
Kami duduk deretan dibangku First Class yang nyaman, setelah menaruh barang di bagasi kabin. Kulihat Alvaro berhenti didepanku, ternyata tempat duduknya ada didepan sebelah kanan dari tempat dudukku. Aku berpura-pura tidak melihat Alvaro, untuk menjaga perasaan Nevan dengan menyakiti perasaan Alvaro tentunya.
Penumpang segera memenuhi pesawat, Alvaro duduk disamping jendela.
Kami memasang seatbelt dengan baik dan menunggu pesawat untuk take off yang membawa kita kembali ke Indonesia dengan selamat. Amin..
Sepanjang perjalanan aku mencoba bersikap tenang seperti biasa, padahal didalam pikiranku berkecamuk pembicaraan dengan Della saat itu, yang tiba-tiba merasuki seisi kepalaku.
Aku melamunkan perkataan Della mengenai kejujuranku pada Nevan. Apakah aku akan pendam hal ini selamanya, apakah aku mampu?
Atau aku akan mengatakannya kepada Nevan tentang penghianatan yang telah kulakukan padanya. Tapi itu akan membuatku kehilangan dia, itu sudah pasti.
Nevan membuyarkan pikiranku sejenak.
"Sayang.. kamu lagi memikirkan apa, aku lihat kamu melamun?" Tanya Nevan yang duduk disampingku sambil menggenggam tanganku.
"Tidak, aku hanya gugup untuk bertemu keluargaku nanti dan membicarakan hubungan kita" aku berbohong dan sepertinya sudah menjadi kebiasaanku belakangan ini.
"Oh.. tapi aku mau tanya, apa kamu bahagia bersamaku?" Nevan menatapku.
"Tentu sayang, aku sungguh bahagia.." kataku menyakinkan sambil menatap Nevan.
"Karena akupun begitu, tak pernah kurasakan sebahagia ini selama hidupku dan memutuskan untuk menikah, aku juga tidak menyangka kamu menerimanya" ungkap Nevan dengan wajah tersenyum.
"Hehe kenapa kamu bisa berkata seperti itu?"
"Yah.. bagiku dulu kamu seperti tak tergapai olehku, tapi lain dengan sekarang. I love you so much.. Jovita" sambil mencium pipiku.
Kurasakan kecupan manis dipipi ini begitu tulus untukku, tak kuasa untuk kuurungkan pemikiranku, soal mengatakan yang telah terjadi sebelumnya bahwa dulu aku telah menduakan hatinya.
"Aku selalu merasa, apakah benar aku seberuntung ini bisa mendapatkanmu untuk menjadi suamiku kelak" Aku memandangi wajahnya yang selalu membuatku nyaman.
"Aku yang seberuntung itu, bisa menemukanmu disaat yang tepat" Nevan memandangiku dalam-dalam dan seketika mencium bibirku.
Daguku ditahan oleh tangan Nevan yang sedang menciumku dengan lembut, akupun menikmati ciumannya.
"I love you forever..." Nevan menyudahi dengan mencium keningku.
Aku tersenyum dan merapikan posisi dudukku, tanpa diduga mataku melihat kearah seseorang yang sedang berdiri yaitu Alvaro.
Aku dan dia terlihat sama-sama terkejut, sepertinya dia melihat kami yang sedang berciuman dan aku tak tahu ada Alvaro disana yang melihat kearah kami.
Alvaro tersadar dan melanjutkan langkahnya kearah toilet.
"Kenapa musti dilihat Alvaro sih, bisa kebetulan begitu" batinku terusik dan sedikit merasa malu jika tadi Alvaro benar melihat aku dan Nevan.
Aku berpura-pura menonton, tapi tetap melirik kearah tempat duduk Alvaro, yang belum duduk dikursinya.
Di toilet Alvaro hatinya seperti tersayat.
"Apa yang kamu pikirkan lagi Alvaro, dia sudah memilih pria lain tak perlu lagi kamu risaukan, apa yang mereka lakukan" sambil menatap kaca didalam toilet.
Alvaro membasuh wajahnya dengan air untuk membuat pikirannya sedikit segar, lalu mengusap dan mengeringkannya dengan tisu yang tersedia.
"Oke.. rileks Alvaro, semua sudah usai. Biarkanlah Jovita bahagia dengan pilihannya, walaupun ku tahu aku masih mengharapkannya kembali padaku, sudah cukup melankolisnya" menyadarkan diri kembali ke realita.
Alvaro keluar dari toilet, tak melihat kearahku langsung menuju tempat duduknya dan aku tak melihatnya lagi, karena tertutup oleh tempat duduk itu.
Terlalu banyak yang ku pikirkan, membuatku lelah dan ingin beristirahat, lalu aku tertidur begitu saja dikursiku.
Nevan melihat kearahku dan menutupi tubuhku dengan selimut hingga pundak.
Aku tak tahu apalagi yang terjadi selama tertidur beberapa jam, hingga ku terbangun dan merasakan lapar diperutku.
Aku dan Nevan makan bersama walaupun sebenarnya makanan itu sudah datang sebelum aku terbangun, tapi Nevan tetap menunggu untuk aku terbangun dan makan bersama, semanis itu Nevan padaku.
š®š®š®
Kami baru saja tiba di Jakarta, pesawat kami landing dengan sempurna.
Semua penumpang bergegas mengambil bagasi dikabin masing-masing, begitupun aku.
Sedikit melirik diam-diam kearah Alvaro, ternyata dia juga melirik ke arahku tentunya dengan sangat jelas tidak seperti diriku yang mencuri pandang.
"Sudah..?" Tanya Nevan.
"Iya.. yuk" kami berjalan keluar bersama, mendahului Alvaro yang sedang merapikan barangnya.
Aku hanya bisa berjalan tanpa menoleh kearah Alvaro, meneguhkan diriku untuk menjaga perasaan Nevan.
Kami berencana untuk makan siang di bandara karena akan transit ke jogjakarta.
Aku menelepon mama disana, memberitahukan aku dan Nevan sudah ada di Jakarta dan akan berangkat ke Jogjakarta bertemu orangtua kami.
"Gak.. mama gak terlalu banyak, cukup untuk menyambut kalian datang" kata mama.
"Papa gimana ma, mama sudah beritahu?"
"Sudah, tentu dia terkejut.. akhirnya doa kita terkabul, kamu mempunyai calon suami. Kami sangat bersyukur.. selama kamu bahagia, kita juga bahagia Jovita" terdengar suara mama yang ceria dari telepon.
"Iya ma, aku juga bahagia sekarang.. baiklah nanti ku kabari lagi ya ma.. salam buat papa dan Tama" kataku untuk mengakhiri telepon.
"Iya.. hati-hati ya sayang.."
Kami menutup teleponnya.
"Maaf ya lama.. aku menelepon mamaku" dan menaruh handphone dimeja.
"Gak masalah sayang, kenapa musti minta maaf.. kamu mau makan lagi?" tanya Nevan.
"Aku kenyang.. belum lagi nanti disana kita pasti makan lagi"
"Hehe iya.. by the way.. nanti jika disana, aku menginap dimana baiknya?"
"Di hotel saja, lebih baik"
"Ooh gitu, sama kamu yah.." pinta Nevan.
"Jangan dong sayang, nanti bisa jadi huru hara nantinya" ujarku.
"Haha masa sih.. jahat deh masa aku sendirian di hotel, aku sudah terbiasa sama kamu belakangan ini"
"Untuk beberapa hari saja yah, sedikit jaim didepan keluargaku" sambil meledek Nevan.
"Haha.. aku pasti bakalan kangen meluk kamu malam-malam"
"Kalau gitu meluknya siang aja yah.. kita hanya dua hari disana, aku ingin weekend di apartemen sambil isi tenaga untuk kembali bekerja, hampir dua minggu travelling"
"Tapi di apartemenku yah, tinggalah bersamaku mulai sekarang" pinta Nevan lagi.
"Sayang.. kita tuh belum resmi menikah"
"Aku akan kesepian lagi jika kamu tidak disampingku"
"Begitukah" aku menjahili hidungnya.
"Iyah.. janji yah tinggal bersamaku"
"Lebih baik kita masih tinggal di apartemen masing-masing, nanti kamu akan bosan sama aku"
"Bagaimana bisa bosan, kalau aku saja sudah merindukan kamu sedetik tidak disampingku" wajahnya memelas.
"Oyah.. kamu tuh ya" aku sedikit tersanjung mendengarnya.
"Kita tidak perlu menikah terlalu lama, bulan depan bagaimana?" Nevan mengatakannya dengan semangat.
"Apa....?" Aku terkejut mendengar itu.
"Iya.. sebulan cukup untuk persiapkan semuanya kan, tidak sulit bagiku untuk menemukan vendor dan tempat untuk pernikahan kita, kamu mau dimana dan seperti apa?"
"Astaga sayang, itu terlalu cepat.. nanti dikira aku hamil duluan" kataku
"Yah.. mau bagaimana lagi, kamu gak mau tinggal bersamaku, ya satu-satunya cara ya menikahnya dipercepat"
"Ini akan menjadi hal yang mustahil"
"Sudah kubilang tidak sulit bagiku mempersiapkan semuanya, kamu tinggal bilang seperti apa nanti semua akan segera dilakukan seperti yang kamu inginkan.."
"Kamu yah.. rasanya semua ini seperti mimpi, kita bertemu lagi setelah sekian lama, lalu tiba-tiba mengajakku menikah"
"Dari awal aku juga sudah mengatakannya padamu kan?"
"Iya..."
"Jadi kamu bersedia?"
"Tentu.. dengan senang hati sayang, rasanya aku ingin menciummu tapi kita tidak di Inggris lagi saat ini" aku terbawa suasana haru yang menginginkan mencium Nevan dengan begitu bahagia.
"Kalau begitu bagaimana cium pipiku saja" Nevan menyodorkan pipi kanannya padaku lalu kumencium pipinya dengan sekejap.
"I love you sayang.. tak tahu harus berapa kali lagi aku mengatakannya, i love you.." sambil melingkarkan tanganku ditubuhnya.
"I love you more sayang.." Nevan menaruh kepalaku dipundaknya dan membelai rambutku dengan lembut.
Disisi lain Alvaro melihat adegan romantis mereka kembali dengan kedua matanya sendiri, tanpa disengaja saat akan berjalan melewati tempat makan Jovita dan Nevan berada, yang terlihat dari luar restoran.
"Akan selalu menjadi pemandangan mimpi burukku" Alvaro berjalan pergi menuju keluar Bandara CGK dengan suasana hati cemburu.