It Beats For You

It Beats For You
Just tease me, baby



Kami berkendara kearah taman Central Park. Sore hari ini nyaman untuk jalan-jalan sore.


Sesampainya.



Kami berjalan perlahan Alvaro sambil mengandeng tanganku. Seakan kami benar-benar sepasang kekasih. Tapi memang itulah yang terjadi. Setelah keterbukaan kami dengan perasaan yang masih ingin saling memiliki.


Kunikmati waktu ini bersamanya, tanpa rasa gelisah.


"Kamu pernah kesini?"


"Pernah sesekali, hanya untuk refresh dari kegiatan aja. Kamu?"


"Aku hampir belum pernah, hanya lewat saja. Pekerjaan ini memang menyita waktuku"


"Saat kamu punya pasangan dulu, belum mengajaknya kesini"


"Belum. Kami hanya pergi ke mall, pantai, tempat makan. Tidak banyak, karena akupun juga sering diputusin begitu aja" jelas Alvaro.


"Oh ya"


"Termasuk sama kamu" dia sambil melirikku.


Aku hanya tersenyum.


"Kadang kamu berpikir ga sih, kita memang perlu waktu untuk sendiri. Sambil akhirnya menyadari kita akan butuh seseorang yang akan kita kasihi selamanya?"


"Sejauh ini, sebelum bertemu kamu lagi, belum fokus kesana"


"Lalu?" Alvaro seakan tak puas dengan pernyataanku.


"Lalu.." aku menghentikan langkahku dan mengarahkannya didepanku.


"Sampai akhirnya aku bertemu kamu dan menyadarkan aku, bahwa aku harus mulai mencintaimu lagi" ujarku pelan.


"Karena.."


"Karena kamu terus membakar hatiku dengan gairahmu" bisikku padanya. Lalu berlari menjauh dengan bercanda sejenak.


"Sayang, jangan kencang-kencang. Aku sudah tidak terlalu fit seperti dulu" ngeluh Alvaro.


"Ayo coba kejar aku" aku beberapa langkah didepannya.


"Aku tangkap besok nikah ya"


"Apaan sih, jangan teriak-teriak malu tau" ujarku memerah.


Saat itu hanya beberapa orang yang ada disekitar mereka.


"Sayang kita jalan-jalan aja, gak perlu sambil lari"


"Yaampun, berasa lagi jalan sama grandpa"


"Ihh isenk kamu ya, gak gitu juga" Alvaro mempercepat langkahnya dan menghampiriku.


"Sini-sini dulu, aku mau denger. Jadi kalau aku gak membuat kamu bergairah. Kamu belum tersadar juga?" Alvaro menggapai tanganku.



"Hem bisa jadi"


"Jadi kalau sudah bergairah gini, kita bagusnya ngapain?"


"Kuperhatiin kamu senang memancing kearah situ ya. Ayo coba katakan, selama ini siapa aja wanita yang sudah kamu gituin"


"Gituin gimana sih sayang"


Aku mendekatinya dan berbisik ditelinga. "Making love"


"Kamu mulai kayak detektif ya" ujarnya menggelak.


"Bukan berapa kali gitu ya" canda Alvaro.


"Oww buka kartu sendiri"


"Haha bercanda"


"Bohong, ayo jawab. Jangan setengah-setengah"


"Kamu beneran mau tau"


"Kehotel aja yuk, kukasih tau disana"


"Iih gitukan, nakal kamu ya"


"Kan mau membuat hatimu makin bergairah" tawanya.


"Haha gak mau ah, nanti aja pas sudah nikah"


"Iya-iya" Alvaro menyerah.


"By the way sudah mau gelap, kita ketempat lain yuk" ujarku


"Boleh, sekalian cari makan. Laper" pinta Alvaro.


"Kamu kurus tapi doyan makan ya" ledekku.


"Makan kamu lebih doyan"


"Memang aku makanan" sahutku manja.


Kami serasa seperti dulu lagi, padahal usia kita sudah jauh bertambah. Yaampun bagaimana jika aku menyakitinya, apa yang akan terjadi. Tapi bagaimana jika aku memang harus memilihnya. Apakah kita akan terus kasmaran seperti ini.


Berjalan berdua ditengah senja ini memang merasakan nyamannya. Seakan hanya diisi ngobrol santai sambil menghirup udara dibanyaknya pepohonan ditengah kota.


"Kamu tahu gak apa yang segar dari taman ini?" Tanya Alvaro. Sepertinya mencoba untuk meledekku.


"Bernafas" jawabku.


"Tidak"


"Pepohonan?"


"Tidak"


"Pemandangan?"


"Tidak, nyerah?" tanya Alvaro.


"Iya, apa?"


"Bernafas bersamamu"


"Aww.. kamu mulai jago gombal ya" ucapku sambil menatapnya tajam


"Masa sih, baru belajar padahal"


"Oh ya, kayak udah Pro aja"


"Yaampun Pro, kesannya playboy banget aku" Alvaro sambil manyun.


"Haha memangnya bukan?"


"Nggak dong, aku mana ada playboy. Gak pernah selingkuh atau mempermainkan wanita" ujarnya serius.


Gleeeg!!!


Astaga, kok berasa terenyuh ya dengernya. Sebenernya apa aku yang sedang berada diposisi itu, sedang mencoba bermain api. Atau mencoba bertualang dihati lain.


Ucapan Alvaro membuatku berpikir.