
Jam 8 malam, mobil Alvaro baru saja berhenti didepan lobby apartemen.
"Sebenarnya kita tak harus setiap malam makan diluar.." ujarku sambil merapikan tasku, karena akan turun dari mobil.
"Tak mengapa, aku suka melakukannya selama dengan kamu.." sahut Alvaro.
"Ini akan menjadi pemborosan.." jelasku.
"Aku tidak keberatan.." sambil tersenyum padaku.
"Hem.. yasudah, hati-hati dijalan.."
"Gak ada kiss untuk aku..?" pinta Alvaro.
Aku terhenti mendengarnya.
Tak lama handphone ku berbunyi.
"Mbak Risma.. maaf aku perlu menerima telepon ini, yasudah kamu pulang saja yah.. bye" aku bertanya-tanya mengapa mbak Risma tumben meneleponku diluar jam kantor.
"Okey.. okey.. besok aku jemput lagi yah.." Alvaro pun berjalan pulang.
Aku menerima telepon mbak Risma.
"Halo mbak Risma.." aku menerima telepon sambil berjalan menuju lobby apartemen.
"Halo mbak Jovita, maaf agak malam mengatakannya karena aku baru saja lihat email, pengajuan diri mbak Jovita ditolak.." kata Risma tanpa basa-basi.
"Maksudnya.. tadi bu Glory bukannya sudah menyetujuinya..?" Langkahku terhenti didepan pintu kaca lobby apartemen setelah mendengarnya.
"Aku belum tahu mengapa, tapi aku hanya bisa menginformasikan saja mbak.." ujar Risma.
Pandanganku tertuju pada pria didepanku, pria yang didepan pintu dan sedang berdiri berhadapan denganku.
Aku tak bisa mengatakan apa-apa, hanya suara samar yang terdengar dari telepon yang perlahan turun dari telingaku.
Aku yang terkejut melihat Nevan sedang diapartemenku.
"Mbak.. mbak Jovita.." suara mbak Risma yang masih ada disambungan teleponku.
"Oh.. iya mbak maaf aku hanya terkejut mendengarnya, terima kasih infonya yah.. sepertinya aku tahu alasannya kenapa.." kataku sambil mengedipkan mata, memastikan mataku tidak salah dengan apa yang aku lihat saat ini.
"Oh yah.. yasudah itu saja mbak, malam.."
"Terimakasih mbak.. malam.." aku menutup telepon.
Kami hanya terpaku saling pandang, kakiku rasa gemetar untuk melangkah saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan.. mengapa ada Nevan disini, apa dia yang membuat mutasi ku dibatalkan.." batinku, aku seperti mematung diluar lobby.
Entah apa yang dipikiranku, aku menghindari jalan menuju lift utama karena Nevan didepanku. Aku pergi meninggalkan Nevan, berjalan cepat kearah kanan, untuk memutar lewat basement.
Nevan pun terkejut, mengapa Jovita malah menghindar darinya.
Nevan mencoba mengikuti Jovita yang sudah jauh didepannya.
Situasi sekitar apartemen sunyi karena sudah menjelang larut malam.
"Apakah dengan menghilang dan menghindar dariku membuat kamu nyaman..
Kamu salah Jovita" ujar Nevan dengan sedikit berteriak agar terdengar olehku.
"Apa aku harus menjemputmu di Singapore seperti yang ku lakukan saat di Inggris?" Teriak Nevan lagi.
Langkahku terhenti dan aku berbalik.
"Maaf Nevan, kesalahan ini tidak darimu, ini semua kesalahanku. Aku mengerti dan kuharap kamu pergi dari sini" kataku yang membuat mataku berkaca-kaca.
Nevanpun menghentikan laju kakinya.
"Ijinkan aku membicarakan ini baik-baik, kita bisa cari tempat untuk bisa meluruskan semua ini" perlahan Nevan mulai melangkah kearahku.
"Maaf Nevan.. kamu berhak bahagia tapi bukan denganku, tidak perlu kita luruskan apapun. Aku sudah menerima apa keputusanmu dan kuhargai itu" aku makin berlari menuju lift lewat basement dan membuka pintu dengan id card penghuni dan menutupnya membuat Nevan terkunci diluar.
"Maafkan aku, hari itu aku terlalu cemburu buta, mari kita bicara" pinta Nevan.
Aku yang melihatnya terkunci didepan berlalu meninggalkannya begitu saja.
Aku menangis tak kuasa menahan air mata ini, aku masuk ke lift.
"Maafkan aku Nevan, harusnya kamu tidak membatalkan pengajuan diriku. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi antara kita. Sungguh aku sudah menyerah.." batinku menangis.
Aku masuk ke apartemen, menutup pintu dan terduduk didalamnya sambil menangis.
Sedangkan Nevan hanya mematung dipintu yang tertutup.
"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan yang telah kubuat berantakan ini" pelan Nevan.
Tak berhenti disitu, Nevan memutar dan mengambil posisi untuk membuat Jovita dapat melihatnya dari jendela apartemen.
Nevan mencoba menghubungi Jovita tapi tak diangkat, dengan cara lain Nevan WA jovita.
"Aku akan duduk disini hingga kamu bisa bicara denganku, akan kutunggu walaupun hingga pagi, kamu bisa melihatku dari jendela jika kamu tidak percaya"
Aku membacanya, hatiku makin teriris.
"Apa yang dilakukannya, aku sudah merelakan hubungan ini berakhir. Aku sudah berpikir semua ini salahku, aku berjanji tak kan kubuat kesalahan lagi pada kalian, aku tak ingin kalian menghubungiku lagi" aku menangis sejadi-jadinya.
Aku berjalan perlahan menuju jendela seperti yang Nevan bilang. Mengintip apakah benar yang dikatakannya.
"Astaga.. tidak mungkin.." aku terkejut mengapa Nevan malah menungguku dibawah.
Aku tak tahu harus bagaimana, mengapa aku harus dihadapkan disituasi yang menyulitkanku seperti ini lagi.
Air mataku mengalir melihat apa yang dilakukan Nevan. Aku bersembunyi dibalik tirai sambil menatapnya dari jendela kamarku, aku berusaha menenangkan pikiranku sejenak. Menarik nafas dan melepaskannya perlahan, agar hatiku sedikit tenang.
Aku berpikir mungkin dia hanya sebentar disana, sudahlah mungkin aku harus tega untuk tidak memberi kesempatan Nevan bicara padaku.
Aku membersihkan diri dan menyegarkan pikiranku yang tersiram air hangat.
Setengah jam sudah Nevan yang duduk dilantai, di tower seberang sendirian.
Aku mengintipnya lagi setelah berpakaian, apakah dia sudah pulang.
Ternyata Nevan masih menungguku dan aku hanya rela menatapnya dari sini.
"Dia harus pergi atau dia akan sakit" rasanya aku tidak tega melihat Nevan terlantar seperti itu.
Nevan dengan sabar menunggu kabar dari Jovita, memikirkan apa yang akan dikatakan nanti saat Jovita mau menemuinya.
Bersambung..... ✨✨✨