
Pagi ini sudah heboh dengan rekan kerjaku yang baru melihatku masuk kantor hari ini. Beberapa yang ada di kontak WA ku mengetahui hubungan aku dan Nevan.
Kemanapun aku melangkah disetiap sisi kantor ini, banyak yang meledekku karena aku bertunangan dengan Nevan mantan bos ku yang pernah bekerja disini.
Memang tidak ada yang salah dari sapaan mereka dan menanyakan kabarku dengan Nevan.
Aku tak bisa berkata banyak, hanya tersenyum dan berusaha pergi dari situasi rumit ini.
Hifza melihat kearahku saat rekan kerja yang lain sedikit menggodaku, karena bertunangan diam-diam tanpa mereka tahu kami berpacaran sebelumnya.
Hifza hanya bisa prihatin dengan situasiku saat ini yang sebenarnya hubungan kami telah hancur bersama hatiku.
Aku tetap mencoba lebih kuat lagi berdiri ditengah hal yang sedang kututupi.
Syukurlah hari telah menjelang sore dan jam kerja telah berakhir. Aku bersiap untuk pulang.
"Pulang sama siapa mbak?" Hifza menghampiriku.
"Gue gak bawa mobil, tadi pagi diantar Alvaro. Dia bilang akan menjemput gue sekarang" kataku dengan tidak bersemangat.
"Apa mau gue antar?" Hifza mencoba memberi tumpangan.
"Oh ya.. boleh juga" tiba-tiba semangatku kembali.
"Tapi gak apa-apa kan?" hanya memastikan.
"Iya gak masalah, ayo" aku berpikir bisa melarikan diri dari Alvaro untuk pulang bersama Hifza.
Kami langsung menuju ke basement tempat mobil Hifza terparkir.
Alvaro meneleponku, berkali-kali untuk menanyakan keberadaanku. Tentu aku tidak menerima panggilannya. Tak lama setelah itu, Alvaro WA ku dan mengancamku.
"Aku sudah menunggu dilobby kantor kamu, jangan berpikir untuk menghindariku. Kalau kamu tidak ingin aku membuat kegaduhan" WA dari Alvaro.
Aku membacanya, sekali lagi Alvaro mencoba memaksaku. Sikapnya kini berubah menjadi super protektif terhadapku, padahal aku tidak menginginkan hubungan ini terjalin kembali.
"Za.. Alvaro mencoba memaksaku untuk pulang bersamanya" aku memberi tahu Hifza.
"Cuekin aja.. tar juga dia pulang sendiri" kata Hifza cuek.
"Tapi.. maaf ya Za, lo bisa pulang duluan" aku khawatir apa yang akan terjadi jika Alvaro tahu aku menghindarinya.
"Serius nih mbak, kok lo jadi ragu begini" ujarnya sedikit binggung.
"Entahlah Za, gue pun langsung bimbang harus bagaimana sekarang" aku tak bisa katakan apa yang Alvaro coba lakukan seperti di WA pada Hifza.
Hifza menatapku makin prihatin, sepertinya dia juga tahu aku dalam tekanan.
"Yaudah.. hati-hati yah, kalau ada apa-apa kabarin gue" dia mengelus pundakku.
"Oke.. makasih yah" aku meninggalkan basement dan menuju lobby.
Aku melihat Alvaro sudah menungguku di Lobby, dengan senyuman saat melihatku menghampirinya.
"Kamu dari mana saja, kulihat yang lain sudah pulang. Apa kamu mencoba menghindariku?" tanya Alvaro gelisah.
"Tidak sama sekali, aku hanya banyak pekerjaan, ya karena cuti panjang" aku berbohong hanya untuk menyenangkan hatinya.
"Owh.. untunglah jika benar seperti itu, ayok pergi.. kita akan makan malam diluar" ajak Alvaro.
"Alvaro.. aku hanya ingin pulang" pintaku.
"Masuk ke mobil sekarang" Alvaro memaksaku lagi.
Aku hanya bisa menurutinya. Mobil pun sudah melaju ditengah kemacetan ibukota.
Aku bersandar dikursi, menatapi suasana jam pulang kerja sore ini.
"Aku senang hubungan kita kembali normal seperti sebelumnya, aku janji aku akan lebih memperhatikanmu" sambil menyetir.
"Memangnya kamu gak ada jam praktek?" tanyaku heran, karena seakan waktunya habis untukku.
"Hanya dari pagi sampai siang, sesekali visit ke pasien rawat inap. Waktuku cukup untuk mengejar menjemput kamu pulang" ujarnya menjelaskan.
"Kamu gak perlu seperti itu, aku tidak memintamu untuk melakukan ini" kataku tanpa menoleh kearahnya.
"Aku takkan memberi celah lagi bagimu untuk meninggalkanku lagi mulai sekarang"
"Alvaro.. aku tidak dalam menjalin hubungan dengan kamu" aku mempertegas.
"Tidak.. kini kamu hanya milikku dan sampai kita menikah nanti" Alvaro terdengar sangat arogan saat mengatakan itu.
Aku terkejut mendengarnya, tidak seperti Alvaro yang kukenal. Aku hanya diam setelah dia sedikit meninggikan suaranya tadi.
"Maaf sayang, setidaknya kamu mengerti kenapa aku bisa berubah seperti ini. Aku tak ingin kehilangan kamu untuk ketiga kalinya..
Itu sudah cukup membuatku trauma" ungkap Alvaro dan suaranya kembali memelan.
Deg...!!!
Sungguh saat ini aku merasa seperti orang jahat, apa yang ada dipikiranku bisa melewatkan orang yang begitu takut kehilanganku padahal aku sudah melukainya beberapa kali.
Kenapa tidak aku jalani saja kembali dengan Alvaro, kenapa aku masih bersikap seakan aku jual mahal terhadapnya.
Bukan.. bukan seperti itu..
Aku yakin Alvaro bisa mendapatkan wanita yang tak pernah melukainya dan tentu juga mencintainya.
"Mulai sekarang kamu akan selalu bersamaku dan jangan coba-coba untuk bertemu kembali dengan mantan selingkuhanmu itu" masih fokus menyetir kendaraan.
Aku menghela nafas sekejap, mengapa Alvaro terdengar begitu membenci Nevan, padahal dulu dia merestui hubunganku dan Nevan.
"Sudah jangan membahas hal yang akan membuat kamu hilang fokus jika diteruskan pembicaraan ini" aku menyudahi pembicaraan yang mungkin akan memancing emosi.
"Maka dari itu, kamu cukup cintai aku dan kita jalani ini seperti rencana sebelumnya. Kita akan menikah secepatnya"
Menikah.. itu kata-kata yang membuat semua wanita kegirangan saat ada yang menginginkannya sebagai pasangan hidupnya. Tapi tidak dengan diriku, hati ini masih ada yang menganjal.
"Kita makan malam dimana?" tanya Alvaro.
"Kamu kok gitu bilangnya, kamu kenapa..?"
"Aku gak kenapa-kenapa, aku hanya menuruti keinginan kamu"
"Bagaimana jika ke Batavia cafe kalau begitu.. oke?"
"Aku ikut saja.." kataku dengan sedikit pasrah.
Kami menuju Batavia Cafe, agak jauh perjalanan kesana karena macet disaat jam sibuk pulang kerja.
Sesampainya disana, Alvaro memakirkan mobilnya, lalu aku turun langsung digandeng olehnya.
Aku menepis tangan Alvaro.
"Maaf Alvaro aku tidak nyaman seperti itu saat ini"
"Kamu kenapa sih, kamu tuh seperti membentengi dirimu dari aku tau gak"
"Ya itu memang karena aku tak menginginkan hal ini"
"Kamu lebih baik kita bertengkar daripada bersikap seperti layaknya pasangan kekasih?"
"Kita bukan kekasih lagi Alvaro"
"Sudah kubilang sekarang kamu sepenuhnya milikku, jadi jangan membuat aku hilang kesabaran" memaksaku kembali.
Aku benar-benar tak mengerti, Alvaro terasa begitu kasar sikapnya padaku saat ini. Memaksaku tanpa henti.
Kami berjalan beriringan dan Alvaro sambil menggandengku. Entah hubungan macam apa yang sedang kujalani saat ini.
Kami duduk bersebelahan dan Alvaro sama sekali tidak melepaskan tanganku. Dia masih menggenggam tanganku dibawah meja.
"Jadi.. bagaimana kabarmu hari ini saat pertama kali kerja sehabis cuti?" seakan suasana membaik.
"Baik-baik saja.. Alvaro bisakah kita hanya duduk seperti biasa tanpa berpegangan tangan seperti ini" aku mencoba melepasnya walau ditolak Alvaro.
"Kamu lebih ingin aku memeluk dan menciummu disini?" mengancamku lagi dan lagi.
"Kamu itu.. belakangan ku rasakan kamu banyak memaksakan kehendak" ujarku sedikit ketus.
"Aku tidak seperti itu sebelumnya, mungkin kamu yang terlalu lama menjauh dariku, aku memang seperti ini apa adanya dan mungkin sedikit takut kehilangan" Alvaro mengatakannya tepat dihadapanku.
Aku tak bergeming mendengarnya.
Pelayan datang membawa menu makanan dan Alvaro memesan makanan, lalu kami mengobrol sambil menunggu tiba.
Alvaro memposisikan dirinya menghadapku.
"Kamu tahu.. kamu harusnya berbesar hati, karena bagiku kamu patut diperjuangkan.." kata Alvaro.
"Lagipula buat apa kamu susah-susah seperti ini, jika diluar sana kamu bisa dengan mudah mendapatkannya cinta yang kamu inginkan" aku memberi pilihan.
"Cinta itu bukan soal mudah atau sulit.. cinta itu soal perasaan.. saat ini perasaanku sudah terkunci padamu dan itu tidak bisa dihindari" Alvaro mengelus-elus tanganku.
Harusnya aku berbangga hati ada Alvaro yang begitu dalam mencintaiku walau aku pernah menyakitinya, tapi kenyataan mengapa aku tidak sama sekali mempunyai perasaan yang sama, seakan perasaan yang pernah bersemi sebelum bertemu Nevan sudah tak lagi kuingat.
Aku begitu takut menerima cinta dari Alvaro, aku selalu mengingat penghianatanku padanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Aku malu pada diriku sendiri.
Selesai makan malam disana kami pulang dan Alvaro yang mengantarkan aku ke apartemen.
"Turunkan aku di lobby saja.. dan aku tidak ingin kamu naik ke apartemenku dari sekarang" aku tegas padanya.
"Kenapa kamu mudah sekali membatasi diriku seperti itu, malam ini mungkin aku bisa menurutinya. Lain kali aku tidak ingin menurutimu" Alvaro memarkirman mobilnya didepan lobby.
"Aku serius.. aku tidak ingin kamu datang ke dalam apartemen ku" kataku menegaskan sekali lagi.
"Sayang... aku serius menata ulang hubungan kita yang pernah retak dahulu. Aku berusaha seperti ini untuk hubungan kita berhasil hingga menikah nanti.
Aku sudah maafkan semua tentang kamu yang pernah menghianatiku, aku tidak akan mengingatnya atau mengungkitnya lagi. Kuanggap semua sebagai salah satu ujian dalam menjalin hubungan serius" matanya selalu menatap mataku dengan tajam.
"Karena apa kamu bisa memaafkan kesalahanku, harusnya kamu menjauh dariku. Membenciku dan menghilangkan rasa cinta kamu dan menguburnya dalam-dalam hingga kamu bisa melupakan aku" aku masih berusaha membuatnya pergi dariku.
"Karena cintaku lebih besar dari egoku" Alvaro begitu serius mengatakannya.
Hatiku tersentuh, hatiku ingin menangis mendengar Alvaro bisa sedewasa itu untuk berpikir. Bagaimana bisa seseorang memaafkan pasangannya yang telah menghianati hanya karena alasan cinta.
"E..e.. aku akan masuk ke apartemen.. makasih atas antar jemputnya" aku tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menghindar.
"Baiklah, selamat malam.. kamu istirahat yah.. besok aku akan jemput dan antar kamu sampai seterusnya.. dan jangan coba untuk lari dariku, karena kali ini aku akan lebih bisa menemukanmu" Alvaro terus mengikatku begitu ketat.
"Jangan terlalu kuat untuk mengikatku, aku tak ingin membuat kamu begitu buta dengan cintamu, karena aku belum tentu bisa mencintai seperti kamu mencintaiku" ujarku bak pujangga yang mematahkan hati seseorang.
"Ku yakinkan kamu bisa mencintaiku lebih dari aku mencintaimu" Alvaro membalas dengan tersenyum.
Makin pandai saja dia membalikkan kata-kataku.
"Bye.."
"Bye.." ujarku dan berjalan masuk kedalam apartemen.
🌼🌼🌼
Nevan membaca SMS dari jovita.
"Jovita.. aku harus bagaimana..
hatiku begitu rentan untuk disakiti, apakah benar mantan yang sedang kamu hindari saat itu adalah Alvaro, lalu yang menciummu di party waktu itu juga adalah dia..
Lalu aku menemukannya dihotel yang sama dengan dia saat di Inggris, juga malam itu di cafe..
Mengapa kamu masih belum bisa melupakannya. Kamu masih ingin bertemu dan sepertinya tak bisa jauh darinya.
Apakah cintaku terlalu kurang untukmu hingga kamu masih menginginkan dirinya, dan apakah kamu masih menyimpan sosoknya dihatimu hingga tak bisa menyingkirkannya sampai sekarang" Nevan terus membaca SMS Jovita berulang kali.
Entah apa yang ingin Nevan lakukan.. disisi lain Nevan masih mencintainya, tapi Jovita berulang kali membuat kesalahan yang membuat Nevan ragu untuk melangkah bersama dengan Jovita.
Bersambung..... ✨✨✨