It Beats For You

It Beats For You
Your necklace hanging from my neck



Aku menanti kedatanganku dibandara, seakan tidak sabar liburan pertamaku ke Inggris.


Sesampainya dibandara aku chek-in dan menaruh koper dibagasi, lalu menuju ruang tunggu di Gate A3.


Aku mengeluarkan handphone dari tas kecilku dan mulai sibuk sendiri dengan smartphone ini. Membuka semua media sosial, entah apa yang kucari, hanya men-scroll ke atas dan back and back.


Tiba-tiba seseorang duduk disampingku dengan begitu mengagetkanku.


Brak..


Spontan aku menoleh kekiriku, terkejut sambil mengerutkan kening mengetahui siapa yang disampingku.


"Pasti kamu berpikir aku akan menyerah begitu saja" ujarnya.


"Alvaro.. astaga, untuk apa kamu kesini, bukankah aku sudah bilang kamu tidak perlu lagi ikut ke Inggris" ucapku heran.


"Entahlah.. hatiku berkata lain, setelah beberapa hari ada yang menghindariku. Kamu tinggal dimana belakangan ini, aku menunggumu di lobby apartemen tapi kamu tak kunjung kutemui, jurus menghindarmu begitu hebat" ledek Alvaro.


Aku hanya diam tanpa ekspresi.


"By the way.. happy birthday sayang.." ujar Alvaro memberika kado kecil untukku.


"Alvaro, aku bukan kekasihmu lagi" ketusku padanya.


"Ya trus.. emang salah aku bilang sayang. Orang lain juga sering bilang sayang kalau bukan kekasih" ujar Alvaro.


"Aku kurang nyaman, jangan panggil aku seperti itu lagi"


"Entahlah.. aku malah suka. Ayo dong buka, aku sudah menyiapkan ini jauh hari loh.. sebelum kamu selingkuh dariku.. hemm mungkin bisa jadi saat kamu selingkuh, aku nya saja yang begitu polos tidak tahu kalau kamu.."


"Yaampun.. musti di ulang-ulang ya kata-kata itu" aku kesal dan langsung memotong kata terakhir yang dia ucapkan.


"Hehe makanya buka dong sayang, its your birthday.. jadi buka"


Aku sedikit tersenyum melihat kado kecil dari Alvaro, setidaknya aku harus menikmati hari ulang tahun ku ini dengan hati senang.


"Oke.. makasih yah.. kamu harusnya tak perlu repot memberikanku hadiah" ujarku pelan.


"Aku memang harus repot, kamu kan kekasihku apapun akan kulakukan, hingga ikut ke Inggris pun aku rela" canda Alvaro.


Aku tersenyum mendengarnya, aku suka Alvaro disisiku sekarang, gundahku sedikit berkurang.


"Alvaro.." aku melihatnya sedikit heran, karena aku sepertinya tahu apa isi kado yang Alvaro berikan.


"Bukalah.." kata Alvaro.


Aku membukanya, betapa kaget saat aku melihat perhiasan kalung begitu berkilau dengan bandul bulat yang ditengahnya ada swarovski.



"Ini perhiasan mahal.. " kataku terkejut.


"Ya terus kenapa.. lebih tepatnya berlian" jelas Alvaro.


"Berlian.. ini terlalu mahal untukku" ungkapku sambil menatap perhiasan cantik ini dengan terpesona.


"Apapun akan kuberikan untukmu, kamu harus menerimanya tanpa menolak. Nanti aku sedih, sudah beli mahal masa gak dipakai, entah kamu masih kekasih atau istriku nanti. Aku tetap ingin memberikannya" ucap Alvaro.


"Aku bukan kekasih atau istri kamu Alvaro" aku menjelaskan.


"Baiklah apapun itu, aku ikhlas.. ini memang untuk kamu dan aku mau kamu selalu pakai ini" ungkap Alvaro.


"Ini mahal, jika nanti aku dijambret gimana.. malah melukai diriku sendiri" kataku.


"Hemm.. setidaknya kamu pakai selama kita di Inggris okey, tak perlu dibahas lagi" ucap Alvaro.


"Biar kupakaikan.."


Alvaro memakaikannya dileherku, begitu cantik saat kulihat dari kamera handphone ku.


"Makasih yah.. ini hadiah termahal yang aku terima di ulang tahun ku" ungkapku dengan tulus.


"Sama-sama.. cantik sekali dilehermu.. bikin gemes" canda Alvaro.


"Maksudnya.." aku menatapnya sinis, mengetahui arti dari kata-katanya.


"Baiklah.. yang penting ini begitu cantik kamu pakai.. " ujar Alvaro datar saat melihat ekspresi sinisku.


Entahlah bagaimana jika tidak ada Alvaro saat ini, aku berjuang untuk mencoba bahagia tapi nyatanya tidak, dengan adanya Alvaro membuatku kembali tersenyum.