
Kami baru saja selesai sarapan didekat kantorku, setelah Alvaro mengantarku ke depan kantor lalu dia pergi menuju rumah sakit tempat ia bekerja.
"Mbak Jovita.." panggil Hifza.
"Oh hay mbak Hifza, baru dateng"
"Iya nih, ciye yang lagi kasmaran. Abis sarapan ya?" ledek Hifza.
"Idih tau darimana lagi nih"
"Yaampun kan makannya dideket sini, ya keliatan dong.. haha. Gimana berlanjut kan ya?"
"Lo tau gak Hifza, rumit. Asli gue lagi dilema sama diri gue sendiri"
"Loh.. baru punya pacar kok dah dilema, kayak abis ditembak cowok lain lagi aja" celetuk Hifza.
Aku menatapnya kaget, seakan dia bisa membaca pikiranku tanpa aku mengatakannya.
"Apa? Ada yang salah sama gue mbak?" sepertinya Hifza mengetahui raut wajahku yang menatapnya dengan heran.
"Sini-sini, mulai sekarang lo jangan asbun ya. Karena asbun lo ngeri banget" aku membisikkannya.
"Aah serius mbak?" Hifza melotot melihatku mengatakan itu.
"Yaudah ke ruangan gue sekarang" aku menggandengnya bersamaku menuju ruangan ku dikantor.
Dengan langkah yang tetap tenang kami berjalan bersama agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kututup ruangan kaca ini dan duduk berhadapan dengan Hifza.
"Asli gue benar-benar gak tau apa-apa mbak, masa iya itu bener"
"Ah gue sendiri masih gak percaya. Lo kalau bisa jaga rahasia gue. Baru gue mau cerita"
"Ya masa rahasia gue umbar sih mbak"
"Ya siapa tau aja, karena ini soal reputasi gue juga disini"
"Ah gila, ini persoalan berat kayaknya"
"Bisa lebih dari itu"
"Yaampun asli gue penasaran"
"Tapi jangan lemess ya mulut lo"
"Iya.. iya, pelan-pelan ceritanya jangan sampe kedengeran. Kadang tembok punya kuping disini mbak"
"Kalau bocor, gue tau itu dari lo" sinisku.
Aku mulai mengatakannya mulai aku bertemu Alvaro di hari jumat, lalu bertemu Nevan dihari sabtu pagi hingga sore, lalu dengan Alvaro sore ke malam dan seharian di hari minggu dengan Nevan. Hanya 3 hari tapi seakan aku sudah menjelaskan panjang lebar pada Hifza, hingga aku menanyakan aku harus bagaimana.
"Apaan sih maksud lo" heranku.
"Ya jelas, mbak Jovita dengan mereka yang asli pria idaman wanita banget, sedangkan wanita lain berusaha mendapatkan salah satu dari mereka. Tapi mbak malah tinggal milih gitu aja yang ujungnya akan ada hati tersakiti.
Gue kalau diposisi lo juga galau mbak, disisi lain mantan kekasih sisi satunya mantan bos.
Itu kalau bener dia ngajak makan siang dan dia kesini. Asli rame mbak rame"
"Yaampun, gue juga dah buntu ya. Hari ini gue bisa bakalan gak fokus sama kerjaan gue. Bisa di nyap-nyap bu Glory sepertinya nih"
"Kalau saran gue, lo kan dah memilih nih ke pria yang ini, mungkin secepatnya lo harus tegasin untuk tidak melanjutkan yang satunya lagi. Ya sekarang kesempatan gak bisa datang dua kali. Kalau nanti ketauan, ya pasti ketauan ujung-ujungnya sih.
Nanti lo bisa gak dapet keduanya gimana, lebih rugi lagi kan"
"Ish.. emang gue sempet berpikir kayak gitu. Tapi gue tuh langsung luluh coba sama perlakuan dia, tega bener kayaknya gue kan"
"Iya udah jadi resiko mbak, daripada berlanjut lebih banyak yang dilalui, lebih banyak gak tega. Taunya salah dikita semua kan"
"Gitu ya, menurut lo gue harus bilang secepatnya. Kapan. Gue belum kepikiran waktu yang tepat, karena gue masih gak mampu untuk mengatakannya ke dia"
"Hari ini atau besok. Itu juga udah kesempatan terakhir, kalau gak bisa jadi boomerang ke diri mbak kan"
"Gue tau lo pasti bakal bilang begitu, karena dilubuk hati yang paling dalam gue juga berpikir seperti itu. Tapi realitanya gue gak mampu sampai detik ini"
"Mungkin lo butuh berpikir sejernih mungkin bagaimana cara bicara yang gak begitu nyakitin. Tapi pasti nyakitin sih ya"
"Hem.. ini juga diluar kemampuan gue mengaturnya"
"Yang gue salut sama lo mbak, sekelas pak Nevan gitu, ah itu mah asli hoki banget mbak. Gue sih langsung cuus milih dia"
Aku tersenyum mendengarnya.
"Masa sih za.." ujarku geer.
"Ya menurut lo aja mbak gimana, gue kasih saran sebisa gue. Karena yang jalanin juga kan mbak Jovita. Bayangin kalau bener dalam seminggu ini mbak bakal dilamar sama salah satu dari mereka. Duh gue jadi merinding sendiri, secara dilamar sama cowok kece semua" ucap Hifza penuh harap.
"Duhh yaudah deh lo balik sana ke habitat, makasih sarannya. Bikin gue jadi migrain"
"Gini nih sekalinya jomblo bertahun-tahun. Pas dateng jodohnya langsung dua. Bikin ngiri" ucap Hifza sambil memasang muka mupeng.
"Dasar iseng banget ngeledek gue"
"Baiklah, saya pamit ndoro"
"Bye"
Aku langsung termenung mendengar saran dari Hifza, kalaupun dalam 2 hari ini aku mengumpulkan niat untuk memutuskan pilihanku siapa. Belum tentu aku akan mengatakannya dengan baik.