It Beats For You

It Beats For You
I'm Very Lucky You Choose Me



Kami baru saja berada didalam mobil. Aku sedikit khawatir untuk pulang ke apartemen.


"Nevan.. aku tidak mau pulang" ungkapku sedikit pelan.


"Ada apa, apa ada masalah?" tanya Nevan khawatir.


"Sedikit, hem.. aku menginap dihotel saja malam ini" kataku.


"Kenapa dihotel, kamu bisa ke apartemenku saja, aku punya kamar lain jika kamu mau?" Nevan menawarkan.


"Apa tidak menjadi masalah?" Ujarku sedikit risau.


"Tentu saja tidak, baiklah kita ke apartemenku sekarang" Nevan menjalankan mobilnya.


Aku berpikir Alvaro akan menungguku di apartemen, lebih baik aku menghindar dan belum berani kembali di apartemen malam ini. Untunglah Nevan bisa membantuku untuk tinggal malam ini di apartemennya.


Kami tiba di apartemen Nevan di Park Avenue Grande. Astaga ini apartemen mewah ditengah kota, aku baru tau Nevan tinggal disini. Sambil melihat pemandangan sekeliling apartemen ini yang sangat luar dan mewah.


Setelah parkir di basement, kami menuju ke lift untuk lantai atas. Lobby apartemennya sangat mewah dan tetap memakai access card. Tak lupa dia menggandengku sepanjang jalan kami, aku sungguh nyaman akan hal itu.


Nevan membukakan pintu dan kami masuk kedalam. Wow.. ternyata Nevan orang yang sangat rapi, tidak ada berantakan sekalipun atau karena dia tinggal sendirian yah. Desain apartemennya pun sangat mewah dan elegan, bagus sekali menurutku.



Aku duduk disofa yang berada didepan televisi, Nevan mengambil minuman untukku yang berada dikulkas.


"Minum sayang.. Aku senang kamu bisa tinggal malam ini disini, tapi maaf kalau tempatnya tidak begitu besar" Nevan duduk disebelah kananku.


"Makasih.. Ini terlihat lebih besar dibanding apartemenku loh sayang" kataku.


"Haha.. oyah.. hem.. by the way.. kita sudah selangkah maju untuk komitmen kita, bolehkah aku tau mungkin ada masalah apa yang sedang kamu alami untuk aku boleh tahu?" tanya Nevan pelan.


Degggg!!!


Aku tahu hal ini akan menjadi pertanyaan nantinya. Sedikit ragu untuk mengungkapkan hal sebenarnya, lebih baik aku sedikit mengarang cerita.


"Kamu tak perlu takut, aku bisa menjadi pendengar yang baik" ujar Nevan menyakinkan.


"Hemm.. aku.. semoga kamu tidak marah padaku" aku sungguh ragu untuk mengutarakannya.


"Tentu tidak" kata Nevan.


"Baiklah.. Aku diikuti oleh mantan aku"


"Kami tidak sengaja bertemu beberapa waktu lalu, dan.. aku pernah melihatnya menungguku diapartemen"


"Apartemen.. dia tau apartemen kamu?"


"Kami bertemu dimini market apartemenku, yang kutahu dia punya teman diapartemen tempat aku tinggal, karena aku sempat bicara dengannya saat bertemu waktu itu.


Kemarin kulihat dia dilobby, tapi aku menghindar jadi dia tak melihatku masuk kedalam dari basement. Aku khawatir dia akan datang lagi kesana"


"Hemm.. apa dia menghubungi kamu sebelumnya kalau dia datang keapartemen kamu?"


"Iya dia hubungi aku, dia bilang dia nunggu aku di lobby, jadi aku tidak bilang aku sedang diapartemen. Aku bilang aku sedang menginap dirumah orangtuaku" ujarku jelas berbohong.


"Hemm.. apa perlu aku bertemu dengannya" ujar Nevan.


"Tidak perlu, aku sudah bilang aku sudah punya kekasih. Semoga saja dia tidak mengganguku lagi"


"Oke itu ide yang bagus sayang.. kalau nanti dia sudah terlalu menggangu kamu harus katakan padaku yah..


Jadi jika kamu butuh tinggal disini kapanpun, tempat ini terbuka untuk kamu.


Aku sudah serius sama kamu dan mengenalkan kamu kekeluarga aku. Nanti tinggal aku yang bertemu dengan keluarga kamu.


Kuingin apapun masalah kamu atau apapun yang ingin kamu katakan, katakan saja padaku.


Tidak perlu sungkan, aku akan mendengarkan dan menjadi orang pertama yang akan membela kamu. Karena aku telah memilih kamu, aku mau mulai sekarang kamu selalu kabarin tentang kamu ke aku. Agar aku tahu kamu baik-baik saja yah.." ujar Nevan menjelaskan.


"Iya.. makasih sayang, support kamu dan semenjak ada kamu membuat aku kuat menjalani hidup aku" aku menggenggam tangannya.


"Akupun begitu, aku kadang tidak tahu harus bagaimana bersikap agar kamu nyaman sama aku. Kamu tahu gak aku juga sering gugup disamping kamu" jujur Nevan dan mengelus tanganku yang berada dibawahnya.


"Oh yah.. masa sih, kok aku gak tau. Kulihat kamu begitu tenang didepanku" aku tersenyum mendengarnya.


"Berarti aku berhasil menyimpannya ya" tawa Nevan.


"Oh yah.. Maaf sayang aku gak sedia baju wanita, tapi kamu bisa pakai piyama aku" Nevan mengambil sesuatu dari lemari yang berada dikamarnya lalu memberikannya padaku. Sepasang baju piyama warna biru dongker dan handuk putih untukku.


"Iya gak apa, aku juga dadakan disini. Kalau begitu aku mandi dulu ya" ujarku dan membawa baju dan handuk yang telah diberikan Nevan.


Sambil membersihkan diri di kamar mandi aku memikirkan hal yang mungkin menjadi kesalahanku kelak.