
Jam 9.30 pagi waktu setempat, kami sedang bersiap untuk kembali menjelajahi negara kerajaan ini bersama.
"Sayang.. kamu baik-baik saja?" Tanya Nevan Heran.
"Iya, aku baik.. kenapa?", Aku berbalik bertanya seakan aku pura-pura tidak tahu apa yang kurasakan.
"Tidak.. hanya saja kamu tidak seperti sebelumnya.." Nevan merasakan sesuatu.
"Oh yah.. aku masih seperti biasa" sambil memasukkan beberapa benda yang kubutuhkan kedalam tasku yang berada dikasur, selama kami bepergian nanti.
"Sayang... Sini" Nevan menggeser tubuhku kehadapannya dan kini kami duduk diatas kasur.
"Jujur ya sayang, aku sekarang sudah banyak lebih tahu kamu bagaimana.. ceritakan, apa aku ada menyinggung kamu atau semacamnya? Ujar Nevan yang kini kita sudah bertatap-tatapan.
"Aku tidak ada apa-apa, semua baik" aku mengalihkan pandanganku.
"Kamu tuh masih aja menyembunyikan sesuatu, hal yang seperti ini bisa saja membuat kita mulai saling tidak memperdulikan satu sama lain, katakan apa yang mengganjal dipikiranmu" Nevan mencolek hidungku.
"Hem.. soal wanita tadi.." aku mencoba jujur pada Nevan.
"Oh Stevi, kami hanya bertemu disini saat ada acara tentang bisnis properti diseluruh dunia, tidak ada yang special diantara kita.. apa kamu sedang cemburu?" Nevan sedikit meledekku.
"Syukurlah.. cemburu, ya mungkin sedikit.. tapi.. maksudku, kamu banyak kenal wanita yang lebih dari aku, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.. aku berpikir kenapa kamu memilih aku yang menurutku biasa saja" ungkapku tercurahkan.
"Yaampun sayang... Cinta itu kan gak dari fisik semata atau lainnya, aku mencintai kamu juga ada alasannya.. bukan karena fisik atau apapun itu.
"Iya aku mengerti soal itu, tapi.." ada perasaan gundah kurasakan dan Nevan memotong perkataanku.
"Sayang, memang aku gak banyak cerita bagaimana aku suka sama kamu..
Kamu ingat gak, pertama kali kamu ada panggilan kerja dikantor kamu, kan aku yang interview kamu, aku yang akhirnya menempati kamu diposisi itu agar aku bisa selalu dekat dengan kamu. Karena sikap kamu yang polos dan menyenangkan waktu itu membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi.. saat itu aku tidak bisa mendekatimu karena aku juga masih menjalin hubungan dengan yang lain.
Dengan berjalannya waktu.. kita semakin sering berkomunikasi dan bertemu, membuatku ingin selalu dengan kamu..
Kamu ingat gak, dibeberapa kesempatan aku meminta kamu menemani aku saat ada acara meeting.. harusnya hanya aku..
tapi aku memilih ditemani kamu, karena aku ingin selalu dekat dengan kamu.." Nevan mengulang beberapa cerita mengenai kami dimasa lalu.
Astaga.. Nevan telah mencintaiku sejak kita pertama kali bertemu.. selama itu Nevan memendam perasaannya padaku, tanpa aku tahu bagaimana perasaan Nevan yang menaruh hati padaku.
"Makin hari makin bertambah menyukaimu, hubunganu dengan kekasihku saat itu yang tidak berjalan baik, membuat hati ini makin memikirkanmu.. apalagi posisi ruang kerja kamu tepat didepan ruangan aku kan.. makin sering aku mencuri pandang tentang kamu"
Omg.. kenapa baru cerita sekarang sih Nevan.. aku jadi tersanjung mendengarnya, aku ingin mendengar lebih banyak lagi tentang perasaannya padaku saat itu.
"Awalnya aku mau mengatakan sama kamu saat masih berkerja dikantor bersama kamu, tapi kupikir nanti akan menjadi beban jika kita bersama dengan pekerjaan yang mengikat. Ada beberapa faktor yang kupikirkan tentang kamu, bagaimana nanti respon rekan kerja mengenai kamu dan banyak hal.. karena kulihat kamu begitu fokus dengan pekerjaan, jadi aku memilih membiarkan kamu untuk meniti karir dahulu"
Setidaknya kamu bisa katakan sebelum kamu resign dari kantor sayang. Aku masih fokus mendengarkan cerita yang membuat hatiku meletup-letup.