
Jakarta General Hospital memang rumah sakit terdekat dengan kantorku dan Alvaro bekerja disana. Karena aku, Hifza dan Chessy panik saat itu, jadi hanya memikirkan rumah sakit terdekat tanpa pikir panjang.
Alvaro membantuku duduk disofa.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Alvaro yang terlihat khawatir.
"Iya, bagaimana kamu tahu aku disini..?"
"Aku melihatmu saat keluar dari ruangan dokter penyakit dalam, ruanganku tak jauh dari sana, kamu ingat?" Alvaro memberitahu.
"Oh iya, tapi aku tidak ingat karena saat itu sudah lama sekali aku kesana. Lalu kenapa kamu disini, kamu bukannya ada jam praktek?"
"Sudah selesai saat pertama kali aku melihat kamu disini.. kamu sedang cek apa?" Tanya Alvaro penasaran.
Alvaro melihat hasil USG yang ada ditanganku dan melihatnya.
"Kamu..?" Alvaro terkejut.
Aku tak bisa berkata apa-apa karena aku juga lebih terkejut.
Alvaro mengambil hasil USG dan mengantonginya.
"Mana resep obatnya, biar aku yang mengurus. Kamu duduk saja disini"
Aku memberikan semua kertas yang ada ditanganku karena aku sudah tidak bisa memilahnya lagi, karena kondisiku yang masih pusing dan mual.
Alvaro pergi menyelesaikan semuanya dan aku masih terpaku duduk disini.
10 menit Alvaro telah kembali dan berjalan kearahku.
"Kamu mau pulang kan, biar aku antar.."
"Aku bisa sendiri Alvaro" seraya menolak ajakan Alvaro.
"Kamu pikir aku mau membiarkan kamu pulang sendiri dengan kondisi yang tidak stabil begini?
Sudah, aku tetap akan mengantarmu.." Alvaro memberikan tangannya padaku.
Aku yang masih sempoyongan, menggapai tangannya dan menggandeng lengan Alvaro untuk membantuku berjalan.
"Kamu sudah makan?" Tanya Alvaro.
"Sudah" jawabku singkat.
Alvaro tidak banyak bicara saat kami menuju mobilnya untuk mengantarkanku pulang.
"Dalam situasi seperti ini, Alvaro masih mau membantuku, entahlah berapa kali aku harus merasa bersalah padanya" batinku berbisik.
Kami masuk mobil dan Alvaro mengendarai ke apartemenku. Aku hanya bisa melamun masih tak percaya pada kenyataan ini.
Kami sudah sampai.
"Makasih yah.." ujarku saat ingin turun.
"Aku akan menemanimu sampai keapartemen" Alvaro dengan sigap membukakan pintu untukku.
"Tidak perlu Alvaro" aku masih saja menolak niat baiknya.
"Ayo.." Alvaro menggandengku dan berjalan perlahan agar aku tidak kelelahan.
Aku sudah pasrah, setidaknya aku bersyukur ada seseorang yang kukenal membantuku, disaat aku masih syok seperti saat ini.
Kami masuk kedalam apartemenku.
"Aku akan mandi, lebih baik kamu pulang" aku berpikir untuk tidak terlalu banyak merepotkannya, sudah sampai apartemen saja aku sudah bersyukur.
"Aku akan menemanimu lebih lama disini, aku cukup khawatir sama kamu" ujar Alvaro yang duduk disofa.
"Aku tidak akan merepotkanmu, karena kamu butuh bantuanku dan aku akan berguna" sambung Alvaro dengan begitu yakin.
Aku menghela nafas, lalu pergi ke toilet.
Entah kenapa air ini terasa begitu dingin, aku buru-buru selesai mandi karena tidak kuat terkena air walaupun hanya sebentar.
Setelah berpakaian aku mengurung diri dikamar, tentunya untuk menangis.
Tok.. tok..
"Boleh aku masuk..?" Tanya Alvaro.
Aku hanya diam tak menjawab sambil menghapus air mata yang membanjiri wajahku. Alvaro masuk begitu saja dan mendekatiku yang sedang merintih dikasur.
"Ini aku buatkan teh manis hangat, kamu belum minum dari pulang tadi kan, minumlah sekarang, ini akan membuat tubuhmu lebih baik" ujar Alvaro dengan lembut.
Aku menurutinya dan duduk sambil bersandar.
"Makasih yah" sambil meminum beberapa tegukan.
"Jadi kamu hamil?" Sambil memperlihatkan hasil USG milikku.
"Seperti yang kamu lihat" aku tak ingin berbohong, karena sudah jelas terlihat disana.
"Iya, kembar tiga? Ini seperti..." Alvaro memalingkan wajahnya, seperti menahan sesuatu untuk dikatakan.
"Aku berusaha menghubungimu dari kemarin, tapi kamu masih memblokir nomorku. Lalu kita bertemu lagi saat kamu dalam kondisi hamil" ucap Alvaro tak menduga dan menggantik topik pembicaraan.
Aku meminum teh untuk menutupi rasa malu, setidaknya wajahku tertutup sedikit oleh cangkir ini.
"Apa ini anak tunangan kamu?" Alvaro memastikan.
"Hu'um, hanya dengan dia aku melakukannya.." aku sedikit terbata-bata saat mengatakannya.
"Sudah kubilang saat itu, harusnya tidak mudah untukmu memberikan semuanya.." sekejap Alvaro menutup mata, seakan sedang menahan perkataannya lagi untuk tidak menyakiti perasaanku.
"Sudahlah ini telah terjadi. Tapi apa dia tahu?" dengan suara pelan bertanya padaku.
" Terakhir kali kita bertemu, kamu kujemput karena putus dengannya kan?" selidik Alvaro.
"Tidak usah beritahu dia" aku berpikir singkat tanpa memikirkan akibatnya.
"Ini anaknya Jovita.., apa maksudmu tidak ingin memberitahu dia?" heran Alvaro sambil mengernyitkan kening.
"Anggaplah ini kesalahanku yang terbodoh" dan aku tak mampu menatap Alvaro.
"Apa dia selingkuh, atau sudah punya istri?" Selidik Alvaro lagi.
"Dia tidak selingkuh dan belum beristri" ungkapku.
"Lalu kenapa kamu putus dan tidak ingin dia tahu?" Alvaro semakin heran.
"Dia punya mantan dan memiliki banyak bisnis, terlihat orangtuanya begitu menyukai mantannya, aku berpikir.. orangtuanya lebih mengharapkan mantan pacarnya untuk menjadi menantu mereka" sedikit ku bocorkan alasanku putus dengan Nevan.
"Jadi maksud kamu, kamu menyerah karena hanya alasan konyol itu..
Astaga, lalu apa Nevan lebih memilih mantannya?" dengan penasaran Alvaro mengulik ceritaku.
"Alvaro cukup, ini akan sulit bagiku menceritakan bagaimana kita putus. Apalagi dalam kondisiku seperti ini" sambil menaruh cangkir teh ini dimeja.
"Baiklah.. hanya saja apa yang akan kamu lakukan, sekarang kamu hamil Jovita.
Hamil satu anak saja akan membutuhkan banyak energi untuk bisa dilalui selama 9 bulan.
Tapi kamu memiliki tiga calon anak, membayangkannya saja aku tak mampu, melihatmu akan berjuang sendirian.." mata Alvaro berkaca-kaca.
Aku menangis dan menutupi wajahku dengan selimut.
"I know..." Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan sambil menitikan air mata dari semua kesalahanku.
Alvaro membelai rambutku dengan lembut.
"Aku tahu ini akan menjadi awal yang sulit bagimu, tapi aku berjanji akan tetap disisimu selama yang kamu inginkan dan aku membantumu menjalani masa kehamilan ini" janji Alvaro.
"Untuk apa.. aku tidak memintamu untuk melakukan itu, kamu tidak perlu merasa harus bertanggung jawab atas diriku.
Lebih baik tinggalkan aku sendiri Alvaro, aku bisa menanganinya" aku masih saja menolak sosok Alvaro dalam hidupku.
"Jika aku meninggalkanmu sendiri, siapa yang akan membantumu, sedangkan kamu tak ingin ayah dari anakmu tahu.
Lalu bagaimana dengan keluarga kamu, apa kamu juga tidak ingin memberitahu mereka..
Atau..." Alvaro menatap tajam kearahku.
"Jovita jangan berpikir macam-macam ya.
Tidak, aku akan tetap disampingmu dan memastikan kamu menjaga kehamilan ini dengan baik hingga anak kamu lahir.." seketika Alvaro teringat dengan mimpi buruk mengenai Jovita waktu itu, Alvaro tidak akan membiarkan Jovita untuk melakukan hal buruk nantinya.
"Tidak, aku tidak akan melakukan hal yang lebih bodoh lagi dalam hidupku, aku akan merawatnya walaupun sendiri dan keluargaku.. aku pasti akan memberitahu mereka. Tapi tidak sekarang.." ungkapku sambil sedikit terisak.
Melihat Jovita yang menangis hingga terisak, batin Alvaro merasa bersalah karena terlalu menekan perasaan Jovita.
"Yasudah, maafkan aku..
Jadi memancing suasana hatimu menjadi sedih, aku janji mulai hari ini aku akan membuat kamu bahagia selama kehamilanmu, izinkan aku untuk tetap disisimu" Alvaro mencium keningku.
"Kamu istirahat dulu yah, aku akan menyiapkan makan malam, nanti akan aku bangunkan jika sudah siap.." lalu pergi dari kamar tidurku dan menutup pintu.
Alvaro terduduk dengan menompang kepalanya yang tertunduk, setetes air mata jatuh dipipi, karena orang yang sangat dicintainya harus merasakan kenyataan pahit ini.
"Apakah mungkin ini suatu pertanda dari mimpi burukku, aku takkan membiarkan itu terjadi.
Melihatmu dalam kondisi seperti ini saja sudah menyakitiku. Baru saja aku mencoba lagi untuk merelakanmu dengan dirinya, tapi mengapa kamu lebih memilih untuk menyakiti dirimu sendiri.
Aku tak sanggup melihatmu sendirian dalam kondisi seperti ini, apapun yang terjadi aku akan menemanimu dan memenuhi kebutuhanmu" sambil menyeka air mata kesedihan.
"Kenapa kamu masih saja berbuat baik untukku Alvaro, setelah banyak sikapku yang telah menyakitimu..
Mengapa kamu harus merasa ingin membantuku, padahal bukan kamu ayah dari anak-anakku" air mata ini menggenangi kedua mataku seharian ini, membuat perih dan memerah karena aku tak berhenti menangis.
š¼
Nevan memutuskan lembur dikantor, sambil memeriksa banyak pekerjaan yang sudah menumpuk dimeja kerjanya.
Sesekali menatap foto dilayar handphone, Nevan dan Jovita saat di Inggris waktu itu.
"Dia sedang apa saat ini, apakah dia baik-baik saja.." tak lama handphone Nevan berbunyi.
"Mama.." Nevan mengangkat telepon.
"Iya ma, ada apa?" karena jarang bagi ibu Nevan menghubunginya saat malam hari.
"Mama sedang di Hotel Hilton dekat kantormu, datang kesini kita akan makan malam" sebut ibu Nevan.
"Makan malam, kita berdua?" Tanya Nevan memastikan.
"Berempat, Mama, Papa dan Tamara sudah disini dari tadi.. eh mama teringat untuk mengajak kamu makan malam" ungkap Ibu Nevan dengan semangat.
"Tidak usah ma, aku masih dikantor dan banyak kontrak kerja yang harus dipelajari segera.. kalian makan malam saja, Nevan juga sudah ada makanan disini."
"Kenapa kamu begitu workaholic sih, kapan lagi Tamara mengajak kita makan malam.."
"Tidak apa ma, sudah menjadi tanggung jawan Nevan disini" Nevan menolak ajakan ibunya dengan halus.
"Baiklah, kamu tetap jaga kesehatan ya" ibu nya mengerti.
"Iya ma, bye" kami menyudahi pembicaraan ditelepon.
"Astaga, Tamara selalu punya cara menarik perhatian orangtuaku padanya" celetuk Nevan.
Tentu banyak cara bagi Tamara untuk mengambil hati Nevan, terlebih orangtuanya memang menginginkan sosok Tamara dikeluarganya, karena Tamara adalah seorang pebisnis sukses.
Bersambung..... āØāØāØ