It Beats For You

It Beats For You
You give me purpose



Ruangannya begitu hening karena hanya kita berdua. Nevan menghampiriku perlahan. Memberikan tangannya padaku.



"Maukah tuan putri berdansa denganku" pinta Nevan.


"Oww baiklah pangeran" sambutku dengan tawa kecil seakan tak percaya dia mengajakku berdansa.


Untunglah dulu aku sempat belajar berdansa saat mengisi waktu ke jombloan ku dahulu. Belum mahir sekali, tapi setidaknya aku sedikit tahu.


"Maafkan jika aku kurang baik melakukan ini" ujarku.


"Akan ku tuntun dengan perlahan, tidak usah dipikirkan. Perlahan dan kita bisa nikmati alunan musik ini"


"Baiiiklah..." aku sedikit gugup. Aku mengikuti arah dan langkah Nevan dengan baik. Karena dia juga melakukannya dengan perlahan, agar aku tidak terjatuh.


"Jadi, apakah kamu rasakan saat pertama kali datang kesini" tanya Nevan.


Sambil berdansa denganku.


"Awalnya pasti gugup, tapi ternyata kamu benar. Keluargamu sangat ramah untuk pertemuan pertama"


"Bukannya untuk pertama, tapi akan selalu begitu selamanya"


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. By the way aku mau tanya sedikit semoga kamu bisa mengerti"


"Iya, apa itu"


"Aku sungguh baru mengetahui soal keluargamu saat bertemu denganmu karena kamu mengizinkan aku tuk datang dan bertemu mereka.


Apakah mereka tidak memberikan nasihat untuk pasangan khususnya kamu untuk memilih?.


Karena biasanya keluarga yang kamu miliki sekarang ini akan banyak keinginan siapa yang akan menjadi pasangan anaknya kelak"


"Pasti ada, tapi pandangan khususnya orangtuaku lebih ke kepribadian dan prinsip dari pasangan kami nanti.


Kalau mau berpikir kearah materi mereka jauh dari pandangan itu. Karena kami dari kecil tidak di perkenalkan akan materi, kemewahan atau hal lainnya yang berhubungan dengan hal negatif. Akupun sebelum memperkenalkan wanita aku pasti cerita bagaimana dia ke orangtuaku"


"Jadi.. kamu juga sudah cerita tentang aku kekeluargamu?" Tanyaku.


Degggg!


OMG aku tak tahu harus beropini bagaimana, akankah setelah mendengar penjelasan Nevan kepada keluarganya. Beliau jadi menyukai aku atau sebaliknya.


Atau beliau hanya bersikap sopan saja karena aku salah satu tamu yang datang. Apa aku harus tanyakan bagaimana sikap orangtuanya setelah mendengar tentangku dari Nevan.


"Lalu, apa tanggapan keluargamu?"


"Apakah perlu kejelaskan lagi?"


Nevan makin mendekati wajahnya tepat didepanku. Seolah detik berhenti begitu saja saat mata kami saling bertemu.


Astaga hatiku berdetak begitu kencang, Nevan mendekapku begitu erat. Nafas kami begitu terdengar satu sama lain.


Aku begitu pemalu hingga tak mampu menatapnya lebih lama.


Nevan makin mendekatiku dan membisikkan sesuatu ketelingaku. Hatiku sudah ingin meledak merasakan hangat tubuh dan harum wangi tubuhnya.


"Mereka menyetujui apa yang sudah aku inginkan. Ya aku menginginkanmu. Kuharap kamu juga begitu" ujar Nevan sangat perlahan menjelaskan ditelinga kiriku.


Aku harus menjawab apa.


Yes . Yes. Haruskah ku meloncat kearahnya dan bilang aku menginginkanmu juga. Haruskah aku melompat-lompat karena kamu menginginkanku.


Astaga apa aku sudah gila karenanya, kenapa semua diluar kendaliku.


Calm down Jovita, jawab dengan perlahan dan elegan tanpa berlebihan. Jelaskan bagaimana kamu juga menginginkannya dengan penyampaian yang sopan dan elegan.


Sepersekian detik aku belum tau harus menjawab apa. Aku masih bergelut dengan pikiranku bagaimana aku harus menyampaikannya.


Tanpa pikir panjang lagi, kutempelkan pipiku yang sudah dekat dengan wajahnya. Kucoba mengatur kata-kataku untuk mengungkapkan bahwa aku juga ingin memilikinya dan menerima pinangannya.


"Aku.." ternyata aku begitu gugup dalam menyampaikan maksud hatiku.


"Nevan.. aku.."


Ayolah Jovita, katakan saja. Astaga aku harus bagaimana. Nevan sudah ada didekapanku tapi aku masih belum dapat memberitahukannya.