
Pagi ini Alvaro sudah tiba di rumah sakit dan baru saja akan menuju ruangannya, karena jam praktek Alvaro pagi hingga siang.
Sebenarnya lorong ruangan Alvaro lebih dulu ketimbang lorong ruang Dokter Bella, tapi Alvaro dengan sengaja melewati lorong dekat ruangan Dokter Bella.
Saat Alvaro berjalan, para perawat yang melihatnya tentu menyapa dengan ramah.
"Pagi Dokter.." sapa perawat yang sedang berjaga berjumlah tiga orang.
"Pagi..." Alvaro menahan langkahnya sambil menatap para perawat itu.
"Ada yang bisa dibantu Dok?" tanya si salah satu perawat.
"Hem.. Dokter.." tiba-tiba Alvaro mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Suster, Dokter Bella jam berapa prakteknya?" tanya seorang ibu hamil kepada perawat.
"Jam 2 bu sampai jam 8 malam, kalau pagi dia ada operasi" sahut salah satu perawat.
"Oh gitu, yaudah gak apa.. ini form saya ya sus" memberikan kertas pendaftaran untuk antrian pada suster.
"Baik bu.." diterima oleh perawat.
Alvaro yang baru saja mendengar pembicaraan mereka, terjawab sudah rasa ingin tahunya.
"Ya Dokter, ada yang bisa dibantu?" tanya perawat itu lagi karena melihat Alvaro yang sedikit melamun.
"Ah tidak jadi, makasih yah" Alvaro berlalu pergi dan menuju ruangannya.
Para perawat senyam-senyum, baru saja didatangi Dokter Alvaro.
Alvaro menutup ruangannya.
"Berarti dia sudah ada dirumah sakit belum yah" dan mengambil handphone dari saku dan mencari nama Dokter Bella yang sudah dia simpan.
Tak bisa menunggu Alvaro mengirim pesan padanya.
"Pagi.. sudah sampai di rumah sakit?.
Hem kaku banget gak sih ini.." Alvaro menghapus pesan itu dan meralatnya.
"Halo.. ada waktu untuk makan siang?. Alvaro"
Alvaro menatap pesan itu sambil berpikir.
"Ah cukup seperti ini saja" Alvaro mengirim pesan ke Dokter Bella.
Tak berselang lama Alvaro mendapat pesan.
"Baiklah, mari makan siang bersama. Kita ketemu Jam 11.50 ya" balas Dokter Bella.
Alvaro tersenyum menatap balasan Dokter Bella.
"Dok.. Dokter Alvaro" panggil perawat.
"Ah iya.." Alvaro disadarkan oleh panggilan perawat itu.
"Sudah bisa terima pasien?"
"Iya, bisa dimulai sekarang" Alvaro menaruh handphone di laci sambil tersenyum.
Sesekali Alvaro melihat jam hanya untuk memastikan dan akhirnya jam 11.50 siang sesuai janji dengan Dokter Bella.
Alvaro yang baru saja selesai melihat handphone.
"Saya menunggu diruang tunggu Dokter yah" pesan dari dua menit lalu.
Segera Alvaro menghampiri Dokter Bella dengan sedikit tergesa-gesa.
Alvaro pun bertemu dengan Bella.
"Hay.." sapa Alvaro begitu canggung.
"Hay Dokter Alvaro, apa jam praktekmu sudah selesai?" tanya Dokter Bella.
"Baru saja selesai, kamu sudah selesai?"
"Aku selesai operasi jam 11 tadi, dan ada visit ke ruang rawat inap.
Mau makan dimana kita" sambil berjalan menuju keluar rumah sakit.
"Yang Dokter Bella inginkan" Alvaro membiarkan Bella membuat pilihan.
"Owh.. oke, bagaimana tempat makan dekat rumah sakit, disana nyaman dan makanannya enak" saran Bella.
"Oke, kita pakai mobilku" Alvaro menyetujui.
Sesampainya disana, semua berjalan seperti biasa. Bella sangat pandai membawa pembicaraan menjadi lebih menarik, atau Alvaro lebih tertarik dari sosoknya yang terlihat humble dan cantik tentunya.
"Apa sudah selesai jam prakteknya?" Tanya Bella.
"Belum, nanti jam 3 baru selesai. Kamu selesai jam 8 malam?" ucap Alvaro.
"Kamu tahu?" Bella sedikit terkejut sambil tertawa pelan.
"Kebetulan tadi lewat ada yang bilang hal itu" ucap Alvaro sambil tersenyum.
"Wah dokter SpOG panjang jam prakteknya ya"
"Haha ya sepertinya lebih sedikit panjang" tawa Bella.
Saat Bella tertawa, aura cantiknya bertambah. Membuat Alvaro tak henti menatapnya.
"Sebenernya hari ini mau ngajak keluar, setelah jam praktek, jika gak keberatan" ajak Alvaro.
"Tentu tidak..
tapi aku bawa mobil" Bella langsung menyetujui.
"Dirumah sakit aja, gak apa-apa kan"
"Haha.. oke no problem.." Bella mengiyakan.
Siang itu Alvaro berhasil mengajak makan dan membuat janji untuk bertemu dimalam hari. Terlihat mudah, tapi bagi Alvaro butuh keberanian mengajak Bella untuk pergi bersama Alvaro.
Selesai makan siang, Dokter Bella dan Dokter Alvaro berjalan beriringan. Membuat beberapa mata para perawat menangkap moment tersebut suatu hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
š¼
Nevan sudah menjemput didepan kantor, senyum sumringah terpancar diwajahku saat berjalan kearahnya.
"Bagaimana kabarmu selama dikantor hari ini sayang?" Sambil menggandengku menuju mobil.
"Baik-baik aja kok" sahutku.
Kami dalam perjalanan menuju rumah sakit Jakarta General Hospital.
"Dikantor kamu masih mual?" tanya Nevan memastikan.
"Untunglah gak seperti tadi pagi kok, mual sedikit aja. Kamu hari ini kemana?"
"Dikantor aja, sambil mikirin keadaan kamu,
Sungguh aku gak sabar melihat anak kita seharian ini.."
"Sebentar lagi kok sayang, kita akan melihat keadaan mereka..
Oh iya aku sudah bicarakan mengenai pengunduran diriku dengan bu Glory"
"Oh ya, lalu bagaimana katanya?" selidik Nevan.
"Beliau menerima, ya mau gak mau" kataku sambil nyengir.
"Maksud kamu mau gak mau, apa dia bertanya alasannya?"
Aku mengangguk.
"Lalu kamu bilang sebenarnya?"
"Ya.. mau gimana lagi, bu Glory pandai mengulik sesuatu hingga keakarnya.
Katanya dia mau komplen sama kamu, karena buat aku mengundurkan diri" kataku sedikit bercanda.
"Oh iya sayang, undangan sudah siap hari ini. Kita bisa membagikannya besok.. aku juga ada undangan digital, lebih mudah jika kamu gunakan untuk kenalan kamu yang mungkin tak sempat dibagikan undangan biasa kan"
"Oh iya.. coba lihat undangannya" aku penasaran.
"Aku memakai beberapa foto kita saat di London" ujar Nevan sambil membuka handphone dan memberitahu bentuk undangan digital.
"Woah.. ini terlihat sangat bagus sekali" ucapku antusias.
"Kamu suka?"
"Iya suka sekali" aku memeluknya.
"Aku sudah email ke kamu, jadi bisa kamu kirim beberapa rekan kerja"
"Thankyou sayang.."aku bermanja padanya.
"You're welcome sayang" sambil mencium keningku.
Kami sudah tiba dirumah sakit, karena sudah menjelang malam, antrian cukup ramai. Nevan memintaku untuk makan malam dikantin rumah sakit setelah pendaftaran.
Barulah kita kembali ke lantai dua untuk menunggu antrian.
Nevan terlihat gelisah dan sesekali menoleh kepintu ruangan dokter itu.
Aku tersenyum melihat Nevan, sepenasaran itu terhadap janin yang ku kandung.
"Ibu Jovita.." panggil perawat, saatnya giliran kami untuk pemeriksaan.
Nevan tetap berada disampingku dan menjagaku dengan perhatiannya.
"Halo dokter.." sapaku pada Dokter Bella.
"Halo mbak Jovita, bagaimana kabar baik?" Tanya Dokter Bella dengan hangat.
"Baik Dok" jawabku dan kami duduk berhadapan.
"Nah ini ayahnya ya, pasti mau lihat baby.. duh ini bikin iri, kembar tiga loh pak.." sambil mengajak Nevan bicara.
"Iya dok, kemarin saya belum sempat melihatnya" sahut Nevan.
"Nah kita coba yuk lihat, mbak Jovita bisa rebahan ditempat tidur" ucap Dokter Bella sambil memakai sarung tangan.
Aku dibantu suster untuk rebahan ditempat tidur pemeriksaan dan Nevan berada tak jauh dariku.
"Oke, karena kondisinya masih dini, jadi kita pakai USG dalam ya, tarik nafas dan buang perlahan" ujar Dokter Bella memberi arahan dan aku mengikutinya.
"Nah mbak Jovita, ini masih sama seperti kemarin ya, bentuknya kacang kecil-kecil ada tiga. Untuk kondisinya semua normal dan baik" sambil memeriksa dengan seksama.
Nevan berkaca-kaca saat dokter Bella memperlihatkan bentuk janin secara langsung di monitor USG.
Akupun terharu melihat respon Nevan seperti itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya pemeriksaan selesai.
"Oke semua good, gak ada masalah. Pokoknya ibu dan anak dijaga baik-baik, karena kondisi ini memang istimewa dan perlu perhatian khusus dibanding hamil 1 anak.
Hari ini kita cek darah ya, kita pastikan semua dalam kondisi prima baik ibu dan anaknya. Nanti suster yang akan bantu dimana laboratorium" dan menuliskan riwayat pemeriksaan dibuku kehamilanku.
"Baik dok.." ucapku.
"Bagaimana pak, setelah melihat USG tadi" tanya Dokter Bella.
"Syukurlah.. yang pasti makin sayang sama ibunya" ucap Nevan sambil menggenggam tanganku.
"Tentu dong, perhatian dari pasangan juga diperlukan, karena hamil itu berdua.
Istri yang mengandung dan suami yang memberi kasih sayang juga perhatian" ujar Dokter dan memberi semua dokumen kepada suster.
Aku mendengarnya sedikit gugup, karena kami belum resmi menikah.
"Pasti dok.. saya pasti protektif padanya" dan menatapku penuh cinta.
"Itu benar.. Baiklah, karena obat kemarin masih ada, saya hanya beri sedikit dan vitamin ya mbak, pak"
"Makasih ya dok" kataku untuk bersiap keluar dari ruangan dokter.
"Sama-sama"
Kami pun keluar ruangan dan perawat memberi hasil USG juga resep yang harus diberikan ke farmasi dan juga kasir.
Suster memberitahu ruang laboratorium dilantai 4, untuk mengambil darah agar bisa di tes pemeriksaan. Dari situ dapat diketahui kondisi ibu apakah dalam kondisi baik dan tidak ada virus ataupun hal lainnya.
"Sayang.." aku menahan langkah kami saat di kami sudah didepan laboratorium.
"Iya kenapa sayang?"
"Aku takut.." kataku dengan sedikit pucat.
"Kamu takut kenapa?"
"Aku Hemophobia.." ungkapku.
"Baiklah kita duduk dulu sebentar, agar kamu bisa sedikit tenang" Nevan mengajakku duduk disamping pintu labiratorium sambil menggenggam tanganku.
"Kamu tenangin diri dulu, nanti aku temani jika kamu merasa sangat tidak nyaman" dan mengelus tanganku dan itu membuatku mulai sedikit tenang.
"Aku tak pernah melakukan ini sebelumnya dan ini menakutiku" aku mencengkram tangan Nevan karena mengingat hal itu membuatku kembali takut.
"Sabar ya sayang, ini semua kita lakukan untuk anak kita" dan mencium tanganku yang Nevan genggam.
aku mengatur pernapasan, sekiranya membuat aku mampu untuk menjalani pengambilan darah untuk diperiksa.
"Kita duduk disini dulu, jika kamu sudah siap baru kita lakukan" Nevan mencoba menguatkanku.
"Iya" kataku sambil mengangguk.
Nevan menemaniku dengan sabar, setelah 10 menit akhirnya aku siap.
"Aku siap sekarang" sambil mengatur pernafasan lagi.
"Baiklah.. ini akan baik-baik saja, kamu hanya perlu tenang agar semua berjalan dengan lancar"
Aku mengangguk.
Kami masuk keruang laboratorium, ditemani Nevan.
"Baik bu, kita akan mengambil darah, nama dan tanggal lahir sesuai ya bu" ucap petugas kesehatan itu.
"Iya" sahutku.
"Tarik nafas ya bu.."
Aku bersandar pada Nevan dan memeluknya dengan erat dan Nevan membelai rambutku.
Setelah beberapa saat, akhirnya selesai.
"Baiklah, semua telah selesai. Hasilnya dua minggu lagi ya bu" dan merapikan segala peralatan yang dipakai tadi.
Aku yang gemetar karena phobia yang kualami.
"Sayang kamu baik-baik saja?"
"Aku lemes sekarang" aku bersandar dikursi.
"Sekarang telah selesai, tuh kan kamu bisa.. apa yang aku bilang" Nevan mencoba menghiburku.
Aku tersenyum dan mencoba beranjak dari bangku ini untuk keluar ruangan.
"Baiklah, kamu duduk disini dulu yah.. biar aku selesaikan administrasi" ujar Nevan untuk ke kasir yang tak jauh dari tempat ku duduk.
Aku masih saja merasakan ketakutan ini, hingga aku tak mampu melihat petugas kesehatan itu sedang mengambil darahku.
Selesai sudah apa yang harus dilakukan dirumah sakit.
Nevan sangat gembira melihat calon bayi kami saat pemeriksaan tadi, tak henti dia mengatakan apa yang sudah Nevan lihat secara langsung.
Aku bersyukur, semua berjalan sangat indah untukku.
Bersambung..... āØāØāØ