
Clara yang dengan gaya sexi dan cuek tak memikirkan kehadiranku disana.
"Aku tunangannya.." ungkapku untuk Clara mengetahuinya disaat tidak ada yang memulai pembicaraan.
"So..?" Respon Clara singkat.
"Aku kurang nyaman kamu terlalu dekat dengan Nevan tanpa tahu jaga jarak" sahutku.
"Hay girl, aku dan Nevan lebih lama kenal ketimbang kamu, lalu kamu yang tiba-tiba datang dikehidupannya merasa aku terlalu dekat.. really?" Clara terlihat angkuh saat mengatakan itu.
"Setidaknya kamu lebih mengerti ada aku tunangannya jelas didepan kamu"
"Lalu.. kalau dibelakang kamu kita boleh ngapain aja?" Clara mengambil segelas wine yang tersedia di meja dengan tatapan bak persaingan denganku.
"What are you talking about.." aku tidak paham maksudnya.
"Kamu dengar kan, aku gak mau dibayar uang.. aku dan Nevan sudah lama kenal, tapi sayang kita belum pernah saling merasakan.." apa yang dibicarakan Clara makin membuat pikiranku terbakar.
"Walaupun hanya satu malam, itu sudah lebih dari cukup" dan meneguk wine dengan elegan.
"Are you crazy?" aku mulai meledak.
"Not yet.. maybe setelah kita melakukannya" sambung Clara.
Aku mengambil nafas dalam-dalam, hati ini sungguh tidak terima semua perkataan Clara yang sungguh tidak tahu diri sebagai sesama wanita. Mengapa dia bisa berpikiran seperti wanita murahan.
"Menurutmu apa Nevan akan mengiyakannya?" Senyum sinis Clara membuatku tertusuk.
Nevan kembali.
"Maaf lama.. aku sudah menghubungi sekretarisku dan malam ini akan aku..."
Aku memotong perkataan Nevan.
"Sayang.. tidak perlu. Aku tidak menginginkannya, teman wanitamu punya niat buruk padamu" aku berdiri disamping Nevan dan mendekap lengannya disisiku.
"Apa maksud kamu Jovita, tenang saja kamu tidak perlu mengambil hati perkataan Clara, mungkin kamu baru ketemu, jadi belum mengenal dia" Nevan mencoba menenangkanku.
"Tidak perlu mengenalnya lagi, aku sudah tidak ingin bertemu dengannya, juga kamu, aku tidak ingin kamu menemuinya lagi" aku sudah terbakar api cemburu.
"Clara.. jangan bilang kamu menganggunya" Nevan ingin tahun sebenarnya hingga membuat aku begitu marah.
"Entahlah.. mungkin pemikiran orang Inggris dan Indonesia kita berbeda" masih meneguk wine.
Amarahku semakin tersulut saat Clara mengatakan itu.
"Nevan, aku ingin kita pergi sekarang" aku mendesak.
"Tak masalah.. call me later" dengan menggenitkan matanya ke Nevan.
Aku langsung menarik Nevan pergi dari restoran yang disinggahi makhluk liar itu.
Setelah Nevan membayar semua pesanan tadi, kami keluar dari restoran itu.
Nevan menahan senyum diwajahnya sambil melirikku. Aku yang berada disisinya masih kesal dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sayang.. kamu tuh kenapa sih, kok gak seperti biasanya.. kamu cemburu?" Pertanyaan Nevan terdengar seperti meledekku.
"Aku gak cemburu, tapi.. kamu gak merasa perilakunya sedikit aneh sama kamu?" Aku menggerutu sambil berjalan beriringan.
"Lalu kalau bukan cemburu, ini namanya apa?" Nevan melingkarkan tangan dibahuku.
Aku hanya merajuk kesal.
"Yaudah cepet kita pulang sekarang" aku menggerutu.
"Tuh kan.. cemburu. Memang Clara bicara apa tadi" selidik Nevan.
"Aku tuh bingung yah sama kamu, kok bisa berteman dengan wanita nakal seperti itu"
"Kenapa kamu bicara begitu, ayo jelaskan.."
"Jelas-jelas dia menggoda kamu didepanku, sekarang kamu tanya kenapa. Kamu gak berasa digoda Clara itu?" Masih dengan nada emosi.
"Hehe Clara memang suka menggoda seperti itu dari yang ku kenal dulu, ya tapi aku tak ambil hati" Nevan menjelaskan.
"Kamu pernah pacaran sama dia?" tanyaku.
"Aahh gak, kita hanya berteman, tidak lebih" jawab Nevan.
"Kamu denger gak sih dia bilang gak mau dibayar pakai uang?"
"Oh itu.. Dia cuman bercanda, gak mungkin dia gak mau uang"
"Yaampun jelas-jelas dia menggoda kamu dan menginginkan kamu, asli dia wanita perayu pria" segala dugaan akhirnya kuucapkan.
"Haha.. sayang kamu apaan sih, dia gak sampai sebegitunya"
"Ga sampai sebegitunya bagaimana sayang, dia yang mengatakannya sendiri didepanku"
Nevan menghentikan langkah kami, membuatku menghadap kearahnya dan memegang pipiku.