It Beats For You

It Beats For You
We are on the same wave



Kami masih berada di kedai coffe milik Nevan. Harun Coffe namanya, mencoba saling mengenal lagi dan sedikit mengingat masa lalu, menjadi National Manager Marketing di usia 27 tahun saat itu yang ku tahu, sangat beruntung. Mungkin memang beliau juga bekerja keras hingga berada dititik tersebut.


"Kamu sekarang pakai kacamata?" Tanya Nevan.


"Oh iya, kemarin kebetulan aku ada iritasi mungkin karena softlens minus aku. Aku sudah kerumah sakit, katanya kalau bisa dihindari memakai softlens dulu. Apa keliatannya gak cocok?" Jawabku menjelaskan.


"Cocok juga, keliatan manis" puji Nevan.


Really!! Bikin berdegup jedag jedug ajah deh. Aku cuma tersipu malu.


"Makasih, makanya aku mau kesini sekalian ganti kacamata baru. Soalnya ini sudah lama"


"Oh ya, kalau begitu aku bisa temani. Kebetulan aku tidak ada pekerjaan hari ini"


"Kalau gak keberatan boleh" ujarku mengizinkan.


"Sama sekali gak keberatan, apa mau sekarang. Sepertinya toko sudah mulai buka, nanti ku kasih tau toko kacamata langgananku disini"


"Oh iya sudah hampir jam 12 siang ya, gak terasa" ujarkku.


"Aku senang mengobrol banyak sama kamu, dari dulu. Karena kamu bisa membawa situasi menjadi rileks"


"Ah bisa aja, kamupun begitu" terlihat aku dan dia saling malu-malu.


Yaampun kayak anak kuliahan lagi pe-de-ka-te aja deh.


Senyam-senyum terooossss dalam hatiku.


Kami menyusuri mall untuk mencari toko kacamata yang Nevan beritahu, setelah menemukannya.


Nevan membantu memberikan saran, kacamata apa saja yang kucoba pilih. Semuanya membingungkan. Sedangkan aku hanya ingin membeli satu.


"Apa ada yang kamu suka?"


"Iya beberapa tapi.. untuk modelnya aku sulit menentukan"


"Kenapa gak kamu pilih semua yang kamu suka, jika kamu bosan kamu bisa ganti modelnya" ucap Nevan.


"Iya sih, tapi aku cuma perlu 1 aja. Kayaknya kalau 3 kebanyakan"


"Kenapa tidak, kamu suka yang model mana?"


Aku menunjuk 3, model dan merk yang berbeda, maksud untuk mengetahui saran Nevan yang lebih cocok dengan aku.


"Baiklah, mbak tolong ini dibungkus"


"Oke baik pak" ujar penjaga toko tersebut.


"Nevan, aku gak.." belum selesai kumenjelaskan.


"Sudah, aku yang ingin membayar semua. Aku tidak masalah" Nevan mencoba memotong perkataanku.


"Tapi, aku gak mau membebani kamu seperti ini"


"Aku harus balas pakai apa coba"


Sambil menunggu kasir memberikan bon pembayarannya.


"Kamu cukup kiss pipi aku aja"


Canda Nevan pelan ditelingaku.


Astaga. Nevan gombalin aku, sok girang gitu dengernya, tapi lucu.


Aku tak kuasa menahan ledakan dihati ini mendengarnya.


"Semua jadi 10 juta 4 ratus ribu rupiah, frame dan lensanya, setelah dikurangi disc member ya pak"


"Oke, pakai debit ini aja ya mbak" Nevan memberikan kartu debit untuk membayar tagihan kacamata Jovita.


Setelah selesai, kami berjalan menuju toko lain.


"Kamu mau kemana lagi habis ini"


"Aku sebenarnya mau membeli beberapa pakaian wanita. Tapi aku malu kalau ada kamu"


"Loh kenapa malu, aku tak mengapa kalau kamu mau aku temani"


"Aku gak tega kalau tiba-tiba kamu harus membayarnya, serius. Apalagi ini mahal banget"


"Ya kenapa harus gak tega, aku sama sekali gak keberatan. Aku suka kalau barang pemberianku kamu pakai"


"Iya, makasih ya. Aku jadi bingung mau ngomong apa. Baru ketemu kamu udah belanjain aku barang mahal seperti ini"


"Sama-sama, cukup bayar pakai kiss aja" dia mengulanginya lagi.


"Kamu tuh, bisa aja ya" ujarku sambil malu-malu.


"Serius.." dia menatapku.


"Oo..oOk..eeEee" aku mencoba menyanggupi dengan nada tak percaya.


"So, aku bisa ikut nemani kamu belanja lagi ya"


"Untuk kali ini, biar aku saja. Aku gak ingin membebani orang lain. Serius" jelasku untuk membayar mebelanjaan aku sendiri.


"Oke madam"


"Madam.. iih apaan sih" sambil mencolek manja padanya.


Kami melangkah berdampingan sambil melihat-lihat toko yang akan aku singgahi.


Tak terasa kami menjadi begitu nyaman berdua.