegoisanku ini membuat hubungan kita menjadi dingin..
Aku akan memperbaikinya apapun itu aku akan berusaha" gumam Nevan dimobil.
Sesampainya di airport Nevan segera chek-in, mengikuti beberapa pemeriksaan lalu menuju ruang tunggu.
Hati Nevan begitu gelisah, bagaimana cara menghubungi Jovita, entahlah sepertinya pikiran Nevan buntu untuk cari solusinya. Bahkan menunggu dua minggu saja tak sanggup, Nevan memilih untuk menyusulnya.
Nevan tak membawa apa-apa untuk mengunjungi Inggris, tak sempat untuk membawa apapun kesana. Hanya pakaian yang dipakai saja, handphone dan dompet, untuk paspor dan lainnya sudah diurus oleh sekretarisnya dan diberikan saat Nevan tiba di airport oleh driver lainnya.
Dia berpikir untuk pakaian mungkin akan membelinya saja disana, prioritasnya hanya untuk menemui Jovita.
"Kenapa aku bisa gegabah itu semalam, harusnya dia bersamaku hari ini, apakah hari ini dia merasakan bahagia di hari ulang tahunnya, atau sedih karena sikapku, mengapa aku bisa berubah dalam sekejap hanya dari kata-kata orang.
Mungkin itu saja benar atau salah, jika benar mungkin aku harusnya bisa bersikap sedikit sabar, kuharap itu tidak benar seperti kata Jovita semalam.
Aku bersalah menyakitinya seperti ini, membuatnya menjauh dariku, membuatnya bersedih dihari ulang tahunnya dan pergi tanpa aku tahu dia dimana" pikiran Nevan begitu kalut, hanya Jovita yang memenuhi isi pikiran dan hatinya.
Beberapa kata maaf sedang dirangkai dipikiran Nevan, semoga Jovita bisa menerimaku saat kami bertemu nanti dan hubungan kami bisa membaik. Tanpa harus seperti ini lagi.