
Hari menjelang sore dan aku yang masih bersama dengan Alvaro, dia mengajakku bermain ice skating. Aku tidak pernah belajar untuk dapat menguasai ice skating, ini akan menjadi hal yang baru untukku.
Walau awal mulanya aku ragu untuk mencoba hal ini, tapi Alvaro dengan sikapnya yang begitu memaksa diriku agar mau bermain ice skating bersamanya.
Semua perlengkapan sudah kami pakai, mulailah kami masuk ke area ice skating dengan perlahan. Aku yang terlalu hati-hati dalam melangkah, membuat Alvaro meledekku.
"Astaga, kita jalan seperti biasa saja Jovita.." sambil memegang tanganku untuk membantuku berjalan.
"Kamu enak sudah bisa, asli ini bukan ide yang baik, aku bisa mempermalukan diriku sendiri" aku begitu ketakutan dengan sepatu khusus saat digunakan untuk ice skating.
"Iya aku bantu, kapan lagi kamu bisa mencoba bermain disini kalau bukan sama aku" Alvaro memapahku dengan kuat.
"Untunglah aku tidak gemuk yah, jadi tidak menyulitkan mu membantuku" aku sedikit menyombongkan diri.
"Sejujurnya sekarangpun kamu juga berat" Alvaro masih meledekku.
"Alvaro..." Aku meliriknya dengan kesal yang manja.
"Iya maaf, ayo sekarang kita berdiri dipinggir dulu seperti ini, kamu siapkan diri untuk memulai agar tidak mudah jatuh karena gugup.. oke" Alvaro mulai mengajarkanku.
"Oke.. huft.." aku mengambil nafas lalu membuangnya, kulakukan untuk menghilangkan rasa gugup.
"Oke.. sekarang kamu pegang kedua tanganku, melangkah dengan perlahan dan sedikit di ayunkan" Alvaro memegang tanganku sambil membantuku berlatih.
"Seperti ini?" Aku mengikuti petunjuknya.
"Iya.. terus tapi tetap perlahan" Alvaro memperhatikan langkahku.
"Oke.." aku memegang erat tangan Alvaro yang berada didepanku.
Perlahan-lahan membuatku mulai percaya diri dan rasa gugup ini mulai mereda.
"Nah gitu dong, mudah kan.." Alvaro menyemangatiku.
"Iya.. tetap pegang aku.. aku masih belum bisa jika dilepas" aku melihat kearah kakiku melangkah dan mengayunkannya.
"Kalau merasa sedikit bisa, kamu harus bisa berjalan tanpa bantuan sesekali. Agar kamu mulai mahir melakukannya" Alvaro mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.
"No Alvaro, jangan coba-coba.. aku belum mampu dilepaskan"
"Aku tidak akan melepaskanmu, aku masih disini sama kamu" ujar Alvaro sambil menatapku.
Aku yang mendengar kata-katanya menjadi terdiam dan tiba-tiba kakiku hampir tergelincir karena melamun.
"Aww..." kini kaki kananku benar tergelincir.
Begitu cepat Alvaro meraihku dan memelukku.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Alvaro yang menangkapku dengan sigap.
Aku terkejut, mataku berkedip tak percaya aku bisa terlalu dekat dengan Alvaro seperti saat ini. Mata kami bertemu dan saling menatap.
"Eh.. gak apa, tadi aku hanya kurang hati-hati" aku memperbaiki posisiku agar tak dipelukannya lagi.
"Tapi kaki kamu gak terkilir?" Alvaro terlihat sedikit panik dan masih memegang tanganku, agar aku tetap aman tanpa tergelincir lagi.
"Iya tak apa, aku bisa berjalan sendiri" kataku.
"Baiklah kita sudahi ini, aku takut nanti akan menjadi bahaya jika dilanjutkan" Alvaro menggandeng diriku hingga kepinggir dan berada diluar jalur ice skating.
Aku yang sedikit salah tingkah, bingung mau bagaimana setelah kejadian tadi.
"Kamu benar tidak apa-apa?" Masih menanyai diriku dengan khawatir.
"Iya tidak apa-apa, gak perlu khawatir" aku yang sedang membuka sepatu dengan perlahan.
"Untunglah, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu" Alvaro juga mengganti sepatunya.
Astaga kenapa jadi bergetar hatiku melihat Alvaro menghawatirkan aku seperti ini, tidak.. tidak Jovita.. apa yang ada dipikiranku, kenapa aku menjadi mudah hanyut dalam perasaan begini. Aku sudah tetapkan pilihanku kepada Nevan, jangan bilang aku mulai goyah saat ini.
"Baiklah, hari sudah mulai menjelang malam, apa kita sudahi saja" ujarku ingin cepat menghindar dari Alvaro.
"Tidak, kesepakatannya sudah ada" Akvaro jelas menolak.
"Hemm tapi kakiku sakit..." Aku berbohong agar aku bisa pergi dari sini.
"Tidak berpengaruh" Alvaro menarik tanganku dan membuat aku berjalan bergandengan dengannya.
"Aku bisa jalan sendiri" aku melepaskan tangannya.
"Oke.. oke.. sudah langsung sembuh kan kakinya" Alvaro dengan sikap tenangnya.
Aku menatap Alvaro sambil manyun.
Kali ini kita ke cafe dengan live music, kami belum pernah kesini. Tapi dengan suasana yang tidak terlalu ramai, menjadi begitu bising dengan live music yang sedang berlangsung.
Alvaro membawaku ke lantai dua dikafe itu, jadi suaranya tidak terlalu kencang seperti di lantai bawah.
"Ini pun juga bukan jam makan malam Alvaro, mengapa kita kesini" kami duduk dan hanya tiga meja yang terisi termasuk kami dilantai dua ini.
"Kan gak hanya untuk makan saja Jovita, kita bisa sambil mengobrol lebih banyak. Apa kamu lebih memilih untuk nonton bioskop?" Ujar Alvaro.
"Tidak.. tidak, ini lebih menarik" aku membuka menu makanan dan memilih makanan yang kuinginkan.
"Katanya belum jam makan malam, tapi sudah mulai mencari makan" ledek Alvaro.
"Ya apalagi yang harus dilakukan di cafe tempat makan seperti ini, kalau bukan memesan makanan" celetukku.
"Haha iya.. iya pesan sesukamu" Alvaro membaca menu.
"Tentu.." mataku seketika menyipit untuk menjebak Alvaro karena dia yang akan mentraktirku seperti biasanya.
Alvaro melihat handphone.
"Ada yang kamu tunggu?" Aku bertanya, karena Alvaro sedikit risau saat menatap layar handphone nya.
"Tidak.. hanya saja.. waktuku akan habis untuk bisa bersamamu hari ini" dengan nada sedikit tak bersemangat.
"Kupikir kamu sudah move on dengan Della saat itu?" Aku sedikit menyelidiki.
"Yaa.. tadinya begitu.." masih menatap handphone nya.
"Lalu..?"
"Entahlah.. ada saja hal yang tidak bisa kita lewati" Alvaro membalikkan handphone nya agar matanya tak tertuju lagi.
Tak lama minuman kami datang.
Aku meminum minumanku, orange jus cukup untuk menyegarkan tenggorokan.
"Hem.. Alvaro aku musti ketoilet" sambil berdiri dan berjalan.
"Oke.." sahutnya.
Aku pergi ke lantai bawah, menuju toilet dan semua barangku tinggal dimeja.
Alvaro menatap handphone Jovita yang tergeletak di meja. Tak pikir panjang Alvaro menggapainya, mudah saja bagi Alvaro membuka semua isi dari handphone Jovita, karena tidak terkunci pada handphone nya, Jovita baru saja memegang handphone, makanya masih dalam keadaan belum terkunci.
Entah apa yang sedang Alvaro amati dalam handphone Jovita yang sekejap sudah dikembalikan lagi ketempatnya.
Aku kembali dengan makanan yang sudah tersedia di meja.
"Wow... Melihatnya saja sudah membuatku kelaparan" kataku bersemangat.
Walaupun aku belum begitu lapar, melihat makanan didepan mata, hasrat ingin menghabiskannya tentu terlintas.
"Kamu memang lapar pasti" Alvaro meledekku.
"Aku tidak begitu lapar, hanya saja makanan ini begitu menggugah selera" aku memulai mengambil makanan dan menaruhnya dipiringku.
Aku dan Alvaro mengobrol sambil makan, menikmati malam ini di cafe dan duduk di outdoor dan terasa menyenangkan.
Setengah jam berlalu, makanan ini tak terasa hampir habis karena kami melaluinya sambil mengobrol tentang kami.
"Oh iya katanya kamu akan mengirim video saat Nevan melamarku di Inggris, mana belum kamu kirim" pintaku.
"Belum yah? Okey aku kirim saat ini saja, lewat WA" Alvaro mengambil handphone dan melakukannya.
"Bonus foto kita sesaat sampai si bandara disana" usil Alvaro.
"Astaga... Kamu tuh yah" aku mengernyitkan keningku.
"Memangnya kamu tidak mau punya foto bersamaku?, Itu akan jadi kenangan saat kamu telah menikah nanti" ujar Alvaro sambil memutar matanya.
"Oh yah.." aku mengelak.
Aku terpaku dengan video yang Alvaro abadikan saat Nevan melamarku, begitu menyentuh hatiku yang terdalam, hingga tak sadar mataku telah berkaca-kaca.
Alvaro mendekatkan dirinya persis disisi kananku, entah apa yang mau dia lakukan.
"Padahal aku bisa melakukan yang lebih dari yang dia lakukan" Alvaro membisikkannya ditelingaku.
"Alvaro apaan sih?" Aku agak ketus padanya dan tubuhku sedikit menghindar darinya.
"Aku bisa memanjakanmu lebih dari dia, aku bisa membuat kamu tertawa lebih dari dia..
Aku bisa membuat kamu nyaman disisiku lebih dari dia..
Bahkan menciummu aku sudah pasti lebih darinya" Alvaro terus saja membandingkan dirinya dengan Nevan.
Aku tersentak mendengar pernyataan dari Alvaro, apa yang dilakukannya. Aku seketika menoleh kearahnya. Mata kami bertemu satu sama lain.
"Aku pikir kamu sudah melupakan semua rasa itu" aku mempertegas semuanya.
"Aku berpikir ulang, mengapa aku harus mengalah jika sebenarnya aku bisa lebih pantas darinya.. Aku juga mampu membahagiakanmu lebih darinya.." ungkap Alvaro sambil melihat mataku.
Ada apa dengan Alvaro, mengapa dia menjadi berubah.. apa yang dia pikirkan, untuk apa lagi semua ini diperjuangkan jika aku sudah tidak ingin melanjutkan hubungan ini dengannya.
Aku menatap mata Alvaro dalam-dalam, ingin mengetahui apa yang dia bicarakan itu benar adanya atau hanya candaan semata.
Tiba-tiba terdengar suara langkah menuju lantai dua tempat kami berada.
"Jovita..." Nevan memergoki kami yang sedang berdua dengan kondisi kami yang sangat dekat saat itu.
Kami menoleh kearah suara itu memanggil namaku. Aku terkejut melihat Nevan yang mengetahui keberadaan kami saat ini. Refleks aku langsung menjauh dari Alvaro dan berdiri, sambil terpaku apa yang tengah terjadi saat ini.
Mengapa ada Nevan disini, dari mana dia tahu kami disini, bukankah Nevan ada janji makan malam dengan rekan kerjanya. Arrgh pertanyaan bodoh macam apa ini yang terlintas dibenakku.
Mengapa aku tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi.
Aku masih berdiri beberapa langkah dari Alvaro, sedangkan Nevan berjalan kearahku.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Nevan dengan nada suara yang tidak seperti biasanya, sambil melihat kearahku dan Alvaro.
"Nevan aku bisa jelaskan, kita tidak ada hubungan apa-apa" aku memegang lengan Nevan yang berada disampingku.
Nevan melihat handphone ku yang berada dimeja. Melihat WA aku dan Alvaro, yang berisikan video dan foto kami berdua yang baru saja dikirimkan oleh Alvaro.
Aku hanya terpaku melihat Nevan yang mengambil handphone ku.
"Jovita sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi, foto kalian berdua.. di Inggris?" Nevan sudah tersulut emosi.
Pengunjung dimeja lain tentu memperhatikan apa yang terjadi saat ini di meja kami.
"Nevan.. aku bisa jelaskan" kataku menenangkan suasana, tapi Nevan memotong perkataanku.
"Dari foto ini saja sudah jelas apa yang sebenarnya terjadi dibelakangku.. aku pernah bertanya waktu itu padamu, apakah kalian datang bersama ke Inggris.. lalu kamu jawab tidak..
Tapi ini buktinya, apa kalian bermain dibelakangku?" Nevan menatapku tajam.
Aku tahu dia terluka, aku tahu dia kecewa padaku.
Alvaro hanya duduk santai ditempat yang sama saat Nevan memergoki kami. Tanpa bergerak sedikitpun atau berkata untuk menjelaskan, seperti mengetahui reaksi Nevan akan murka saat ini.
Aku tak bisa berkata apa-apa, lidahku seakan kelu tak mampu membela diriku didepan Nevan, lebih tepatnya tak mampu berbohong lagi pada Nevan. Aku seakan pasrah Nevan mengetahui yang terjadi.
"Jovita.. jangan temui aku lagi.." suara kecewa yang terlontar dari Nevan, seperti petir dimalam hari untukku.
Mungkin Nevan menjaga sikapnya didepan penginjung lain yang sudah memperhatikan kami, dan oergi tanpa pikir panjang.
Nevan pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasanku, atau kebohonganku selanjutnya.
Aku menangis setelahnya, aku tahu aku sudah salah malam ini, aku terlalu egois. Tak bisa menahan diri.
Hal yang ku takutkan selanjutnya telah terjadi dimalam ini.
Aku terduduk menutup wajahku yang sedang menangis, aku tahu maksud Nevan. Aku tahu kata-kata itu. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi aku tak bisa berhenti menangis.
Alvaro mendekatiku dan ingin memelukku, tapi kumenolak dan kuhempaskan tubuhnya oleh tanganku.
"Apa yang sedang kamu lakukan Alvaro?" sambil menangisi diriku sendiri.
"Aku tidak tahu mengenai Nevan akan datang kesini" ujar Alvaro.
"Lalu bagaimana dia bisa tahu kita disini?" tanyaku dengan nada suara sedikit meninggi.
"Jovita, apapun itu.. Nevan juga sudah terlanjur kecewa, mengapa kamu tidak kembali saja kepelukanku" Alvaro mengatakan keinginannya.
"Apa.. kamu masih bisa berbicara seperti itu.. sungguh ini pasti maksud tujuanmu untuk memaksa bertemu denganku" aku mencoba menebak.
"Aku tidak ada maksud seperti ini Jovita" kata Alvaro yang melihatku dalam kesedihan.
"Kamu balas dendam padaku?" aku masih menutupi wajahku yang sedang menangis.
"Kalau aku balas dendam, untuk apa aku meminta kamu untuk bersamaku lagi"
"Aku tahu aku sudah salah pernah menghianatimu Alvaro, tapi sekarang tidak untuk kembali bersama" ujarku.
"Kenapa.. katakan alasannya, aku yakin kamu masih ada cinta untukku" Alvaro masih berusaha membujukku.
Dengan menyatukan ketegaran ini, aku menahan tangis kehilanganku pada Nevan.
"Tolong jangan lagi temui aku lagi selamanya.." kataku dengan begitu sedih.
"Sebaliknya, aku akan terus berjuang untuk membawamu kesisiku" tegas Alvaro.
"Apa.. maaf Alvaro, itu takkan terjadi, lebih baik kamu pergi dari kehidupanku dan jalanilah kehidupanmu tanpa aku" mengambil handphone dan tas ku lalu pergi meninggalkan Alvaro.
Saat berjalan menuju mobil aku menahan tangis, tapi sesekali kuseka air mata yang tak bisa kutahan yang jatuh dipipiku.
Apa Alvaro menjebakku malam ini, hingga Nevan tahu keberadaanku sedang bersama Alvaro.
Mengapa Alvaro bersikap seperti ini, mengapa sekarang dia ingin berjuang lagi untuk membuatku bersamanya. Setelah sikapnya yang begitu bijak melepaskanku di Inggris saat dilamar Nevan didepannya.
Apa Alvaro mengambil handphone ku saat kutinggalkan di meja tadi, waktu aku ke toilet.
Astaga.. ini semua diluar dugaanku, mengapa tak terpikirkan olehku ini bisa terjadi.
Bodohnya aku masih mau bertemu dengan Alvaro dan menghabiskan hari ini bersamanya.
Pikiranku kalut, aku melupakan tindakan Alvaro sejenak. Memikirkan apa yang dikatakan Nevan untuk tidak menemuinya lagi, membuat hatiku sakit. Kurasakan perih mengiris hatiku saat ini.
Bersambung..... ✨✨✨