
Kami tiba di hotel.
Huft aku langsung menuju kasur dan menghempas tubuhku di kasur yang empuk ini.
"Astaga sayang, lelah sekali sepertinya.." Nevan menghampiriku setelah melepaskan sepatunya.
"Tak pernah selelah ini.." ujarku sambil berguling dikasur.
"Lelah karena perjalanan dari Jakarta ke Surabaya..?" Tanya Nevan.
"Ya.. itu juga.." sambil memutar mataku.
"Lelah kenapa jujur gak.." Nevan memainkan hidungnya di hidungku.
"Kamu lelah gak?" tanyaku dihadapan Nevan yang tubuhnya kini berbaring disampingku.
"Gak.. aku masih mempunyai tenaga hingga sekarang.." Nevan menggodaku, sambil menaruh tangannya dipinggangku.
"Oh yeah.." aku mengerti maksud Nevan.
"Kenapa sih kamu bisa secantik ini, membuat aku takut kamu jauh dariku tadi, karena banyak mata yang memperhatikanmu.." sambil membelai tubuhku secara perlahan.
"Mungkin karena aku berada disampingmu.." aku mencium pinggir bibirnya dan kini kita saling menggoda.
"Itu karena kamu, kamu yang selalu bisa membuat orang terpesona.." Nevan mulai menciumi bibirku dengan lembut.
Aku memeluknya dan kami mulai merasakan kehangatan satu sama lain. Nevan membuatku mengikuti gerakannya yang membuatku bergairah.
"Aah.. sayang.." aku mengecupnya lagi dan lagi.
Nevan menyentuh tubuhku begitu lembut, bibirnya merajai wajahku dan membuat hasratku bergelora.
Perlahan Nevan melepaskan Jas dan kemeja yang ia pakai, lalu membuatku menanggalkan pakaianku.
Apakah kita akan melakukannya lagi, dan ini kali kedua Nevan membuatku takluk olehnya.
"Sayang.. i love you.." Nevan berbisik ditelingaku, membuat naluriku terpancing.
"I love you Nevan.." balasku dan mencium dirinya.
Malam ini Nevan membuatku jatuh terlalu dalam oleh cinta dan sentuhannya.
🌼
Alvaro baru saja tiba di lobby apartemen Risma.
"Aku mau kamu singgah ke apartemenku.." pinta Risma.
"Hem.." Alvaro berpikir.
"Ada yang ingin kukatakan.." walaupun Risma sedikit ragu dalam menyampaikannya.
"Oke baiklah.." Alvaro menuruti Risma untuk berkunjung ke apartemen.
Kami baru saja masuk, Alvaro menanggalkan pakaian outer dan menaruhnya didinding.
"Sebentar aku ambilkan minuman" ujar Risma dan Alvaro duduk di sofa.
Risma memberikan minuman kepada Alvaro dimeja.
"Apa yang ingin kamu sampaikan..?" Tanya Alvaro.
"Aku baru mengenalmu kemarin, tak butuh waktu lama aku sudah jatuh cinta padamu.. dan aku tak mengelaknya.
Saat kamu mengajakku bertemu, kupikir kamu juga menyukaiku..
Sikap baikmu membuatku banyak prasangka dibenakku.." ungkap isi hati Risma.
"Apa yang kamu pikirkan..?" tanya Alvaro.
"Lalu.. kamu mengantarku, masih bersikap baik padaku.
Hingga kamu menciumku semalam..
Hatiku begitu senang, karena kupikir kamu telah menyukaiku.
Walau hanya ciuman, tapi aku sudah mengharapkan kamu membalas cintaku.
Kuharap kamu mencintaiku.." ungkap Risam tentang perasaannya.
Alvaro memalingkan wajahnya.
"Aku sudah mengatakannya, lalu bagaimana menurutmu..?" Risma ingin Alvaro menerima perasaannya.
"Tentu aku menyukaimu, kamu cantik membuatku tertarik untuk mengenalmu" pernyataan Alvaro begitu mengambang, membuat Risma kebingungan.
"Aku senang mendengar hal itu langsung dari kamu..
Tapi apakah dalam artian yang sama dengan perasaanku saat ini?" selidik Risma.
"Kamu ingin yang bagaimana, aku sedikit tidak mengerti maksud kamu..?" Alvaro hanya beralasan untuk tidak menerima perasaan Risma.
Alvaro terdiam.
Risma mendekati Alvaro, menyentuh tangan Alvaro.
"Ini seperti bukan aku sebenarnya, tapi aku benar-benar ingin menjalaninya bersamamu..
Aku tahu hatimu kini masih terisi, tapi kamu mengisinya dengan cinta yang salah.." Risma mengatakan apa yang sudah dia ketahui.
Alvaro menoleh ke Risma saat mengatakan itu.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" Kening Alvaro mengernyit, masih belum mengerti apa maksud Risma.
"Kamu yang lebih tau Alvaro...
Aku yang tidak tahu dan tidak mengerti sepenuhnya isi dari hati kamu.." Risma mendekati Alvaro sambil menggigit bibirnya.
"Aku bisa mencintaimu lebih darinya, aku bisa membuatmu lebih bahagia dari apa yang telah dia berikan.." Risma memberanikan diri duduk dipangkuan Alvaro.
"Cintamu begitu indah jika dibiarkan begitu saja, biarkan cinta itu kumiliki.." Risma menatap Alvaro begitu dekat dengan wajahnya.
Tanpa ragu Risma mencium Alvaro, merengkuh wajahnya dan membuat Alvaro menginginkannya.
Alvaro tak berniat untuk menolak, karena kini Alvaro menginginkan apa yang Risma lakukan.
Risma mencium bibir Alvaro begitu lekat, tak memberi ruang untuk Alvaro menghindari Risma.
Alvaro menciumi leher Risma seperti Alvaro lakukan pada Jovita.
Harum tubuh Risma memancing hasrat dan gairah dalam diri Alvaro.
Risma membuka kancing kemeja Alvaro dengan perlahan lalu menari rok yang dikenakan Risma lebih naik lagi, karena Risma masih di pangkuan Alvaro.
Tak butuh waktu lama, Alvaro kini sudah tidak mengenakan kemejanya karena Risma yang melepaskannya.
"Alvaro, i want you.." bisik Risma.
Mereka terhanyut dengan gairah masing-masing. Tetapi Alvaro masih membatasi diri untuk tidak terlalu jauh melakukannya.
Hingga akhirnya Risma mencoba membuka baju yang ia kenakan.
Tiba-tiba Alvaro menahan tangan Risma untuk melakukannya.
"Risma, apa yang kamu katakan tadi benar, aku tak bisa melakukan lebih jauh lagi.. " Alvaro menatap Risma penuh arti.
"Kamu tidak pantas untukku, aku terlalu buruk untuk dirimu..
Kamu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.." Alvaro menggeser Risma dari pangkuannya dan mengambil kemeja yang terjatuh dilantai lalu berdiri dan memakainya.
"Tidakkah kamu mengerti, untuk apa kamu memperjuangkan sesuatu yang sudah pergi?" Risma masih terduduk disofa dan berupaya untuk menyadarkan Alvaro tentang perasaannya yang sia-sia.
"Kamu tidak mengerti apa yang sudah aku lalui Risma.." Alvaro sudah memakai kemeja dan merapikan pakaiannya.
"Lupakan dia.. lupakan apa yang telah kamu coba untuk yakinkan padanya, percuma untukmu jika semua yang kamu lakukan hanya bertepuk sebelah tangan.." Risma masih berusaha memperjuangkan cintanya, agar Alvaro melupakan Jovita.
"Ini bukan soal bertepuk sebelah tangan, tapi bagaimana aku bisa melupakan dia begitu saja.. ini tidak mudah karena terlalu dalam aku mencintainya.." Alvaro berjalan menuju pintu untuk segera pergi dari apartemen Risma.
Risma mengikuti dan memeluk Alvaro dari belakang.
"Kalau begitu, biar aku yang mengobati cinta yang telah menyakitimu begitu dalam,
Aku akan bersabar untuk membuatmu melupakannya, dan kamu akan belajar mencintaiku..
Mencoba menggantikan dia denganku di hatimu, aku yakin aku pasti bisa melakukannya..
Aku akan terus berusaha membuatmu mencintaiku.." seketika Risma terisak saat mengatakannya, dalam sekejap Risma begitu yakin dengan pilihannya.
Alvaro berbalik menatap Risma dan membelai rambutnya.
"Aku tidak ingin kamu menggantikan posisi dimana aku pernah menjalaninya, aku sudah bilang kamu tidak pantas untuk tersakiti, kamu wanita cantik yang dapat memiliki pria yang kamu inginkan dengan begitu mudah" sambil mengusap wajah Risma.
"Mungkin dengan berjuang mendapatkan cintamu membuatku pantas untuk kamu miliki.." Risma menutup mata dan merasakan tangan Alvaro yang mengusap wajahnya.
Alvaro bimbang dengan apa yang terjadi, Risma begitu mencintainya walau baru mengenal Alvaro.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Alvaro memilih untuk pergi dari apartemen dan meninggalkan ciuman dipipi kanan Risma.
Setelah Alvaro menutup pintu, tangis Risma pecah, dia merasakan sakit untuk pertama kali dalam mencintai pria.
Pria yang mencintai wanita lain, sedangkan wanita itu sudah memiliki pria pilihannya.
Bersambung..... ✨✨✨
Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.
Semoga terhibur.
Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..
Thankyou 💓