It Beats For You

It Beats For You
I guess I over complicate



Handphone ku berbunyi disela-sela pembicaraan. Nomor tidak dikenal, biasanya mungkin itu penawaran kartu kredit atau hal lain, lebih baik kumatikan saja.


"Apa telepon dari kantor?" Tanya Nevan.


"Bukan, biasanya kalau nomor tidak dikenal penawaran dari bank atau hal lain"


"Oh iya memang kadang seperti itu, by the way kamu mau nambah lagi?" tanya Nevan menawarkan.


"Ah tidak, ini sudah cukup" ujarku.


"Baiklah bagaimana jika aku antar kamu kembali kekantor?"


"Oke.." sahutku.


Setelah Nevan membayar semua billing tagihan, kami kembali kemobil dan menuju kantorku.


Saat dimobil Nevan begitu bersemangat menceritakan sedikit lelucon untukku, membuat aku tertawa mendengarnya.


Setiba dikantor.


"Makasih ya, aku senang bisa makan siang dan bertemu kamu" ujarku sambil menggapai tangannya.


"Dengan senang hati princess" sahut Nevan dan mengecup tanganku dengan pelan. "Nanti aku jemput kamu ya, kamu lagi bawa kendaraan?"


"Hari ini sedang tidak"


"Oke, nanti aku yang akan anter jemput kamu ya, hati-hati sayang" kata Nevan.


"Iya sayang" ujarku sambil tersenyum malu.


Uuuu.. bahagia banget gak sih cuman dipanggil sayang aja hati ini dah kegirangan. Astaga aku benar-benar telah jatuh cinta padanya.


Aku turun dari mobil Nevan dan menuju lobby untuk keruanganku.


Hifza meneleponku.


"Ya Hifza, baru sampai kantor kenapa?" jawabku ditelepon.


"Mbak mending lo visit kemana kek.. ini kayaknya ada cowok yang waktu itu makan dicafe sama lo mbak, dia nunggu diruang tunggu" ujar Hifza terburu-buru ditelepon.


"Hah.. Alvaro disana, lo lagi dimana sekarang"


"Dari tadi?"


"Ada 10 menit disini"


"Lo gak bilang gue lagi gak dikantor?"


"Udah, gue suruh resepsionis bilang gitu.. tapi dia mau nunggu sampai dia mau pergi sendiri katanya. Lo belum pilih siapa yang jadi pacar lo mbak?"


"Semalam gue putusin dia, tapi dia gak mau.. aah yaudah gue gak ditempat hari ini. Nanti infoin ke bu Glory ya"


"Oke, duuh ada ada aja lo ya mbak, jadi gue yang deg-degan.." ujar Hifza.


"Iya, thanks dah kabarin gue, kalau ada perlu WA aja atau email ok" aku menutup telepon.


"Oke mbak.. sebelum ada perang dunia disini untung gue tadi lagi lihat dia didepan"


"Iya.. iya oke bye.."


Tanpa pikir panjang, aku menelon Nevan. Menanyakan apakah aku boleh pergi dengannya hari ini, lalu Nevan yang baru saja meninggalkan kantorku memutar balik kendaraannya dan sekarang sedang menjemputku lagi.


Aku memeriksa handphoneku. Kulihat ada banyak sms yang Alvaro kirimkan dari nomor lain yang aku tidak tahu, dan ini diluar dugaanku. Alvaro masih berusaha menghubungiku dari nomor lain.


Sms Alvaro begitu banyak, kucoba membacanya satu persatu sebelum Nevan menjemputku.


"Jovita, kamu dimana. Kenapa kamu pergi begitu saja dari hotel"


"Kenapa nomor aku tidak bisa menghubungi kamu, ada apa lagi sekarang. Kamu sudah berjanji untuk tidak seperti ini, lalu mengapa kamu seperti menghindariku"


"Aku tadi keapartemenmu dan kamu tidak ada, mobilmu juga masih ada di apartemen. Sekarang aku akan menunggu kamu dikantor, apapun yang terjadi aku berusaha untuk bisa bersama denganmu"


"Tidak ada penjelasan atau balasan dari kamu, aku sudah lama menunggu kabar. Kamu dimana, hari ini aku izin tidak masuk kerja untuk bertemu kamu"


"Aku akan terus menghubungi kamu, sampai kamu bisa menjelaskan semua ini"


"Apa semalam kamu telah berbohong padaku, kita hampir bercinta semalam tapi kamu tetap ingin menghindariku, asli kamu keterlaluan sayang"


"Sayang please kabarin aku, entah apa yang akan kamu katakan, mohon kabarin aku, kita ketemu dan bahas ini. Aku tunggu"


Tak lama Nevan datang, spontan aku mematikan ponselku. Menghindari hal yang bisa mengacaukan hariku dengan Nevan.