It Beats For You

It Beats For You
I can't control, you know



Alvaro yang masih terduduk dilantai tanpa memakai baju akhirnya terbangun setelah aku menciumnya, kulepaskan perlahan ciumanku.


"Bagun sayang, ini sudah malam.. kamu harus pulang" bisikku.


Tiba-tiba Alvaro menarikku keatas sofa dan merebahkan badanku diatas badannya. Dia mendekapku dan ******* bibirku perlahan. Tangannya mengibaskan piyama ku hingga hampir kebahu.


Sambil menyentuh punggungku dengan tangan kirinya dan bagian pahaku dengan tangan kanannya.


"Aku hanya memakai boxer sayang, tunggu apalagi" pintanya dengan desahan.


Kami masih berciuman entah bagaimana aku bisa menghindar dengan caranya mengunci diriku seperti ini.


Sentuhannya ditubuhku membuat gairahku terpacu dan ciumannya dibibirku membuatku lupa diri.


Alvaro masih memainkan tangannya ditubuhku, seperti tak bisa menahan diri ia mencoba membuka baju piyamaku. Perlahan kulepas ciumannya untuk berhenti menyentuh beberapa bagian tubuhku yang telah membangkitkan gairahku, tapi aku mencoba menahan semuanya.


"I love you, tapi kamu harus pulang, ini sudah terlalu malam" ujarku sambil duduk disampingnya.


"Sebentar lagi sayang, aku baru aja melek. Udah mancing abis itu aku dibiarin" Alvaro masih mencoba menggodaku dengan mencium sekeliling leherku.


"Tunggu sampai aku benar-benar melek sayang" pintanya.


"Aku bikinin teh hangat ya, biar badanmu juga hangat" aku masih berada dipelukannya yang masih menjilati leherku.


"Begini juga aku ngerasa hangat" Alvaro tiba-tiba berdiri. Lalu menarik tanganku menuju kamarku.


"Hei aku benar-benar tidak ingin loh" tegasku. Terlambar aku sudah direbahkan kekasur olehnya.


"Aku tidak berbuat kearah situ, kali ini aku ingin mencumbumu saja" masih menciumi leherku dan kembali menyentuh tubuh dan pahaku.


"Lama-lama juga kearah itu sayang" aku menahan tangannya untuk bertamasya ditubuhku.


"Aku janji, aku cuma mau bermesraan sama kamu. Aku benar-benar ingin seperti ini saja" Alvaro menatapku dengan kata janjinya.


Aku tak bisa menolaknya lagi dan aku mencoba percaya apa yang Alvaro katakan.


Alvaro menjamah disetiap lekuk tubuhku, tangannya kembali merengkuh punggungku dengan lembut, sentuhannya sangat membuatku terlena.


Paha dan kakiku pun tak luput dari perhatiannya, menambah keinginan rasa ini karena menikmatinya.


"Aah" ku balas mencium tubuhnya yang rata dan sixpack itu dan juga dadanya. Aku terhanyut dan terbawa suasana. Sentuhannya memabukkanku, membuatku ikut dalam ramuannya.


Dia masih mengulangi terus menerus sentuhan dan ciuman yang membuatku mendesah. Tubuh Alvaro yang tegap dan gagah membuatku terus merasakan keindahannya, makin lama kita terhanyut dalam asmara ini, Alvaro perlahan menurunkan celana piyamaku tanpa ada lagi perlawanan dariku, seperti aku tidak menyadarinya. Secepat itu celana piyamaku sudah terjatuh kelantai yang kini tinggal celana dalam yang masih kukenakan.


Dia masih menghujaniku dengan sentuhan dan jilatannya kearah perutku dan sekarang menjarah baju piyamaku, membuka satu per satu kancing yang melekat dibaju.


Oh tidak Alvaro membuatku lupa segalanya, lupa untuk menolak semua ini. Seketika baju piyama ku sudah terlepas dari kancingnya, diturunkan perlahan tanpa sepengetahuanku dengan terjebak dalam ciuman dahsyatnya yang tak bisa kuhindari karena aku sudah terlena dibuatnya.


Baju yang kukenakan diturunkan perlahan dari tangan kiriku, tak lupa ia kecup bahuku dengan nafsu. Dimainkan tangannya untuk membuatku merasa terbawa oleh sentuhannya. Lalu dia lakukan lagi di tangan sebelah kananku, sekarang aku hanya memakai bra dan celana dalamku saja.


Makin liar Alvaro menciumiku dari leher dan turun kedadaku, dia menjilati dadaku yang masih memakai bra dengan sangat bernafsu dan turun kearah perutku.


Setelah puas menjamah seluruh badanku, Alvaro mengulingkan badannya dan menaruh badanku diatasnya. Kurasakan Mr.P yang sudah kurasakan membesar dari sebelumnya. Yah aku bisa merasakannya, sangat dekat diantara himpitan tubuh kami dan hanya terhalang pakaian dalam ini.


Aku tak bisa menahan rasa ini, ciumannya membuyarkan prinsipku. Dia mulai menggesek-gesekkan Mr.P yang berada tepat dibawah perutku. Oh tidak aku tau ini sudah membutakan logikaku, aku tau aku juga ingin melakukannya.


Aku hanya cukup melepas pakaian dalamku dah kami akan terpuaskan satu sama lain.


Alvaro menggiring gairahku kesana, OMG ciumannya makin membuat hatiku berteriak. Aku benar-benar menikmati cumbuan luar biasa ini. Aku tak bisa menolaknya, tak bisa menghentikannya dan aku akan mengikuti kearah mana dia akan membawaku ke kenikmatan ini.


Sekilas aku mengingat kembali bagaimana hubungan yang dulu telah kami jalin selama beberapa tahun yang lalu, dimana Alvaro sangat mencintaiku dan menerima aku apa adanya, dia tak berubah walaupun saat kuliah dulu dia termasuk mahasiswa tampan dikampus kami.


Tak sedikitpun dia melukai hatiku karena wanita lain, padahal banyak wanita dari fakultasnya yang menginginkan Alvaro menjadi kekasih.


Harusnya aku tetap menggenggam tangannya walau aku menginginkan karirku menanjak, tapi kenyataannya aku terlalu egois dan memilih untuk meninggalkan lalu melupakannya.


Malam ini...


Setelah semua yang kami lalui, perpisahan yang dipaksakan, seakan semua dilimpahkan ke kerinduan yang terpendam terlalu lama.


Haruskah aku melanjutkan apa yang sedang terjadi dimalam ini atau harus menahan semua hingga kami menikah nanti.


Bersambung..... ✨✨✨


Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.


Semoga terhibur.


Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..


Thankyou 💓