
Hari ini hatiku sedang senang, biarpun hari Senin tapi aku sangat bersemangat. Seminggu lagi aku berulang tahun dan akan menginjak angka 27 tahun. Terlihat sudah matang untuk bisa menemukan kekasih, tapi mungkin belum waktunya bertemu. Aku tetap positif thinking.
Akupun berencana akan bepergian sendiri keluar negeri. Negara Inggris yang sudah aku impikan sejak kecil. Akhirnya bisa kesampean untuk melihat langsung Negara impianku.
...
"Morning bu Glory" sapaku pada beliau. CEO di kantorku bekerja.
"Iya Jo, tolong singkat. Saya ada meeting 5 menit lagi" ujarnya terburu-buru.
"Iya bu. Saya hanya info minggu depan saya Cuti 2 minggu ya bu"
"Oh itu. Oke. Jangan lupa apa pekerjaan kamu wajib info ke pengganti kamu selama cuti"
"Oke baik bu" aku sedikit melangkah menuju pintu.
"Jangan lupa oleh oleh saya yah" celetuk bu Glory masih dengan nada serius.
"Oh iya pasti bu. Apa ada pesen mau oleh oleh apa?" Tanyaku merinci.
"Aku lagi pengen banget tas handmade dari sana. Katanya itu bagus, aku belum sempat beli waktu itu. Gak mahal kok ga smpe 20 jutaan" jawab bu Glory.
"Haha aah ibu suka bercanda, jangan semahal itu dong bu" raut wajahku sedikit berubah mendengarnya.
"Loh tadi kamu nanya, ya aku jawab"
"Eh iya bu. Nanti saya coba cari disana"
"Haha ah kamu baru dicandain aja serius banget. Tapi kalo kamu maksa aku sih gak apa-apa" ucapnya sudah mulai melunak sambil tertawa anggun.
Akupun ikut tertawa pelan mendengar candaannya yang bikin mukaku pucat dan aku berlalu menuju mejaku.
"Mbak Jovita, yang kemarin aku kasih proposal program Hemat tanpa Batas udah di acc sama bu Glory" Chessy datang dengan terburu-buru.
"Udah kayaknya. Sebentar aku liat dilaciku" sambil cek satu persatu berkas dilaci mejaku. "Ini"
"Thankyou mbak. Jadi nih cuti?"
"Jadi dong, baru aja ngingetin lagi sama bu Glory. So nanti lo kerja keras ya sama mbak Hifza"
"Ciye yang seneng mau keluar negeri. Tapi masa sendirian sih, kapan punya pacar baru dah lama gue liat lo sendiri loh mbak"
"Kalau saatnya datang ya datang, kalau belum masa gue harus maksa "
"Haha udah deh dari pada disemprot"
"Eh Chess coba liat deh ini mata gue agak gak nyaman ya"
"Coba sini gue liat, iya mbak agak kemerahan. Dilepas dulu aja softlens nya, takut mungkin iritasi"
Cheesy memang tau aku lebih suka pakai soflens ketimbang kacamata untuk mengantisipasi minus mataku.
"Duh gue gak bisa nyetir nanti, burem. Yaudah gue izin dulu ke rumah sakit, tolong semua lo handle dulu ya"
"Oke baik mbak. Hati-hati dijalan jangan ngebut"
"Iya" akupun berangkat ke rumah sakit.
...
Setibanya di Jakarta General Hospital.
Akupun melakukan pendaftaran seperti biasa.
"Baik bu bertemu dengan Dokter siapa?"
"Aku masih baru. Siapa aja yang lagi praktek mbak"
"Oh dengan.." sambil mengucapkan nama dokter tersebut.
"Bu Glory.. oke oke apa aja mbak" karena telepon penting akupun mengiyakan tanpa tau apa yang mbak itu katakan. Setelah selesai bicara dengan Bu Glory, akupun menandatangani registrasi tersebut.
Aku sibuk dengan handphone mengenai pekerjaan dan berbagai email.
Kurang lebih 1 jam, kini giliranku masuk keruang Dokter.
"Siang dok.." OMG sapaanku memelan setelah melihat Dokter itu adalah Alvaro mantanku.
"Siang, loh Jovita. Lama tidak berjumpa, apa kabar" ujarnya sambil memberikan tangannya untuk bersalaman padaku.
"Baik. Baik Dok" ucapku dan menggapai sambil bersalaman dengan tidak menyangka. Karena aku tidak tahu apa yang terjadi hingga kebetulan kami bertemu.
"Ada keluhan softlens lagi?" Tanyanya menebak.
"Iya Dok, pagi ini agak kurang nyaman"
"Kenapa kamu kaku begitu, biasa aja seperti dulu. Oke sekarang kita cek sebentar ya" Dokter Alvaro pun menjalankan prosedur pemeriksaannya.
"Oke ini iritasi ringan, jadi pakai obat tetes dulu untuk mengurangi infeksi, sementara pakai kacamata dulu ya. Biar matanya lebih cepat bereaksi dengan obat" Dokter menjelaskan secara rinci apapun itu.
"Iya, makasih. Dokter sekarang disini prakteknya?" ucapku ingin tau.
"Kamu sepertinya sibuk sekali, sama sekali tidak ada kabar dari kamu. Sampai tidak tahu kan, aku sudah 2,5 tahun lebih disini"
"Ow pantesan. Ah gak sesibuk itu, cuma ya. Oke Dok maaf jadi nanya gak jelas"
"Kamu masih bekerja disana?" Ujarnya seakan menahanku untuk pergi.
"Iya, belum kemana-mana masih disana"
"Padahal dekat ya, cuma ya aku juga takut nanti kalau mampir malah jadi ganggu"
Aku hanya tersenyum.
"Sebenernya ada 2 pasien lagi, bisa kita ngobrol kebetulan kita ketemu"
"Ya kalau itu gak menggangu jam praktek"
"Ah gak dong, kan sudah selesai. Nanti tunggu aku di depan farmasi, Ini gak lama"
"Oke" ujarku mengiyakan. Akupun berlalu keluar ruangan.
OMG, astaga kenapa bisa kebetulan gini ya. Gue benar-benar gak tau dia bekerja disini sekarang. Ish kenapa sih gue juga deg-degan kayak orang bodoh.
asli harusnya gue biasa aja. Kenapa jadi grogi coba. Hati ini bekecamuk malu.
Akupun dipanggil untuk pengambilan obat, lalu tidak lama Alvaro mendatangiku.
"Yuk kita cari tempat nyaman" ajak Alvaro.
Tanpa berkata aku mengikutinya.
"Kamu bawa mobil?, Sini biar aku yang nyetir"
"Kamu?" Aku menanyakan mobilnya.
"Gak masalah, disini aku juga sering tinggalin mobil"
Kamipun berada dimobil dan aku tidak tau Alvaro akan membawaku kemana.
...
Fresh Cafe.
OMG ngapain dia ngajak ketempat ini coba. Ini cafe yang sering kita datangi saat bersama dahulu. Aku bergumam dalam hati.
"Gak apa-apakan disini?"
"Iya gak masalah" jawabku.
Kami masuk kedalam kafe kebetulan jam makan siang jadi agak ramai dikafe yang hits ini.