It Beats For You

It Beats For You
You're here with me now



Tak menyangka ternyata makanan yang tadi terlihat banyak, habis juga oleh kita berdua.


Nevan juga banyak sharing, tentang pekerjaannya.


"Hari senin aku tidak terlalu banyak pekerjaan, bisa kita makan siang. Nanti aku jemput kamu di kantor" ajak Nevan.


"Oh ya" sedikit terkejut karena aku tak menyangka Nevan menawarkan dirinya untuk menjemputku ditempat ia bekerja dulu sebagai Bos ku.


"Aku juga gak ada meeting, boleh jika tidak keberatan"


"Oke. Nanti aku kabari saat sudah disana, akan aku kenalkan restoran lain. Sepertinya aku pilih yang agak sedikit ramai jika makan siang, tak apa?"


"Tentu, surprised me"


"Baiklah, by the way sebenarnya aku mau mengajak kamu kerumah besok. Tidak dalam bentuk formal, ini ada party birthday adikku yang paling kecil.


Maklum kalau anak terakhir pasti diperlakukan istimewa. Apalagi ini perempuan"


"Apakah akan canggung jika aku datang saat itu?"


"Tidak mengapa, akupun tidak selamanya disana. Hanya saat foto dan tiup lilin sepertinya" ujarnya sambil tertawa kecil.


"Oke, aku juga tidak ada kegiatan besok" seakan aku lupa ada Alvaro disisiku sekarang.


"Mau aku jemput?" Nevan menawarkan diri.


"Boleh" aku mengiyakan.


"Baiklah, apa kamu ada kegiatan lain hari ini. Aku masih bisa menemanimu kemana saja"


"Haha aku gak banyak kegiatan, sepertinya aku akan pulang. Sedikit membereskan pekerjaan" ujarku beralasan.


"Baiklah, aku akan antar ke mall tadi untuk bawa mobil kamu dan aku bisa beriringan mengantar kamu pulang"


"Tidak.. maksud aku tidak perlu. Ini masih sore, aku bisa sendiri"


"Benarkah?" Tanyanya.


"Iya, kamu bisa sampai mengantarkanku saja tidak apa-apa"


"Baiklah, sebelumnya boleh kita berfoto dulu"


OMG santun sekali untuk meminta kita berfoto berdua.


"Ayo" ucapku semangat.


Nevan mengambil handphone nya dan beberapa kali mengambil selfie kami.


"Kita sudah selesai, yuk" Nevan mengajakku untuk meninggalkan ruangan ini. kami mulai bangkit dari bangku dan menuju pintu.


"Nevan" ucapku sambil menarik tangannya.


"Iya" sambil menoleh kearahku.


Cuup. Aku mencium pipinya yang sebelah kanan.


"Hei.. aku tuh bercanda soal tadi loh" sahutnya sedikit terkejut dengan perlakuanku.


"Tak apa, namanya janji tetap janji" ucapku santai sambil senyum mempesona. Padahal aslinya kaget ternyata Nevan hanya bercanda. Tapi tak apa lah, namanya juga sudah dibelikan barang mahal. Sedikit toleransi. Hihihi.


"Wah kalau begitu yang sebelahnya belum nih" sambil memberikan pipi kirinya.


Cuup. Tanpa berbasa-basi lagi kulakukan.


"Duh kok aku jadi deg-degan ya" ujar Nevan terlihat pipinya sedikit merona.


"Yaudah yuk" aku menggandengnya pergi keluar ruangan itu. Alih-alih menutupi sikapku yang membuat malu diri sendiri.


Nevan mengikuti. Tak jauh pelan-pelan akupun melepaskan gandenganku. Refleks saja aku menggapai tangannya tadi.


Nevan menyelesaikan tagihannya dan kamipun bergegas pulang.


Jalanan sore itu sangat padat, kami mengisinya dengan memgobrol ringan.


"Mulai sekarang, aku akan ada buat kamu. Apapun yang ingin kamu lakukan ataupun kamu butuhkan kamu bisa hubungi aku. Aku dengan senang hati apapun untukmu"


"Kamu baik banget, dari dulu gak berubah"


"Ya dulu kan karena rekan kerja, sekarang kamu bisa menganggapku lebih dari siapapun" ujar Nevan.


Woww!!!


"Jangan terlalu baik, nanti aku manja gimana"


"Tidak ada masalah buat aku"


"Oh ya.." sambil tertawa elegan.


"Jadi menjelang kamu ke Inggris, bolehkah aku bisa bertemu denganmu. Tiap hari?"


"Tiap hari?" tanyaku.


"Iya, aku ingin dekat denganmu mulai saat ini, aku ingin minimal kita selalu makan siang ya. Kalau malamnya kamu mau aku jemput. Dengan senang hati"


Aku menghela nafas perlahan. Aku mulai mengatur perubahan ini agar tidak menjadi hal yang membuat kita saling tersakiti.