It Beats For You

It Beats For You
Someone you loved



Alvaro menggandeng Bella berjalan keluar dari Ballroom hotel tempat pernikahan Jovita dan Nevan adakan.


Bella merasa nyaman saat Alvaro menggandengnya dan berjalan beriringan, sampai akhirnya Alvaro bertemu dengan Risma.


Risma yang kala itu menjauh dari kumpulan teman-temannya karena melihat Alvaro yang berjalan bergandengan dengan wanita lain, berusaha menghalangi Alvaro yang ingin meninggalkan tempat itu.


"Alvaro.." panggil Risma yang sudah berhadapan dengannya dengan tatapan tajam dan kesal.


Risma yang saat itu memakai gaun warna pink pastel terlihat sangat cantik dengan rambut yang tergerai kesamping.


"Siapa dia?" Tanya Risma yang terlihat protektif pada Alvaro.


"Maaf sebelumnya aku luruskan kita hanya berteman, jadi aku tak perlu menjelaskan sesuatunya" ucap Alvaro tanpa menjawab pertanyaan Risma.


"Oyah.. baiklah kalau begitu, kita hanya berteman.. hingga kita berciuman di apartemenku" ungkap Risma, sengaja untuk merusak pandangan Bella pada Alvaro.


Bella hanya berdiri disisi Alvaro sambil melihat kearah Risma.


"Entahlah, apa itu benar yang kamu katakan" Alvaro dengan wajah datar, pergi begitu saja meninggalkan Risma pergi bersama Bella yang masih terobsesi pada Alvaro.


"Apa..?!" Seakan tak percaya Alvaro mengacuhkan Risma dan pergi begitu saja.


Ternyata situasi itu dilihat oleh Hifza dan Chessy.


"Gue yakin Risma dicampakkan" ketus Chessy sedikit nyinyir.


"Hush.. jahat banget sih, ya namanya juga dia lagi usaha mendapatkan hati pria itu" ujar Hifza.


"Ya, pria itu terlalu ganteng untuk Risma" bisik Chessy sambil cekikikan.


"Astaga, makin liar julid-tin orang yah sekarang" colek Hifza tertawa bersama Chessy lalu pergi menuju tempat prasmanan.


Alvaro melajukan mobilnya ke suatu tempat bersama Bella.


"Bagaimana kalau kita ke restoran, aku kurang nyaman makan disana, karena terlalu banyak orang" ujar Alvaro yang sedang menyetir.


"Baiklah.." Bella membuka handphone dan melihat beberapa pesan dan email yang masuk.


Sambil membaca satu persatu pesan yang masuk.


"Aku ada dirumah kamu dan aku akan menunggumu dirumah sampai kamu pulang" ternyata sms dari Randi mantan Bella yang masih mengharapkannya.


Bella melamun menatap layar handphone.


"Apa ada masalah?" Tanya Alvaro yang melihat raut wajah Bella berubah.


"Ah tidak, biasa soal pekerjaan" Bella menaruh handphonenya kembali kedalam mini bag nya.


"Baiklah bu Dokter" ujar Alvaro sedikit bercanda.


Mereka tiba di Orient8 Restaurant di hotel Mulia sebuah restoran Perancis dengan design yang sangat elegan dan manis.


"Aku tak tahu kamu pandai memilih tempat" puji Bella.


"Setidaknya aku tak ingin membuatmu kecewa" senyum Alvaro.


"Oyah.." Bella tersenyum tipis.


Setelah hampir sejam, mengobrol hal yang menyenangkan sambil menghabiskan makanan.


Kini Alvaro sedikit terbuka didepan Bella, atau karena tempatnya yang pas untuk mencurahkan kegelisahan.


Alvaro menuangkan red wine ke gelasnya dan gelas Bella.


Sambil menatap kearah gelas yang telah terisi minuman beralkohol dan sesekali memainkan gelas itu.


"Aku tahu mungkin aku seperti orang bodoh yang sedang mengharapkan sesuatu yang sudah tidak mungkin lagi, tapi entah kenapa aku tetap ingin melakukan itu.


Yah.. setidaknya aku pernah berjuang walaupun akhirnya aku harus mengalah" ungkap Alvaro yang melamun sambil meminum-minuman itu.


Bella yang mendengarnya turut berempati pada perasaan Alvaro yang Bella tahu kata-kata itu untuk Jovita.


"Tapi seperti yang kubilang, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi, kita sudah punya takdir masing-masing" Alvaro sudah berdamai dengan perasaannya pada Jovita.


"Pasti ada banyak hal yang membuat kamu mempunyai perasaan yang kuat padanya" ujar Bella.


"Ya, aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya, tapi salah satu alasannya adalah.. waktu itu kami baik-baik saja sebelum dia meminta mengakhiri hubungan kita tanpa alasan yang konyol menurutku.


Hem.. Pasti saat aku mengatakan itu terlihat cengeng" sambil tertawa tipis mengetahui Alvaro harus mengungkapkan itu dihadapan Bella.


"Tidak.. semua orang juga pernah dalam situasi seperti itu, lanjutkanlah aku akan mendengarkan" Bella berupaya menjadi tempat Alvaro bersandar.


"Baiklah, butuh waktu untukku bisa mengikhlaskannya, sulit.. cukup sulit menerima kenyataan itu. Apalagi aku memang menginginkan kita kejenjang yang lebih serius..


Tapi daripada berlarut-larut, aku mencoba mencari cinta yang lain, berpikir akan membuatku melupakan hal menyedihkan itu.


Banyaknya cinta yang kupikir akan menutupi retak dihati ini, ternyata tak sepenuhnya mampu membuatku melupakan dia.


Dia yang selalu bersamaku dari kuliah dulu telah membuatku terlalu bergantung pada sosoknya yang telah memberikan kenyamanan dalam segala hal, hingga aku tak ingin menggantikan sosoknya dengan wanita lain..


"Tidak ada kata melankolis jika menyangkut soal hati.. jujur aku begitu cemburu bagaimana bisa Jovita membuat seorang pria dapat begitu.. mencintainya.


Andaikan ada seseorang yang dapat mencintaiku seperti itu.." Bella yang baru saja bertatapan dengan Alvaro dan membuat Bella salah tingkah.


Bella menungkan red wine ke gelas dan meminumnya hingga habis, untuk membuyarkan perasaan tidak menentu saat bersama Alvaro.


"Hem.. lalu tiba-tiba dia datang, diusia kami yang tak muda lagi. Tanpa pikir panjang, aku memintanya kembali karena aku masih menginginkan dirinya. Itu berhasil dan aku sangat bersyukur dipertemukan dengannya, tapi.. itu tak bertahan lama. Ternyata dia tergoda oleh cinta yang lain, yang kini menjadi suaminya.


Dia berselingkuh dibelakangku yang terakhir kutahu sehari setelah kita kembali menjalin hubungan, menyakitkan itu pasti dan aku baru mengetahui saat aku mau melamarnya, karena kupikir aku tak mau menunda-nunda lagi. Ternyata dia menolak secara halus, disitulah aku tahu dia mempunyai cinta yang lain, lagi-lagi aku harus melepaskannya. Kali ini sudah harus aku musnahkan semua cerita tentang dirinya.


Aku hanya menceritakan perasaan masa lalu, ternyata mengungkapkan sedikit kegelisahan ini cukup mengurangi pikiran" Alvaro mencoba memberanikan diri menggenggam tangan Bella.


"Saat ini, tidak ada perasaan tertinggal untuk wanita lain. Hatiku telah kosong, aku bisa melangkah maju dan memberanikan diri untuk mencintai seseorang..." Tubuh Alvaro yang menghadap Bella sambil menggenggam tangannya dan menatap Bella penuh harap.


"Aku tahu ini terlalu cepat bagi kita saling mengenal.. tapi kupastikan aku serius dengan perasaan ini" Alvaro mengatakan dengan hati-hati agar tak menyinggung perasaan Bella.


Tubuh Bella seketika menjadi kaku dan debaran hati ini menjadi tak bisa dikendalikan, Bella sampai bernafas dengan begitu perlahan pada situasi Alvaro mengatakan perasaannya, yang Bella ketahui apa yang Alvaro maksudkan.


"Entah dimulai dari kapan, perhatianku mulai tertuju padamu. Serasa hari-hariku dimulai tentang dirimu..


Ada waktu aku tak bisa mengendalikan keinginan untuk bertemu denganmu.


Meskipun aku tahu, aku akan melakukan kesalahan jika aku terlalu terburu-buru.


Tapi.. hari ini aku tak bisa membendungnya lagi, perasaan ini berbeda dan tidak pernah kurasakan sebelumnya.


Maaf jika ini terdengar seperti bualan, tapi inilah yang sesungguhnya kurasakan.." Alvaro menumpukkan kedua yangannya di tengah tangan Bella.


Suasana restoran yang terlihat cukup ramai karena ini adalah akhir pekan, tak menyurutkan keinginan Alvaro untuk mengatakan hal yang privacy.


"Aku menyukaimu dan aku juga sudah mulai mencintaimu, aku tidak ingin mengatakan hal yang terlalu berlebihan. Tapi aku yakin dengan pilihanku yaitu kamu..


Aku tidak akan memaksakan kehendak untukmu mengatakan perasaanmu.. karena aku ingin kamu tahu perasaan ini kini tentang dirimu.." Alvaro menatap Bella dengan lembut.


Kali ini jantung Bella berdetak dengan cepat, bagaimana bisa Bella menahan perasaan yang selama ini juga dia pendam tanpa bisa memberanikan diri untuk mendekati Alvaro yang Bella pikir diluar jangkauannya.


Seketika Bella mengingat kembali disaat Alvaro baru saja menjadi bagian di Rumah Sakit Jakarta General Hospital pertama kali.


Disaat beberapa perawat wanita yang sedang berbisik menggambarkan bagimana tampan Dokter baru bernama Alvaro dan masih muda dan lajan, hingga aku penarasan dengan sosok itu.


Ternyata apa yang para perawat itu katakan benar, saat aku melihat Alvaro datang keruangan khusus dokter dan memperkenalkan diri, dimana saat itu aku berada disana.


Waktu itu aku hanya bisa memuji fisiknya yang sangat tampan menurutku. Lalu aku mendengar bagaimana para perawat itu mengatakan hal baik yang Alvaro lakukan dalam bekerja, baik dengan pasien dan para pekerja tenaga kesehatan lainnya.


Aku hanya menjadi pendengar dari banyak orang yang menceritakan kebaikan dirinya.


Sesekali kami bertemu dia menegur sapa diriku, disitulah aku merasa dia orang yang sangat ramah pada orang lain.


Ahh.. bagaimana bisa aku diam-diam memperhatikannya walaupun dia tidak memperhatikanku.


Saat Alvaro bersama beberapa dokter pria yang menjadi temannya dan aku hanya bisa mencuri pandang, karena berbeda bagian specialis kami yang tak memberi kesempatan bagiku untuk lebih mengenal Dokter Alvaro.


Tapi.. aku menikmatinya, hingga ada kesempatan aku menegur sapa Alvaro direstoran saat aku melihat Jovita diantarkan kehadapan yang sekarang menjadi suaminya.


Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka, tanpa diketahui Alvaro, aku melihat kejadian itu.


Aku menatap Alvaro yang begitu bijak dalam bersikap, apakah saat itu Alvaro sedang berusaha menyatukan kembali hati yang pernah terpisah atau sekedar mengantarkan Jovita kepada Nevan, entahlah.. tapi aku mengetahui apa yang Alvaro sedang rasakan saat itu.


Keikhlasan.. Alvaro mengantarkan Jovita dengan keikhlasan.


Aku yang sedang bersama teman-temanku saat itu, tak kuasa mataku berkaca-kaca melihat mereka.


Hingga aku permisi pada teman-temanku dan memberanikan diri menghampiri Alvaro.


Ternyata menyenangkan mengenal orang yang selama ini menjadi perhatianku.


Lalu Alvaro berlanjut menemuiku, tentu ini diluar dugaan tapi aku menyukainya. Aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi dan ternyata hari ini Alvaro mengungkapkan perasaannya padaku.


Perasaan yang hanya bisa kusimpan selama hampir 3 tahun, padahal waktu itu aku masih memiliki kekasih tapi kini aku dan Alvaro sama-sama single.


Aku tidak perduli walaupun kami baru dekat beberapa hari, ternyata aku sudah lama menunggu hari ini tiba.


Hari yang kupikir takkan pernah dan tak mungkin terjadi.


Ternyata kenyataan berkata lain, semua ini benar-benar terjadi dan sekarang semua tergantung pada diriku.


Aku tidak ingin membuat Alvaro menunggu pernyataan dariku, aku tidak ingin dia menjadi menahan perasaan seperti yang telah kurasakan. Aku ingin mencintai Alvaro dan Alvaro juga mencintaiku, tentu aku akan serius menjaga hubungan yang akan terjalin, jika aku menjawab sekarang.


Aku takkan menyia-nyiakan hati orang yang baik seperti Alvaro. Aku akan memberikan kebahagiaan yang seharusnya dia dapatkan. Ya akan kulakukan..


"Alvaro, aku telah memperhatikanmu dan aku juga menyukaimu. Aku ingin kamu mencintaiku seperti aku yang telah dulu mempunyai perasaan itu" ujar Bella memberitahu perasaanya pada Alvaro.


Seketika wajah Alvaro yang tampan merekahkan senyumannya, matanya berkaca-kaca mendengar jawaban Bella dan langsung mencium tangan Bella.


Perasaan Bella sama dengan perasaan Alvaro saat ini. Cinta mereka dipertemukan dan bersemi diwaktu yang tepat.


Bersambung..... ✨✨✨