
Nevan kembali ke apartemen, melihatku yang duduk disofa menunggunya.
"Kamu belum istirahat sayang, sudah jam 7.30 malam" ujar Nevan seraya menutup pintu.
"Iya gak apa, kamu mau makan?" tanyaku.
"Kamu lapar?" Nevan duduk disampingku.
"Sedikit, kamu mau aku buatkan sesuatu?" kataku sambil tersenyum penub makna.
"Oyah.. kamu mau dibuatkan apa?" Nevan tertawa melihat tingkahku.
"Hehe aku basa basi saja, pesan makan lewat aplikasi online yah.." pintaku.
"Baiklah.." Nevan menyetujui dan memesan makanan fast food untuk kami yang sedang dilanda kelaparan.
"Kalau begitu aku mandi dulu yah" ujar Nevan.
Aku mengangguk.
Sambil menunggu makanan tiba, aku menonton televisi.
Telepon dari driver online sudah berdering dan aku turun kebawah untuk mengambil makanan yang kami pesan.
"terimakasih ya bang" aku memberikan tip untuk driver itu. Lalu naik ke apartemen.
Tak lama Nevan telah selesai mandi. Aku baru saja tiba dan menutup pintu.
Aku menawarkan Nevan air hangat.
"Sayang, minum air putih dulu biar gak dehidrasi" aku memberikannya pada Nevan.
"Makasih sayang" Nevan sudah berpakaian dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Makanan sudah datang?"
"Sudah.. ini" aku menyajikan dimeja dekat sofa.
"Ooh... Kamu tadi nonton apa sayang" tanya Nevan.
"Ini film romantis.." jawabku sambil mulai menyantap makanan setelah cuci tangan di westafel.
"Film romantis, ngapain kamu tonton.. memangnya aku kurang romantiskah?" Nevan langsung mendekatiku dengan tatapan yang bermaksud sesuatu.
"haha.. kamu lagi apa sayang?" aku tertawa dengan sikap manis Nevan.
"Mencoba romantis" ungkap Nevan.
"Kamu tuh sudah lebih dari romantis" kataku sambil menyentuh dagunya, karena wajah Nevan sudah didepan mukaku.
"Besok kita kemana, masih hari sabtu nih?" sambil meminum air putih.
"Belum tau.. malas-malasan aja di apartemen yuk" aku masih asik dengan makananku.
"No way, tidak ada lagi malas-malasan, kamu tuh sudah punya aku dan aku ingin kita menyempatkan waktu saat weekend"
"So.. kamu ada rencana apa?"
"Hemm.. apa yah, nanti jika sudah kepikiran akan kuberitahu" kata Nevan yang sudah menyelesaikan makannya.
"Okey aku baru selesai makan.. kamu masih mau nonton?"
"Iya aku belum selesai makan.." ujarku sambil menunjukkan sisa makanan dipiring yang tinggal dua sendok lagi.
"Yaudah aku temenin.."
"Makasih sayang.. memangnya habis ini kamu mau ngapain?" akhirnya aku selesai makan.
"Aku mau tidur" ujar Nevan yang sedang menonton televisi.
"Oke.. aku juga" aku membereskan piring dan gelas lalu mencuci tangan.
"kamu sudah selesai?" tanya Nevan.
"Sudah, aku tidur dulu ya, abis makan jadi ngantuk" aku berjalan kekamarku.
"Aku juga.." Nevan membututiku dibelakang.
"Ait... Aku dikamar, kamu disofa" aku menghentikan langkahku didepan pintu.
"Disofa? Serius sayang?" Nevan terkejut
"Hu'um.." aku mengangguk.
"Kamu tuh lupa, kita sudah berapa kali sekamar" Nevan mengingatkan.
"Hem.. anggap saja aku lupa" kataku memanja.
"Kita sudah tunangan loh sayang" Nevan tetap ingin masuk kekamarku.
"Iya aku tahu.. tapi baru tunangan kan.."
"Yaampun..." Nevan menggelengkan kepala.
Jovita menutup pintu kamar.
"Sayang.. masa gak ada kompromi?" Nevan masih berusaha menyakinkan.
Aku hanya tersenyum sambil menarik selimut dikasurku.
"Hem.. kalau sudah menikah, apa aku akan tidur diluar juga?" Nevan menggaruk kepalanya sekejap.
Berjalan menuju sofa dan bersiap untuk istirahat, karena Nevan juga terasa sangat lelah malam ini.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Hari sudah menampakkan matahari yang begitu cerah.
Aku membuka mata dan melihat kearah jam.
"Sudah jam 6 pagi" aku masih mengulat diatas kasur.
Aku mencoba mendengar apakah Nevan sudah bangun atau belum. Masih hening sepertinya Nevan belum bangun, aku lanjut untuk tidur kembali.
Tak terasa sudah pukul 8 pagi, lelah karena terlalu lama tertidur dan badan ini sudah cukup istirahat kini aku harus beranjak dari kasur, membuka pintu dan ingin tahu keberadaan Nevan.
Terkejut aku melihat apa yang terjadi.
"Sayang.. kamu sedang apa?" Aku mengusap mata seakan tak percaya.
"Kamu sudah bangun sayang?" seperti tak ingin menjawab pertanyaanku.
Aku mendekati Nevan yang baru saja duduk disofa.
"Kamu gak istirahat semalam?" Tanyaku.
"Aku istirahat kok, karena kamu juga belum bangun, jadi aku sedikit menata ruangan di apartemen kamu"
"Semalam berantakan sekali loh sayang, kamu tuh jangan capek-capek.. aku gak mau kamu sakit" aku membelai kepalanya.
"Makasih loh sayang, aku malah jadi gak enak kamu bersihin apartemen ini"p
"Ini gak gratis loh sayang"
"Apa.. maksud kamu"
Nevan langsung menerkamku diatas sofa.
"Kamu harus bayar dengan cinta"
Aku tertawa..
"Maksudnya bagaimana sayang?" Melihat Nevan yang telah berada diatasku yang menahan tubuhnya dengan kedua tangan.
"Iya kamu harus bayar aku.."Nevan sudah mencium leherku dan menyentuh pahaku sampai membuatku tak berkutik.
Tak lama dering telepon berbunyi.
"Bukan handphone ku" kataku memberitahu.
"Itu juga bukan handphoneku" Nevan hanya tak ingin mengangkatnya.
"Itu bunyi handphone kamu sayang.."
"Oke, sebentar yah.." Nevan mengambil handphone yang berada di meja dan menerima panggilan telepon itu.
Aku terduduk, sambil menunggu Nevan yang sedang menerima telepon. Agak lama seperti biasa, sudab hampir 20 menit Nevan berbicara ditelepon. Sambil menunggunya aku mandi dahulu, hingga sudah selesai Nevan masih menerima telepon.
Aku dikamar, merapikan sedikit kekacauan yang membuat berantakan kamarku. Akhirnya Nevan sudah selesai menerima telepon.
"Maaf ya sayang tadi ada telepon dari sekretarisku"
"Walaupun Weekend?"
"Ini mengenai pernikahan kita, dua bulan kedepan ternyata aku sudah punya janji yang terikat pekerjaan, membuat aku tak bisa cuti dalam waktu dekat.
Aku sudah membuat beberapa janji yang ku batalkan, tapi sekretarisku bilang semua sudah diundur dari aku cuti dadakan kemarin. Aku minta maaf, kali ini aku harus membereskan pekerjaanku, tapi ku janji jika sudah selesai kita dengan segera melangsungkan pernikahan.
Aku sudah menyuruh sekretarisku menghubungi beberapa vendor yang akan kita pilih nantinya. Kamu bisa menyeleksi satu per satu, sungguh maafkan aku" ungkap Nevan sedikit penyesalan.
"Kenapa perlu minta maaf, sayang.. pernikahan ini memang perlu direncanakan baik-baik. Kamu punya pekerjaan yang lebih penting, aku sangat memakluminya, dan aku tak ingin jadi alasan untuk membuat pekerjaan kamu terbebani. Kita jalani seperti air mengalir saja yah.." aku memberikan perhatian lebih padanya.
"Aku sebenarnya agak berat soal ini, sungguh aku ingin mempercepat pernikahan kita" raut wajah Nevan terlihat sayu.
"Iya aku mengerti, tidak masalah untukku. Kamu sudah bersungguh-sungguh padaku hingga detik ini, aku percaya kamu"
"Makasih ya sayang.. sabtu minggu ini harusnya aku libur, tapi sekretarisku sudah menjadwalkan makan malam dua hari ini dengan para direksi bergantian untuk tercapainya pembangunan beberapa gedung dan hotel di Jakarta.
Karena direksi mengetahui aku sudah di Jakarta, mereka membuatku harus datang, aku sungguh membuatmu kecewa yah"
"Sayang.. aku akan selalu support pekerjaan kamu, jadi kamu tak perlu khawatir dan aku tidak kecewa sama kamu"
"Aku memang harus menjelaskan ini padamu, karena aku tak ingin ada kesalahpahaman ini, makasih ya sayang atas pengertiannya" Nevan memelukku.
"Aku berusaha mengerti tentang kamu, ini juga membuat kita menjadi saling mengerti satu sama lain" ujarku dipelukan Nevan.
"Betapa beruntungnya aku dipertemukan denganmu" Nevan memelukku erat.
"Kamu mau sarapan?" tanyaku karena aku tak ingin Nevan kelaparan karena hari telah menjelang siang.
"Boleh, mau sarapan dimana?" kata Nevan.
"Dibawah sepertinya cafe sudah ada yang buka"
"Oke.." Nevan setuju
Kami turun kebawah apartemen untuk sarapan disana.
Aku memang tidak terlalu mengetahui bagaimana sibuknya Nevan dengan pekerjaaannya yang saat ini.
Tapi dihatiku, aku menjadi tidak adil membuat Nevan terlalu fokus pada hubungan ini.
Nevan terlalu memprioritaskan diriku, membuat pekerjaannya menjadi terhambat.
Apalagi setelah kita ke Inggris dan kerumah orangtuaku yang menghabiskan waktu hampir dua minggu.
Apakah aku menjadi beban dalam pekerjaannya, aku harus bagaimana, sedangkan Nevan menginginkan semua serba cepat dilakukan.
Aku tahu semua ini tidak mudah untuk dilewati, karena kita terikat dengan pekerjaan masing-masing.
Aku harus memahami Nevan lebih dari ini.
Kami makan di cafe yang berada di sekitar lingkungan apartemen. Sambil menyantap sarapan kami sedikit berbicara agak serius.
"Sayang.. aku sangat nyaman menjalani hubungan ini dengan kamu, kalau kamu bagaimana" aku membuka obrolan.
"Aku lebih dari nyaman, aku merasakan sesuatu hal yang selama ini kosong dari diriku"
"Aku senang mendengarnya, tapi.. aku tahu kamu ada pekerjaan yang harus kamu lakukan.. aku minta maaf.. " kata-kataku terpotong oleh Nevan.
"Sayang.. kamu apaan sih" Nevan seakan tak ingin mendengar hal itu dariku.
"Aku minta maaf kalau kemarin saat kita ke Inggris bersama, membuat beberapa pekerjaan kamu terhambat. Aku tidak ingin jadi beban kamu, aku ingin pekerjaan dan hubungan ini berjalan dengan seimbang, aku ingin kamu jujur jika ada pekerjaan kamu yang terhambat karenaku"
"Sayang.. kamu gak menghambat pekerjaan aku sama sekali" Nevan menjelaskan, tentu tidak ingin merasa aku menjadi beban seperti yang kukatakan.
"Iya aku mengerti, maksud aku.." perkataanku dipotong lagi.
"Oke.. aku mengerti apa yang kamu bicarakan, aku mencoba jujur tentang pekerjaan aku ke kamu, tanpa menghambat pekerjaan aku maupun kamu, begitukan..?"
Aku mengangguk.
"Tapi kamu janji, jangan ada kesalahpahaman jika aku ada beberapa pekerjaan yang aku lakukan, yang membuat pertemuan kita menjadi tidak terlalu sering"
"Tidak mungkin aku salah paham jika kamu mengatakannya padaku"
"Karena.. aku tak ingin menjauhkan hubungan kita karena pekerjaan" ujar Nevan.
"Iya sayang.. kamu tidak perlu menutupi apa yang harus kamu lakukan, tinggal kamu kabari aku, itu akan menjelaskan semuanya" aku mengangguk pelan.
"Baiklah.. tapi aku tak ingin kamu berpikir kamu menghambat pekerjaan aku. Itu sama sekali tidak benar, aku juga sudah memikirkan beberapa pekerjaan yang tidak bisa aku lakukan ke wakilku" Nevan menjelaskan lagi.
"Iya sayang.." aku mengerti.
Nevan menggenggam tanganku sambil menatap mataku.
"Aku hanya tak ingin hubungan kita menjadi terkendala karena pekerjaanku"
Aku tersenyum.
Aku seakan tahu beberapa hal yang Nevan tutupi dariku mengenai pekerjaannya, karena waktu cuti dadakan dengan banyaknya janji yang sudah terjadwal sebelumnya menjadi diundur karena aku.
Baiknya Nevan padaku membuat aku terlalu mengikatnya begitu erat.
Padahal dia ada dunianya sendiri yang harus dia jalani.