
Siang Nevan sudah kembali ke apartemen miliknya, untuk bersiap dengan janji makan malam yang sudah dijadwalkan.
Aku.. aku hanya di apartemen sendiri sambil membaca beberapa buku novel yang belum sempat aku selesaikan.
Aku menggoyangkan kacamataku, seakan ada yang kupikirkan saat ini. Mungkin gak ada salahnya aku jalan-jalan sendiri hari ini, selagi tidak ada Nevan disampingku.
Tapi.. kemana yah, udah jam 1 siang, lebih baik makan diluar aja kali yah..
Tanpa berpikir lagi aku langsung bersiap untuk jalan keluar, berpakaian kece dan make up natural soft membuat ootd ku hari ini memukau.
Aku mengambil kunci mobil dan bersiap untuk pergi.
Menjelang sore aku berencana akan makan dahulu di Jakarta Centre Mall, sesampainya disana aku langsung menuju kedai minuman yang sedang diminati pengunjung.
Memainkan handphone sambil bertukar pesan dengan Nevan tentang yang kami lakukan saat ini, lalu melihat semua foto yang telah aku abadikan bersama Nevan selama di Inggris.
Minuman sudah ditanganku, aku meminumnya sambil berjalan dan sesekali menatap handphone.
Tiba-tiba aku menabrak seseorang.
"Maa..maaf, tadi aku.." karena kejadian tiba-tiba ini, hampir tumpah ke pakaian kami, lalu terdiam saat melihat siapa yang didepanku.
"Kamu masih pakai softlens yah.." ujar Alvaro yang berada didepanku.
"Kamu.." aku terkejut.
"Aku ingin bicara padamu, mungkin ini yang terakhir kali" sangat to the point.
"Tidak Alvaro, seharusnya kita tidak bertemu" kami yang berdiri berhadapan.
"Hanya karena kamu sudah menjadi miliknya, membuat aku sudah tidak boleh bertemu denganmu, tidak bisakah kita menjalin hubungan sebagai teman?" tanya Alvaro,
"Itu tidak bisa terjadi, Nevan akan cemburu padamu" aku menjelaskan.
"Cemburu.. untuk apa, toh kamu akan menjadi istrinya juga kan.."
"Maaf Alvaro, aku harus pergi" aku mencoba menghindar darinya.
"Tunggu, aku ingin bicara padamu, hanya untuk hari ini, kebetulan Nevan juga sedang tidak bersamamu kan?" Alvaro menggenggam tanganku sesaat aku berbalik untuk pergi.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku disini dan tidak bersama Nevan" aku heran dengan perkataannya dan tidak sadar tangan aku masih digenggam oleh Alvaro.
"Aku mengikutimu dari apartemen, tadinya aku ingin bicara denganmu disana. Tapi aku melihat kamu keluar sendiri dan disinilah kita"
Aku sedikit terkejut mendengarnya.
"Lepaskan Alvaro, aku tidak ingin ada yang melihat kita, apalagi sedang berjalan berdua denganmu" aku mencoba melepaskan genggaman Alvaro.
"Kamu sangat perduli dengannya, itu sangat menyakitkan perasaanku, tidakkah kamu sedikit menjaga perasaanku saat ini?"
"Alvaro, kupikir kamu sudah mengerti semuanya saat kita berada di Inggris, lalu apa lagi yang ingin kamu katakan"
"Ikutlah denganku" Alvaro memaksa.
"Tidak.."
"Atau kamu yang memilih tempatnya"
Aku terdiam.
"Aku hanya ingin bicara tidak lebih, jadi akan lebih baik jika kita pergi dari sini dan mencari tempat untuk kita bicara" ungkap Alvaro.
Aku berpikir, apa lagi yang ingin Alvaro katakan padaku. Kurasa semua sudah cukup jelas selama kami di Inggris saat itu. Aku tidak bisa berlama disini sambil digenggam oleh Alvaro seperti ini, mungkin lebih baik aku mendengarkan apa yang ingin dia katakan.
"Baiklah.. aku tidak punya banyak waktu dan lepaskan tanganmu sekarang, kita cukup bersikap seperti biasa" kataku dengan suara pelan dan tenang.
"Baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang"
"Aku yang memilih tempat" aku berjalan didepan Alvaro.
"Oke.. kuserahkan padamu, mau kemana?"
"Aku sudah lapar, kita cari tempat untuk sekalian makan" sahutku.
"Ide cemerlang" Alvaro menyetujui.
Kami berjalan beriringan menuju tempat makan yang kuinginkan.
Kami sampai direstoran, dengan segera memesan makanan dan minuman.
Tak berselang lama semuanya sudah tersedia.
Kami memulai pembicaraan dengan sedikit basa-basi sambil menyantap makanan ini.
"Oke ceritakan tentang kamu dengan Nevan" pinta Alvaro.
"Untuk apa?" heranku.
"Aku benar-benar ingin tahu" lanjutnya.
"Okey... sepulang kemarin dari Inggris, kami langsung ke Jogja untuk bertemu dan meminta restu dengan keluargaku"
"Oyah.. aku cukup terkejut saat pertama mengetahuinya, tapi aku tetap doakan yang terbaik untuk kamu.. lalu?"
Aku tersenyum mendengarnya, Alvaro terdengar bijak saat mengatakan hal itu.
"Nevan bertemu orangtuaku, adik serta tante dan pamanku. Sepertinya mereka menyukai Nevan"
"Kalian menginap dimana?" selidiknya.
"Orangtuaku mempersilahkan Nevan menginap dirumah, walaupun tadinya Nevan akan merencanakan tinggal di hotel" jawabku.
"Orangtuamu tentu sudah merestuinya"
"Iya.." singkatku.
"Aku masih berpikir kenapa bukan aku yang akan kamu bawa menemui keluargamu.." Alvaro sambil menyuap sesendok makanannya.
"Alvaro..." Aku seakan memotong pemikirannya tentang hal itu.
"Loh memang kenapa, keinginan tentu ada.. tapi semua tergantung keadaan, oke katakan berapa lama kalian menginap?"
"Hanya semalam, paginya kita sudah kembali ke Jakarta" sambil makan makananku.
"Owh.. jadi ada rencana apa?" Alvaro lanjut bertanya.
"Kamu detail banget sih nanyanya?"
"Ya kan aku memang mau tahu tentang ini"
"Tapi gak perlu sedetail itu"
"Jadi.. apa yang kalian bicarakan disana, pernikahan?"
"Hem.. kami memang membahas hal itu, orangtuaku setuju dengan keinginan Nevan"
"Seperti?"
"Nevan ingin menikah denganku sebulan kedepan" kataku membeberkan.
"Sebulan lagi?" Alvaro terkejut.
"Iya.."
"Serius kamu? Ini seperti tidak masuk akal dengan segala keperluan untuk mempersiapkannya"
"Iya tadinya memang aku berpikir begitu, akan sulit untuk mempersiapkan semua dengan waktu yang terlalu cepat. Tapi dia menyanggupi, hanya saja.."
"Hanya saja?"
"Pagi tadi Nevan dapat kabar dari sekretarisnya, hingga dua bulan kedepan banyak pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Aku tidak masalah soal itu, aku mengerti keadaannya. Karena kita membicarakan hal ini juga terlampau terburu-buru"
"Jadi ditunda?"
"Kemungkinan seperti itu"
"Jovita, aku sebenarnya mau bertanya.. apa kelebihan dia dibanding aku"
"Kamu tuh nanyanya dari tadi suka bikin bingung jawabnya deh"
"Ya kamu hanya katakan saja yang sebenarnya"
"Memangnya aku belum pernah mengatakannya"
"Kamu bermain dibelakangku, ingat?" Alvaro menegaskanku.
Aku cuma menahan senyumku.
"Jovita.."
"Entahlah.. mungkin pesonanya yang terdahulu masih melekat dibenakku"
"Pesonanya? Pesona seperti apa yang kamu maksud?"
"Alvaro cobalah untuk tidak bertanya semakin detail seperti itu.."
"Izinkan aku bertanya hanya untuk hari ini, aku ingin memastikan kamu berada ditangan yang tepat. Jika tidak, aku bisa berusaha lebih untuk mengembalikanmu kesisiku lagi"
Mendengar itu aku mencoba mengatur kata-kata yang baik untuk kuucapkan.
"Karena dia mantan bos ku, banyak hal yang kita lalui dan banyak hal yang membuat kami kembali merasakan kebersamaan kami saat menjadi rekan kerja"
"Hingga akhirnya aku tersisihkan, kenangan kita yang dulu tak mampu untuk memperkuat kesetiaan kamu padaku?" Alvaro seperti menghujaniku dengan sindiran.
Merasa tersudutkan setiap celetukan Alvaro setelah mendengar ceritaku.
"Banyak hal tentang dia yang membuatku..." tiba-tiba aku menghentikan kata-kataku sambil menatap Alvaro.
"Lanjutkan, aku tidak akan bereaksi berlebihan"
"Jatuh cinta padanya" perlahan untuk mengatakannya.
"Baiklah, mungkin benar semua yang kamu katakan itu. Hingga akhirnya kamu memilih dia dan telah jatuh cinta padanya. Aku mengerti. Setidaknya aku pernah mendengarkan itu dari kamu" dan meminum minunannya
Alvaro seperti tidak dapat kutebak, reaksinya ini benar-benar diluar dugaanku.
"Alvaro aku tuh agak ragu, mengapa kamu tiba-tiba bersikap berbeda seperti ini dengan saat kita di Inggris" aku jelas sangat heran.
"Aku tidak ada bedanya, hanya kamu yang menghindar dariku" ujarnya menjelaskan.
"Memang itu yang harus aku lakukan, memangnya kita harus bagaimana, sedangkan Nevan terlihat tidak ingin aku bertemu denganmu" kataku.
"Iya aku merasakannya saat kita bertemu dibandara waktu itu, aku berpikir mungkin tak akan ada waktu lagi bagiku untuk bertemu denganmu. Apalagi mendengar kamu dan dia bertemu dengan keluargamu.
Apa kamu bahagia dengannya?" tanya Alvaro lagi.
"Iya" itu tentu.
Alvaro menghela nafas.
"Aku tak bermaksud untuk menyakitimu Alvaro, hanya saja pertanyaanmu membuat aku binggung harus jawab jujur yang seperti apa"
"Aku mengerti, Jovita apakah kamu pernah bahagia saat bersamaku semenjak kita bertemu lagi?"
"Pernah.." aku mencoba jujur.
"Apa itu tidak cukup untukmu?"
"Alvaro, jangan membuatku semakin tersudut. Semua ini takkan membuatku berpikir ulang"
"Ya hanya memastikan saja, untuk menyenangkan hatiku"
Handphone ku berbunyi, pesan dari Nevan lewat WA ku. Dia mengabarkan tentang pertemuannya malam ini.
"Nevan?" Alvaro melirik kearah handphone ku.
"Iya" aku menjawab chat Nevan sekejap.
"Apa katanya?"
"Mengabari kegiatannya saat ini, ada pertemuan yang harus dia datangi" masih fokus pada handphone.
"Oh.. kalau begitu aku bisa meminta waktumu hari ini untuk kita berdua"
"Aku takkan bisa untuk menghabiskan waktu lebih lama bersamamu Alvaro, aku akan pulang selepas kita selesai makan" selesai membalas pesan Nevan lalu menaruh handphone ku di meja.
"Aku bisa berlutut untuk memohon" Alvaro makin memaksa.
"Tidak mungkin"
"Coba saja"
Aku tertawa dengan heran, apa mungkin Alvaro bercanda ditengah cafe dengan pengunjung disini.
"Alvaro, kita tak seharusnya bertemu apalagi seharian bersama" aku tetap kekeh dengan pendirianku
"Kenapa tidak, aku hanya ingin melepasmu malam ini, aku janji takkan menganggumu lagi" janjinya
Aku berpikir tentang permintaannya.
"Baiklah sampai jam 7 malam saja"
"Jam 9"
"Jam 7 atau tidak sama sekali"
"Aku bisa berlutut jika kamu tidak mengizinkannya"
"Kenapa kamu banyak mengancamku beberapa kali" mataku menyelidik
"Tidak, jika kamu menurutiku"
"Apa yang ingin kamu lakukan denganku seharian ini?"
"Hanya mengobrol lalu menghabiskan waktu bersamamu hari ini, lagipula Nevan juga ada pekerjaan" Alvaro menjawab dengan santainya.
"Entahlah, aku merasa salah tentang ini" sambil merapikan rambutku
"Pernahkah kamu berpikir seperti itu saat kamu bertemu dengannya, padahal kamu sedang menjalin hubungan denganku?"
"Kamu bertanya aku jawab iya"
"Lalu mengapa kamu masih lakukan?"
Aku terdiam.
"Sudahlah, aku hanya bercanda mengatakan itu" seakan tak terjadi apa-apa Alvaro mulai menghabiskan makananya.
"Kamu kok diam aja, makan dong.. mau disuapin yah?" Alvaro mulai mencandaiku.
"No Alvaro.. aku bisa sendiri" aku menolak sikap Alvaro yang seperti menganggapku anak kecil.
"Anggap saja kamu sedang malas, sini biar aku suapin" Alvaro sudah memegang sendok untukku.
"No.. no" aku menutup mulutku dengan tangan.
"Ayok.. sedikit aja.. aaaa" Alvaro benar-benar ingin melakukannya dengan menyuapiku di sendok yang terisi makanan.
"Alvaro aku bisa sendiri, jadi please"
"Yaudah satu suap aja.." Alvaro memaksa.
Aku membuka mulutku karena sendok itu sudah didepan mulutku dan tak ingin menjadi pusat perhatian pengunjung disana.
"Nah gitu dong, sesuap lagi yah.." Alvaro makin bercandaiku.
"No.. cukup.. cukup.. ini masih belum habis" aku yang sedang mengunyah makanan menghentikan tangan Alvaro yang ingin melakukan itu lagi.
"Cukup yah, aku tidak enak dilihat yang lain"
"Mereka juga paling cuek aja, banyak pasangan yang seperti ini juga"
"Tapi kita bukan pasangan" aku mengingatkannya.
"Ya kan gak perlu dijelasin ke mereka juga"
Aku tertawa pelan melihat reaksi Alvaro yang menyipitkan matanya membuat wajahnya begitu lucu kulihat.
Suasana sedikit mencair, kami mulai bergurau tentang hal lain.
Kami selesai makan.
"Aku ketoilet sebentar.."
"Oke.."
Aku berjalan menuju toilet, tas dan handphone ada ditempat ku duduk tadi.
Aku mencuci tangan, menatap cermin.
"Apa sih yang ada dipikiranku, bisa-bisanya aku menuruti kemauan Alvaro yang memintaku bersamanya hari ini. Mengapa aku tak bisa menolak hal itu, seharusnya aku bisa" sedikit melamun tentang sikapku pada Alvaro saat ini.
Aku kembali ke meja.
"Sudah?"
"Iya.."
"Yuk, aku sudah selesai bayar juga, aku ingin mengajak kamu nonton.."
"Alvaro.. aku tidak bisa.."
"Hanya menonton.. apa salahnya?"
"Hal lain please.."
"Apa dong.. kehotel?"
"Apa maksudmu?" Aku mencubitnya pelan.
"Aww.. ya aku bercanda, jangan marah gitu dong" sambil mengusap lengannya yg kucubit tadi.
"Main ice skating?"
"Aku tidak bisa sungguh" aku memang tidak bisa bermain ice skating.
"Kalau begitu kita coba, aku akan mengajarkanmu, ini akan lebih mudah sungguh" Alvaro menyakinkan.
"Tidak itu akan membuatku konyol" aku malu.
"Konyol bagaimana, ayoklah.."
"Tidak ada hal lain gitu?"
"Saat ini hanya itu pilihannya"
"Arrgghh... kenapa aku harus mengikutimu" kami pergi ketempat yang dituju dan meninggalkan restoran.
Kami jalan beriringan sambil mengobrol sedikit tentang masa lalu kami, astaga aku merasa Alvaro sedang mengingatkan aku tentang dulu yang pernah kita alami, hatiku terusik karenanya. Membuatku merasakan lagi hal yang pernah membuat kita begitu dekat. Merasakan lagi cinta yang pernah tumbuh untuknya.