
Aku beraktifitas seperti biasa, sesekali bercengkrama dengan Hifza dan Chessy soal party semalam. Chessy yang anaknya supel dan cantik bertemu beberapa pria yang mendekatinya, cukup mudah bagi Chessy membuat orang lain nyaman dengan dirinya.
Aku tak mau begitu banyak bahas tentang diriku saat di party semalam, lebih baik menyimpannya sendiri.
Karena takut akan menjadi boomerang bagiku jika apa yang kubahas terdengar hingga ke teliga Nevan, karena terkadang disini tembok pun bisa mendengar, apalagi Nevan mengenal karyawan yang bekerja disini.
Kami masih komunikasi lewat WA dengan Nevan, dia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan aku mengerti akan hal itu.
Sekejap aku memikirkan Nevan, apapun tentangnya, bagaimana penyayang nya padaku, ketulusannya hingga ciumannya.. oppss masih siang pikiranku sudah kemana-mana, hehe duh rasanya mau cepat-cepat pulang, yaampun kenapa aku berasa sudah tinggal bersama dengan Nevan yah.. aku kan harusnya tinggal di apartemenku. Tapi, tinggal diapartemen Nevan lebih nyaman bagiku, karena ada dia.
Duuhh beginilah kalau punya pacar, sedang bekerja saja aku malah memikirkan dia. Untunglah dulu, aku berpikir mengejar karir lebih penting dari pada menjalin hubungan, buatku tak fokus akan karir ku sendiri karena terbelah oleh percintaan.
Yaa.. bersyukurlah di usia ini, aku sudah mantapkan pilihanku pada seseorang, semoga Nevan yang terbaik untukku.
Jam 4.55 sore, pulang kantor sudah mendekat, Nevan sedang perjalanan ke kantorku. Pekerjaanku tinggal sedikit lagi selesai, aku ingin buru-buru pulang dan bertemu pujaan hatiku Nevan.
"Jovita, tolong kerjaan ini sekarang dan taruh dimeja kerja saya secepatnya" ujar bu Glory padaku dengan membawa laporan bulanan tentang performa kinerja marketing.
"Yah.. ini jam pulang bu, gak bisa besok"
"Besok hari terakhir kamu untuk cuti dua minggu kan.. nanti kamu bisa saja ngawur karena pikiran kamu sudah gak disini" bu Glory langsung meninggalkan ruanganku.
"Yah bu.. tega banget" gerutuku tapi apa daya aku harus mengerjakannya.
Aku menghubungi Nevan untuk mengabarkan agak sedikit telat untuk turun menemuinya, karena ada pekerjaan dadakan dari bu Glory dan Nevan memakluminya.
Dengan segera ku kerjakan.
"Fokus.. fokus Jovita, habis ini akan liburan panjang, jadi gak perlu khawatir soal itu" aku menyemangati diri sendiri.
Disisi lain ada beberapa karyawan sedang duduk santai, dua orang pria dan dua orang wanita sedang berbicara santai.
"Ih lo mah gitu gak ngajak gue ke pesta topeng semalem" ujar si wanita berbaju biru dengan nada sedih.
"Haha ya gue pikir lo punya cowo, kan yang dateng cuma orang jomblo aja ris.." ujar si pria berkemeja merah maroon.
"Ya kan gue belum serius banget sama Tyo, siapa tau dapat yang lebih dari dia kan.." ujar wanita baju biru tadi.
"Yaampun gak pernah puas lo ris, awas kualat" balas pria berkemeja abu-abu sambil merokok.
"ye.. ngeselin lo Van.. eh terus lo dateng ra?" Tanya wanita yang baju biru.
"Dateng gue, seru acaranya" ucap wanita satu lagi.
"Siapa aja yang dateng semalam Rara dari kantor kita" tanya wanita baju biru itu lagi.
"Kamarin ya gue, Kevin, si Harry, mbak Hifza dan mbak Chessy, eh sama bu Jovita deh kayaknya" ucap wanita yang dipanggil Rara.
"Masa bu Jovita ikut?" Tanya wanita baju biru.
"Iya, gue liat pertamanya dari status mbak Hifza di WA, di foto itu sih belum pakai topeng terus saat di ballroom gue lihat dari gaun mereka pakai" ujar wanita yang dipanggil Rara.
"owwhh.. bu Jovita jomblo kan ya" tanya wanita baju biru.
Karena saking dekatnya mereka dengan posisi Nevan duduk saat ini. Tadinya tidak terlalu mengikuti pembicaraan mereka, tapi karena diawal Nevan mendengar pembicaraan pesta topeng semalam, Nevan sedikit tergugah untuk sedikit mendengarkan. Apalagi setelah nama Jovita disebut disana, Nevan tertarik ingin tahu apa yang terjadi dipesta, walaupun tadinya Nevan percaya saja dengan Jovita sampai detik ini.