It Beats For You

It Beats For You
Stuck with you



Kami tertidur setelah menyelesaikan kegiatan malam pengantin yang mendebarkan.


Entah mengapa, tidurku tidak nyenyak setiap tiga jam sekali aku terbangun dan melirik ke handphone untuk melihat jam, lalu menatap Nevan yang terlelap disampingku.


"Suamiku.." ujarku berbisik.


Sambil menyentuh kulitnya dan aku mulai berfantasi.


"Iissh apa yang kupikirkan. Apa aku masih menginginkannya lagi, padahal Nevan sudah terlelap, tidak mungkin aku membangunkannya..


Hm.. ternyata kehidupan setelah suami istri itu lebih membingunkan ya" batinku dan aku menutup mata membayangkan apa yang sedang kupikirkan.


Ku mencoba untuk tertidur lagi karena hari masih dini hari.


🌼


Pukul 6 pagi.


Aku masih mengulat diatas kasur dan berselimut, mataku terasa begitu berat untuk dibuka, karena tidak bisa tidur semalaman.


Nevan terbangun, hal pertama yang dia lakukan adalah mencium pipiku. Walaupun tertidur aku masih bisa merasakan sentuhan Nevan yang mencium pipiku.


Perlahan aku mencoba membuka mata.


"Sayang kamu dah bangun?" Kataku dengan suara parau.


"Selamat pagi istriku, kamu istirahat saja, ini masih terlalu pagi" sambil membelai pipiku.


"Iya, aku masih mengantuk.." aku memejamkan mata dan memeluknya, merasakan harum tubuhnya.


Nevan membelai rambutku sesekali mencium keningku.


🌼


Jam 9 pagi kami sudah rapi dan akan menemui keluarga besar kami yang masih menginap dihotel ini. Sambil menyantap sarapan yang tersedia, satu persatu keluarga menyambut dan mengobrol padaku dan Nevan.


Tak ketinggalan orang tuaku yang sangat antusias dengan kehamilan kembar tiga yang sedang kujalani.


Tak lama Nevan mendekati ayahnya, kulihat dari jauh mereka seperti berbicara serius. Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, karena aku berada agak jauh dari mereka. Tapi aku memaklumi, bisa saja itu mengenai pekerjaan.


Setelah sarapan, keluarga kami berpamitan satu per satu karena akan kembali pulang, karena beberapa dari keluarga kami tidak tinggal di Jakarta.


Orangtuaku diajak menginap dirumah keluarga Nevan, untuk lebih akrab satu sama lain, karena ayahku hanya diberikan cuti 2 hari, ayah, ibu dan adikku bersedia untuk menginap hingga hari Minggu sore, karena hari senin keluargaku akan pulang ke Yogyakarta dan mulai beraktifitas seperti biasa.


Sedangkan aku dan Nevan.


Lagi-lagi Nevan mengejutkanku, dia mengajakku honeymoon ke beberapa tempat.


Nevan sedang berkemas beberapa barang kami, setelahnya kami duduk diatas kasur dan aku mendengarkan apa yang Nevan katakan.


"Sayang, sore ini kita akan mulai bepergian untuk honeymoon" ujar Nevan dengan berbisik ditelingaku yang membuatku merasakan sentuhan bibirnya ditelingaku.


"Kamu sudah menyiapkan hal ini juga?" Aku cukup terkejut, karena Nevan mewujudkan semua hanya dalam waktu sangat singkat.


"Tentu.. takkan kita lewatkan setiap prosesnya..


tapi kita tidak banyak bepergian, hanya tiga Negara.." ungkap Nevan.


"Tiga Negara itu banyak sayang" kataku sambil memanja.


"Ya.. ini karena transit saja sayang.. jadi sekalian bermalam.." Nevan menjelaskan.


"Kemana saja kita?" Tanyaku penasaran.


"Kita akan ke Singapore 2 malam, Swiss 2 Malam dan paris 4 malam.. atau kamu mau lebih lama lagi aku bisa atur.." Nevan meminta pendapatku.


"Bolehkah tiga hari di Swiss disana Negara yang indah, aku ingin kebeberapa tempat saat disana" pintaku.


"Boleh.." Nevan menyetujui.


"Kalau kita honeymoon, apa pekerjaanmu terganggu?" tanyaku.


"Tidak, tadi aku sudah bicara dengan papaku mengenai beberapa launching dan pekerjaan yang aku alihkan ke beliau" jawab Nevan.


"Oh yang tadi kamu sedang bicara.. itu terdengar begitu penting, aku menjadi tidak enak jika kita honeymoon" karena aku memikirkan Nevan dengan pekerjaannya.


"Yang pasti tidak lebih penting dari kamu.. pekerjaan tetap ada yang handle, kamu tenang saja..


yang penting kita menikmati honeymoon kita kali ini" sambil memelukku dan aku merasakan kenyamanan dipelukannya.


Aku mengatur nafas, Nevan sangat baik dan romantis bagiku. Semua yang dilakukannya menyentuh hati ini, dia tahu memperlakukan wanita dengan kejutannya.


"Sayang, apa kamu memang seperti ini kepada wanita?" Aku mencoba menggodanya sambil menatapnya dengan mengipitkan mataku.


"Maksudnya?" Nevan terheran dengan pertanyaanku.


"Ya sering membuat kejutan, karena kamu selalu memberiku kejutan.." ungkapku.


"Karena aku mencintaimu" jawab Nevan dengan santai.


"Apakah seperti mengajak mantan pacar kamu naik kapal pesiar mewah dan rajin mengajak mereka ke luar negeri, memberikan perhiasan mahal, booking 1 bioskop hanya untuk berdua dan mengundang penyanyi papan atas untuk pacar kamu" kataku hanya untuk meledeknya.


"Astaga, apakah mereka yang memberitahukan itu semua?" Nevan tampak terkejut sambil tertawa tipis.


"Tanpa ditanya mereka yang mengatakannya, kalau aku tak menghentikan pembicaraan mereka mungkin aku bisa tahu hal lain lagi" masih meledek Nevan dengan manja.


Nevan masih tertawa tipis sambil menutup matanya dengan tangan kanan.


"Maaf sayang, aku tak bermaksud apa-apa.. aku mengundang saudara sepupu ku dan Nadine adalah teman sepupu ku itu, kemungkinan Nadine yang mengundang semuanya.." Nevan menjelaskan apa yang terjadi.


"Mengapa kamu bisa tahu kalau Nadine yang mengundang mantan kamu yang lainnya?"


"Dia mantan aku yang.. hm gimana ya bilangnya, supel, ingin tahunya sangat besar dan dengan mudah mengetahui beberapa kontak mantanku lainnya.


Tapi bukan berarti aku mengundangnya secara pribadi, kamu jangan salah paham ya" Nevan menciumku untuk menghindari sikapku yang bisa saja menjadi kesal.


"Iya aku tahu" aku menyahutnya dengan santai.


"Oh ya?" Nevan sedikit lega karena aku tak salah paham.


"Nadine yang cerita, mereka tuh manis-manis banget sikapnya, feminime sekali.. mereka bicara saling bersahutan saat itu.." aku memberitahunya.


Nevan tertawa tipis lagi.


"Bagaimana kamu bisa berpacaran dengan mereka yang karakteristiknya hampir sama?" aku mulai menyelidiki.


"Apa sih sayang, itu kan masa lalu.. masa depanku sekarang kan sama kamu" ungkap Nevan yang tidak ingin menceritakan hal lain.


"Cerita dong, aku mau tahu.. aku tidak pernah bertanya soal masa lalu kamu" manjaku.


"Ya dulu itu aku masih tergoda dengan mereka yang seperti itu" akhirnya Nevan sedikit bercerita karena aku memaksa.


"Seperti itu yang bagaimana..?" tanyaku heran.


"Mereka itu seorang model" sambil menutup wajah takut aku mengambek dengan penyataannya.


"Model... Pantas saja, mereka cantik dan semampai.." aku sedikit mencibir, karena minder dengan mantan Nevan.


"Tapi itu jauh sebelum aku bekerja di perusahaan AGS sayang.." ungkap Nevan.


"Sebelum ketemu Tamara?" tanyaku lagi.


"Ya.. makanya itu orangtuaku menjodohkan aku dengan dia, karena mantanku yang seperti itu, sepertinya orangtuaku tidak begitu setuju dengan wanita yang menjadi kekasihku" ujar Nevan sambil menggenggam tanganku.


"Kata-kata 'seperti itu' membuat aku penasaran, baiklah aku takkan bertanya lagi" aku memeluk Nevan, sedikit mengetahui masa lalunya cukup bagiku.


"Baiklah, apa kita sudah siap untuk honeymoon?" Nevan bisa tebang sekarang.


"Siap" jawabku.


"Oke, kita berangkat sekarang.." Nevan membawa 2 koper milik kami dan aku berjalan beriringan dengannya untuk cekout dari hotel ini.


🌼


Kami menuju bandara untuk keberangkatakan ke Singapore. Selama perjalanan Nevan tak melepaskan tanganku, sesekali lepas dia pasti mengandengku lagi, sikapnya sangat manis bagiku.


Selama perjalanan Nevan banyak cerita tentang Negara yang akan kita kunjungi, karena dia sudah pernah kesemua Negara itu. Tentu aku sangat menantikan honeymoon ini bersamanya.


🌼


Alvaro sudah dirumah, setelah membersihkan diri dan berganti baju lalu berbaring dikasur sambil memeriksa handphone miliknya.


Pertama yang dia lakukan melihat foto profil Jovita.


"Dia sudah menggantinya dengan foto pengantin, dia sangat cantik mengenakan gaun pengantin" sambil menatap layar handphone yang terpaku dengan foto profil Jovita di WA.


Tiba-tiba pesan WA dari Bella masuk.


"Kamu sudah sampai?" Tanya Bella.


"Iya, aku sudah dirumah.. kamu lagi apa?" jawab Alvaro dan kembali bertanya.


"Aku lupa kalau senin ada pertemuan di rumah sakit Singapore, aku sedang bersiap untuk ke Bandara" jawab Bella di pesan singkat.


Alvaro terkejut saat membaca balasan dari Bella dan langsung meneleponnya.


"Kamu gak bilang apa-apa soal berangkat ke Singapore semalam?" Tanya Alvaro dengan heran.


"Iya aku benar-benar lupa, sekarang aku sedang mengemas barang-barang" ujar Bella yang masih mengemas kopernya.


"Jam 2 siang ini" jawab Bella singkat.


"Masih sempat kalau aku berangkat sekarang, yasudah aku antar, tunggu aku ya" kata Alvaro yang terburu-buru.


"Tidak usah, aku bisa naik transportasi Online" Bella menjelaskan.


"Tidak apa, aku akan cepat sampai" sahut Alvaro.


"Baiklah, tapi hati-hati dijalan jangan mengebut ya" ujar Bella.


"Iya.. aku pergi sekarang ya"


"Oke"


Alvaro menutup telepon dan bergegas mengambil jaket dan topi dilemari, tiba-tiba Alvaro terhenti dan berpikir sebentar.


Lalu Alvaro mengambil tas ransel dan mengambil beberapa pakaian dan barang lainnya yang dibutuhkan dan bergegas pergi.


"Ma, aku pergi ya" ujar Alvaro berpamitan dengan ibunya.


"Kemana sayang, baru tiba kamu pagi ini sudah pergi lagi?" tanya Ibu Alvaro.


"Aku ada acara di Singapore siang ini, aku tidak pulang dalam beberapa hari ya Ma" jawab Alvaro disamping ibunya yang sedang didapur.


"Kamu tidak mau makan dulu?" ibu Alvaro yang baru saja ingin membuatkan makanan untuk Alvaro.


"Aku minum air putih saja, makasih ya Ma" setelah meneguk air putih dan mencium pipi Ibunya lalu terburu-buru berangkat menjemput Bella.


Alvaro mengendarai mobil cukup kencang mengingat jam keberangkatan Bella yang tak lama lagi, tapi tetap berhati-hati selama perjalanan.


Akhirnya Alvaro sampai dan menelepon Bella.


"Oke aku kesana ya, aku sudah siap" ucap Bella dan menghampiri Alvaro.


Alvaro melihat Bella keluar rumah dan dengan sigap membantu memasukkan kopernya kedalam bagasi, lalu berangkat menuju Bandara.


"Kamu mengebut?" Heran Bella yang sudah diperjalanan dengan Alvaro, karena Alvaro datang cukup singkat.


"Tidak, jalanan lagi tak terlalu ramai jadi bisa sampai dengan cepat" sahut Alvaro yang sedang menyetir.


"Itu ada ransel dibelakang, punya kamu?" Kebetulan Bella melihat ransel itu.


"Iya, aku akan ikut kamu ke Singapore" sambil tersenyum.


"Hah.. serius.. yaampun ini bukan maksudku" belum selesai Bella menjelaskan Alvaro memotong perkataannya.


"Aku ingin ikut denganmu, aku janji tidak akan menganggu saat kamu ada pekerjaan disana.. aku ingin menemanimu itu saja" ungkap Alvaro.


"Yang benar?" Bella sangat terkejut.


"Iya.. serius.. berapa hari disana?"


"Hanya 2 hari sih.."


"Ini tidak masalah bagiku, aku akan rela menemani kamu selama disana" ungkap Alvaro.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu dua hari kedepan?" Bella mengkhawatirkan Alvaro.


"Sudah ku ajukan cuti" ujar Alvaro.


Bella tersenyum tapi didalam hatinya dia ingin loncat kegirangan, karena baru sekarang Bella merasakan cinta setelah beberapa bulan menjomblo.


🌼


Aku dan Nevan sampai di Bandara, sambil menunggu keberangkatan, kami duduk ditempat makan untuk mengisi perut kami yang sudah mulai kosong.



Aku menatap tangan kami yang masih bergandengan, rasanya seperti tidak bisa lepas dari sisiku dan aku juga tak ingin melepaskannya dariku.


🌼


Alvaro dan Bella baru saja tiba dan memarkirkan mobilnya di parkir inap Bandara Soekarno Hatta, lalu berjalan masuk ke Bandara.


Alvaro yang memesan tiket pesawat dan duduk berdampingan di kelas bisnis. Setelah semua selesai mereka berjalan menuju tempat makan, Alvaro menggandeng Bella dan jalan beriringan, lalu masuk ke tempat makan yang mereka inginkan.


Baru saja Alvaro berjalan masuk, tanpa disadari Nevan melihat mereka yang juga ditempat yang sama.


"Itu Alvaro kan, bersama dokter Bella... Sepertinya mereka cukup dekat, apa kita ingin satu tempat dengan mereka?" Tanya Nevan meminta izinku.


"Ah tidak usah, mereka tentu ingin memiliki privasi" ujarku dan aku melihat tangan mereka yang bergandengan, ternyata firasatku benar mereka memiliki hubungan satu sama lain.


"Bagaimana jika hanya menyapa?" tanya Nevan lagi.


"Oke" jawabku singkat.


"Alvaro... Dokter Bella" sapa Nevan yang melambaikan tangan ke mereka.


Seketika Alvaro dan Bella menoleh kearah suara yang memanggil nama mereka.


"Nevan.." gumam Alvaro pelan.


Bella juga melihat Nevan yang bersama Jovita, lalu menatap tangannya yang masih digenggam erat oleh Alvaro.


"Sebaiknya kita ke meraka?" Alvaro meminta izin Bella.


Bella mengangguk tanda menyetujui.


"Hai.. tak menyangka kita bertemu disini" Nevan menyambut dengan pelukan hangat pada Alvaro dan tak lupa bersalaman dengan Bella.


"Iya kita cukup terkejut, apakah kalian berencana honeymoon?" Tanya Alvaro tanpa melirik Jovita.


Aku yang juga bersalaman dengan Alvaro sedikit kaku, mengingat apa yang pernah kita alami, tapi aku baik-baik saja bertemu dengan Dokter Bella karena dia Dokter kandunganku.


"Iya, kami berencana ke Paris tapi transit dahulu di Singapore" jawab Nevan.


"Oh yah.. sebuah kebetulan kita juga akan ke Singapore.." sahut Alvaro.


"Wah kebetulan sekali, bagaimana kita duduk bersama untuk mengobrol?" Ajak Nevan.


"Wah terimakasih, tapi kami hanya memesan minuman.. ada tempat lain yang ingin kita kunjungi" Alvaro menolak dengan halus.


"Oh baiklah" tanggapan singkat Nevan.


"Kalau begitu sampai ketemu lagi, bersenang-senanglah" ujar Alvaro sambil tersenyum.


"Sampai ketemu lagi.." balas Nevan.


Aku dan dokter Bella berbalas senyum.


Alvaro yang baru saja masuk, terpaksa memenuhi apa yang dikatakannya untuk membeli minuman dan mengajak Bella menuju tempat pemesanan dan membayar minuman tersebut.


"Aku tidak bermaksud menolak, tapi biarkan mereka menikmati waktu bersama" Alvaro menjelaskan.


"Aku juga berpikir seperti itu" ujar Bella pelan.


Minuman sudah tersedia, Alvaro dan Bella berjalan keluar sambil melambaikan tangan pada Nevan bermaksud berpamitan dan Nevan membalas lambaiannya.


"Entah mengapa, mereka terlihat begitu serasi" ujar Nevan yang masih menatap mereka.


"Iya.." singkatku yang tak tahu harus merespon seperti apa dengan kecanggungan ini.


Alvaro dan Bella berjalan menjauh dari Nevan dan Jovita.


"Aku sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi" ungkap Alvaro untuk menyakinkan Bella yang kini telah menjadi kekasihnya.


"Iya aku tahu"


"Oh yah, apa yang kamu tahu?"


"Kamu sedang berusaha untuk tidak memiliki perasaan apa-apa lagi" ledek Bella.


"Tidak begitu sayang, aku serius.. kalau berusaha berarti aku masih memikirkannya" Alvaro tertawa pelan sambil menggoda Bella.


"Haha iya, aku hanya bercanda" sambil merangkul tangan kiri Alvaro yang berada disisi Bella.


"Kita makan ditempat lain ya, waktu keberangkatan masih agak lama" Alvaro membelai rambut Bella.


"Iya, aku juga sudah lapar" jujur Bella.


"Baiklah, kita makan disana ya" menunjuk restoran khas sunda.


"Boleh.." Bella setuju dan masik kedalam restoran itu.


Aku dan Nevan kembali mengobrol hal lain yang menjadi pembahasan kami untuk tetap berbicara.


Entah mengapa, sikap Nevan sungguh lain saat ini. Terlihat dia mencoba akrab pada Alvaro yang sebelumnya tidak seperti ini.


Mungkin alasannya karena Alvaro lah yang menyatukan hati kami hingga menjadi suami istri sekarang.


Tapi membuatku makin tidak nyaman mengingat kebaikan Alvaro terhadapku.


Karena aku terlalu banyak mengecewakannya dan menjaga perasaan Nevan mengenai masa laluku.


Bersambung..... ✨✨✨