It Beats For You

It Beats For You
Hoping for the best



Senin pagi, Nevan membangunkanku.


Nevan memanggil namaku begitu lembut hingga ku tersadar dan membuka mata secara perlahan.


"Good morning sayang.." sapa Nevan sambil membelai rambutku.


"Pagi.. sudah jam berapa sekarang?" tanyaku sambil mengedipkan mata.


"Baru jam 6.25 pagi, bangun yuk.. sarapan dulu sebelum berangkat" ajak Nevan sambil mencium keningku.


"Oke" aku mencoba beranjak dari kasur pelan-pelan, aku merasakan sesuatu yang tak nyaman didalam tubuhku.


"Hueeekk.." benar saja, aku merasakan mual hingga membuatku ingin muntah.


"Kamu kenapa sayang?" Seketika Nevan panik melihatku seperti itu.


"Aku harus kekamar mandi sekarang" kataku dengan terburu-buru.


"Oke.. sini aku bantu" Nevan memapahku ke kamar mandi.


Aku langsung menutup pintu dan berulang kali merasakan mual yang tak tertahankan.


"Sayang.." sesekali Nevan memanggilku, karena khawatir dengan keadaan ku pagi ini.


Sekitar 5 menit, akhirnya aku keluar dari toilet.


"Sayang, ada apa, haruskah kita kedokter sekarang?" Tanya Nevan yang tak tahu harus berbuat apa.


"Gak apa sayang, ini hanya morning sickness pada trimester pertama. Ini akan sering terjadi selama kehamilanku" aku mencoba menjelaskan.


"Tapi apakah itu berbahaya atau bagaimana, aku sungguh belum mengerti" sambil menatapku dengan gelisah.


"Ini normal kok sayang, untuk awal kehamilan.." aku memeluknya.


"Itu membuatku takut, aku tak ingin kamu kenapa-napa"


"Iya, aku gak apa-apa.. aku mandi dulu ya, siap-siap kekantor"


"Oke, aku menunggu dimeja makan ya"


Aku mengangguk.


Setelah aku selesai dan berpakaian, aku duduk dikursi makan sambil menikmati sarapan buatan Nevan.


"Jadi kamu serius untuk resign dari kantor?" Tanya Nevan memastikan.


"Iya, aku sudah pikirkan. Apakah keputusanku benar?" aku meminta pendapatnya.


"Sangat benar, aku tak ingin kamu kesulitan dimasa kehamilan. Bekerja saat sedang hamil itu sangat beresiko, apalagi aku tak ingin membuat kamu kelelahan.." ungkap Nevan yang masih menatapku dengan kekhawatirannya.


"Hu'um.. karena kupikir, akan berbahaya jika aku masih bekerja, aku hamil 3 anak sekaligus.." kataku untuk menyakinkan Nevan.


"Betul.. pokoknya ibu dan anakku harus sehat semua yah" dan mencium pipiku.


"Iya sayang" sahutku dan menghabiskan sarapan, tidak lupa meminum susu dan obat pagi.


Kami menyelesaikan sarapan lalu berangkat kekantor.


🌼


Aku sudah dimeja kerjaku dan menyusun kata-kata yang baik untuk surat pengunduran diri.


Tentu aku tak menyangka, secepat ini ternyata aku merelakan karirku berakhir. Selama ini aku pertaruhkan, ternyata secepat ini aku akhiri.


Ini memang keputusan yang sangat sulit, tetapi inilah yang harus kulakukan. Karena bukan diriku lagi yang menjadi prioritas dalam tujuan hidupku, ada tiga calon bayiku yang sedang kukandung dan aku lebih memilih mereka.


Aku tak ingin menggadaikan keselamatan bayiku karena ambisiku untuk bekerja.


Tok.. tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.


"Iya.." aku menutup file surat pengunduran diri di laptop.


"Mbak, nanti akan ada meeting sama bagian design untuk pergantian packaging kita ya" ucap Hifza sambil memberikan proposal.


"Za.."


"Iya mbak.."


"To the point aja ya"


"Maksudnya?" Hifza mengernyitkan keningnya.


"Hari ini aku mengajukan resign" ungkapku sambil memainkan pulpen dimeja.


"Apa...?!!" Wajah terkejut Hifza saat mendengar hal itu.


"Iya, hari ini aku akan memberikan surat resign pada bu Glory"


"Ada apaan memangnya mbak, kok dadakan begini?" heran Hifza penasaran.


"Aku akan menikah 14 Desember ini" kataku.


"Hah.. really.. wah selamat yah mbak, sama pak Nevan kan?" Hifza hanya memastikan.


"Hehe iya" aku sedikit tertawa mendengar pertanyaan Hifza.


"Wah.. aku gak bisa berkata apa-apa, selamat ya mbak, aku turut senang mendengarnya" terlihat antusias dari wajah Hifza.


"Makasih Za"


"Tapi kenapa harus resign?, Memangnya pak Nevan gak mau mbak kerja setelah menikah?" selidik Hifza.


"Bukan soal itu Za, hem.. aku sedang hamil" kataku sedikit berbisik.


"Apa...??!!" Hifza makin terkejut.


"Serius mbak, astaga.. ternyata kalian yah, susah memang kalau orang dimabuk cinta mah" sambil meledekku.


"Tapi kan, setidaknya mbak bisa disini untuk dua atau tiga bulan gitu. Kenapa cepat banget sih?" Heran Hifza.


"Karena... Memikirkan kondisiku yang lagi hamil kembar tiga" akhirnya aku memberitahu Hifza tentang rahasia ini.


"Ya Tuhan!!!" Hifza makin terkejut.


"Sstt.. astaga, jangan kecang-kencang, aku gak ingin orang lain tahu"


"Ah iya maaf, mbak kok bisa kembar tiga.. astaga pak Nevan, ah ga bisa ngebayangin dah" Sambil menggaruk kepalanya dengan heran.


"Ya jangan dibanyangin kali"


"Haha iya maaf, duh aku turut bahagia dengernya.. kalau memang ini yang terbaik, aku menghormati keputusan mbak.. yang penting mbak dan bayinya sehat ya"


"Amin.."


"Tapi sudah bicara dengan bu Glory?"


"Belum, sepertinya bu Glory masih meeting. Abis ini akan ke Risma untuk titip surat ini dulu"


" Yah.. gak terasa ya, kok begitu cepat sih kita berpisah.." ucap Hifza dengan sedih.


"Iya, tapi kita tetap bisa ketemuan kalau kamu ngajak ketemuan" ucapku sambil meminum air putih, rasa hausku meningkat.


"Bener yah, aku juga pasti mau liat bagaimana ponakan-ponakan aku. Pasti lucu banget deh, yaampun berasa mimpi kok aku ngomong gini yah"


"Haha.. bisa aja"


"Duh.. akhirnya ya, pak Nevan yang jadi pelabuhan terakhir kamu mbak.. nyangka gak sih bakal jadi istri mantan bos disini mbak?" Selidik Hifza.


"Haha ya gak, ketemu dia aja benar-benar gak terduga" ungkapku.


"Itu namanya jodoh mbak, mau jauh seberapa atau lama gak ketemu.


Terus sekalinya ketemu, langsung klik. Ah aku tuh kapan kayak gitu yah.." dan menghayal.


"Ya semoga kamu bisa cepet dapet jodoh yang baik yah, amin" aku mendoakan.


"Amin.."


Tok... Tok..


Tiba-tiba Chessy datang membuyarkan pembicaraan kami.


"Mbak tolong ACC, ini budget promosi dibulan Januari, mau diminta ke Accounting" ucap Chessy terburu-buru.


"Oke, mana?"


Chessy memberikan proposal itu kepadaku.


"Kalian lagi ngapain, kok tiba-tiba diem gitu sih?" heran Chessy.


"Mbak?" Hifza melirikku untuk memberitahu Chessy dan aku mengangguk.


"Mbak Jovita mau resign" akhirnya Hifza memberitahu Cheesy.


"Serius mbak, kok dadakan gitu?" tanya Cheesy tak menduganya.


"Dia mau nikah sama pak Nevan akhir minggu ini loh" ungkap Hifza lagi.


"Hah!!!" Chessy makin kaget mendengarnya.


"Yaampun, kenapa respon kalian itu bisa sama ya.." aku menggeleng kepala.


"Wah.. wah" Chessy seperti belum percaya.


"Yaudah, mumpung sudah mau briefing, yuk.." Hifza menarik lengan Chessy untuk keluar ruanganku.


Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka dan aku menyelesaikan surat pengunduran diri lalu mencetaknya.


Kuambil amplop putih panjang dilaci kerjaku dan melipat rapi surat pengunduran diri ini.


"Ini yang terbaik, aku harus kuat apapun yang terjadi" aku meneguhkan hatiku saat memastikan semua ini.


Aku berjalan menuju meja Risma, sekretaris bu Glory.


"Halo mbak Ris" sapaku yang ceria seperti biasa.


"Ya" sahut Risma sedikit ketus.


Aku merasakan hal aneh saat mendengarnya dan meyipitkan mataku karena sikap Risma tidak seperti biasanya.


"Bu Glory sudah ada diruangan?" Tanyaku.


"Belum mbak, ada apa?" Risma mencoba bersikap lebih santai, walaupun masih sedikit ketus.


"Ah iya, ini aku mau titip surat ke bu Glory. Kalau bu Glory sudah ada diruangan, mohon diberitahu secepatnya ya"


"Surat apa mbak?"


"Resign"


Seketika wajah Risma menjadi terkejut.


"Mbak serius?" akhirnya menoleh kearahku yang sedari tadi fokus menatap layar komputer.


"Ya masa bercanda.."


"Kenapa tiba-tiba resign?" Selidik Risma.


"Ya memang moment nya pas untuk seperti itu" aku mencoba menutupi dulu alasannya.


"Hem.. apa ada hubungannya dengan Alvaro?" tanya Risma.


Aku terkejut mendengar Risma menyebut nama Alvaro didepanku.


"Ah tidak, tidak ada"


"Lalu hubungan mbak dengan Alvaro apa?"


"Ah Risma mungkin bingung karena kemarin melihat kita berdua. Kita tidak ada hubungan apa-apa, hanya berteman" aku menjelaskan.


"Tapi.. mengapa Alvaro tidak menganggapnya seperti itu?"


Aku yang kini terkejut mendengarnya, tak tahu harus menjawab seperti apa. Melihat keingintahuan Risma tentang aku dan Alvaro.


"Aku tidak mengerti apa maksud kamu, tapi kita tidak ada hubungan selain teman.." aku menegaskan sekali lagi.


"Aku mencintainya mbak" Risma langsung mengatakan dengan jelas.


"Oh ya.. tapi aku sungguh tidak punya perasaan apa-apa padanya"


"Dia menolakku karena masih mencintai mbak"


Astaga, Risma makin menyudutkanku dengan pernyataannya.


"Maaf Risma, itu bukan kapasitasku untuk menjawab. Kami tidak ada perasaan apa-apa, jika dia belum membuka pintu hatinya. Mungkin kamu harus lebih keras untuk mengetuknya" aku memberi saran.


"Sudah kulakukan, tetapi dia terus menolak tanpa alasan yang jelas. Apa yang pernah mbak berikan hingga dia begitu mencintai mbak?"


Keterkejutanku dalam pembicaraan ini membuatku tak bisa berkata apa-apa.


"Risma, aku ada pekerjaan. Maaf ya" aku langsung menghindari Risma dan semua pertanyaannya.


Ada apa Risma dengan Alvaro, apakah Alvaro pernah menjalin hubungan dengan Risma.


Tapi dia sama sekali tidak membahas Risma didepanku, tetapi dari Risma.. aku mengerti perasaan Alvaro yang sebenarnya.


Selepas makan siang, Risma meneleponku karena bu Glory memanggilku untuk keruangannya, dengan gugup aku berjalan sambil menyusun kata-kata yang menjadi alasan terbaikku untuk resign secepat ini.


Tok.. tok..


Aku mengetuk pintu diruangan bu Glory dan dipersilahkan masuk.


Aku melihat bu Glory sedang duduk ditempatnya.


"Ya Jovita, mari duduk disofa" lalu berpindah ke sofa dan kami duduk berhadapan.


"Aku sudah menerima dan membaca surat pengunduran dirimu, apa yang terjadi tolong jelaskan.." ujar bu Glory dengan pertanyaanya.


"Iya bu, maaf sebelumnya saya mendadak untuk mengajukan permohonan ini.


Karena saya akan menikah bu" ucapku menjelaskan.


"Menikah?, dengan pak Nevan?" selidik bu Glory.


"I..iiya bu" ucapku terbata-bata.


"Kenapa harus resign, apakah pak Nevan tak mengizinkan untuk bekerja jika setelah menikah?" tanya bu Glory.


"Bukan itu alasannya bu, saya akan mengatakannya, tapi karena ini privacy. Saya mohon ibu mengerti"


"Baiklah, katakan.. karena saya tidak akan menyetujui jika alasannya hanya karena menikah" ujar bu Glory dengan tegas.


"Hm.. saya sedang hamil bu, ini yang mungkin saja membuat pekerjaan saya menjadi tidak maksimal" akhirnya aku mengutarakan alasanku.


"Hah.. kalian ini yah, mentang-mentang masih muda, gak nyangka pak Nevan seagresif itu" bu Glory geleng-geleng kepala seperti tak menduganya.


"Hehe bisa saja ibu.. mohon maaf jika saya sangat mendadak, karena ini memang tak memungkinkan bagi saya jika mengulur waktu sedikit lebih lama"


"Iya, seharusnya kamu punya waktu sebulan untuk pengajuan resign kamu, agar penggantimu bisa nge handle semua pekerjaan kamu"


"Iya tadinya saya mau begitu bu, tapi.."


"Tapi kenapa?" Bu Glory mulai penasaran.


"Saya.. hamil kembar tiga. Jadi bisa saja memungkinkan saya tidak maksimal untuk bekerja"


Bu Glory terlihat sangat terkejut lalu menarik nafasnya perlahan dan berpikir sejenak.


Akupun keringat dingin rasanya saat mulai memberi tahu bahwa aku hamil.


"Baiklah, memang kondisi kamu juga tidak memungkinkan untuk dapat bekerja. Saya harus kehilangan karyawan terbaik saya dan itu karena pak Nevan.." sedikit candaan dari perkataannya.


Aku menahan senyum.


"Saya akan komplain padanya saat datang kepernikahan kalian" canda bu Glory terlihat dari perubahan raut wajahnya yang tersenyum.


Akhirnya suasana kembali mencair, setelah ketegangan yang kurasakan.


"Makasih banyak ya bu, semua kebaikan dan bimbingan ibu dan selama saya bekerja disini sangatlah membantu saya mengembangkan potensi pada diri saya dalam bekerja.. terimakasih banyak telah memberi kesempatan kepada saya untuk dapat menerima tanggung jawab dalam pekerjaan" seketika aku menjadi melankolis saat mengatakannya.


"Sama-sama Jovita, saya doakan agar pernikahan kamu langgeng dan kamu lancar selama mengandung dan melahirkan ya..


Jadi kapan kamu terakhir bekerja?"


"Kamis bu"


"Apa..?" Bu Glory sungguh terkejut.


"Kamu benar-benar memberi waktu yang begitu singkat untuk mengundurkan diri yah"


"Maafkan saya ya bu, ini diluar kendali saya"


"Baiklah, tapi saya minta jika nanti benar-benar ada hal urgent, pengganti kamu akan menghubungi kamu dan kamu bisa bantu melalui telepon atau videocall kan?"


"Bisa bu, saya akan bantu semampu saya" kataku.


"Oke, itu saja.. karena sekarang saya harus memutar otak siapa yang akan menjadi penggantimu" bu Glory berdiri.


"Iya bu" aku juga berdiri.


"Sehat-sehat yah.." sambil bersalaman denganku.


"Makasih bu.."


Aku meninggalkan ruangan bu Glory dengan perasaan yang lega, setidaknya aku benar-benar telah mengajukan permohonan ini dan diterima baik oleh bu Glory, setelah kekhawatiran menghantuiku dari kemarin.


Bersambung..... ✨✨✨