
Malam ini begitu manis bagiku, istirahat dengan Nevan yang berada disampingku. Ini tak pernah terjadi, hanya dengan Nevan aku seperti ini. Sekalipun dengan Alvaro, aku tak pernah tidur disampingnya.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
"Morning.." sapa Nevan yang membangunkan ku dengan sapaan lembut.
"Ini jam berapa sayang" aku masih nyaman diatas bantal dan berselimut.
"Jam 8 pagi.. kita sarapan yuk sayang, mulai hari ini aku akan memberikan kebahagian selama disini" janji Nevan.
"Oyah.. contohnya" kataku dengan suara yang masih parau karena dibangunkan Nevan.
"Seperti ini" Nevan menciumku untuk segera bangun.
Aku tak menolak, aku membalas ciumannya.
"Aku jadi tak sabar menanti itu" aku menyender di dadanya.
"Kamu masih mengantuk?" Tanya Nevan.
"Hu'um.. kenapa kita tidak tidur lebih lama lagi sayang" masih dengan berselimut hangat.
"Kita lagi liburan sayang, gak mungkin kita berlama-lama dikasur, yuk kita sarapan dulu" ucap Nevan.
"Hemm... Aku masih mau disini..." Entah apa yang kupikirkan, sulit bagiku untuk beranjak dari kasur ini.
"Sayang.. sayang.. kamu tuh cantik banget kalau bangun tidur, beruntung sekali aku akan melihat ini setiap hari nantinya" pujinya padaku.
"Masa sih sayang.." aku kegeeran, Nevan mengatakan itu.
"Aku akan menemani kamu disni, sampai kamu bangun" Nevan duduk disampingku, sambil mengelus rambutku dengan lembut.
"Sayang, kalau digituin.. aku jadi makin tidur.." ucapku bermanja pada Nevan.
"Hehe iya ya.."
"Kamu sudah mandi sayang?" tanyaku.
"Sudah tadi, aku kembali ke kamar tuk mengambil baju dan perlengkapan mandi" jawab Nevan.
"Pantes sudah ganteng ya.. mana wangi lagi" kataku yang sudah berusaha beranjak dari kasur, karena minder dengan Nevan yang sudah rapi.
"Makasih sayangku.. yaudah sekarang mandi yah.."
"Oke.. tunggu ya aku akan cepat selesai" kataku.
Kami keluar kamar dan turun ke restoran tempat kami akan breakfast.
Nevan menggandengku ketempat duduk untuk kami sarapan, lalu mencari makanan untuk sarapan. Nevan mengambilkan beberapan sereal dan minuman, aku mengambil omelet untukku dan Nevan.
Sambil kami makan dan mengobrol, ternyata ada teman wanita Nevan yang mengenalnya.
"Hay Nevan.. is that you?" Seorang wanita cantik berambut pirang yang memengang piring dan minumannya, berhenti disamping meja kami.
"Yes.. im sorry.. did i know you before?"
"Oh i'm Stevi, from London.. We met at a meeting in London" wanita itu mengingatkan kembali.
"Oh oke Stevi.. how are you?"
"Im good, thanks.. how about you?"
"Im fine.. and I introduce my fiance.. Jovita" Nevan langsung memperkenalkannya padaku.
"Oh hay.. i'm Stevi.. hello Jovita" sapa wanita cantik itu padaku sambil melambaikan tangan setelah menaruh gelasnya dimeja kami.
"Hay Stevi.." aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Alright.. sorry I disturbed you guys, I'm going to my desk now.. oke have fun" ucapnya dan mengambil gelas yang dia taruh dimeja kami, dan berlalu pergi meninggalkan kami.
"Thanks.." sahut Nevan.
"Wow.. orang London cantik yah" ujarku meledeknya.
"Tidak mengalahkan cantiknya kamu sayang.." ungkap Nevan padaku.
Entah apa yang kupikirkan aku sedikit minder melihat kenalan Nevan yang begitu sexy, modis dan cantik, padahal Nevan bisa mendapatkan wanita cantik yang lebih dari aku. Tapi dia tetap memilihku dan langsung mengenalkanku didepan wanita itu.
Rasa minder, cemburu dan bangga, campur aduk kurasakan.
Rasanya tak perlu Nevan bersusah payah mendapatkanku, padahal ada yang begitu mudah dapat Nevan miliki.
Kami menghabiskan makanan lalu kembali ke kamar hotel, aku tak banyak bicara setelah wanita cantik itu menghampiri kami dengan tiba-tiba.
Perasaan minder ini menjadi-jadi setelah aku semakin memikirkannya, pantaskah aku dengan Nevan, mampukah aku memilikinya, dapatkah aku mengimbanginya..
arrghh apa yang terjadi padaku sekarang, aku menghela nafas berkali-kali setiap hal itu terlintas dipikiranku.