It Beats For You

It Beats For You
as a lover and a friend



Setiap tarikan nafas dan sentuhan bibir Alvaro membuatku lupa diri, aku harusnya bisa lebih tegas pada Alvaro saat ini, tapi entah mengapa aku mengabaikannya.


"Kamu masih mencintaiku" ucap Alvaro.


"Tidak Alvaro, tidak lagi.." ungkapku setelah Alvaro melepaskanku.


"Ciumanmu takkan bisa berbohong, aku merasakan cinta didalamnya" ucap Alvaro.


"Itu bukan cinta Alvaro" aku mengatakan tepat didepan wajah Alvaro yang menatapku.


"Kalau begitu, biarkan nafsumu kukuasai" ujar Alvaro bernada nakal.


"Cukup, jujur aku memang lupa diri sebelumnya. Kuharap ini yang terakhir kita lakukan. Aku tak menginginkan lagi" ucapku mengakui.


"Apa kamu menikmatinya?" tanya Alvaro.


"Sejenak iya, tapi cukup... aku harus pergi" ujarku sedikit malu dan memalingkan wajahku darinya.


"Apa dia pernah menciummu" selidik Alvaro.


"Tentu" jawabku.


"Lalu bagaimana, apa dia lebih hebat dariku?" Alvaro mencoba membandingkan cumbuannya dengan Nevan.


"Itu tidak perlu dibahas Alvaro" ujarku menutupi.


"Jawabannya tidak, aku tahu" ungkap Alvaro seakan benar apa yang dia katakan.


"Dengar, aku tidak ingin membandingkan siapapun, jadi berhenti menanyakannya" ucapku.


"Kenapa, toh aku juga sudah kamu campakkan" Alvaro seperti meledekku.


"Aku tidak pernah mengatakan itu" kataku.


"Tapi kenyataannya begitu, aku memang sudah tidak mengenalimu lebih jauh. Kamu diluar dugaanku, begitu cepat kamu berpaling dariku" terlihat sesal diraut wajah Alvaro.


"Begitulah, jadi lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi" aku sedikit jutek untuk membuatnya melupakanku.


"Sudahlah Alvaro, kita selesai" aku mendorongnya dari hadapanku. "Tolong jangan ganggu hidupku lagi" kataku sedikit tegas padanya.


"Entahlah" Alvaro duduk dengan kaki menyilang dan tangannya dibentangkan.


"Jadikan aku mantan terindahmu, karena sampai kapanpun, atau kamu membutuhkan aku. Aku pasti ada untukmu, selalu" ucap Alvaro jujur dengan gayanya yang sedang menyombongkan diri.


Jangan dipikirkan Jovita, kamu sudah terlalu jauh bermain dengan Alvaro malam ini, ingat Nevan sudah menungguku. Aku bergegas meninggalkan ballroom dan menuju parkir mobil Nevan yang sudah terparkir tepat didepan hotel ini.


"Pak Harris" sapaku pada driver Nevan yang aku sudah mengenal sebelumnya, aku masuk kedalam mobil.


"Iya mbak" kami menuju apartemen Nevan.


Aku sudah menghubungi Nevan, mungkin dia akan menungguku di lobby apartemennya saat aku tiba nanti.


Sesampainya di apartemen, benar saja Nevan sudah menungguku sambil duduk disofa lobby. Aku menghampirinya, dengan gaun biru tosca, hells warna gold dan tas pesta dengan warna serupa dengan sepatu hellsku, sedikit riasan yang natural soft look dengan lipstik yang luntur berganti dengan warna bibirku, setelah diserang oleh Alvaro saat di party tadi.



"Hay sayang" sapa Nevan dan meraihku agar aku disisinya.


"Hay sayang, sudah lama?" tanyaku.


"Baru lima menit, kamu cantik banget malam ini. Kepesta tanpa aku dengan tampilan cantik begini, ada yang dekati gak tadi" Nevan terlihat menggodaku dengan sedikit cemburu.


"Masa sih, haha gak kok, aku lebih terlihat biasa. Disana lebih banyak yang lebih cantik, untung kamu gak datang, kalau tidak.. sudah banyak wanita yang mendekatimu" ujarku berbalik mencemburuinya.


"Haha masa sih, yaudah yuk keatas" ujar Nevan. Menuju lantai 20 apartemen miliknya.


Aku sedikit beraroma lelaki, sebaiknya aku bergegas untuk membersihkan diri, sebelum Nevan mencurigai sesuatu.


"Sayang aku mandi dulu yah" ucapku pada Nevan, saat kami tiba di apartemen Nevan.


"Oke" Nevan menunggu didepan televisi sambil menonton.


Untunglah Nevan tidak curiga soal apapun, aku harus segera membersihkan diri. Tapi... Alvaro aahh.. mungkin karena kami sudah pernah bersama, dan belakangan ini juga kami seperti orang kasmaran. Berbeda dengan Nevan yang lebih menjaga dirinya dariku. Ciuman itu.. memuaskanku. Tak pernah gagal Alvaro melakukannya, dibalik itu aku menyukainya. Walaupun Alvaro mengatakan hal yang tidak masuk akal bagiku.