
Selesai sarapan aku bersiap untuk pergi.
"Yuk jalan sekarang" ajakku.
"Buru-buru banget, sini dulu dong" Alvaro menggapai tanganku dan memelukku. "Aku masih mengantuk, semalam aku tidak bisa tidur menanti besok hari. Aku ada urusan jam 11 ini, aku bisa tidur setengah jam saja" ujarnya pelan.
"Baiklah, nanti kubangunkan. Kamu bisa tidur dikasur aku"
"Disofapun tak apa sayang"
"Gak apa, lebih nyaman disana. Aku juga ada pekerjaan yang aku harus cek di email"
"Aku mau ditemani, janji aku cuma untuk tidur"
"Oke, jangan bandel ya. Manja banget sih"
"Gitu dong.."
Terlihat dia kelihatan kurang tidur, baru saja diatas kasur Alvaro langsung terlelap. Aku rebahan disebelahnya, sambil memperhatikan wajahnya yang rupawan. Alvaro didepanku, wajah polosnya yang sedang tertidur sangat menawan, kenapa pria idaman sepertimu masih bersedia meninggalkan perasaan pada wanita gak bermutu ini.
Antara bahagia dan tak menyangka ku memilikinya lagi. Akankah ini berakhir dengan bahagia, ataukah hanya sementara. Kuingin selamanya. Jangan ada lagi perpisahan. Aku siap setia padamu, apapun itu.
"I Love you" ujarku sangat pelan dan lembut agar tidak membangunkannya.
Setengah jam berlalu. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Mungkin sejam cukup untuk istirahat sejenak. Kutunggu hingga jam 9 pagi baru membangunkannya. Kupuaskan diriku untuk menatap wajahnya yang sedang tidur. Itu saja cukup mengingatnya dipikiranku.
Jam 9 pagi.
"Sayang bangun" ucapku lembut.
Dia belum bangun juga, kucoba bangunkannya dengan perlahan.
Sekitar 5 menit baru Alvaro terbangun.
"Sudah jam berapa sayang?" Tanya Alvaro.
"Sudah jam 9 pagi loh sayang" jawabku.
"Yaampun aku nyenyak sekali sampai kelewat setengah jam, kamu kenapa gak bangunkan aku"
"Aku gak tega banguninnya, kamu kelihatan lelah tadi"
"Kalau gitu kenapa semalam aku tidak diizinkan tidur disini, aku kan jadi bisa tidur dengan baik" ujarnya sambil ngeledek.
"Masih aja ya, nanti aku lagi tidur diisengin sama kamu. Sama aja gak tidurkan" alasanku.
"Ahh masa sih, kenapa gak cari tau?"
"Aku sudah tau sepertinya, sudah terprediksi" candaku.
"Iihhh gemes sama kamu" Alvaro menarikku yang sedang duduk disampingnya.
Dia mulai mencumbuku lagi dan lagi.
"Oke sayang, nanti kebablasan"
"Kamu sih tadi bikin ide" ledek Alvaro.
"Iih siapa yang kasih ide, aku kan cuma kasih tau"
"Iya tapi aku jadi terinspirasi"
dia menatapku dalam-dalam.
"Cantiknya pacarku, aku bersyukur"
"Untung cantik gitu ya, kalau gak, jadi gak bersyukurkah?"
"Haha suka ledekin aku terus, nanti aku gemas nih" Alvaro mencolek hidungku dengan gemas dan memelukku erat-erat.
"Kamu ada kerjaan dirumah sakit katanya, nanti telat gak kalo belum berangkat sekarang?" Ucapku yang berada didekatnya.
"Iya aku mau lebih lama lagi sama kamu, baiklah kita bisa lanjutkan lagi di Inggris ya. Jangan bandel yah"
"Aku gak bandel kok, buktinya aku gak punya pacar setelah putus dari kamu"
"Kamu pasti ga bisa lupain aku"
"Haha masa sih, aku mikirnya gak gitu"
"Iih kamu tuh ngomong suka bener deh" aku iyain aja untuk membuatnya senang.
"Haha aku kan bisa baca pikiran orang, aku tau apa yang kamu pikir sekarang"
"Apa coba"
"Kamu pasti sayang banget sama aku sekarang"
"Ow jadi aku aja gitu yah.. kamu gak?"
"Aku juga dong, sayang banget sama kamu Jovita" sambil mencium keningku.
"Lama-lama pinter gombal yah"
"Mau aku gombalin lagi?"
"Haha gak.. jangan sekarang, sekarang kamu harus bangun dan kita siap-siap pergi biar bisa ontime disana" aku berusaha menariknya untuk bangun dan memposisikan diriku diatas lututnya.
"Kamu punya lem ajaib?"
"Gak, buat apa?"
"Kok aku bisa gak mau jauh dari kamu" gombalnya lagi.
"Kamu tuh kan, gombal lagi" ucapku dengan nada bermanja.
Alvaro akhirnya bangun dari kasur dan menggapaiku sambil menarik tubuhku yang sudah ada diatasnya. Sambil mengambil kesempatan untuk menciumku.
Tak kuasa aku membalas ciumannya. Kami saling menikmati cumbuan pagi ini.
"I'm in love with you, Jovita" ucapnya sambil melanjutkan ciumannya dibibirku.
"I'm in love with you, Alvaro" balasku dan menaruh tanganku dipipinya. Lalu berusaha menyudahi ini.
"Aku tidak tau, tapi aku bisa benar-benar bergairah jika ini diteruskan" ujarku.
"Kamu bisa melampiaskannya, aku akan memberikannya" sambil mencium leherku dengan lembut.
"Kamu benar-benar berusaha tanpa batas ya" ujarku.
"Akupun sudah merasakan gairah ini sayang"
"Oke Alvaro, jangan sampai aku gigit kamu yah"
"Iih kamu tega bener nanti sakit gimana"
"Habis kamu bandel banget, bikin aku terlena seperti ini terus dari semalam"
"Haha iya oke, I love you" sambil mencium keningku dan menyudahi kehangatan ini.
"Lama-lama aku bisa nyerah tiap hari kamu giniin aku"
"Masa sih, musti tiap harikah"
"Iih kamu iseng banget kan"
"Bercanda, yaudah yuk. Kamu mau kemana hari ini"
"Aku mau ke mall beli beberapa yang aku butuhin nanti saat disana"
"Oke, jadi berubah pikiran nih yang katanya mau diapartemen aja istirahat"
"hehe iya, aku pengen ke mall" ujar ku nyengir manja.
"Yaudah ok, akuu mau nemenin, tapi hari ini aku full. Banyak jadwal dan appoitment yang harus diatur ulang"
"Iya gak apa, aku bisa sendiri. Lagipula gak lama"
"Oke, maaf ya sayang. Nanti disana aku milik kamu sepenuhnya"
"Masa sih sayang" ucapku geer.
Alvaro tersenyum dan mengandengku berjalan menuju mobilku yang kebetulan mobilnya masih dirumah sakit.
Kami mengobrol tentang semalam bagaimana dia pulang dan lainnya dan Alvaro menyukai kacamata vintage ku ini. Katanya lebih baik aku memakai ini ketimbang softlens. Aku kurang setuju soal itu. Tapi untuk sekarang, ini memang yang kubutuhkan.
Kamipun melaju dan mengantarkan Alvaro ke rumah sakit.