
Aku baru saja sampai di apartemen. Nevan yang mengantarkan aku pulang setelah dinner bersama tadi setelah mengunjungi kedai coffe miliknya.
"Perasaan nasib aku kok bisa berubah drastis ya. Dari hari jumat, selang 3 hari aja aku sudah mengencani 2 pria yang serius menjalani hubungan denganku.
Alvaro. Aku mengenalnya kurang dari 3 tahun mulai sebelum pacaran hingga hubungan kami kandas, selama itu aku mengenalnya.
Nevan. Aku mengenalnya sebatas rekan kerja antara bos dan staff di perusahaan tempat kita bekerja. Kalau tidak salah 3 tahun lebih bekerja bersamanya dan dia yang mempromosikan aku juga sebagai manager marketing seperti saat ini.
Dari segi berapa lama saling mengenalnya hampir sama. Tapi dengan cara berbeda, aku dan Alvaro sebagai kekasih sedangkan aku dan Nevan sebagai rekan kerja yang pasti kedekatan kami berbeda.
Tapi.. semenjak kembali dengan Alvaro dia selalu menggodaku dengan ciumannya.
Sedangkan dengan Nevan, sedekat itu dia tak berusaha mengambil kesempatan untuk menciumku atau mungkin dia ingin menghormatiku sehingga dia tak mencoba untuk melakukannya ya.
Selain itu Nevan pria yang mapan dan mandiri.
Huuuhhh aku harus bagaimana, sedangkan seminggu lagi aku akan ke Inggris bersama Alvaro, masa iya aku tetap memilih Nevan yang akan menjadi pilihan terbaikku padahal aku sudah pergi dengan Alvaro ke Inggris.
Ataukah aku harus memutuskan hubungan ini secepatnya, tapi bagaimana aku melakukannya. Tiba-tiba ngomong putus gitu, yakin dia gak curiga kalau tahu sebenarnya aku sudah selingkuh. Sehari setelah aku bertemu dengannya.
Jika aku tidak memutuskan hubungan dengan Alvaro, apa mungkin Nevan tidak mengetahuinya. Sedangkan intensitas kami komunikasi kelihatannya sedang sering-seringnya. Bagaimana jika mereka saling bertemu satu sama lain dengan aku disuatu tempat.
Apa yang akan kulakukan, aku akan menjelaskan pada siapa. Apa mungkin mereka mau mendengarkan padahal aku telah menduakan mereka.
Huaahhh pliss aku butuh solusi untuk keluar dari masalah rumit ini" aku komat kamit sendiri dikamar sambil menggerutu.
Teleponku berbunyi.
"Alvaro.. yaampun aku lupa memberitahunya. Tapi aku malas untuk menerima panggilannya"
Tak lama dia mengirim chat lewat whatsapp.
"Kamu dimana, sudah pulang belum?. Tolong balas pesanku jika kamu sudah diapartemen, aku khawatir tidak ada kabar dari kamu. Aku sudah lelah menunggu. Apa perlu aku kesana untuk menunggu kamu jika kamu belum pulang?" isi pesan Alvaro.
"Yaampun Alvaro, sebegitunya dia sayang sama aku. Aku musti gimana coba" aku bingung menghadapinya.
Tak tega aku membalas pesan Alvaro.
"Aku sudah pulang, maaf baru kabarin. Tadi aku mandi dulu baru lihat hp nih. Yaudah kamu tidur yah, good night" balasku padanya.
Tak lama Alvaro meneleponku dan aku emnerima panggilan teleponnya.
"Kamu dah sampe sayang?"
"Iya udah dari tadi kok"
"Aku nungguin kabar kamu dari tadi dirumah, kamu kemana aja sih. Kok pergi gitu aja gak kabarin dari pagi?"
"Iya maaf ya, maklum kalau sudah jalan aku lupa diri"
Degggg!
Kemana coba nih aku bohongnya.
"Ow tadi aku ke Centra Park" hanya itu yang kepikiran olehku.
"Ohh sama siapa, kamu shopping lagi?"
"Iya sayang, sendiri kok"
"Kamu memang begini ya sekarang, suka shopping sendiri?" tanya Alvaro.
"Haha memang aneh ya?"
"Ya cuman.. ya mungkin kita lama juga gak ketemu. Seiring waktu kebiasaan kita mungkin ada yang berubah dan belum ada penyesuaian dengan keadaan sekarang"
"Kamu marah sama aku?" aku mencoba menebak.
"Gak, cuma ya aku.. gimana ya.. yang aku tau dulu kemanapun. Kamu pasti ajak aku, aku gak bisapun kamu pasti maksa aku untuk ikut"
"Ooh iya, mungkin selama aku sendiri sudah menjadi kebiasaan bagi aku untuk pergi sendiri, jika ingin pergi kemana gitu"
"Iya itu bisa jadi, tapi misal kamu memang seperti ini. Belum terbiasa dengan aku yang sudah menjadi kekasih kamu. Minimal kamu bisa kan kabarin kemana perginya, sudah sampai belum. Sama siapa, jadi aku juga tau kamu hari itu bagaimana saat aku gak bersama kamu" ujar Alvaro menjelaskan dengan nada yang begitu bijak.
"Iya sayang, maaf lain kali aku akan kabarin"
"Baiklah, aku senang dengernya. Oh iya aku mau kenalin kamu kekeluarga aku. Kamu bisanya kapan?" tanya Alvaro.
"Yang kamu serius?" Aku cukup terkejut.
"Ya aku serius sayang.. kan aku juga sudah jelasin ke kamu saat pertama kali kita ketemu kan?"
"Oh aku tidak berpikir secepat ini"
"Apa kamu keberatan?"
"Ah gak kok, cuma aku jadi gugup aja kamu ingin perkenalin aku ke orangtuamu"
"Gak usah gugup, aku kan ada disamping kamu nanti. Yaudah kamu kabarin aja bisanya kapan. Kalau gitu selamat malam, mimpiin aku sama kamu nikah ya" ujar Alvaro dengan nada bercanda.
Degggg!!!!!
"Haha kamu tuh ya" aku berusaha ceria.
"Miss you sayang. Bye"
"Miss you too.. Bye" kami menutup telepon masing-masing.