
Malam ini aku dan Nevan sekamar.
"Aku tidak tahu, bisa memeluk pasangan itu menjadi kenyamanan bagiku, aku suka harum tubuhmu sayang" ucapku sambil menghirup harumnya kekasihku ini, yang sudah kupeluk dan begitu juga pada Nevan yang memelukku.
"Aku tahu itu" Nevan mencium keningku.
Kami terlelap begitu saja, apalagi aku yang sudah lelah menjalani hari penuh dramatis malam tadi.
...
Aku tahu, aku sudah cukup bahagia dengan Nevan walau hanya sebentar kami mulai menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih.
Malam ini begitu indah, aku dan Nevan layaknya kekasih yang sedang kasmaran, merangkul dan saling bergandengan tangan selama kami berjalan-jalan, sinar bintang ini begitu manis menyinari hati kami yang sedang dimabuk cinta. Nevan yang selalu bisa membuatku tertawa membuat suasana malam ini begitu romantis, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu bisa membuatku terhibur akan kehadirannya dan bersyukur akulah yang ada disisi Nevan saat ini.
Kudengar sayup-sayup suara yang memanggil namaku dari arah belakang, ku mencoba mencari tahu adakah yang memanggil namaku, aku menengok perlahan kebelakang, karena hari sudah malam tak jelas siapakah yang memanggilku ataupun apa benar ada yang memanggilku. Aah mungkin hanya suara yang salah kudengar, ku lanjutkan lagi berjalan bersama Nevan.
Tapi suara itu makin dekat dan makin jelas meneriakkan namaku.
"Jovitaaaaa" teriakan itu terdengar hingga ke teligaku.
Seketika aku berhenti, karena aku mendengar memang ada seseorang yang memanggil namaku dengan sangat jelas.
Aku meminta Nevan berhenti sejenak, dan memperhatikan sekeliling adakah yang memanggilku.
Sebuah bus baru saja berjalan dan pandanganku menemukan Alvaro diseberang sana. Entah apa yang ia lakukan malam-malam begini sambil menyebut namaku disaat aku bersama dengan Nevan.
"Kamu mengenalnya sayang?" Tanya Nevan.
"Entahlah aku tidak yakin, mungkin hanya nama yang kebetulan sama" ujarku mengelak. "Yuk kita pergi dari sini sayang, aku merasa ini ada yang tidak beres dengan pria itu" ujarku sedikit gugup jika Nevan mengetahui siapa Alvaro.
"Tidak perlu sayang, wasting time" aku menggandeng Nevan menjauh dari Alvaro.
Kulihat Alvaro berusaha mendekat kearah kami.
"Jovita, tunggu.. dia bukan segalanya untukmu, dia tidak akan membahagiakanmu seperti aku yang membahagiakanmu. Jadi lebih baik kamu kembali padaku, kita ulangi semua dari awal dan membuka lembaran baru bersama, aku akan memaafkanmu Jovita" ujar Alvaro berteriak dari arah seberang sana.
Aku mendengar semua yang dia bicarakan, teriakannya membuat sekeliling dapat mendengar apa yang dia utarakan.
"Dia mengenalmu sayang?" Tanya Nevan sambil melihat ke arah pria yang tidak ia kenal
"Tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya" kali ini aku berbohong hebat, dan enggan melihat Alvaro yang sudah berteriak memanggil namaku dan mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan didepan orang banyak.
"Jovita.. aku akan..."
Braaaakkkkk..
Suara tabrakan terdengar dari tempat Alvaro berdiri.
Aku refleks berbalik dan melihat keadaannya, apakah benar itu Alvaro, apakah terjadi kecelakaan padanya.
"Tiiidaaaakkk..." Teriakku, melihat Alvaro yang sudah terbaring dijalanan dengan luka ditubuhnya.
Seketika aku terbangun dari tidurku.
"Tiidaaaak.." kata-kata itu berlanjut ke dunia nyata, entah apa yang kupikirkan. Kenapa saat bersama Nevan aku malah memimpikan Alvaro.
"Sayang.. kamu nightmare?" tanya Nevan yang terbangun atas teriakanku.