
Malam hari tiba, Alvaro sedang menunggu kedatangan Bella dimobil, yang sudah Alvaro kabari via WA, hanya untuk menghindari pembicaraan seantreo pekerja di rumah sakit.
Sesekali menatap handphone untuk melihat balasan dari Bella. Tak lama, Bella datang mengetuk pintu mobil Alvaro dan masuk kedalam mobil.
"Hay.. maaf jika agak lama ya" ucap Bella dan memakai seatbelt.
"Gak apa, aku maklum kok. Kalau begitu kita bisa pergi sekarang" ucap Alvaro dengan senyuman.
"Mau kemana?" tanya Bella.
"Ini rahasia, semoga kamu belum pernah kesini" Alvaro melajukan mobilnya ketempat yang dituju.
"Oke.. aku jadi penasaran.." senyum Bella.
Alvaro dan Bella sudah tiba ditempat yang dimaksud. Ternyata ini restoran unik dengan adanya konsep dance floor.
"Kita tidak perlu berdansa jika kamu tak ingin, aku hanya berpikir ini tempat yang unik yang harus dikunjungi" Alvaro beralasan.
"Kita lihat nanti ya" Bella terlihat tertarik pada dance floor yang sudah diisi oleh beberapa pasangan itu.
Alunan musik juga menjadi pendukung untuk para pengunjung dalam menikmati suasana terkesan romantis.
Alvaro mempersilahkan Bella untuk duduk lebih dahulu.
"Baiklah, bagaimana kita pesan makanan.. memang lumayan telat untuk jam makan malam, tapi jika melihat menu disini tentu tak akan melewatkan" Alvaro membuk menu makanan.
"Aku akan dengan senang hati memesan makanan disini" ujar Bella dan memilih beberapa makanan untuk disantap.
Alvaro dan Bella makan malam yang bertempat digedung lantai 10, dimana suasana akan terlihat memukau dari samping jendela, pemandangan kota metropolitan dengan banyak gedung pencakar langit dan lampu yang saling menghiasi.
"View nya sangat bangus, tempatnya juga menyenangkan. Kamu pandai memilih tempat ini" puji Bella.
"Hanya dapat rekomendasi dari seseorang"
"Oyah.. wah kalau begitu aku terkesan sama kamu, untuk mendapatkan rekomendasi tempat yang menyenangkan seperti ini"
"Mau coba red wine?"
"Sebenarnya aku mau, tapi tak bisa.
Aku ada jadwal operasi setiap hari, kecuali minggu.
Akan mengurangi konsentrasi jika aku meminumnya" ungkap Bella menolak secara halus.
"Kalau begitu kita lakukan dihari sabtu?"
"Apa kamu mengajakku untuk mabuk?"
"Tidak, hanya untuk menikmati sesekali minuman seperti itu" sambil tersenyum menggoda.
"Baiklah, jika kamu mau tanggung jawab jika aku mabuk nanti"
"Haha.. baiklah, kalau begitu aku tidak bisa minum banyak karena harus menjagamu" canda Alvaro sambil tertawa dengan pelan.
Alvaro dan Bella pun tertawa bersama, oleh candaan kecil.
Setelah menikmati beberapa saat makanan yang sudah tersedia dimeja, akhirnya makanan hampir habis, ternyata Bella tertarik untuk berdansa dan mengajak Alvaro agar turun ke lantai dansa.
"Ayo kita lakukan, sudah berada disini sepertinya kurang jika kita tidak berdansa" Bella melirik kelantai dansa.
"Dengan senang hati" Alvaro menggapai tangan Bella untuk mengajaknya berdansa.
Suara musik ini membuat para pasangan lainnya terhanyut dalam buaian.
Alvaro dan Bella dalam posisi berdansa, membuat keduanya berhadapan dan begitu dekat.
"Ini suatu hal menakjubkan bagiku, karena baru kali ini aku kesini" ujar Bella sambil berdansa ringan dengan Alvaro.
"Apa kamu menyukainya?" Tanya Alvaro sambil menatap Bella yang begitu dekat dihadapannya.
"Iya" Bella membalas tatapan Alvaro dan tanpa sadar Bella sedikit mengigit bibirnya.
Sambil berdansa dengan santai, Alvaro dan Bella masuk ke topik pembicaraan hal pribadi.
"Apa aku yang tak menyadari, karena baru bertemu denganmu?"
"Kupikir, kamu terlalu fokus dalam suatu hal yang aku tidak tahu itu. Aku juga memperhatikanmu"
"Oyah.. bagaimana aku bisa tak menyadarinya?"
"Mungkin kamu harus sedikit relax, agar mengetahui siapa saja yang ada disekitar kamu"
"Itu pasti, bagaimana jika aku mulai memperhatikanmu.. apa kamu mengizinkan?" pinta Alvaro.
Langkah demi langkah saat berdansa membuat keduanya begitu menyatu.
"Kenapa tidak kamu lakukan saja, aku tidak keberatan"
"Melihatmu begitu dekat seperti ini, bola matamu terlihat begitu mempesona" puji Alvaro.
"Benarkah?" Bella terlihat tersipu malu.
"Ah maaf aku jadi banyak bicara, itu mengalir begitu saja"
"Kali ini aku maafkan" ucap Bella sambil menahan tawa.
Alvaro pun ikut tertawa, suara tawa Alvaro begitu maskulin membuat Bella makin terpukau.
Malam ini Alvaro benar-benar menggoda Bella hingga Bella pun terbawa suasana.
Jam 9.25 malam, Alvaro yang mengetahui pekerjaan Bella yang mempunyai resiko, jika tidak memiliki istirahat yang cukup.
Alvaro mengantarkan Bella pulang, hingga sampai dirumah Bella.
"Baiklah, sebelumnya saya minta maaf ya bu Dokter jika terlalu larut mengantarkan pulang" ucap Alvaro sedikit bercanda.
"Haha kamu apaan sih, setidaknya jam 10 malam, masih batas wajar..
Terima kasih ya ajakannya dan hati-hati dijalan" sahut Bella yang bersiap untuk turun dari mobil Alvaro.
"Okey.." Alvaro memastikan Bella masuk kerumahnya dengan aman, baru berlalu untuk pulang.
Bella yang masuk kerumah sambil tersenyum malu-malu.
Hingga langkahnya terhenti melihat sosok pria sedang menunggu diteras rumahnya.
"Bella.." sapa pria itu.
"Sedang apa disini?" tanya Bella dengan heran.
"Aku mau bicara" ujar pria yang mulai mendekati Bella.
"Bell, dengerin aku dulu.." Randi mantan kekasih Bella, kini menghalangi Bella untuk masuk kerumahnya.
"Jangan datangi aku lagi, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa" Bella menghindari Randi dan berjalan menuju pintu dengan terburu-buru.
"Bella, kenapa kamu seperti itu" Randi menahan langkah Bella untuk masuk kedalam rumah.
"Aku tidak pernah memberikan kesempatan apapun untuk kamu. Jadi pergilah, lupakan aku karena aku sudah lama melupakanmu" Bella menghindari tangan Randi yang menghalangi Bella untuk masuk, lalu mengunci pintu.
"Gila yah Randi ngapain juga kesini, dia yang selingkuh dia yang maksa untuk kembali. Jangan harap aku menginginkan itu" sambil meletakkan tas juga sepatu ketempat semestinya.
🌼
Nevan dan Jovita yang sedang bersantai di sofa, sambil menonton televisi dan aku tentunya sedang mengemil biskuit untuk cemilan malam hari.
"Sayang, rasanya mulutku pahit banget, makan rujak enak kayaknya" kataku yang sedang bersandar dibahu Nevan yang menonton televisi.
"Astaga sayang, ini sudah malam.. pasti sudah banyak tempat tutup" heran Nevan yang belum mengerti keadaanku yang sedang mengidam.
"Tapi rasanya gak enak dari mulut hingga tenggorokan ku, mau yang asem pedes gitu deh.. pasti enak" aku tetap bersikeras.
"Sayang, kamu sudah mulai ngidam ya?" akhirnya Nevan menyadari keinginanku.
"Masa ini ngidam sih sayang" aku pun terheran.
"Baiklah, dengan cara apapun aku akan mencarinya.. tunggu yah nak, semoga papa bisa mendapatkan sebelum mama kamu ngantuk" sambil mencium perutku.
Aku yang tertawa melihat sikap Nevan yang bicara pada anak didalam perutku.
"Sayang kamu mau keluar?" tanyaku melihat Nevan terburu-buru memakai jaket.
"Iya sayang"
"Beli online saja bagaimana sayang, udah jam 9 malam, aku gak mau kamu kenapa-napa" ujarku memberi saran.
"Aku akan baik-baik saja sayang" Nevan memakai sepatu. Bersiap untuk mencari makanan yang aku inginkan.
"Tapi kalau gak ada, pulang aja yah.." kataku mengingatkan.
"Iya, nanti aku telepon kamu ada atau gak nya ya.. kamu jaga diri disini.
I love you" sambil mencium keningku lalu pergi.
Aku menutup pintu, ada perasaan bersalah membuat Nevan bela-belain untuk mencari makanan yang membuat aku tak tahan untuk tidak menikmatinya.
Aku menunggu Nevan dikamar sambil rebahan, sedikit melepaskan penat seharian ini.
Setengah jam sudah aku menunggu, mulai kurasa kegelisahan. Aku takut terjadi apa-apa olehnya.
Satu jam menunggu, aku memutuskan menelepon Nevan dan mengetahui kabarnya.
Tapi Nevan belum dapat dihubungi, perasaanku makin gelisah, mungkin saja ada yang terjadi padanya.
Aku mencoba sedikit bersabar, hingga Nevan dapat menghubungiku.
Satu jam setengah, Nevan meneleponku.
"Sayang.. sayang kamu ada dimana, kalau memang susah dicari. Kembali ke apartemen, ini sudah larut malam" kataku begitu khawatir dengan keadaannya.
"Aku sudah diapartemen, lagi mau naik lift dan aku mendapatkannya.. tunggu sebentar lagi yah" sahut Nevan ditelepon.
"Syukurlah, cepat datang kesini" akhirnya kekhawatiranku sirna.
Nevan datang dan aku langsung memeluknya.
"Kenapa lama sekali, harusnya kamu mengabari aku.. aku takut terjadi sesuatu sama kamu" entah mengapa aku menangis sesegukan sambil memeluknya.
Nevan memeluk dan menenangkanku.
"Iya maaf sayang, aku saking fokusnya mencari rujak malam-malam. Jadi lupa ngabarin kamu..
Nah ini aku sudah dapat rujaknya sayang, untunglah buah-buahannya fresh.. jadi aman untuk dikonsumsi" Nevan mengajakku duduk dikursi makan dan Nevan memindahkan rujak itu ke piring bersih.
"Nah makan yuk.." ajak Nevan dengan sumringah karena mendapatkan keinginanku.
Aku yang masih sedikit ngambek, mencoba mulai memakan rujak ini.
"Bagaimana, enak?" tanya Nevan penasaran.
"Iya enak, mangganya aku suka. Kamu juga makan dong sayang" aku menyuapi buah jambu ke Nevan.
"Enak, kamu yang makan dong.. kan kamu lagi kepengin makan ini" ujar Nevan agar aku dapat menikmati rujak ini sendirian.
"Jadi kamu gak suka makan makanan yang aku makan?" Seketika suasana hatiku berubah kacau.
Nevan yang terkejut melihat sikapku, sedikit bingung.
"Bukan sayang, maksud aku.." belum menyelesaikan kata-katanya, sudah kupotong dengan perkataanku.
"Makan gak.." aku memaksa Nevan dengan sedikit tatapan diskriminasi.
"Oke.. iya kita makan sama-sama yah" Nevan mengikuti keinginanku.
"Rasanya seger banget ya, bikin tenggoronganku nyaman" aku yang baru saja menghabiskan 4 potongan kecil buah rujak itu.
"Iya, kalau makannya siang mungkin lebih enak kali yah sayang" celetuk Nevan.
Tiba-tiba aku menatap Nevan dengan jutek.
"Hem.. kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kataku" Nevan melihat sikapku yang tidak biasa, menjadi makin bingung.
"Jadi kamu gak suka aku makan rujak malam-malam?" aku terus saja memburu Nevan dengan prasangka ku.
"Astaga.. bukan itu maksud aku sayang, kamu kenapa jadi moodyan gitu?" Nevan betul-betul tidak mengerti aku yang begitu cepat berganti-ganti sikap.
"Ini juga enak dimakan malam hari, nih aku makan nih" sambil memakan rujak dengan perasaan takut menyinggung perasaanku.
"Aku sudah kenyang, kamu habiskan.. sepertinya kamu doyan" celetukku sambil minum air putih.
"Ya..ya..yaampun.. bukan maksudku doyan juga sayang.." kali ini Nevan sangat amat bingung menyikapi diriku yang seperti ini.
Aku berlalu kekamar, dengan menyeret-nyeret langkahku begitu terdengar.
"Astaga.. apa ini namanya menghadapi ibu hamil" Nevan tidak tahu bagaimana bersikap baik didepanku yang sedang tidak stabil.
Sambil memegangi kepala, Nevan terlihat serba salah dihadapanku.
Bersambung..... ✨✨✨