It Beats For You

It Beats For You
Preparation



Nevan membelikan banyak makanan untukku dan tak lupa susu untuk ibu hamil.


Untunglah obat-obatan memang kutaruh didalam tas, jadi aku tidak khawatir.


Karena aku sering tinggal di apartemen Nevan, semua kebutuhanku sudah tersedia, dia sangat mengerti apa yang kubutuhkan.


Malam ini kita makan malam bersama pertama semenjak aku mengandung.


Sangat menyenangkan, apalagi Nevan menyuapiku dan sikapnya itu sangat manis.


Setiap kali menatap wajahnya, setiap kali itu juga aku jatuh cinta padanya.


Karena saking sempurnanya dia untuk menjadi pasangan hidupku.


"Makanannya sudah abis, kamu mau makan apa lagi?" Sambil merapikan piring kosong dan ditumpuk jadi satu.


"Makasih sayang, nanti lagi saja. Sekarang aku sudah cukup" sambil mengusap perutku yang kekenyangan.


"Oke, jangan lupa minum obatnya ya sayang"


"Hu'um" aku mengambil obat dan menelannya.


"Sayang, bagaimana kalau kita kontrol nya senin, aku tuh gak sabar melihat kondisi anak-anak kita, karena aku belum lihat untuk pertama kalinya" pinta Nevan.


"Masih sama sih sayang kan baru kemarin aku kontrol, kamu mau lihat hasil USG nya?" tanyaku.


"Aku sudah punya" sambil tertawa pelan.


"Maksudnya?" Aku terheran.


"Alvaro yang memberikannya padaku, dia minta pada teman Dokternya saat itu"


"Oh ya.. dia benar-benar bisa menyembunyikan sesuatu" aku menggelengkan kepala.


"Karena itu, aku ingin lihat lagi.. please.." kali ini Nevan terlihat memanja padaku.


"Baiklah.. baiklah, bagaimana aku bisa menolak permintaan kamu, tapi pulang kerja ya.. sepertinya aku akan bicara soal resign dengan bu Glory" ungkapkum


"Hah serius sayang?!" Seru Nevan, akhirnya aku memikirkan hal yang sama dengan Nevan katakan.


"Iya, bagaimana menurutmu"


"Aku yang paling pertama setuju"


"Baiklah.." aku tersenyum.


"Kita juga akan ke lokasi rumah yang akan kita tinggali bersama, jika kamu sudah menentukan.


Aku akan pinta design interior untuk segera mengisi rumah itu dan kita akan menempatinya" ujar Nevan memberitahuku.


"Iya sayang" kataku bersyukur Nevan sangat memperhatikan segala sesuatunya.


Kadang aku berpikir, apa yang dilakukan Nevan terlihat begitu mudah dan dia hanya meminta seseorang untuk melakukannya terlebih ini semua untuk diriku.


"Sayang, aku sudah mengantuk. Aku mau tidur dulu" kataku yang bersandar dibahunya.


"Oke sayang, aku juga" Nevan mengikutiku dari belakang.


🌼


Alvaro berdiam diri dikamar, memikirkan seseorang yang baru saja terlintas dipikirannya, selain Jovita.


Setiap senyuman, perkataan dan juga matanya yang terlihat begitu indah dipandang. Teringat dengan grup WA dokter rumah sakit tempat Alvaro bekerja.


"Bella.. Bella.." Alvaro mencari kontak di dalam grup sambil menyebutkan namanya dan menemukannya.


"Yup, Bella Mutiara.. secantik orangnya" Alvaro langsung menyimpan kontak Bella.


"Tapi mungkin gak dia.." seketika Alvaro mengurungkan niatnya untuk menghubungi Bella.


Alvaro menaruh kembali handphone dan menutup wajahnya dengan bantal.


🌼


Hari minggu pagi, aku seperti biasa bangun agak siang.


Jam 9 pagi aku terbangun, rasanya badan ini terasa berat dari biasanya. Entahlah apa efek dari hamil muda atau perasaanku saja.


Aku keluar kamar untuk menemui Nevan.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanyaku sambil menutup mulutku karena menguap.


"Iya, aku sudah siapkan sarapan untuk kamu.


Mau makan sekarang?" tanya Nevan sambil menggeser kursi untukku.


"Iya, aku cuci muka dan gosok gigi dulu yah"


"Oke"


Aku ke toilet hanya mencuci muka dan menggosok gigi.


"Sayang, kamu yang masak semua ini?"


"Tentu, untuk istriku tercinta. Mari makan" ajak Nevan yang sudah duduk dikursi makan.


"Hem.. bubur ayam, wah ini wangi sekali" aku memuji masakannya.


"Semoga kamu suka ya" Nevan menyendok bubur ke mangkok lalu meracik beberapa pelengkap untukku dan juga untuknya.


"Wah, ini membuatku sangat lapar. Mari makan.." aku mulai memakan makanan ini.


"Enak sayang.. wah kamu bisa masak rupanya" aku terus memuji keahliannya.


"Saat kuliah di London dulu, membuatku sedikit menguasai beberapa resep masakan" ungkap Nevan dengan wajah sedikit memerah dipuji olehku.


Kami menikmati sarapan pagi ini bersama, tak kusangka Nevan juga pandai memasak, bukankah dia begitu hebat.


Jam 11 siang, Nevan memintaku bersiap karena akan bertemu dengan WO dan sekretaris di lantai dasar apartemen ini. Disani ada fasilitas ruangan untuk penghuni apartemen yang memiliki pertemuan hingga sekitar 20 orang.


Karena semua orang sudah berkumpul, kami turun kebawah.


Nevan mengenalkan aku dengan sekretarisnya Romi yang lebih banyak mengurus kebutuhan Nevan diluar kantor atau lapangan.


Kami memilih Luxury Enterprise Wedding Organizer, mereka menyiapkan beberapa detail yang memudahkan kita hanya menentukan pilihan dari tema, dekorasi, pakaian, makanan hingga souvenir, juga detail lainnya.


Sedangkan Romi yang mencatat semua apa yang sudah kita tentukan.


Tak lupa WO itu juga membawakan tiga pilihan gaun untuk menetukan ukuran, selebihnya ada di katalog. Aku memilih gaun yang simple dan nyaman untukku kenakan.


Sedangkan Nevan juga mencoba Jas yang akan ia kenakan.


Tak lupa Nevan mengingatkan aku agar tidak kelelahan, karena semua sudah kita pilih,


Nevan memintaku untuk diapartemen agar aku bisa beristirahat dan Nevan juga sudah menyediakan beberapa makanan untukku.


Setelah itu Nevan kembali kelantai bawah untuk melanjutkan beberapa hal yang harus diselesaikan hari ini.


Romi juga diminta Nevan mengurus dokumen untuk catatan sipil, tentunya dengan dokumen yang segera disiapkan.


Selagi Nevan sedang mengurus acara pernikahan kita nanti, aku menunggu diapartemen sambil menikmati makanan yang tadi sudah dipesan Nevan direstoran tak jauh dari apartemen.


"Aku tak menduga, Alvaro yang mewujudkan semua ini terjadi, disaat aku meninggikan egoku dengan salah" aku teringat Alvaro yang sudah banyak membantuku dimulai aku baru mengetahui kehamilan ini.


"Nevan juga sangat berlapang dada untuk memaafkan keegoisanku" sendiri disini membuatku banyak berpikir.


Nevan kembali setelah semuanya selesai.


"Hay sayang" sapa Nevan.


"Hay sayang, apa sudah selesai?" selidikku.


"Iya sayang, kamu sudah makan belum?" tanya Nevan.


"Sudah tadi, sekarang hanya menonton tv saja. Kamu makan dulu sayang" ucapku mengingatkan.


"Hem hari ini, aku mau mengajak kamu melihat rumah, aku ingin kamu memilihnya. Bagaimana menurutmu?"


"Baiklah, aku bersiap dulu ya" tiba-tiba aku jadi bersemangat.


Aku dan Nevan baru saja sampai di lobby, tiba-tiba Tamara ada dihadapan kami dengan wajah yang menahan amarah.


"Nevan..!!!" panggil Tamara dengan nada murka.


"Tamara, ada apa kamu kesini" heran Nevan dan menengok kearahku.


"Nevan, apa maksud kamu. Aku sudah berikan proyek besar ke kamu, ternyata tak ada balasan darimu?!!" Tamara tak bisa mengontrol emosinya.


"Tamara, apa yang kamu lakukan sangat tidak pantas disini" ucap Nevan dengan sedikit menenangkan Tamara.


"Lalu menurut mu, siapa yang pantas. Aku atau dia?!!" Yang melirikku tajam.


Aku cukup terkejut dengan keberanian Tamara mendatangi apartemen pribadi Nevan dengan gegabah.


"Jelas Jovita yang lebih pantas" Nevan menegaskan.


"Dia gak ada apa-apanya dengan diriku yang punya segalanya.. harusnya kamu mengerti itu !!" keangkuhan Tamara akhirnya terlihat.


"Tidak, aku sungguh tidak mengerti apa mau mu. Aku dan Jovita sudah bertunangan, minggu depan akan menjadi pernikahan kita.


Tidak semua yang memiliki melimpahnya materi lebih pantas untuk dimiliki" ucap Nevan dengan jelas.


Aku hanya menjadi penonton disaat Tamara meluapkan amarahnya pada Nevan, yang berusaha melindungiku alih-alih jika Tamara gelap mata dan melukaiku.


"Apa..?! Kamu menikah dengannya.. aku sungguh tidak percaya ini !!" menatapku layaknya sebagai musuh.


"Tamara, maafkan aku jika kamu berpikir aku akan kembali padamu. Tapi kujelaskan, aku mencintai Jovita dan kami segera menikah. Tolong jangan memikirkan tentangku, seharusnya kamu bisa mendapatkan yang lebih baik untuk dirimu" Nevan mencoba menjelaskan dengan begitu bijak.


"Entahlah, aku tak suka diperlakukan seperti ini.


Kontrak kita berakhir dan kupastikan tak akan ada kontrak dengan perusahaanmu lagi" ucap Tamara dengan Tegas, setelah menatap Nevan begitu membara oleh amarahnya.


"Nevan.." aku mendekatinya sambil merangkul lengan Nevan.


"Tak apa sayang, semua telah berakhir. Seharusnya dari awal sudah kutegaskan seperti ini" ujar Nevan menyakinkanku.


"Maafkan aku"


"Tak perlu minta maaf sayang, lupakan saja hal ini yah, aku tak ingin ini jadi pikiran untukmu" pinta Nevan.


Aku mengangguk.


Kamipu pergi bersama driver dan sekretaris Romi, karena akan ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh Romi.


Kami tiba di lokasi satu, dua dan tiga.


Lingkungan dan rumah sama-sama bagus untuk menjadi tempat tinggal.


Sekarang saatnya memutuskan, kami akan memilih.


"Jadi, kamu suka yang mana?" Nevan menanyakan pendapatku.


"Aku suka yang kedua, rumah dan lingkungannya lebih dekat dengan kantormu bekerja.


Aku tidak ingin kamu lelah dalam perjalanan pergi dan pulang kantor" jawabku.



"Wow.. aku terkesan dengan alasan kamu memilih, baiklah..


Romi tolong bantu mengurus kepemilikan rumah ini.


Lalu konsultasikan segala ruangan ini dengan design interior kita.


Saya ingin, rumah ini selesai paling lama dalam dua bulan kedepan" pinta Nevan.


"Baik pak" Romi mencatat beberapa hal yang diperlukan oleh Nevan.


Sedangkan aku sedikit melihat-lihat, setiap bagian dari rumah ini, sungguh indah.


Selang beberapa menit, Nevan menghampiriku.


"Bagaimana, kamu suka. Kamu juga bisa pilih ruangan dengan segala dekorasi yang kamu inginkan"


"Ah tidak, aku percaya dengan design interior. Aku pasti tidak memiliki waktu saat mendekorasi rumah ini"


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita makan malam" ajak Nevan.


"Oke.." kataku.


"Oke, Romi bagaimana jika kita makan malam dulu. Kamu sudah banyak membantu"


"Baik pak.."


Kami pergi untuk makan malam, Nevan begitu murah hati. Mengajak driver dan sekretaris nya ikut makan malam direstoran yang sama.


Walaupun berbeda meja dengan kami, hanya untuk menjaga ruang privacy aku dan Nevan.


Bersambung..... ✨✨✨